Ekonomi
( 40554 )Menanti The Fed Memangkas Suku Bunga
Bersama Mendanai UMKM
Industri Petrokimia Perlu Diperhatikan, Penerapan BMPAD hingga Pemberlakuan Kembali Permendag 36 Diharapkan jadi Solusi
Pinjol-Perbankan Bisa Makin Aktif Kolaboratif
MENGUNGKIT BISNIS KARTU KREDIT
Kendati instrumen beli sekarang bayar nanti alias paylater belakangan naik daun, kalangan perbankan rupanya tidak kehilangan asa di bisnis kartu kredit. Sejumlah bank menyiapkan strategi untuk mengoptimalkan bisnis kartu kredit sebagai salah satu mesin cuan bank, beriringan dengan bisnis paylater yang juga mereka jalankan. Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) Jahja Setiaatmadja, mengatakan bahwa meskipun sudah memiliki bisnis paylater, BCA tetap mengandalkan kartu kredit sebagai kontributor terbesar di segmen personal loan. Buktinya, per Juni 2024, segmen personal loan perseroan tumbuh 20,2% year on year (YoY) menjadi Rp17,8 triliun. Di segmen ini, paylater baru menyumbang sekitar Rp250 miliar, selebihnya dari kartu kredit dan kredit perorangan lainnya. “Bagi kami, ini bukan produk yang saling bersaing, melainkan saling melengkapi. Ini sarana bagi masyarakat yang membutuhkan belanja barang, tetapi kemampuan tunai belum ada, sehingga dibantu dengan mekanisme paylater,” katanya, Rabu (24/7). PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN), misalnya. Setelah mengakuisisi portofolio konsumer Standard Chartered Bank Indonesia (SCBI) pada akhir 2023 lalu, perseroan optimistis bisnis kartu kreditnya bisa tumbuh 15%-20% tahun ini. Consumer Lending Business Head of Bank Danamon Enriko Sutarto mengatakan bahwa Danamon juga manfaatkan ekosistem pemegang saham pengendalinya dari Jepang yakni Mitsubishi UFJ Financial Group Inc. (MUFG).
Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. menggunakan strategi kemitraan dengan Samsung dan menerbitkan Co-Branding Kartu Kredit BRI-Samsung. Perseroan meyakini strategi ini bisa mengerek pertumbuhan transaksi hingga double digit dengan pengguna tembus 100.000 nasabah. Card, Digital Lending & Asset Product Development Division Head BRI Dewi Andjarsari mengatakan BRI sudah menikmati pertumbuhan bisnis kartu kredit hingga 30% pada pertengahan tahun ini. Hal ini didorong oleh daya beli masyarakat yang membaik. Memang menurut data Bank Indonesia, nilai transaksi kartu kredit sempat anjlok 30,28% YoY menjadi Rp239 triliun saat pandemi 2020. Namun, pada 2023, nilainya sudah mencapai Rp405 triliun, atau tumbuh rata-rata 19,2% dalam 3 tahun terakhir. Pada periode Januari hingga Mei 2024, nilai transaksinya sudah naik 8,54% YoY menjadi Rp175 triliun, dari Rp161 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Adapun, volume transaksi melonjak 15,86% YoY menjadi 180,96 juta transaksi. Pengamat Perbankan dan Praktisi Sistem Pembayaran Arianto Muditomo menilai bisnis pembiayaan belanja konsumtif masih akan bertahan dalam jangka panjang. Alhasil, baik alat pembayaran maupun skema model bisnisnya akan terus berkembang sesuai zaman.
Cuan Menarik Dari Bunga Simpanan Bank Digital
Persaingan bunga simpanan tinggi kembali terjadi pada industri bank digital. Bagi Anda para pemilik dana, ini mungkin menjadi kesempatan menarik untuk menangguk cuan dari produk simpanan bank digital. PT Super Bank Indonesia menjadi bank digital yang cukup getol menawarkan bunga simpanan tinggi. Baru-baru ini, bank milik grup PT Elang Mahkota Teknologi (Emtek) ini meluncurkan produk deposito dengan tawaran bunga 7,5% per tahun, dan setoran minimal Rp 500.000. Sebelumnya, Superbank meluncurkan produk tabungan Celengan by Superbank dengan tawaran bunga tinggi, mencapai 10% per tahun. "Kami optimistis dapat mendukung pengelolaan finansial nasabah secara aman serta membantu menikmati keuntungan simpanan secara optimal," kata Presiden Direktur Superbank Tigor M. Siahaan, beberapa waktu lalu. Imbal hasil jumbo simpanan juga ditawarkan oleh bank digital lain. Direktur Utama PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) Indra Utoyo menyebut juga sedang mempertimbangkan meningkatkan suku bunga deposito. Perencana keuangan menilai, penawaran bunga tinggi ini menarik. Pasalnya instrumen deposito dan tabungan lebih terukur risikonya ketimbang investasi di saham. Lihat saja, indeks LQ45 justru turun 4,7% selama setahun terakhir.
Bahkan jika dibandingkan saving bond retail (SBR) 13 tenor 2 tahun yang menawarkan bunga 6,45%, sejumlah tabungan digital tetap lebih menguntungkan. Sebab, setelah dipotong pajak, bunga bersih SBR013 tenor 2 tahun ada di 5,8%. Direktur Bisnis PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) Aditya Windarwo menyebut, pihaknya menawarkan deposito dengan bunga 5,5% hingga 8% per tahun untuk memikat nasabah baru. Namun, tidak semua nasabah bisa mendapat bunga tinggi. Tapi Senior Vice President Research LPPI Trioksa Siahaan mengingatkan, tawaran bunga tinggi juga memiliki risiko yang tinggi. Nasabah tidak bisa mendapat bunga tinggi dengan mudah. Biasanya, ada syarat dan ketentuan tertentu. Produk deposito bank digital memberi imbal hasil tinggi tapi risikonya relatif rendah. Mike menyarankan, pemodal bisa menyimpan dana di bank digital dengan jangka waktu di bawah satu tahun. Deposito memang lebih dipilih karena jangka waktu pendek, berbeda dengan obligasi pemerintah, terutama SBR, yang lebih menarik jika dipegang hingga jatuh tempo. Perencana Keuangan OneShildt Consulting Budi Rahardjo juga mengingatkan risiko bunga yang dijamin LPS juga ikut diukur. "Jangan hanya tergiur imbal hasil tinggi," tegas dia. Sebab, bukan tidak mungkin, bila bank gagal bayar, maka dana yang disimpan dalam deposito tidak terjamin dan hilang.
Adu Besar Nilai Kapitalisasi Pasar
Peta emiten dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami pergeseran. Sederet saham langganan 10 besar di jajaran market cap terbesar, harus terlempar dari klub elite itu. Terbaru, ada PT Astra International Tbk (ASII) yang terpental dari 10 market cap terbesar di BEI. Sebelumnya, ada saham UNVR, ARTO, EMTK dan ADRO yang sudah terlempar dari 10 besar. Hingga perdagangan Rabu (24/7), jawara market cap dipegang PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Tapi BBCA tak lagi bisa nyaman di posisi puncak, setelah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) terus membuntuti dengan ketat. Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Martha Christina mengamati, pergeseran posisi market cap dipicu sejumlah faktor. Di antaranya efek kinerja keuangan, rotasi sektor, serta ekspektasi pasar terhadap prospek emiten. "Jika penurunan karena kinerja menyusut, maka wajar harga turun.
Kalau kinerja emiten melemah, investor juga akan menurunkan ekspektasi atas perusahaan tersebut," kata Martha pada KONTAN, Rabu (24/7). Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi melihat, valuasi sejumlah saham emiten top 10 market cap saat ini tergolong overvalued. Senior Research Analyst Lotus Andalan Sekuritas, Fath Aliansyah memproyeksi, sampai tutup tahun 2024, emiten penghuni top 10 market cap tidak akan banyak berubah. Fath melihat, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) menjadi emiten yang berpotensi naik kelas mengisi barisan top 10. Audi merekomendasi beli saham BBNI, ASII dan ICBP. Target harga masing-masing Rp 5.525, Rp 5.400 dan Rp 12.350 per saham. Founder Stocknow.id Hendra Wardana melihat, ASII dan ADRO layak koleksi, target masing-masing Rp 4.640-Rp 5.275 dan Rp 3.260-Rp 3.590.
Aksi Boikot Bikin Laba UNVR Melorot
Sejumlah emiten indeks LQ45 telah merilis laporan keuangan semester I-2024. Salah satunya PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). Di semester I-2024, pendapatan dan laba bersih UNVR kompak merosot. Merujuk pada laporan keuangan UNVR, Rabu (24/7), emiten ini mencatat pendapatan Rp 19,04 triliun pada 30 Juni 2024. Realisasi pendapatan UNVR itu jeblok 6,16% secara tahunan dari Rp 20,29 triliun di semester I-2023. Alhasil, laba bersih UNVR merosot 10,54% secara tahunan menjadi Rp 2,46 triliun dari Rp 2,75 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya. Merosotnya pendapatan UNVR di enam bulan pertama tahun ini, antara lain, dipicu turunnya penjualan perseroan dari segmen home and personal care sebesar 7,3% secara tahunan menjadi Rp 12,28 triliun dari Rp 13,25 triliun di semester I-2023. Presiden Direktur Unilever Indonesia, Benjie Yap mengatakan, pada separuh pertama tahun 2024, UNVR harus memperbaiki beberapa tantangan. Di antaranya, memperkuat fundamental, meningkatkan daya saing brand, serta mendorong efisiensi biaya untuk mendongkrak profitabilitas.
Benjie menambahkan, hingga saat ini aksi boikot terhadap UNVR, masih memengaruhi kinerja UNVR. Sejak awal tahun ini UNVR fokus menangani sentimen negatif berupa aksi boikot produk yang terafiliasi dengan Israel. Saat ini, ungkap Benjie, UNVR juga menjalankan program transformasi untuk mempertajam fokus dan mendorong pertumbuhan melalui organisasi yang lebih ramping dan akuntabel. Senior Investment Information Mirae Aset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji Gusta berpendapat, meski mengalami penurunan, pendapatan UNVR masih relatif bagus di sepanjang enam bulan tahun ini. Nafan juga melihat masih ada harapan untuk UNVR bisa tumbuh. Cuma, Nafan tidak menampik, salah satu sentimen negatif pemberat kinerja UNVR adalah adanya aksi boikot yang mempengaruhi kinerja UNVR. Dia bilang, produk emiten ini diduga memiliki keterkaitan dengan Israel. Dengan sentimen yang ada, Nafan menyematkan rekomendasi hold saham UNVR dengan target harga Rp 2.750.
PRODUK INVESTASI : WANTI-WANTI RISIKO CROWDFUNDING
Popularitas aksi penggalangan dana alternatif melalui sistem urun dana melalui paltform teknologi finansial alias crowdfunding kian meningkat. Namun, keberadaan instrumen ini masih menyisakan banyak persoalan. Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), per Juni 2024 sudah ada 366 efek yang diterbitkan melalui mekanisme crowdfunding. Jumlah itu terdiri atas 235 efek bersifat modal atau equity crowdfunding, 22 efek bersifat utang konvensional atau debt crowdfunding, dan 109 efek bersifat utang syariah atau sukuk crowdfunding. Total nilai penggalangan dana ketiga instrumen tersebut sudah mencapai Rp770 miliar. Sementara itu, pada Juli 2024 hingga kemarin, sudah ada 14 efek baru yang diterbitkan dengan total nilai urun dana Rp21 miliar. Nilai penggalangan dana per efek umumnya kecil. Pada Juli 2024, nilai tertinggi dikumpulkan oleh dua efek sukuk crowdfunding, yakni PT Wishal Batam Indo dan PT Prima Khatulistiwa Sinergi, masing-masing Rp5 miliar. Sementara itu, nilai terendah digalang oleh PT Delapan Baja Multech, yakni debt crowdfunding senilai Rp250 miliar. Peneliti Senior Institute for Financial and Economic Studies (IFES) dan praktisi pasar modal Hans Kwee mengatakan bahwa instrumen ini sejatinya positif bagi pengembangan ekonomi karena dapat digunakan oleh pendanaan bagi UMKM yang belum mampu mengakses pasar modal.
Namun, dirinya menilai produk ini sangat berisiko bagi investor. Hal yang sama juga turut diungkapkan oleh pemerhati pasar modal dan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Budi Frensidy. Menurutnya, keuntungan investasi yang ditawarkan produk ini tidak masuk akal. Lebih lanjut, dia menilai OJK perlu lebih ketat mengawasi instrumen ini dengan meminta laporan keuangan dan pertanggungjawaban dari dana yang sudah dikumpulkan. Dengan demikian, OJK dapat menilai seberapa benar dan realistisnya tawaran tersebut. Pengamat pasar modal dan Direktur Avere Investama Teguh Hidayat juga turut mengamini hal tersebut. Dirinya memilih untuk menghindari investasi di produk seperti ini, sebab risikonya terlalu tinggi. Adapun, layanan crowdfunding ini diatur OJK melalui Peraturan OJK No. 57/POJK.04/2020 tentang Penawaran Efek Melalui Layanan Urun Dana Berbasis Teknologi Informasi. POJK ini kemudian direvisi dengan POJK No. 16/POJK.04/2021. Dalam regulasi tersebut, OJK membatasi total dana yang bisa dihimpun penerbit efek dari aktivitas securities crowdfunding maksimal Rp10 miliar dalam kurun waktu 12 bulan. Kekayaan bersih dari pihak penerbit ini pun tidak boleh lebih dari Rp10 miliar. Bagi investor, OJK mensyaratkan pembelian maksimal 5% dari penghasilan tahunan bagi investor dengan penghasilan di bawah Rp500 juta, dan 10% untuk investor berpenghasilan tahunan di atas Rp500 juta.
Sekuritas Mulai Pangkas Target IHSG Tahun Ini
Pasar saham dalam negeri sempat mendapat pandangan cukup positif pada awal tahun ini. Tapi, setelah separuh tahun berjalan, sejumlah sekuritas menyesuaikan kembali target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhir 2024. Pada awal tahun 2024, cukup banyak analis yang meramalkan IHSG bisa menembus 8.000. Namun, pergerakan IHSG masih jauh dari level tersebut. Mirae Asset Sekuritas Indonesia yang sebelumnya memperkirakan IHSG punya peluang mencapai 8.100 di akhir tahun juga merevisi target ini. Hitungan Mirae, target IHSG di akhir 2024 berada di 7.585. CEO Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Tae Yong Shim mengatakan, tim risetnya menilai potensi kenaikan IHSG ke depan cukup terbatas.
RHB Sekuritas Indonesia juga memangkas target IHSG di akhir 2024 menjadi 7.800. Awalnya, RHB Sekuritas memproyeksikan IHSG bisa mencapai level 7.900.
Head of Research
RHB Sekuritas Indonesia Andrey Wijaya menjelaskan, revisi target IHSG itu mengacu pada prospek pasar saham pada kuartal III-2024 ini, yang kemungkinan lebih melemah.
Sinarmas Sekuritas memproyeksikan pada skenario dasarnya, IHSG berpotensi mencapai level 7.500. Sedangkan untuk skenario
bullish
IHSG berpeluang tembus 7.900. Tapi jika bearish, ada kemungkinan IHSG kembali ke 6.600.
Isfhan Helmy,
Head of Institutional Research
Sinarmas Indonesia menjelaskan, sejatinya, IHSG sudah mencapai level terendah. Jika mengeluarkan saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dari hitungan, IHSG berada di level 6.250. BREN merupakan saham penggerak dengan bobot yang sangat besar terhadap IHSG,
Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas mempertahankan pandangan positifnya terhadap saham dari sektor yang defensif. Contohnya adalah saham ASII, TLKM, BMRI, BBCA, BBRI, CPIN, MYOR, MAPI dan ACES.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









