Ekonomi
( 40733 )Bank-bank Sentral Utama Dunia Menggelar Pertemuan Kebijakan Moneter
Persaingan Industri Perbankan dalam dan Luar Negeri
Sejumlah bank asing mulai mengurangi operasionalnya di Indonesia. Hal ini lantaran bank-bank asing tidak dapat bersaing dengan bank-bank besar nasional, utamanya pada segmen bisnis ritel atau konsumer. OJK menilai, keputusan bank asing untuk menjual bisnisnya atau mengurangi operasioanlnya di Indonesia disebabkan oleh adanya peralihan fokus dari induk bisnis masing-masing bank. Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae, iklim investasi di Indonesia yang semakin terbuka pasca pandemi Covid-19 menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi investor baik lokal maupun asing, prospek kinerja bank asing di Indonesia tentunya masih sesuai dengan harapan dan porsi terhadap industri yang tetap terjaga dengan baik. "Dukungan kami terhadap peningkatan daya saing perbankan nasional tidak hanya diberikan kepada bank 'asli Indonesia' namun tentunya juga bank asing yang beroperasi di Indonesia," imbuh Dian. Pada prinsipnya, OJK akan senantiasa mendukung industri keuangan yang berdaya saing dengan penerapan prinsip kehati-hatian sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (Yetede)
IHSG Berpeluang Kembali Menembus Rekor Tertinggi
Pariwisata RI di Ambang Kebangkitan
Industri pariwisata sedang tidak baik-baik saja. Sejumlah pihak termasuk pemerintah mengonfirmasi bahwa sektor ini menjadi satu-satunya lini bisnis yang belum sepenuhnya sembuh dari sakit menahun yang disebabkan oleh hawar virus Corona, empat warsa lalu. Buktinya okupansi perhotelan, kunjungan wisatawan, kontribusi ke produk domestik bruto, hingga devisa yang disumbang pariwisata belum setinggi prapandemi. Sayangnya, pemerintah dianggap tak jarang menelurkan kebijakan yang kontraproduktif dengan upaya penyehatan industri pariwisata. Situasi itu melengkapi keterpurukan dunia usaha yang dewasa ini dihadapkan pada sulitnya mengakses fasilitas permodalan. Pemangku kebijakan pun diharapkan mendengar suara pengusaha, agar kinerja pariwisata yang menjadi andalan sektor jasa kembali prima.
Mengoptimalkan Peran Pariwisata dalam Ekonomi Nasional
Menyoroti bahwa sektor pariwisata Indonesia masih menghadapi tantangan besar untuk pulih sepenuhnya dari dampak pandemi Covid-19. Meskipun devisa pariwisata meningkat pada 2023 menjadi US$14 miliar, angka ini masih jauh di bawah capaian pra-pandemi sebesar US$16,91 miliar pada 2019. Kontribusi pariwisata terhadap PDB juga belum signifikan, tidak pernah mencapai 5% sejak 2015.
Beberapa kendala utama yang dihadapi industri pariwisata mencakup harga tiket pesawat yang mahal, pajak tinggi di sektor transportasi, dan regulasi pemerintah yang kurang fokus. Keberadaan Satgas Penurunan Tiket Pesawat, yang bertujuan menurunkan harga tiket, belum menunjukkan hasil yang optimal. Selain itu, infrastruktur seperti bandara internasional perlu lebih dioptimalkan, terutama dalam hal konektivitas penerbangan domestik yang sering dikeluhkan oleh wisatawan.
Prabowo Subianto, yang kepemimpinannya diharapkan mampu memberikan perhatian pada promosi global dan regional serta pengembangan destinasi berkualitas. Dukungan pemerintah dalam akses permodalan juga diperlukan untuk mendorong investasi baru di sektor perhotelan, yang masih tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga seperti Thailand, yang berhasil menyerap investasi hotel baru sebesar US$304 juta pada semester pertama 2024.
Pada akhirnya, dengan promosi yang kuat dan pengembangan pariwisata yang inovatif, sektor ini bisa menjadi penggerak ekonomi yang signifikan, membawa kesejahteraan langsung ke masyarakat lokal.
Tantangan Besar Industri Turisme dalam Pengelolaan Sumber Daya
Berbagai tantangan dalam mengoptimalkan sektor pariwisata Indonesia sebagai mesin ekonomi. Meskipun pemerintah telah berusaha memulihkan sektor ini pasca-pandemi, kebijakan yang diambil dinilai kontraproduktif, seperti pengurangan jumlah bandara internasional, mahalnya tiket pesawat, dan pengurangan negara bebas visa kunjungan. Kebijakan tersebut mempengaruhi jumlah kunjungan wisatawan dan menghambat akselerasi pemulihan sektor pariwisata.
Beberapa tokoh penting dalam artikel ini adalah Maulana Yusran, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), yang menyuarakan keluhan pengusaha mengenai tingginya harga tiket pesawat dan perlunya intervensi pemerintah melalui insentif. Bayu Sutanto, Sekjen Asosiasi Maskapai Penerbangan Indonesia (INACA), menjelaskan bahwa harga tiket pesawat belum pernah melebihi tarif batas atas (TBA) yang ditetapkan pemerintah, tetapi tingginya biaya operasi maskapai membuat harga tiket sulit diturunkan. Irfan Setiaputra, Direktur Utama Garuda Indonesia, juga menekankan pentingnya penurunan harga tiket pesawat dan komunikasi dengan pemerintah terkait kendala operasional.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menyatakan bahwa pemerintah fokus pada pemulihan pariwisata, dengan langkah-langkah seperti peningkatan konektivitas, promosi wisata, dan pengembangan 5 Destinasi Pariwisata Super Prioritas (Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang). Namun, hambatan perizinan, infrastruktur, dan insentif tetap menjadi kendala yang signifikan.
Ekonom Yusuf Rendy Manilet dari Core Indonesia menambahkan bahwa sektor pariwisata masih belum bisa menjadi penyelamat neraca transaksi berjalan tanpa peningkatan daya tarik, fasilitas pendukung, dan peran masyarakat lokal dalam bisnis pariwisata.
Investasi Perhotelan Terkendala: Permodalan dan Perizinan Jadi Hambatan
Industri perhotelan di Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan, seperti moratorium pembangunan hotel baru, akses permodalan yang sulit, serta lesunya industri pariwisata pasca-pandemi. Sandiaga Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, mengusulkan moratorium pembangunan hotel di beberapa kawasan Bali untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan serta menghindari persaingan harga yang merugikan. Namun, Hariyadi Sukamdani, Ketua Umum PHRI, mengkritik kebijakan ini, karena dianggap menghambat investasi dan tidak berpihak pada pemulihan sektor perhotelan yang masih terdampak pandemi. Pelaku usaha, seperti Wahyudi Eko Sutoro dari PT Eastparc Hotel Tbk dan Harun Hajadi dari PT Ciputra Development Tbk, menekankan pentingnya fokus pada wisatawan domestik untuk menjaga okupansi hotel.
Bank Indonesia Paparkan Ekspedisi Rupiah 2024: Dorong Stabilitas Ekonomi
Menjaga kedaulatan Indonesia bukan hanya melalui pendekatan fisik seperti pertahanan, tetapi juga melalui ekonomi, sosial, dan pendidikan. Bank Indonesia (BI), bersama dengan TNI Angkatan Laut, berkolaborasi dalam Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) untuk memastikan distribusi uang Rupiah yang layak edar ke wilayah Terdepan, Terluar, dan Terpencil (3T), terutama di Papua Barat. Kepala Perwakilan BI Papua Barat, Setian, menekankan pentingnya penyediaan uang kartal dalam menjaga ekonomi daerah-daerah 3T dan memastikan transaksi dilakukan dengan Rupiah, sebagai simbol kedaulatan negara.
Asisten Operasi Kasal, Laksda TNI Yayan Sofyan, menegaskan bahwa TNI AL juga terlibat dalam menjaga kelancaran pembangunan ekonomi melalui transaksi keuangan menggunakan Rupiah. Selain distribusi uang, ekspedisi ini juga melibatkan kegiatan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat setempat, termasuk anak-anak, untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap Rupiah dan NKRI.
Dalam ekspedisi ini, BI dan TNI AL menghadapi berbagai tantangan medan, seperti gelombang laut yang tinggi, tetapi berhasil mencapai tujuan mereka. Penjabat Gubernur Papua Barat Daya, Mohammad Musa’ad, melalui perwakilannya, menyampaikan apresiasi atas upaya ini yang tidak hanya menjaga kedaulatan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui transaksi ekonomi yang lancar.
Teknologi Terbaru Membuka Peluang Kerja di Berbagai Sektor
Industri pariwisata di Indonesia masih menghadapi tantangan serius pasca-pandemi COVID-19. Meskipun beberapa sektor ekonomi telah mulai pulih, pariwisata tetap mengalami kesulitan, dengan rendahnya okupansi hotel, kunjungan wisatawan, dan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) serta devisa.
Tokoh dalam sektor ini menilai bahwa pemerintah seringkali mengeluarkan kebijakan yang tidak mendukung upaya pemulihan pariwisata, sehingga memperburuk situasi. Selain itu, pengusaha pariwisata menghadapi kendala dalam mengakses permodalan yang dibutuhkan untuk mengembangkan usaha mereka. Oleh karena itu, penting bagi pemangku kebijakan untuk mendengarkan masukan dari pengusaha dan memperbaiki kebijakan agar sektor pariwisata dapat kembali berfungsi secara optimal dan memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian.
Dampak Positif Suku Bunga Rendah Terhadap Ekonomi
Penantian panjang investor terkait dengan arah suku bunga acuan terjawab pada pekan-pekan ini. Khusus bagi pasar keuangan lokal, ada dua agenda penting yang akan mempengaruhi pergerakan pasar keuangan dalam negeri, yakni pertemuan Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Open Market Committee (FOMC), serta Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI). Memang, sejauh ini belum pasti berapa jumlah penurunan suku bunga yang bakal ditetapkan oleh The Fed pada FOMC 18 September 2024. Tapi, pasar memperkirakan, bank sentral Amerika Serikat (AS) itu memangkas 25-50 basis poin (bps). Head of Investment Information Mirae Asset, Martha Christina melihat, peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 bps lebih besar. Alasannya inflasi inti AS masih naik, sehingga Fed mungkin masih hati-hati dan konservatif menurunkan suku bunga.
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menambahkan, FOMC kali ini menjadi salah satu penantian panjang, lantaran hampir tiga tahun terakhir bank sentral AS cenderung menaikkan suku bunga. Nico juga menilai, pemangkasan suku bunga sebesar 25 bps lebih aman ketimbang jika Fed langsung memangkas 50 bps.
Di sisi lain, Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee mencermati, BI kemungkinan tetap mempertahankan suku bunga acuan pada pekan ini. Namun masih tetap terbuka peluang BI memotong suku bunga 25 bps.
Keputusan Fed bakal menjadi angin segar IHSG, setidaknya hingga akhir tahun nanti. Martha memproyeksikan, IHSG bisa naik menuju 7.915 di akhir tahun 2024.
Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas mengingatkan, kenaikan IHSG di pekan pendek ini justru cenderung terbatas dan rawan profit taking.
Menurut Nico, semua sektor saham di bursa mendapatkan manfaat positif jika bunga turun. Tapi, sektor-sektor yang akan merasakan dampak terbesar ialah sektor finansial, properti, otomotif, konsumer non-siklikal, energi, konsumer siklikal, dan teknologi. Sedangkan sektor kesehatan mungkin melemah, karena sektor defensif biasanya ditinggalkan sementara waktu.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









