;
Kategori

Ekonomi

( 40460 )

Restrukturisasi Utang: Kunci untuk Meningkatkan Kinerja Perusahaan

12 Sep 2024

Sejumlah perusahaan pelat merah telah mencapai kesepakatan dengan perbankan untuk merestrukturisasi utang-utang tahun ini. Terbaru, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) meneken perjanjian restrukturisasi induk alias master restructuring agreement (MRA) atas utang Rp 31,5 triliun dengan 21 bank. Kesepakatan restruktursisasi ini jadi sentimen positif terhadap perbankan. Sebab, bank mendapat kepastian atas pengembalian pinjaman yang sudah digelontorkan. Sentimen positif terutama akan didapat bank-bank yang memiliki outanding kredit besar ke BUMN. Dalam hal ini tentu saja bank pelat merah. Bank Mandiri (BMRI) dan Bank Negara Indonesia (BBNI) tercatat memberi kredit cukup besar ke BUMN. Melansir laporan keuangan, BMRI memiliki kredit senilai Rp 279,7 triliun per Juni 2024 ke pihak berelasi. Analis BCA Sekuritas Achmad Yaki menyebut, restrukturisasi pinjamam perbankan yang dilakukan emiten BUMN berpotensi mengurangi risiko gagal bayar yang akan mempengaruhi aset produktif bank. Jika restrukturisasi berhasil, akan berpotensi positif ke kinerja dan harga saham. ujarnya, Rabu (11/9). 

Sementara itu, Senior Vice President LPPI Trioksa Siahaan menilai, restrukturisasi utang tidak serta merta mendongkrak kinerja bank. Menurut dia, banyak faktor yang mempengaruhi kinerja bank, terutama terkait efisiensi. Trioksa menuturkan, dampaknya ke depan, masih tergantung perkembangan kinerja bank terkait. Yuddy Renaldi, Direktur Utama Bank BJB, menyebut, jika restrukturisasi berjalan baik dan kredit yang diberikan kembali lancar, maka akan terjadi perbaikan kualitas aset perbankan secara keseluruhan. Bank BJB termasuk salah satu bank kreditur Waskita Karya. Senada, SEVP Wholesale Banking Bank Tabungan Negara (BTN) Benny Yoslim mengatakan, restrukturisasi debitur BUMN merupakan langkah terbaik yang disepakati para pihak atas dasar kondisi bisnis dan keuangan.

Kolaborasi Bisnis: MNC Life dan KFM Jalin Kerjasama Baru

12 Sep 2024

PT MNC Life Assurance menggandeng PT Karunia Multifinance (KFM) terkait proteksi asuransi jiwa kredit. Direktur MNC Life Risye Dillianti mengatakan, kerjasama ini juga menjadi langkah strategis untuk memperluas jangkauan layanan MNC Life dan memberikan solusi perlindungan yang lebih komprehensif bagi nasabah KFM. Direktur KFM Handoko Widjaja menambahkan, kolaborasi kedua belah pihak ini menjadi momentum penting untuk memberikan nilai tambah bagi para nasabah perseroan. "Dengan melengkapi produk pembiayaan kami dengan asuransi jiwa dari MNC Life, kami dapat menawarkan perlindungan yang lebih baik dan memastikan bahwa kebutuhan finansial nasabah kami terlindungi secara optimal," kata Handoko.

Daya Ekpor Mulai Melemah

12 Sep 2024
Harga komoditas andalan ekspor Indonesia, seperti nikel, batu bara, dan minyak kelapa sawit, (crude palm oil/CPO) berguguran dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini dikhawatirkan  menekan kinerja ekspor hingga 2025 dan berdampak negatif ke ekonomi. Saat ini saja, ekonomi menghadapi tantangan berat dari tren pelemahan daya beli masyarakat. Ini terbaca deflasi selama  empat bulan beruntun, indeks manajer pembelian (PMI) yang jebol di bawah 50 selama dua tahun, dan maraknya PHK di sektor manufaktur. Berdasarkan data Trading Economics, harga nikel merosot 27% dari posisi tertinggi Mei 2024 sebesar US$ 15.763 per ton pada 10 September 2024. September 2023, harga nikel masih bertengger di US$ 19 ribu per ton, sedangkan awal 2024 di kisaran US$ 16 ribu per ton. Indonesia saat ini adalah produsen nikel terbesar dunia dengan pangsa pasar 50% pada 2023 dan berpeluang naik  menjadi 55% pada tahun ini. (Yetede)

LPS Mencatat DPK mengalami Penyusutan 0,63% per Juli 2024

12 Sep 2024
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat sumber dana non dana pihak ketiga (DPK) mengalami  penyusutan 0,63% (month to month/mtm) per Juli 2024. Pun ke depan, ruang perbankan untuk mencari sumber dana non DPK juga menurun lantaran akan menekan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) Associate Faculty Lembaga Pengembangan Indonesia (LPPI) Ryan Kiryanto mengatakan, terdapat tiga alasan yang membuat pendanaan non konvensional  perbankan mengalami penurunan saat ini. Pertama, perbankan akan sangat sulit menerbitkan surat utang untuk kompetisi dengan Surat Berharga Negara (SBN) atau Surat Utang Negara (SUN) yang menawarkan kupon berkisar 6-7%. "Kalau bank mau terbitkan surat utang harus sama atau lebih tinggi dari kupon, akan susah jual kreditnya karena mahal. Artinya, bank terbitkan surat utang itu cost atau of fund mahal dan kalau tetap nekad, blended NIM akan tergerus," ujar Ryan kepada Investor Daily. (Yetede)

Medco Menggapai Target jadi Perusahaan Terkemuka di Asia Tenggara

12 Sep 2024

PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) mengungkapkan ambisinya untuk menjadi perusahaan energi terkemuka di wilayah Asia Tenggara atau Asean. Untuk menggapai target tersebut, emiten konglomerat Panigoro ini bakal menggeber tiga core bisnis, yakni minyak dan gas (migas), kelistrikan, serta pertambangan tembaga. Sebagai bukti keseriusan dalam mendatangkan nilai tambah bagi pemegang saham,  perseroan juga bakal membagikan dividen interim tahun buku 2024 dengan jumlah lebih besar dibanding tahun lalu. 

"Kami ingin menjadi perusahaan energi terkemuka di Asia Tenggara dengan tiga lini bisnis utama kami," kata Direktur Hilmi Panigoro. Hilmi menekankan bahwa MedcoEnergi berkomitmen memberikan solusi energi yang terjangkau, andal, dan berkelanjutan, serta memposisikan diri untuk memanfaatkan permintaan energi yang terus meningkat di Asia Tenggara. "Strategi MedcoEnergi mencakup perluasan operasi migas, investasi di bidang energi bersih dan terbarukan, serta pertambangan tembaga," ungkap dia. (Yetede)

Paylater Terdepan Bisa Jadi Ancaman Kredit Macet

12 Sep 2024
Outstanding pembiayaan untuk transaksi beli sekarang bayar nanti atau buy now pay later (BNPL) oleh perusahaan pembiayaan (multifinance) tumbuh pesat. Kondisi yang sama juga terjadi pada industri perbankan. OJK menyatakan, per Juli 2024 outstanding pembiayaan untuk BNPL oleh perusahaan pembiayaan tumbuh 73,55% year on year (yoy) menjadi Rp7,81 triliun. "Angka ini lebih rendah dari paylater pada perbankan," kata Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman baru-baru ini. Adapun porsi produk kredit BNPL perbankan sebesar 0,24% namun terus mencatatkan pertumbuhan yang tinggi. Per Juli 2024 baki debet kredit BNPL tumbuh 36,66% yoy menjadi Rp18,01 triliun, dengan total jumlah rekening 17,90 juta. Resiko kredit untuk BNPL perbankan turun ke level 2,24%. (Yetede)

ICW: Dominasi Calon Pimpinan KPK dari Kepolisian dan Kejaksaan akan Pengaruhi Kinerja

12 Sep 2024
PANITIA seleksi calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi mengumumkan nama-nama yang lolos 20 besar calon pemimpin KPK periode 2024-2029. Ke-20 nama calon pimpinan KPK tersebut masih didominasi figur berlatar belakang anggota kepolisian, kejaksaan, ataupun auditor. Peneliti Indonesia Corruption Watch, Diky Anandya, mengatakan dominasi calon pimpinan KPK dari unsur kepolisian dan kejaksaan tersebut akan mempengaruhi kerja-kerja KPK ke depan. Sebab, meski nantinya berstatus sebagai pemimpin KPK, bukan tidak mungkin mereka tetap memiliki jiwa korsa terhadap institusi induknya. Konflik kepentingan seperti ini pernah terjadi pada KPK periode sebelumnya, salah satunya dalam perkara rusaknya “buku merah” yang mengaitkan nama petinggi Polri.

Bekas Wakil Ketua KPK Saut Situmorang menilai komposisi ideal untuk mengisi struktural pimpinan KPK semestinya diisi kalangan independen dari unsur akademikus dan masyarakat sipil. Ia juga menilai masih ada orang-orang bermasalah dalam nama calon pimpinan KPK yang lolos 20 besar tersebut. Salah satunya Wakil Ketua KPK saat ini, Johanis Tanak. Tanak pernah diperiksa Dewan Pengawas KPK karena bertemu dengan pihak beperkara di KPK.  Dari 20 nama tersebut sudah bisa digambarkan wajah KPK mendatang. Presiden Joko Widodo akan mengirim sepuluh nama dari mereka ke DPR untuk dipilih lima orang di antaranya menjadi pemimpin KPK periode 2024-2029 pada awal Oktober mendatang. (Yetede)

Guncangan ”Gempa” Ekonomi China

11 Sep 2024

Kondisi ekonomi China, mudah mengguncang ekonomi global. Industri mobil Eropa mulai terdampak. September kelabu untuk Volkswagen Group. Raksasa otomotif Jerman itu mau menutup satu pabrik di Jerman. Rencana penutupan itu diungkap CEO Volkswagen Group Oliver Blume pada Rabu (4/9). Ia menyebut situasi memaksanya mempertimbangkan penutupan salah satu pabrik di Jerman. Kelompok usaha yang menaungi 10 jenama otomotif itu juga mengabarkan hal buruk lain kepada pekerja. Sejatinya, angka penjualan VW Group secara global sempat naik pada 2023. Paruh pertama 2023, nilai penjualan naik 18 % atau senilai 174 miliar USD, tapi, situasi tak terduga terjadi tahun ini (Kompas.id, 9/9/2024). Turunnya permintaan konsumen di China, pasar terbesar VW, memukul perusahaan.

Penjualan di China turun hingga 7 % dibanding periode yang sama tahun 2023 dan membuat laba perusahaan anjlok 11,4 % menjadi 11,2 miliar USD. Tak hanya VW, ketika perubahan ekonomi di China, banyak perusahaan yang pasarnya bergantung pada China terguncang. Beberapa industri yang melaporkan dampak itu antara lain industri mode kelas atas, industri makanan, industri minuman, dan jaringan ritel. Beberapa eksportir produk makanan asal Indonesia pernah menceritakan masalah ini. Begitu ekonomi China turun, mereka tak bisa menjual produk ke China. Permintaan pasar terhadap beberapa produk itu langsung turun dan bahkan menghilang. Bila penurunan ekonomi ini berlangsung lama, rantai pasok sudah berubah dan tidak mudah untuk memulihkan kembali. Mereka harus merintis dari awal lagi.

Masalah makin berlipat ketika China kemudian bisa memproduksi barang sejenis. VW terdampak karena China berhasil  membuat mobil sejenis dengan harga terjangkau. Apalagi produsen China juga makin banyak memproduksi mobil masa depan, yaitu mobil listrik dengan harga lebih murah. Otomatis produsen dari luar negeri harus bersaing ketat di pasar China. Melihat contoh-contoh di atas, semua produsen Indonesia yang mempunyai pasar di China perlu mempersiapkan pasar lain sehingga guncangan pasar di China bisa dikompensasi di pasar baru. Upaya ini tak mudah karena pasar China sangat besar dan menggiurkan. Meski demikian, upaya mencari pasar baru harus terus dilakukan agar pasar bertambah besar dan berjaga-jaga bila ekonomi China berubah. (Yoga)


Sektor Riil Menggeliat dengan Penurunan Suku Bunga Acuan

11 Sep 2024

Pemangkasan suku bunga acuan oleh bank sentral AS, Federal Reserve atauThe Fed, yang diperkirakan terjadi September 2024 akan mendorong BI menurunkan suku bunga acuannya. Hal ini diharapkan dapat membuat likuiditas perbankan melimpah dan biaya dana turun sehingga dapat menggerakkan sektor riil. Senior Economist Standard Chartered BI, Aldian Taloputra memperkirakan The Fed memangkas suku bunga acuannya tiga kali, masing-masing 25 basis poin (bps) pada 2024 dan berlanjut tahun depan sebanyak tujuh kali. Pemangkasan suku bunga tersebut akan dimulai 17-18 September 2024 dalam pertemuan Dewan Gubernur Bank Sentral AS.

”Perkiraan kami, pemotongan suku bunga lebih lambat dari perkiraan pasar yang memperkirakan empat kali pemotongan tahun ini. Perkiraan itu berdasarkan data terakhir yang masih menunjukkan soft landing pertumbuhan ekonomi AS,” katanya, Selasa (10/9). Berdasarkan data ekonomi AS, PDB AS pada triwulan II-2024 tumbuh 2,8 % secara tahunan, lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 1,4 % secara tahunan. Di sisi lain, tingkat inflasi AS pada Juli 2024 sebesar 2,9 % secara tahunan, turun dibanding Juni 2024 sebesar 3 %. Biro Statistik Tenaga Kerja AS juga melaporkan, tingkat pengangguran turun dari 4,3 % pada Juli ke 4,2 % pada Agustus 2024. Di sisi lain, terdapat 142.000 pekerjaan baru yang tercipta pada Agustus 2024 dan terjadi penguatan rata-rata upah pekerja di atas ekspektasi. Menurut Aldian, BI akan memangkas suku bunga acuan setelah The Fed melonggarkan kebijakan moneternya. (Yoga)


Permintaan Layanan TI yang Dipicu Transformasi Digital

11 Sep 2024

Tren transformasi digital terus terjadi di berbagai perusahaan dengan beragam sektor industri. Tren ini memicu permintaan layanan teknologi informasi atau information technology services, seperti, konsultasi aplikasi, manajemen aplikasi, dan alih daya infrastruktur digital. Menurut CEO SM+, Herson Suindah, sejumlah perusahaan dari berbagai sektor industri yang bertransformasi bisnis ke arah digital biasanya membutuhkan layanan teknologi informasi beserta infrastruktur digital yang andal. Tantangan mereka terletak pada mencari mitra strategis yang bisa membantu menyediakan kebutuhan tersebut.

”Jika suatu perusahaan memutuskan mentransformasikan operasional dan pemasaran ke arah digital, biasanya mereka menargetkan skala bisnis yang lebih besar.Bagi perusahaan besar, meningkatkan skala bisnis akan sangat kompleks. Tidak hanya masif ongkos, juga harus mempertimbangkan high value yang diperoleh,” ujar Herson saat konferensi pers peresmian perusahaan patungan LG Sinarmas, Selasa (10/9) di Jakarta. Berdasarkan data Mordor Intelligence, ukuran pasar layanan teknologi informasi di Indonesia diperkirakan mencapai 5,07 miliar USD tahun 2024 dan tembus 9,07 miliar USD pada 2027. Selama 2024–2029, pertumbuhan tahunan pasar layanan teknologi informasi di Indonesia mencapai 12,35 %. (Yoga)