;
Kategori

Ekonomi

( 40460 )

Kebijakan dan Pengaturan Impor demi Penyelematan Industri Petrokimia

11 Sep 2024
Pelaku industri petrokimian meminta pemerintah  untuk menerapkan kembali Permendag 36 Tahun 2023 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor demi penyelematan industri ini, baik hulu hingga hilir. Kini, aturan impor petrokimia menggunakan Permendag 8  Tahun 2024 yang merupakan perubahan ketiga Permendag 36 Tahun 2023. Dalam pohon bisnis petrokimia, industri hulu memproduksi bahan baku plastik, seperti polipropilena (PE) dan polipropilena (PP), sedangkan hilir memproduksi plastik. Pemain petrokimia hulu juga menghasilkan produk monomer, yakni etilen dan propilena yang diolah menjadi produk polimer, PP dan PE. Wakil Ketua Umum Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Budi SUsanto menyatakan, semangat aturan itu cukup baik, karena melindungi petrokimia hulu dan hilir dari gempuran impor. Artinya, larangan dan pembatasan (lartas) impor sejumlah barang perlu diterapkan lagi, dengan penjelasan yang lebih baik.(Yetede)

Jakarta Menempati Peringkat 284 dari 1.000 Kota yang di Survei di Dunia

11 Sep 2024
Menurut Indeks Kota Global (Global Cities Index/GCI) Oxford Economics 2024, Jakarta baru menempati peringkat 284 dari 1.000 kota yang di survei di dunia. Begitu juga, menurut The Smart City Observatory oleh Institute of Management Development World  Competitiveness Center (IMD Smart City) 2024, Kota Jakarta baru berada di posisi 284 dalam adopsi smart city dari 142 kota yang disurvei. GCI Oxford Economics 2024 ditentukan oleh lima indikator utama, yakni ekonomi (economics), sumber daya manusia (human capital), kualitas hidup (quality of life), lingkungan (environment), dan tata kelola (governance). Dalam paparan 10 besar kota yang masuk kriteria tersebut, Jakarta hanya masuk peringkat 103 dunia sebagai kota global. Peringkat Jakarta hanya ada pada urutan ke-284 kota global, setelah memperhitungkan peringkat ke-40 untuk ekonomi, 89 untuk human capital, 741 untuk quality of life, 793 untuk environment, dan peringkat 480 untuk governance. (Yetede)

Bank Indonesia Memperkirakan Kinerja Penjualan Eceran pada Agustus 2024 Meningkat

11 Sep 2024
Bank Indonesia (BI) memperkirakan kinerja penjualan eceran pada Agustus 2024 meningkat, tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Agustus 2024  yang diprediksi mencapai 215,9 atau tumbuh 5,8% secara year on year (yoy). "Meningkatnya penjualan eceran didorong oleh mayoritas kelompok, tertinggi pada kelompok barang budaya dan rekreasi, diikuti oleh bahan bakar kendaraan bermotor dan subkelompok sandang," jelas Kepala departemen BI Erwin Haryono. Erwin menjelaskan, secara bulanan, penjualan eceran diperkirakan tumbuh 1,6% secara month to month (mtm), setelah pada bulan sebelumnya mengalami kontraksi 7,2% (mtm). Peningkatan kinerja penjualan eceran tersebut diperkirakan terutama terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, peralatan informasi dan komunikasi, serta perlengkapan rumah tangga lainnya didorong oleh peningkatan permintaan saat perayaan HUT RI didukung penerapan strategi potongan harga oleh retailer. (Yetede)

Industri Perbankan Memprediksi Risiko di Tahun ini Dapat Terkendali dan Terjaga

11 Sep 2024
Industri perbankan memprediksi risiko di kuartal III tahun ini masih dapat terkendali dan terjaga. Hal ini terlihat dari Survei Orientasi Bisnis Perbankan OJK (SPBO) yang dilakukan oleh OJK terhadap 93 bank responden. Optimisme tersebut juga tercermin dari Indeks Persepsi Risiko (IPR) sebesar 57 atau berada di zona keyakinan bahwa risiko  cukup manageable, seiring dengan keyakinan bahwa risiko kredit dan risiko pasar yang tetap terjaga. "Responden meyakini bahwa kualitas kredit tetap baik, PDN (posisi devisa neto) pada level rendah dan berada pada posisi long, dan rentabilitas masih akan meningkat seiring  dengan kenaikan penyaluran kredit. Selanjutnya, risiko likuiditas  juga diperkirakan masih terjaga stabil dibandingkan triwulan sebenarnya," ungkap Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi Aman Santosa. Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, likuiditas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL gross perbankan yang relatif stabil di level 2,27% dibandingkan dengan Juni 2024 sebesar 2,26% dan NPL net sebesar 0,79%. (Yetede)

Merger Angkasa Pura Kian Mengangkasa

11 Sep 2024
KEMENTERIAN Badan Usaha Milik Negara (BUMN) resmi menggabungkan PT Angkasa Pura I dan PT Angkasa Pura II menjadi PT Angkasa Pura Indonesia atau Injourney Airports, Senin, 9 September 2024. Perusahaan penyelenggara bandara itu kini berada di bawah holding BUMN, PT Aviasi Pariwisata Indonesia atau InJourney. Rencana integrasi Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II telah bergulir pada masa pandemi Covid-19. Namun kebijakan tersebut harus tertahan karena pemerintah berfokus pada penanganan kondisi keuangan perusahaan akibat pandemi.

Rencana merger Angkasa Pura mencuat kembali pada Januari 2023 ketika Menteri BUMN Erick Thohir menjelaskan peta jalan atau roadmap BUMN fase kedua periode 2024. Kala itu, Erick mengatakan, pemerintah mencanangkan banyak aksi merger pada perusahaan pelat merah pada 2024. Salah satunya merger BUMN pengelola bandara tersebut. Menurut Erick, penggabungan Angkasa Pura menjadi salah satu agenda prioritas di kementeriannya. Dia mengambil contoh penggabungan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) dari empat perusahaan.

Adapun pada Desember 2023, uji coba merger Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II dimulai. Selama periode tersebut, InJourney melakukan proses penyelarasan standard operating procedure (SOP), sistem IT, sistem keuangan, hingga operasional bandara. Setelah resmi merger, Angkasa Pura Indonesia mengelola total 37 bandara di seluruh Indonesia. Angkasa Pura Indonesia sekaligus menjadi operator bandara nomor lima terbesar di dunia. (Yetede)

Saham Konsumsi Mencapai Titik Balik: Saatnya Bangkit?

11 Sep 2024

Peluang kebangkitan saham sektor konsumer yang sebelumnya tertinggal di bursa, dengan dukungan dari meningkatnya optimisme konsumen. Nafan Aji Gusta, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, menekankan bahwa hasil survei Bank Indonesia yang menunjukkan peningkatan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menjadi 124,4 pada Agustus 2024, mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap ekonomi yang berpotensi mendorong kinerja emiten konsumer.

Meskipun indeks saham consumer non-cyclicals masih lambat dengan hanya naik 0,5% year-to-date (YtD), dibandingkan dengan IHSG yang melonjak 6,72% YtD, Nafan optimistis bahwa sentimen positif dari konsumen dapat menjadi katalis untuk sektor ini. Beberapa saham yang sudah menunjukkan perbaikan seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) telah mengalami kenaikan masing-masing 9,46% dan 9,30% YtD.

Henry Wibowo, Head of Indonesia Research & Strategy JP Morgan Indonesia, menyatakan bahwa sektor konsumer, khususnya fast moving consumer goods (FMCG) dan consumer discretionary, akan tumbuh seiring perkiraan produk domestik bruto (PDB) per kapita Indonesia melampaui US$5.000 pada 2024. Henry membandingkan kondisi ini dengan China pada 2011, ketika PDB per kapitanya juga mencapai angka serupa, yang memicu lonjakan konsumsi domestik.

Natalia Sutanto dan Sabela Nur Amalia dari BRI Danareksa Sekuritas juga menambahkan bahwa pemilu serentak pada November 2024 serta penguatan nilai tukar rupiah akan memberikan dampak positif pada daya beli masyarakat. Mereka merekomendasikan saham ICBP dan PT Mayora Indah Tbk. (MYOR), yang dinilai mampu bertahan di tengah gejolak harga bahan baku dan volatilitas kurs.

Dari sisi emiten, Anthoni Salim, Direktur Utama ICBP, menyatakan bahwa perusahaan akan terus memanfaatkan ketangguhan model bisnisnya untuk menjaga pertumbuhan. Wardhana Atmadja, Direktur MYOR, menambahkan bahwa Mayora akan menaikkan harga beberapa produknya akibat kenaikan harga bahan baku seperti biji kakao dan kopi, namun diversifikasi produk diharapkan dapat meminimalkan dampaknya.

Keseluruhan optimisme ini menunjukkan bahwa sektor konsumer memiliki prospek yang cerah, terutama dengan dukungan peningkatan daya beli dan sentimen positif dari konsumen.

Fatamorgana Ekonomi: Menghadapi Ancaman Ilusi Pemulihan

11 Sep 2024

Meningkatnya optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia, baik dari kalangan masyarakat maupun pengusaha. Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada Agustus 2024, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) naik menjadi 124,4, mengindikasikan kepercayaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi yang lebih baik. Selain itu, ekspektasi konsumen terkait penghasilan, lapangan kerja, dan kegiatan usaha juga meningkat.

Pengusaha, terutama di sektor ritel, menunjukkan optimisme serupa. Survei Penjualan Eceran BI memprediksi peningkatan kinerja penjualan dengan pertumbuhan Indeks Penjualan Riil (IPR) sebesar 5,8% secara tahunan. Sektor perbankan juga optimistis berdasarkan Survei Orientasi Bisnis Perbankan OJK yang menyatakan ekspektasi peningkatan penyaluran kredit dan laba perbankan pada kuartal III/2024.

Namun, tantangan besar tetap ada. Tensi geopolitik global dan suku bunga tinggi menambah ketidakpastian ekonomi. Selain itu, penurunan signifikan jumlah kelas menengah Indonesia, dari 57,33 juta pada 2019 menjadi 47,85 juta pada 2024, mengancam daya beli masyarakat. Jumlah penduduk rentan miskin juga meningkat, dari 54,97 juta menjadi 67,69 juta dalam lima tahun terakhir, menunjukkan adanya ancaman serius bagi stabilitas ekonomi.

Pemerintahan baru yang akan berkuasa pada Oktober diharapkan segera mengambil langkah untuk memperkuat daya beli masyarakat, melalui kebijakan fiskal yang responsif, investasi yang menciptakan lapangan kerja, serta memperbaiki iklim usaha. Hal ini diharapkan dapat menjaga ketahanan ekonomi Indonesia di tengah tantangan global.

Strategi Investasi di Tengah Ketidakpastian Pasar September

11 Sep 2024

Di berbagai bursa global, September bukanlah bulan yang baik untuk para pelaku pasar. Ada istilah September Effect atau Summer Effect atau Black September yang kerap digunakan untuk menggambarkan perdagangan saham di bulan September. Secara historis, September kerap menjadi bulan dengan kinerja terburuk. Beberapa teori menyebutkan kalau perilaku investor yang melakukan penyesuaian portofolio setelah liburan musim panas menjadi penyebabnya. Dalam satu dekade terakhir, return indeks Dow Jones Industrial Average di Amerika Serikat (AS) bulan September cenderung negatif, dengan rata-rata imbal hasil minus 1,53%. Dibandingkan bulan-bulan lainn return September menjadi yang terburuk bagi indeks Dow Jones dalam 10 tahun terakhir. Kabar baiknya, imbal hasil negatif belum terlihat di dua pekan awal bulan September ini. IHSG justru berotot dan sudah beberapa kali menyentuh rekor harga tertinggi baru. Sejak awal September ini, IHSG sudah menguat 1,18%. Bahkan IHSG kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada Selasa (10/9) ke level 7.761,38. Tapi, tetap waspada karena September Effect masih bisa terjadi. Direktur Purwanto Asset Management, Edwin Sebayang mengatakan, di bulan September tahun ini, ada kondisi yang berbeda dari sebelumnya. 

"Secara global, September 2024 merupakan masa penantian bank sentral AS Federal Reserve akan mulai menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps)," katanya kepada KONTAN, Selasa (10/9). Setali tiga uang, Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Martha Christina juga menekankan adanya potensi sell on news , jika pemangkasan suku bunga sesuai ekspektasi pasar. Tapi, lain cerita kalau penurunan suku bunga mencapai 50 bps. Dia masih optimis IHSG bisa berada di level 7.915 pada akhir tahun ini. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan, jika terjadi koreksi, pelemahan IHSG pada bulan ini tidak akan terlalu dalam dan berlangsung lama. Level kuat IHSG saat ini berada di 7.700. Martha menilai, adanya potensi koreksi usai FOMC bisa menjadi kesempatan bagi investor melakukan buy on weakness alias membeli jika harganya sudah turun. Apalagi, secara historis IHSG dan sejumlah indeks global cenderung menguat signifikan di bulan Oktober mendatang.

DPR Usulkan Kenaikan Cukai Minuman Manis hingga 2,5%

11 Sep 2024

Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI merekomendasikan pemerintah menerapkan cukai minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) minimal 2,5% pada 2025 dan secara bertahap sampai 20%. Ketua BAKN DPR RI Wahyu Sanjaya menyampaikan rekomendasi penerapan cukai MBDK untuk mengurangi dan mengendalikan efek negatif konsumsi MBDK yang sangat tinggi di kalangan masyarakat. "BAKN mendorong agar pemerintah mulai menerapkan cukai MBDK untuk mengurangi dampak negatif tersebut," tutur dia saat membacakan hasil keputusan rapat dengan pemerintah, kemarin. Menanggapi rekomendasi BAKN DPR, Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Askolani menyebutkan, pemerintah tetap mempertimbangkan penerapan tarif cukai MBDK sejalan kondisi perekonomian tahun depan.

Kredit Konsumtif: Semakin Menarik bagi Perbankan

11 Sep 2024

Jumlah utang konsumtif masyarakat Indonesia di perbankan tercatat mengalami tren kenaikan laju pertumbuhan pasca pandemi Covid-19 hingga pertengahan 2024. Peningkatan terjadi di saat fenomena banyak kelas menengah turun kasta. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah masyarakat kelas menengah pada 2024 hanya mencapai 47,85 juta orang, menyusut 9,48 juta dari 2019. Kelas menengah adalah mereka dengan pengeluaran bulanan Rp 2,04 juta hingga Rp 9,9 juta. 

Sementara itu, kredit konsumtif rumah tangga di perbankan berdasarkan data Bank Indonesia (BI) per Juli 2024 tumbuh 11,05% secara tahunan atau year on year (YoY), naik dari 10,64% pada Juni. Trennya meningkat sejak akhir 2023. Sejumlah bankir tetap optimistis kredit konsumer punya prospek positif sampai akhir akhir tahun. Wakil Direktur Utama Bank Mega, Lay Diza Larentie melihat potensi pertumbuhan kredit konsumsi masih terbuka lebar, terutama didorong aktivitas traveling. Tahun ini, Bank Mega optimistis kredit konsumer tumbuh sekitar 8%-10%. Untuk mencapai itu, perseroan gencar memberikan promo dan program menarik bagi nasabah lewat pameran, seperti Mega Travel Fair. Senada, Bank Mandiri juga masih melihat potensi pada pertumbuhan kredit konsumsi hingga akhir tahun. Corporate Secretary Bank Mandiri, Teuku Ali Usman mengatakan, pihaknya menargetkan kredit secara keseluruhan tumbuh di kisaran 16%-18% tahun ini. Per Juni 2024, Bank Mandiri mencatatkan outstanding kredit kosumer sebesar Rp 115,89 triliun. Angka tersebut meningkat sekitar 9,02% secara tahunan. Portofolio KPR bank ini tumbuh 16% jadi Rp 59,7 triliun dan kartu kredit melonjak 18,1% menjadi Rp 17,6 triliun.