Ekonomi
( 40554 )Industri Nasional Bersiap untuk Ekspansi Besar
Keputusan Bank Indonesia (BI) yang dipimpin oleh Perry Warjiyo untuk memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis points menjadi 6,00% disambut dengan optimisme oleh pelaku industri, khususnya sektor perbankan dan properti. Menurut Darmawan Junaidi, Direktur Utama Bank Mandiri, penurunan ini akan mendorong turunnya suku bunga kredit, yang memungkinkan bank-bank, termasuk Bank Mandiri, untuk lebih agresif dalam menyalurkan kredit. Bank Mandiri bahkan menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 20% hingga akhir tahun.
Langkah ini juga diapresiasi oleh Lani Darmawan, Presiden Direktur PT CIMB Niaga, dan Rita Mirasari, Direktur Bank Danamon, yang melihat peluang pertumbuhan bisnis dengan lebih longgarnya likuiditas. Di sektor properti, Wakil Ketua Umum Realestat Indonesia (REI) Bambang Eka Jaya berharap turunnya BI Rate akan meningkatkan pasar properti, meskipun tetap perlu kehati-hatian dalam penerapan sistem perbankan yang prudent.
Di luar sektor keuangan, Wahyudi Chandra, Presiden Direktur PT Multipolar Technology, menyatakan bahwa kebijakan ini akan membantu menjaga arus kas dan modal perseroan hingga akhir tahun.
Ekonom senior Ryan Kiryanto memuji keputusan BI yang berani dan taktis. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan kondisi domestik dan global, termasuk prediksi penurunan suku bunga oleh The Fed. Perry Warjiyo menegaskan bahwa fokus BI kini beralih untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, setelah sebelumnya berfokus pada stabilitas, terutama untuk mendukung pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.
Masih Ada Ruang untuk Pemangkasan Suku Bunga Acuan
Bank Indonesia (BI) akhirnya memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) September. Dengan demikian, BI-Rate saat ini di level 6%. BI terakhir kali memotong bunga acuan pada Februari 2021 sebesar 25 bps ke level 3,5%. Pasca penurunan itu, bank sentral mempertahankan bunga acuan cukup lama, hingga Juli 2022. Pada periode Agustus 2022 hingga Agustus 2024, BI secara konsisten mengerek bunga acuan 275 bps hingga ke level 6,5%. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebutkan lima alasan dibalik keputusan BI. Pertama, BI melihat arah penurunan suku bunga The Fed sudah lebih jelas, baik waktu penurunan maupun besarannya.
Hal itu bisa berdampak pada kondisi makro ekonomi, termasuk inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
Kedua, kondisi rupiah sudah stabil atau cenderung menguat. Posisi rupiah pada September 2024 (hingga 17 September 2024) menguat 0,78% dibandingkan posisi akhir Agustus 2024 ke level Rp 15.330 per dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan rupiah salah satunya didorong intervensi pasar dan penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang akhirnya menarik aliran modal asing masuk ke dalam negeri.
Ketiga, kondisi inflasi yang rendah dan diperkirakan tetap terkendali hingga akhir tahun. BI memprediksi inflasi terkendali pada kisaran 1,5%-3,5% di tahun ini dan tahun depan.
Keempat, BI mendorong dan mendukung pertumbuhan ekonomi, khususnya dari sisi ritel serta usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
Kelima, BI mendorong penyaluran kredit pembiayaan dan mendukung fiskal.
Ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalia Situmorang memperkirakan, BI akan memangkas suku bunga acuan satu kali lagi sebesar 25 bps pada kuartal IV-2024.
IHSG Menguat, Saatnya Aksi Beli Kembali
Aksi pembelian kembali (buyback) saham masih ramai di Bursa Efek Indonesia. Sejumlah emiten menggelar buyback di tengah momentum bullish pasar, yang tergambar dari gerak menanjak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dalam tren naik IHSG ini, sejumlah emiten sedang dan akan menggelar buyback. Contohnya PT Harum Energy Tbk (HRUM) yang baru mendapat restu dari Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Selasa (17/9). Berikutnya ada PT Mandiri Herindo Adiperkasa Tbk (MAHA) yang menyiapkan dana sampai dengan Rp 200 miliar. MAHA akan tmeminta persetujuan dalam RUPSLB yang dijadwalkan pada 22 Oktober 2024. Selain itu, ada sejumlah emiten yang sedang menggelar buyback, antara lain PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) dan PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO). Sedangkan Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) telah mengumumkan akhir periode pelaksanaan. Head of Equities Investment Berdikari Manajemen Investasi Agung Ramadoni mengamati aksi buyback ketika pasar sedang bullish berpotensi mendatangkan respons positif.
Apalagi jika laju saham tersebut sedang melandai, sehingga tengah berada di posisi valuasi yang lebih murah.
Head Customer Literation and Education
Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi menambahkan, sejumlah emiten tampak ingin memberikan sinyal melalui
buyback. Aksi ini diharapkan bisa meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek masa depan emiten, di tengah posisi saham yang masih
undervalue.
Audi mengamati, aksi
buyback
ikut berkontribusi mengangkat harga saham, seperti pada BBNI yang melaju dalam tiga bulan terakhir. Pengamat Pasar Modal &
Founder
WH-Project William Hartanto sepakat, tren
bullish
pasar berpotensi mendatangkan respons positif, terutama bagi saham yang tertinggal atau menunggu giliran untuk naik.
Senior Research Analyst Lotus Andalan Sekuritas Fath Aliansyah sepakat, pelaku pasar perlu cermat mengukur sentimen yang sedang beredar di masing-masing emiten. Di antara saham yang berada di sekitar aksi
buyback, Fath melirik BBNI dan AGRO.
TOWR Siap Lakukan Right Issue Senilai Rp 9 Triliun
PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) membidik dana jumbo dari rights issue. Nilai saham baru yang diterbitkan dari rights issue tersebut sebanyak-banyaknya sebesar Rp 9 triliun. TOWR akan melakukan penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHEMTD) dengan harga penawaran yang akan ditetapkan dan diumumkan kemudian dalam prospektus. Untuk aksi korporasi ini, TOWR akan meminta restu dalam RUPSLB 25 Oktober 2024 mendatang. "Pelaksanaan PMHMETD harus dilakukan paling lambat 12 bulan setelah tanggal persetujuan RUPSLB," tulis manajemen TOWR dalam prospektus ringkas, Rabu (18/9).
Dana hasil
rights issue
tersebut, akan digunakan untuk membayar pinjaman dan keperluan modal kerja TOWR dan/atau anak usahanya, PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo). Jika aksi korporasi ini tidak memperoleh persetujuan dari RUPSLB, maka rencana tersebut baru dapat diajukan kembali 12 bulan setelah pelaksanaan RUPSLB. Deputi
Head of Research
Sucor Sekuritas, Paulus Jimmy melihat, rencana
right issue
yang dilakukan TOWR akan berdampak positif untuk kinerja TOWR dalam jangka panjang. Ini mengingat tujuan penggunaan dana untuk modal kerja dan
deleveraging. Melihat kinerja fundamental TOWR,
right issue
ini juga bukan disebabkan arus kas TOWR yang memburuk.
Sedangkan analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai, pergerakan saham TOWR ada di level
support
Rp 720 dan
resistance
Rp 860. Herditya pun merekomendasikan
buy on weakness
untuk TOWR dengan target harga Rp 885–Rp 955 per saham.
Grup Astra Semakin Semangat di Tengah Suku Bunga Rendah
Harapan para pelaku pasar saham di Tanah Air terwujud. Rapat dewan gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 17-18 September kemarin memangkas suku bunga acuan alias BI rate sebesar 25 basis poin (bps). Kini BI rate berada di level 6% dari sebelumnya 6,25%. Ekspektasi pasar semakin besar menanti keputusan Bank Sentral Amerika (AS) The Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunganya pada pertemuan FOMC 17-18 September ini. The Fed diproyeksi bakal menggunting suku bunganya 25 bps. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer menilai, suku bunga rendah bakal jadi salah satu katalis positif bagi kinerja emiten di dalam negeri. Tak terkecuali bagi emiten otomotif PT Astra International Tbk (ASII). Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengamini, penurunan suku bunga memberikan sentimen positif terhadap kinerja grup Astra ke depan. Kondisi ini diestimasi bisa mendongkrak kinerja ASII secara top line maupun bottom line.
Sejalan meningkatnya permintaan komoditas, penjualan alat berat ASII melalui anak usaha PT United Tractors Tbk (UNTR) akan ikut terdongkrak. Tak hanya UNTR, bisnis grup ASII lainnya di bidang perkebunan sawit melalui entitas anak usahanya, PT Astra Agro Lestari (AALI) juga bakal ketiban berkah.
Manajemen ASII juga optimistis memandang bisnis perusahaan ini ke depan.
Head of Corporate Investor Relations
ASII Tira Ardianti mengungkapkan, seluruh bisnis grup Astra dari sektor otomotif hingga komoditas terekspos risiko tingkat suku bunga.
Dalam dua tahun ke depan, ASII siap meluncurkan tiga kendaraan listrik atau
electric vehicle
(EV). "Ada tiga mobil
battery
EV yang akan diperkenalkan dan produk
hybrid
dari grup Astra bersama prinsipal. Semoga menjangkau masyarakat lebih luas," tutur Tira.
Pada perdagangan kemarin, saham ASII ditutup menguat 3,45% ke Rp 5.250. Saham UNTR juga menguat 0,19% ke level Rp 26.725, dan mengakumulasi kenaikan 18,21%. Sedangkan saham AALI mengakumulasi penurunan 9,61% sejak awal tahun ini ke posisi Rp 6.350.
CUAN Dapatkan Pinjaman Rp 700 Miliar dari BMRI untuk Ekspansi
Emiten pertambangan batubara PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) kembali meraih fasilitas pinjaman dari perbankan. Kali ini, CUAN telah menandatangani perjanjian fasilitas kredit hingga Rp 700 miliar dengan Bank Mandiri Tbk (BMRI).
Sekretaris Perusahaan Petrindo Jaya Kreasi, Robertus Maylando Siahaya bilang, CUAN bersama entitas anak usahanya dan BMRI telah meneken akta perjanjian fasilitas kredit pada 13 September 2024.
Berdasarkan perjanjian fasilitas tersebut, emiten batubara yang dikendalikan oleh taipan Prajogo Pangestu ini mendapatkan fasilitas kredit berjangka senilai Rp 700 miliar. Pinjaman berdasarkan perjanjian fasilitas itu jatuh tempo pada 12 September 2029.
Seluruh pinjaman tersebut akan digunakan CUAN untuk membiayai gap cashflow perusahaan. "Pinjaman dari BMRI menyebabkan bertambahnya kewajiban keuangan, sekaligus membantu perseroan membiayai kegiatan usaha," ungkap Robertus dalam keterbukaan informasi, Rabu (18/9).
Rajin Ekspansi, Kinerja Emiten Semakin Kuat
Bisnis rumah sakit PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) diproyeksi semakin bugar. Penambahan rumah sakit baru dan partisipasi yang kuat dari program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) akan mempertebal pendapatan emiten pengelola RS Hermina ini. Analis Maybank Sekuritas Indonesia Paulina Margareta mengatakan, di sektor rumah sakit, HEAL diunggulkan. Ini karena volume pasien yang tinggi serta partisipasi kuat di program JKN. Meskipun di antara emiten rumah sakit besar lainnya HEAL memiliki pendapatan per pasien terendah dan kontribusi JKN tertinggi, emiten ini dinilai mampu meningkatkan dan menstabilkan margin EBITDA pada 28%-30% di tahun 2024-2026. Margin EBITDA HEAL diproyeksi akan terus meningkat dari 26,8% pada tahun 2023 menjadi 29,9% pada tahun fiskal 2026. Menurut Paulina, pertumbuhan pendapatan HEAL termasuk paling unggul dibandingkan dengan perusahaan sejenis, terutama setelah terjadinya pandemi. tingkat pertumbuhan tahunan majemuk HEAL berada di atas 17% pada tahun 2022-2024. Angka ini lebih tinggi ketimbang yang dicatatkan pesaingnya yakni PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) dan PT Siloam International Hospital Tbk (SILO), yakni 11% dan 15%.
Paulina juga menyoroti, pendapatan per tahun HEAL dipengaruhi oleh adanya model kemitraan dokter. Seperti diketahui, HEAL menawarkan kepemilikan saham 0,5%-1% kepada dokternya di rumah sakit masing-masing. Sehingga mendorong perluasan bisnis dan mempertahankan dokter yang berkualitas.
Investment Consultant
PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk Reza Priyambada mengatakan, penambahan RS Hermina tentunya dapat menambah kontribusi pendapatan HEAL. "Meskipun, akan ada beban biaya tambahan yang timbul," sebut Reza.
Analis MNC Sekuritas Rudy Setiawan menilai, kontribusi rumah sakit baru HEAL kemungkinan baru akan terasa pada kuartal I-2025 mendatang. Rumah sakit yang baru beroperasi ini masih akan meningkatkan biaya awal, karena kebutuhan personel baru, termasuk staf medis dan dukungan kantor pusat.
Rudy menyarankan
buy
saham HEAL dengan mengerek target harga lebih tinggi, menjadi Rp 1.680 per saham. Reza juga merekomendasikan
buy
saham HEAL dengan target harga Rp 1.550 per saham. Begitu juga Pauline yang menyarankan
buy
HEAL dengan target harga Rp 1.850. Kemarin, harga HEAL naik 4,63% ke Rp 1.470 per saham.
Suku Bunga BI Turun, Perbankan Genjot Pertumbuhan Kredit
Perbankan mendapat angin segar baru. Bank Indonesia (BI) telah menurunkan bunga acuannya 25 basis point (bps) ke level 6%. Kebijakan tersebut bakal mengurangi tekanan biaya dana yang menjadi tantangan utama bank tahun ini. Tingginya biaya dana menjadi salah satu penyebab tingkat profitalitas perbankan tahun ini melambat. Data Bank Indonesia (BI) mencatat suku bunga simpanan berjangka mengalami tren peningkatan selama era suku bunga tinggi. Per Juli 2024, bunga simpanan berjangka tenor 1 bulan mencapai 4,75%. Sedangkan pada Juli 2023 masih di level 4,54% dan di Desember sebesar 4,71%. Penurunan bunga acuan tentu akan segera direspon bank-bank dengan menurunkan bunga dana mahalnya. Bank CIMB Niaga, misalnya, akan fokus menurunkan biaya dana atau cost of fund (CoF) dengan adanya penurunan BI rate. Artinya, bunga simpanan bank berkode saham BNGA ini akan lebih dulu turun agar likuiditas semakin baik dan bank selanjutnya bisa memberikan bunga kredit lebih murah. “(Dengan penurunan CoF) margin bisa tetap sehat. Bank juga bisa membiayai kredit, termasuk resiko NPL,” kata Presiden Direktur Bank CIMB Niaga Lani Darmawan, Rabu (18/9).
Namun, Lani belum bisa memastikan bunga simpanan bisa langsung turun setelah pasca penurunan BI rate yang diputuskan pada Rabu (18/9). Menurutnya, penyesuaian bunga dana itu akan tergantung juga dengan perkembangan kondisi industri dan rate instrumen investasi lain.
Sementara itu, Direktur Keuangan Bank Mandiri Sigit Prastowo melihat penurunan BI rate akan lebih berdampak pada likuiditas ketimbang permintaan kredit. Kebijakan itu akan lebih cepat bedampak pada penurunan bunga dana.
Adapun Direktur Keuangan Bank Raya Rustati Suri Pertiwi melihat bahwa penuruna bunga acuan akan menurunkan biaya bank, terutama biaya dana. “Efisiensi biaya dana akan mendorong peningkatan efisiensi industri perbankan Indonesia.” ujarnya.
Sebagai informasi, Tiwi bilang sejauh ini belum melakukan kenaikan suku bunga. Ia bilang untuk saat ini bunga kredit di Bank Raya beragam tergantung jenis kreditnya, tapi untuk SBDK mikro di kisaran 15% dan SBDK ritel di kisaran 11%.
Dominasi Asuransi Syariah dalam Bisnis Patungan Kian Meningkat
Perusahaan patungan berpotensi makin menancapkan kukunya di industri asuransi jiwa dalam negeri. Berkat kekuatan modal yang dimiliki, perusahaan joint venture dianggap bakal mampu memenuhi sejumlah aturan baru yang bakal berlaku mulai tahun depan. Aturan anyar itu di antaranya penerapan PSAK 117 yang akan mulai berlaku pada Januari 2025. Aturan ini mengadopsi IFRS 17 yang sudah berlaku secara global. Selain itu, perusahaan joint venture juga dianggap lebih siap memenuhi aturan ekuitas yang dituangkan dalam POJK nomor 23 tahun 2023. Berdasarkan kajian IFG Progress, implementasi PSAK 117 akan berdampak pada ekuitas asuransi yang secara paralel sedang melakukan persiapan memenuhi POJK 23/2023. Kondisi ini diprediksi akan membuat landscape industri asuransi cenderung lebih ramping dengan aksi merger dan akuisisi guna memenuhi ketentuan ekuitas.
Pengamat asuransi Irvan Raharjo menilai tak mengherankan bila ekuitas perusahaan asuransi jiwa patungan mendominasi. Pasalnya sejak didirikan bertahun-tahun lalu, ada ketentuan permodalan perusahaan asuransi asing yang memang dipatok lebih tinggi dibanding perusahaan swasta nasional.
Sejumlah perusahaan asuransi
joint venture
pun menegaskan kesiapan memenuhi dua ketentuan ini. CEO PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk Wianto Chen bilang pihaknya sudah menggunakan standar pencatatan PSAK 117 untuk pelaporan kepada grup usahanya. Meski ia mengaku penerapan PSAK 117 memang perlu tambahan tenaga ahli hingga komponen teknis baru.
Sementara
Chief Financial Officer
PT Prudential Life Assurance Adit Trivedi bilang pihaknya telah menyelaraskan proses internal dengan standar baru tersebut sejak 2022. Terutama soal pelaporan yang dikirim ke perusahaan induk. "Kami melihat penerapan ini sebagai kesempatan untuk meningkatkan manajemen risiko serta transparansi keuangan," ungkap Adit.
Percepatan Pembangunan Angkutan Perkotaan dengan Kolaborasi
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









