Ekonomi
( 40460 )Karisma Evi Tiarani, Atlet Paralimpiade yang Menembus Batas
Sprinter Karisma Evi Tiarani tak pernah menyangka akan meraih medali perak di Paralimpiade Paris 2024. Sebab, pesaingnya adalah trio ”ratu” Italia yang menguasai nomor 100 meter putri klasifikasi T63 (memakai kaki palsu), yaitu Ambra Sabatini, Martina Caironi, dan Monica Grazziana Contrafatto. Di luar dugaan, dalam babak final lari 100 meter putri klasifikasi T63, Sabtu (7/9/2024), Sabatini yang hampir pasti meraih emas terjatuh hanya beberapa meter dari finis. Contrafatto yang berlari di sebelah Sabatini ikut jatuh karena tak sempat menghindar. Jadilah Evi meraih perak dan Caironi mendapat emas. Jika tidak ada insiden itu, kemungkinan Sabatini mendapat emas, Contrafatto atau Caironi perak, dan Evi maksimal meraih perunggu atau finis di peringkat keempat tanpa medali.
Amat sulit bagi Evi, yang tidak memakai kaki palsu bilah, bersaing dengan pelari yang memakai kaki palsu bilah. Klasifikasi Evi sebenarnya adalah T42, yaitu keterbatasan gerak pada sebelah kaki, tetapi tidak memakai kaki palsu. Kaki kiri Evi lebih pendek daripada kaki kanannya. Para pelari dengan kaki palsu bilah, sering dijuluki blade runner, larinya akan lebih cepat setelah jarak 60 meter karena efek pantulan dari kaki palsunya. Cara mengalahkan para blade runner adalah start cepat dan berlari sekuat tenaga sejak start. ”Tidak ada yang tidak mungkin,” kata Evi kepada Kompas sebelum babak final di zona campuran Stadion Stade de France, Paris, Sabtu (7/9).
Kata-katanya terbukti pada saat babak final. Di Paris, Evi memecahkan dua rekor dunia 100 meter putri klasifikasiT42 atas namanya, yaitu dari 14,37 detik pada Asian Para Games Hangzhou tahun 2023 menjadi 14,34 detik pada heat 1 (semifinal), lalu dipertajam lagi menjadi 14,26 detik di babak final. Target utama Evi selanjutnya adalah Paralimpiade Los Angeles 2028. Namun, sebelumnya, target terdekat adalah ASEAN Para Games Thailand 2025. Targetnya tetap sama, yaitu memecahkan rekor pribadi. Evi tidak cepat puas, dia selalu tertantang menembus limitnya sendiri. (Yoga)
Pertumbuhan Kuat, Chandra Asri Agresif Berekspansi Berbagai Sektor
Bank-bank Sentral Utama Dunia Menggelar Pertemuan Kebijakan Moneter
Persaingan Industri Perbankan dalam dan Luar Negeri
Sejumlah bank asing mulai mengurangi operasionalnya di Indonesia. Hal ini lantaran bank-bank asing tidak dapat bersaing dengan bank-bank besar nasional, utamanya pada segmen bisnis ritel atau konsumer. OJK menilai, keputusan bank asing untuk menjual bisnisnya atau mengurangi operasioanlnya di Indonesia disebabkan oleh adanya peralihan fokus dari induk bisnis masing-masing bank. Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae, iklim investasi di Indonesia yang semakin terbuka pasca pandemi Covid-19 menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi investor baik lokal maupun asing, prospek kinerja bank asing di Indonesia tentunya masih sesuai dengan harapan dan porsi terhadap industri yang tetap terjaga dengan baik. "Dukungan kami terhadap peningkatan daya saing perbankan nasional tidak hanya diberikan kepada bank 'asli Indonesia' namun tentunya juga bank asing yang beroperasi di Indonesia," imbuh Dian. Pada prinsipnya, OJK akan senantiasa mendukung industri keuangan yang berdaya saing dengan penerapan prinsip kehati-hatian sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (Yetede)
IHSG Berpeluang Kembali Menembus Rekor Tertinggi
Pariwisata RI di Ambang Kebangkitan
Industri pariwisata sedang tidak baik-baik saja. Sejumlah pihak termasuk pemerintah mengonfirmasi bahwa sektor ini menjadi satu-satunya lini bisnis yang belum sepenuhnya sembuh dari sakit menahun yang disebabkan oleh hawar virus Corona, empat warsa lalu. Buktinya okupansi perhotelan, kunjungan wisatawan, kontribusi ke produk domestik bruto, hingga devisa yang disumbang pariwisata belum setinggi prapandemi. Sayangnya, pemerintah dianggap tak jarang menelurkan kebijakan yang kontraproduktif dengan upaya penyehatan industri pariwisata. Situasi itu melengkapi keterpurukan dunia usaha yang dewasa ini dihadapkan pada sulitnya mengakses fasilitas permodalan. Pemangku kebijakan pun diharapkan mendengar suara pengusaha, agar kinerja pariwisata yang menjadi andalan sektor jasa kembali prima.
Mengoptimalkan Peran Pariwisata dalam Ekonomi Nasional
Menyoroti bahwa sektor pariwisata Indonesia masih menghadapi tantangan besar untuk pulih sepenuhnya dari dampak pandemi Covid-19. Meskipun devisa pariwisata meningkat pada 2023 menjadi US$14 miliar, angka ini masih jauh di bawah capaian pra-pandemi sebesar US$16,91 miliar pada 2019. Kontribusi pariwisata terhadap PDB juga belum signifikan, tidak pernah mencapai 5% sejak 2015.
Beberapa kendala utama yang dihadapi industri pariwisata mencakup harga tiket pesawat yang mahal, pajak tinggi di sektor transportasi, dan regulasi pemerintah yang kurang fokus. Keberadaan Satgas Penurunan Tiket Pesawat, yang bertujuan menurunkan harga tiket, belum menunjukkan hasil yang optimal. Selain itu, infrastruktur seperti bandara internasional perlu lebih dioptimalkan, terutama dalam hal konektivitas penerbangan domestik yang sering dikeluhkan oleh wisatawan.
Prabowo Subianto, yang kepemimpinannya diharapkan mampu memberikan perhatian pada promosi global dan regional serta pengembangan destinasi berkualitas. Dukungan pemerintah dalam akses permodalan juga diperlukan untuk mendorong investasi baru di sektor perhotelan, yang masih tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga seperti Thailand, yang berhasil menyerap investasi hotel baru sebesar US$304 juta pada semester pertama 2024.
Pada akhirnya, dengan promosi yang kuat dan pengembangan pariwisata yang inovatif, sektor ini bisa menjadi penggerak ekonomi yang signifikan, membawa kesejahteraan langsung ke masyarakat lokal.
Tantangan Besar Industri Turisme dalam Pengelolaan Sumber Daya
Berbagai tantangan dalam mengoptimalkan sektor pariwisata Indonesia sebagai mesin ekonomi. Meskipun pemerintah telah berusaha memulihkan sektor ini pasca-pandemi, kebijakan yang diambil dinilai kontraproduktif, seperti pengurangan jumlah bandara internasional, mahalnya tiket pesawat, dan pengurangan negara bebas visa kunjungan. Kebijakan tersebut mempengaruhi jumlah kunjungan wisatawan dan menghambat akselerasi pemulihan sektor pariwisata.
Beberapa tokoh penting dalam artikel ini adalah Maulana Yusran, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), yang menyuarakan keluhan pengusaha mengenai tingginya harga tiket pesawat dan perlunya intervensi pemerintah melalui insentif. Bayu Sutanto, Sekjen Asosiasi Maskapai Penerbangan Indonesia (INACA), menjelaskan bahwa harga tiket pesawat belum pernah melebihi tarif batas atas (TBA) yang ditetapkan pemerintah, tetapi tingginya biaya operasi maskapai membuat harga tiket sulit diturunkan. Irfan Setiaputra, Direktur Utama Garuda Indonesia, juga menekankan pentingnya penurunan harga tiket pesawat dan komunikasi dengan pemerintah terkait kendala operasional.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menyatakan bahwa pemerintah fokus pada pemulihan pariwisata, dengan langkah-langkah seperti peningkatan konektivitas, promosi wisata, dan pengembangan 5 Destinasi Pariwisata Super Prioritas (Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang). Namun, hambatan perizinan, infrastruktur, dan insentif tetap menjadi kendala yang signifikan.
Ekonom Yusuf Rendy Manilet dari Core Indonesia menambahkan bahwa sektor pariwisata masih belum bisa menjadi penyelamat neraca transaksi berjalan tanpa peningkatan daya tarik, fasilitas pendukung, dan peran masyarakat lokal dalam bisnis pariwisata.
Investasi Perhotelan Terkendala: Permodalan dan Perizinan Jadi Hambatan
Industri perhotelan di Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan, seperti moratorium pembangunan hotel baru, akses permodalan yang sulit, serta lesunya industri pariwisata pasca-pandemi. Sandiaga Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, mengusulkan moratorium pembangunan hotel di beberapa kawasan Bali untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan serta menghindari persaingan harga yang merugikan. Namun, Hariyadi Sukamdani, Ketua Umum PHRI, mengkritik kebijakan ini, karena dianggap menghambat investasi dan tidak berpihak pada pemulihan sektor perhotelan yang masih terdampak pandemi. Pelaku usaha, seperti Wahyudi Eko Sutoro dari PT Eastparc Hotel Tbk dan Harun Hajadi dari PT Ciputra Development Tbk, menekankan pentingnya fokus pada wisatawan domestik untuk menjaga okupansi hotel.
Bank Indonesia Paparkan Ekspedisi Rupiah 2024: Dorong Stabilitas Ekonomi
Menjaga kedaulatan Indonesia bukan hanya melalui pendekatan fisik seperti pertahanan, tetapi juga melalui ekonomi, sosial, dan pendidikan. Bank Indonesia (BI), bersama dengan TNI Angkatan Laut, berkolaborasi dalam Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) untuk memastikan distribusi uang Rupiah yang layak edar ke wilayah Terdepan, Terluar, dan Terpencil (3T), terutama di Papua Barat. Kepala Perwakilan BI Papua Barat, Setian, menekankan pentingnya penyediaan uang kartal dalam menjaga ekonomi daerah-daerah 3T dan memastikan transaksi dilakukan dengan Rupiah, sebagai simbol kedaulatan negara.
Asisten Operasi Kasal, Laksda TNI Yayan Sofyan, menegaskan bahwa TNI AL juga terlibat dalam menjaga kelancaran pembangunan ekonomi melalui transaksi keuangan menggunakan Rupiah. Selain distribusi uang, ekspedisi ini juga melibatkan kegiatan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat setempat, termasuk anak-anak, untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap Rupiah dan NKRI.
Dalam ekspedisi ini, BI dan TNI AL menghadapi berbagai tantangan medan, seperti gelombang laut yang tinggi, tetapi berhasil mencapai tujuan mereka. Penjabat Gubernur Papua Barat Daya, Mohammad Musa’ad, melalui perwakilannya, menyampaikan apresiasi atas upaya ini yang tidak hanya menjaga kedaulatan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui transaksi ekonomi yang lancar.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









