Perbandingam Bus Kota Modern dan yang Dibiayai Pemda
Bus kota modern yang beroperasi berkat stimulus dari pemerintah pusat, yang dibiayai APBD atau masih berjalan dengan stimulus pusat ditambah subsidi APBD telah rutin beroperasi di banyak kota di Indonesia. Untuk melihat berbandingan kualitas layanan, kita bisa tengok Joglosemar, kawasan yang terdiri dari Jogja (Yogyakarta), Solo (Surakarta), dan Semarang. Kawasan segitiga emas ini telah menjadi kawasan aglomerasi besar dan merupakan pusat pertumbuhan ekonomi di Jateng. Siti (53), warga Kelurahan Mijen, Semarang, Jateng, merupakan pelanggan bus Trans Semarang. Sejak 2019, Siti rutin mengantar anaknya, Rafi (12), ke sekolah dengan bus kota itu. Jarak rumah dengan sekolah Rafi 20 km. Kalau naik sepeda motor, butuh Rp 20.000 untuk bahan bakar dan lainnya.
”Naik Trans Semarang Rp 5.000 berdua, tinggal duduk manis, diantar sampai tujuan,” ucap Siti, Kamis (12/9) di Semarang. Fajar (32) warga Kelurahan Kedungmundu, Tembalang, Semarang, rutin menggunakan Trans Semarang sejak 2018. Meski menyukainya, ia mengeluhkan ada sopir yang ugal-ugalan dan bus berasap tebal. Bus Trans Semarang berawal dari bantuan 20 unit bus dari Kemenhub yang mulai berioperasi pada 17 September 2009. Kepala Badan Layanan Umum Unit Pelaksana Teknis Dinas Trans Semarang Haris Setyo Yunanto mengatakan, saat ini, Trans Semarang memiliki 287 unit armada dengan delapan rute koridor dan empat rute angkutan pengumpan. Selain itu, Trans Semarang juga melayani satu koridor layanan malam.
Setiap hari, rata-rata 23.000 penumpang. Haris menuturkan, anggaran operasional bus tahun 2024 Rp 180 miliar, dari APBD Kota Semarang, penjualan tiket, dan reklame. ”Secara anggaran cukup bagus dibanding kota lain. Tapi, operasionalnya perlu banyak evaluasi dan pembenahan,” ujar pakar transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang, Djoko Setijowarno. Di Yogyakarta, Purnama (35), pekerja kreatif, rutin menggunakan bus Trans Jogja. Tarif Trans Jogja yang beroperasi sejak 2008 ini hanya Rp 2.700 per trip dengan transaksi nontunai, lebih murah ketimbang ongkos ojek daring. Halte bus banyak tersebar di lokasi strategis di Yogyakarta. Apalagi, saat ini ada aplikasi Trans Jogja untuk memantau pergerakan bus di rute.
Meski demikian, menurut dia, jumlah armada Trans Jogja perlu ditambah. ”Sebagian unit rasanya sudah perlu diremajakan,” ujarnya. Kabid Angkutan Dishub DI Yogyakarta (DIY) Sapto Nugroho menjelaskan, saat ini, Trans Jogja memiliki 95 unit bus dengan 19 trayek. Berdasarkan data Dishub DIY, sirkulasi penumpang Trans Jogja tahun 2023 sebanyak 5,4 juta atau 14.800 per hari. Rata-rata keterisian bus pada Juli 2024 sekitar 14,45 %. Sapto mengatakan, Dishub DIY belum berencana me- nambah trayek dan armada Trans Jogja karena keuangan daerah terbatas. Setiap tahun, Pemda DIY memberi subsidi Rp 80 miliar-Rp 85 miliar untuk Trans Jogja. (Yoga)
Postingan Terkait
Menakar Daya Tahan Momentum Elektrifikasi
Regulasi Perumahan perlu direformasi
Mandiri Jogja Marathon 2025 Dongkrak Ekonomi DIY
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023