Ekonomi
( 40460 )BI Menurunkan Suku Bunga Acuan Sebesar 25 bps
BI menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6% suku bunga deposit facility turun sebesar 25 bps menjadi 5,25%, dan suku bunga lending facility turun sebesar bps menjadi 6,75%. Keputusan ini dinilai tepat karena akan membuat ruang gerak ekonomi, khususnya kelas menengah dan para pengusaha akan lebih luas. Keputusan ini dinilai konsisten dengan tetap rendahnya perkiraan inflasi pada tahun 2024 dan 2025 yang terkendali dalam sasaran 2,5+1% pada tahun 2024 dan 2025, penguatan dan stabilitas nilai tukar rupiah serta perlunya upaya untuk mempekuat pertumbuhan ekonomi nasional. Menurut CEO Narasi Institute dan akademisi dari UPN Veteran Jakarta, langkah BI ini merupakan kebijakan yang sangat positif dan patut didukung. Bahkan menurutnya sebaiknya dilakukan lebih agresif lagi. Kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian dan tekanan inflasi domestik yang relatif terkendali menjadi argumen kuat bahwa BI bisa menurunkan suku bunga lebih lanjut. "Langkah ini dapat memberikan momentum bagi ekonomi untuk kembali tumbuh cepat pasca-pandemi," katanya kepada Investor Daily. (Yetede)
Kredit Melambat Disebabkan Segmen Valas
BI mencatatkan pertumbuhan kredit pada Agustus 2024 sebesar 11,4% secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 12,4 (yoy), disebabkan terjadinya apresiasi nilai tukar rupiah yang membuat kredit valas terlihat menurun. Deputi Gubernur BI Juda Agung mengatakan, pertumbuhan kredit memang cenderung melambat namun tetap tumbuh kuat dan sejalan dengan target BI untuk tahun ini, yakni sebesar 10-12% (yoy). "Tapi ini (melambat) disebabkan oleh kredit valas, karena apresiasi nilai tukar rupiah sehingga kredit valas seolah-olah kecil.
Dari 12,4% jadi 11,4% ini masih kuat, secara industri total kredit yang disalurkan 51% dari rencana bisnis bank itu sudah cukup besar," imbuh Juda. Adapun pihaknya melihat ke depan di sisa tahun ini pertumbuhan dana pihak ketiga yang masih 7% dan alat liquid yang dimiliki bank AL/DPK 25,7% menunjuukan SRBI masih besar dipegang oleh bank "Dan juga funding dari non DPK kami buka RPLN kebijakannya jadi sapce besar jika bank mau pinjam untuk luar negeri untuk pendanaannya. Penurunan suku bunga juga dorong demand kredit dan cost of fund semakin murah," urai Juda. (Yetede)
PT Astra International Tbk ASII Telah Mendominasi Industri Otomotif Indonesia
Selama lebih dari setengah abad, Group Astra yang dipimpin oleh PT Astra International Tbk (ASII), telah mendominasi industri otomotif Indonesia. Sektor otomotif telah menjadi tulang punggung kinerja keuangan Astra, dan mengantarkan konglomerasi ini menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia. Namun, arus deras brand-brand asing, terutama dari China yang membawa model kendaraan listrik yang digemari konsumen, mulai mengancam dominasi tersebut. Penjualan mobil Astra pun tertekan, dengan penurunan 17% pada bulan Agustus 2024 dibandingkan bulan yang sama pada tahun yang lalu, lebih rendah dibandingkan penurunan penjualan otomotif nasional sebesar Rp14,3%.
Tekanan ini menunjukkan bahwa Astra harus segera beradaptasi menghadapi dinamika pasar dan perkembangan teknologi kendaraan. Head of Corporate Investor Relations Astra International Tira Ardianti mengaku, perseroan tidak tinggal diam dengan kondisi tersebut. "Astra akan terus berfokus pada inovasi di sektor otomotif, dengan menawarkan produk-produk ramah lingkungan yang dapat membantu transisi konsumen menuju kendaraan listrik sepenuhnya. Dengan berbagai langkah strategis dan inovasi, Astra berkomitmen untuk tetap relevan dan berkelanjutan di tengah persaingan yang makin ketat," ujar dia. (Yetede)
Pelaku Usaha Tidak Puas dengan RUU Kepariwisataan
PELAKU usaha tak puas dengan draf Rancangan Undang-Undang atau RUU Kepariwisataan. Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) menolak revisi Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan itu. Musababnya, pembahasan perundangannya tidak banyak melibatkan pengusaha dan nihil strategi pengembangan sektor pariwisata.RUU Kepariwisataan sudah disetujui menjadi usulan inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat dalam Rapat Paripurna DPR ke-21 Masa Sidang ke-V Tahun 2023-2024 pada 8 Juli 2024. RUU Kepariwisataan inisiatif DPR ini mengubah secara signifikan UU Nomor 10 Tahun 2009. Setidaknya ada 17 bab, dengan rincian lima bab judul tetap, sembilan bab perubahan judul, dan 11 bab baru.
Tiga bab dari UU sebelumnya dihapus. Enam pasal yang sudah diadopsi dalam UU Nomor 6 tentang Penetapan atas Perppu Nomor 2 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja menjadi UU tidak dimuat dalam draf RUU. Ketua Umum GIPI Hariyadi Sukamdani menilai RUU Kepariwisataan yang disusun DPR belum selaras dengan aspirasi pelaku industri pariwisata. Menurut dia, draf RUU mayoritas bersifat normatif dan terlalu teknis sehingga dikhawatirkan akan menyulitkan pelaku pariwisata di kemudian hari. Hariyadi pun meminta pemerintah dan DPR segera menunda pengesahan RUU Kepariwisataan. “Kami minta mari susun sama-sama undang-undang ini untuk kemajuan pariwisata Indonesia. Jadi jangan keluarnya undang-undang yang tidak sempurna,” kata Hariyadi dalam konferensi pers di Sahid Sudirman Residence, Jakarta, Rabu, 4 September lalu. (Yetede)
Pengusaha Yang Mengelilingi Putra Jokowi
DOSEN Universitas Negeri Jakarta, Ubedilah Badrun, menjadi salah satu dari dua pelapor dugaan gratifikasi pemberian fasilitas jet pribadi kepada putra bungsu Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep, ke Komisi Pemberantasan Korupsi. Ubed—begitu Ubedilah biasa disapa—juga pernah melaporkan soal dugaan gratifikasi kedua putra Jokowi, tapi tak digubris.Dalam laporan terbarunya, Ubed menduga pemberian fasilitas pesawat jet itu berhubungan dengan kedekatan Gibran Rakabuming Raka, kakak Kaesang sekaligus mantan Wali Kota Solo, dengan Shopee dan Garena, dua perusahaan yang berada di bawah naungan Sea Limited. Pasalnya, pesawat yang digunakan Kaesang dan istrinya, Erina Gudono, ke Amerika Serikat pada Agustus lalu identik dengan pesawat yang dimiliki perusahaan asal Singapura tersebut. “Iya benar (soal kedekatan antara Gibran dan Shopee),” kata Ubed.
Namun Ubed enggan mengungkap lebih detail soal bukti-bukti kedekatan putra mahkota tersebut dengan Shopee yang diserahkan kepada KPK. “Belum bisa saya share ke publik, ya,” katanya. Berdasarkan penelusuran Tempo, kedekatan kedua putra Jokowi dengan Shopee dan Garena memang sudah berlangsung sejak Mei 2021. Saat Gibran masih menjadi Wali Kota Solo, Shopee mendirikan kantor di Mal Solo Paragon. Pada akhir tahun yang sama, Gibran memberikan tempat kepada Shopee dan Garena untuk membangun kantor lainnya di Solo Technopark yang dikelola oleh Pemerintah Kota Solo. Shopee mendirikan Shopee Solo Creative & Innovation Hub, sedangkan Garena menghadirkan Garena Gaming & Community Hub. Kecurigaan adanya hubungan antara pemberian fasilitas jet pribadi Kaesang dan kerja sama Gibran dengan dua anak perusahaan Sea Limited itu juga diendus oleh Koordinator Masyarakat Anti-Korupsi Indonesia (MAKI), Boyamin Saiman. Dalam laporannya ke KPK, Boyamin menyertakan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) Pemkot Solo dengan Shopee dan Garena. “Isi perjanjiannya adalah mendirikan kantor dan pusat gaming di atas lahan Pemkot Solo,” kata Boyamin kepada Tempo, Rabu, 28 Agustus 2024. (Yetede)
Industri Nasional Bersiap untuk Ekspansi Besar
Keputusan Bank Indonesia (BI) yang dipimpin oleh Perry Warjiyo untuk memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis points menjadi 6,00% disambut dengan optimisme oleh pelaku industri, khususnya sektor perbankan dan properti. Menurut Darmawan Junaidi, Direktur Utama Bank Mandiri, penurunan ini akan mendorong turunnya suku bunga kredit, yang memungkinkan bank-bank, termasuk Bank Mandiri, untuk lebih agresif dalam menyalurkan kredit. Bank Mandiri bahkan menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 20% hingga akhir tahun.
Langkah ini juga diapresiasi oleh Lani Darmawan, Presiden Direktur PT CIMB Niaga, dan Rita Mirasari, Direktur Bank Danamon, yang melihat peluang pertumbuhan bisnis dengan lebih longgarnya likuiditas. Di sektor properti, Wakil Ketua Umum Realestat Indonesia (REI) Bambang Eka Jaya berharap turunnya BI Rate akan meningkatkan pasar properti, meskipun tetap perlu kehati-hatian dalam penerapan sistem perbankan yang prudent.
Di luar sektor keuangan, Wahyudi Chandra, Presiden Direktur PT Multipolar Technology, menyatakan bahwa kebijakan ini akan membantu menjaga arus kas dan modal perseroan hingga akhir tahun.
Ekonom senior Ryan Kiryanto memuji keputusan BI yang berani dan taktis. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan kondisi domestik dan global, termasuk prediksi penurunan suku bunga oleh The Fed. Perry Warjiyo menegaskan bahwa fokus BI kini beralih untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, setelah sebelumnya berfokus pada stabilitas, terutama untuk mendukung pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.
Masih Ada Ruang untuk Pemangkasan Suku Bunga Acuan
Bank Indonesia (BI) akhirnya memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) September. Dengan demikian, BI-Rate saat ini di level 6%. BI terakhir kali memotong bunga acuan pada Februari 2021 sebesar 25 bps ke level 3,5%. Pasca penurunan itu, bank sentral mempertahankan bunga acuan cukup lama, hingga Juli 2022. Pada periode Agustus 2022 hingga Agustus 2024, BI secara konsisten mengerek bunga acuan 275 bps hingga ke level 6,5%. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebutkan lima alasan dibalik keputusan BI. Pertama, BI melihat arah penurunan suku bunga The Fed sudah lebih jelas, baik waktu penurunan maupun besarannya.
Hal itu bisa berdampak pada kondisi makro ekonomi, termasuk inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
Kedua, kondisi rupiah sudah stabil atau cenderung menguat. Posisi rupiah pada September 2024 (hingga 17 September 2024) menguat 0,78% dibandingkan posisi akhir Agustus 2024 ke level Rp 15.330 per dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan rupiah salah satunya didorong intervensi pasar dan penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang akhirnya menarik aliran modal asing masuk ke dalam negeri.
Ketiga, kondisi inflasi yang rendah dan diperkirakan tetap terkendali hingga akhir tahun. BI memprediksi inflasi terkendali pada kisaran 1,5%-3,5% di tahun ini dan tahun depan.
Keempat, BI mendorong dan mendukung pertumbuhan ekonomi, khususnya dari sisi ritel serta usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
Kelima, BI mendorong penyaluran kredit pembiayaan dan mendukung fiskal.
Ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalia Situmorang memperkirakan, BI akan memangkas suku bunga acuan satu kali lagi sebesar 25 bps pada kuartal IV-2024.
IHSG Menguat, Saatnya Aksi Beli Kembali
Aksi pembelian kembali (buyback) saham masih ramai di Bursa Efek Indonesia. Sejumlah emiten menggelar buyback di tengah momentum bullish pasar, yang tergambar dari gerak menanjak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dalam tren naik IHSG ini, sejumlah emiten sedang dan akan menggelar buyback. Contohnya PT Harum Energy Tbk (HRUM) yang baru mendapat restu dari Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Selasa (17/9). Berikutnya ada PT Mandiri Herindo Adiperkasa Tbk (MAHA) yang menyiapkan dana sampai dengan Rp 200 miliar. MAHA akan tmeminta persetujuan dalam RUPSLB yang dijadwalkan pada 22 Oktober 2024. Selain itu, ada sejumlah emiten yang sedang menggelar buyback, antara lain PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) dan PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO). Sedangkan Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) telah mengumumkan akhir periode pelaksanaan. Head of Equities Investment Berdikari Manajemen Investasi Agung Ramadoni mengamati aksi buyback ketika pasar sedang bullish berpotensi mendatangkan respons positif.
Apalagi jika laju saham tersebut sedang melandai, sehingga tengah berada di posisi valuasi yang lebih murah.
Head Customer Literation and Education
Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi menambahkan, sejumlah emiten tampak ingin memberikan sinyal melalui
buyback. Aksi ini diharapkan bisa meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek masa depan emiten, di tengah posisi saham yang masih
undervalue.
Audi mengamati, aksi
buyback
ikut berkontribusi mengangkat harga saham, seperti pada BBNI yang melaju dalam tiga bulan terakhir. Pengamat Pasar Modal &
Founder
WH-Project William Hartanto sepakat, tren
bullish
pasar berpotensi mendatangkan respons positif, terutama bagi saham yang tertinggal atau menunggu giliran untuk naik.
Senior Research Analyst Lotus Andalan Sekuritas Fath Aliansyah sepakat, pelaku pasar perlu cermat mengukur sentimen yang sedang beredar di masing-masing emiten. Di antara saham yang berada di sekitar aksi
buyback, Fath melirik BBNI dan AGRO.
TOWR Siap Lakukan Right Issue Senilai Rp 9 Triliun
PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) membidik dana jumbo dari rights issue. Nilai saham baru yang diterbitkan dari rights issue tersebut sebanyak-banyaknya sebesar Rp 9 triliun. TOWR akan melakukan penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHEMTD) dengan harga penawaran yang akan ditetapkan dan diumumkan kemudian dalam prospektus. Untuk aksi korporasi ini, TOWR akan meminta restu dalam RUPSLB 25 Oktober 2024 mendatang. "Pelaksanaan PMHMETD harus dilakukan paling lambat 12 bulan setelah tanggal persetujuan RUPSLB," tulis manajemen TOWR dalam prospektus ringkas, Rabu (18/9).
Dana hasil
rights issue
tersebut, akan digunakan untuk membayar pinjaman dan keperluan modal kerja TOWR dan/atau anak usahanya, PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo). Jika aksi korporasi ini tidak memperoleh persetujuan dari RUPSLB, maka rencana tersebut baru dapat diajukan kembali 12 bulan setelah pelaksanaan RUPSLB. Deputi
Head of Research
Sucor Sekuritas, Paulus Jimmy melihat, rencana
right issue
yang dilakukan TOWR akan berdampak positif untuk kinerja TOWR dalam jangka panjang. Ini mengingat tujuan penggunaan dana untuk modal kerja dan
deleveraging. Melihat kinerja fundamental TOWR,
right issue
ini juga bukan disebabkan arus kas TOWR yang memburuk.
Sedangkan analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai, pergerakan saham TOWR ada di level
support
Rp 720 dan
resistance
Rp 860. Herditya pun merekomendasikan
buy on weakness
untuk TOWR dengan target harga Rp 885–Rp 955 per saham.
Grup Astra Semakin Semangat di Tengah Suku Bunga Rendah
Harapan para pelaku pasar saham di Tanah Air terwujud. Rapat dewan gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 17-18 September kemarin memangkas suku bunga acuan alias BI rate sebesar 25 basis poin (bps). Kini BI rate berada di level 6% dari sebelumnya 6,25%. Ekspektasi pasar semakin besar menanti keputusan Bank Sentral Amerika (AS) The Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunganya pada pertemuan FOMC 17-18 September ini. The Fed diproyeksi bakal menggunting suku bunganya 25 bps. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer menilai, suku bunga rendah bakal jadi salah satu katalis positif bagi kinerja emiten di dalam negeri. Tak terkecuali bagi emiten otomotif PT Astra International Tbk (ASII). Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengamini, penurunan suku bunga memberikan sentimen positif terhadap kinerja grup Astra ke depan. Kondisi ini diestimasi bisa mendongkrak kinerja ASII secara top line maupun bottom line.
Sejalan meningkatnya permintaan komoditas, penjualan alat berat ASII melalui anak usaha PT United Tractors Tbk (UNTR) akan ikut terdongkrak. Tak hanya UNTR, bisnis grup ASII lainnya di bidang perkebunan sawit melalui entitas anak usahanya, PT Astra Agro Lestari (AALI) juga bakal ketiban berkah.
Manajemen ASII juga optimistis memandang bisnis perusahaan ini ke depan.
Head of Corporate Investor Relations
ASII Tira Ardianti mengungkapkan, seluruh bisnis grup Astra dari sektor otomotif hingga komoditas terekspos risiko tingkat suku bunga.
Dalam dua tahun ke depan, ASII siap meluncurkan tiga kendaraan listrik atau
electric vehicle
(EV). "Ada tiga mobil
battery
EV yang akan diperkenalkan dan produk
hybrid
dari grup Astra bersama prinsipal. Semoga menjangkau masyarakat lebih luas," tutur Tira.
Pada perdagangan kemarin, saham ASII ditutup menguat 3,45% ke Rp 5.250. Saham UNTR juga menguat 0,19% ke level Rp 26.725, dan mengakumulasi kenaikan 18,21%. Sedangkan saham AALI mengakumulasi penurunan 9,61% sejak awal tahun ini ke posisi Rp 6.350.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









