Ekonomi
( 40733 )LPS Mencatatkan Simpanan Kelas Kakap Mencapai Rp4.699,44 Triliun
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatatkan simpanan kelas kakap per September 2024 tumbuh 1,5% secara bulanan (month to month/mtm) mencapai Rp4.699,44 triliun. Angka ini naik dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami kontraksi. Simpanan dengan tiering diatas Rp 5 miliar tersebut secara tahunan (yera on year/yoy) juga tumbuh 8,5%, namun dibandingkan dengan posisi Juni 2024 mengalami kontraksi 0,8%. Untuk tiering Rp2-5 miliar tercatat sebesar Rp 702,05 triliun tumbuh 0,5% (mtm) per September 2024. Berikutnya, simpanan dengan tiering Rp 1-2 miliar mengalami pertumbuhan 4,3% (yoy) atau 0,3% (mtm) menjadi Rp 530,75 triliun hingga kuartal III-2024.
Setelah beberapa bulan sebelumnya simpanan jumbo menurun karena korporasi menarik dananya untuk kebutuhan pemilihan kepala daerah (pilkada), sekarang dananya sudah kembali ke sistem perbankan. Disamping simpanan jumbo mengalami pertumbuhan, sebaliknya simpanan dengan tiering di bawah Rp 1 miliar mengalami penurunan secara bulanan. Seperti simpanan tiering Rp 500 juta sampai dengan Rp 1miliar terkontraksi 0,1% (mtm) menjadi Rp612,21 triliun, tapi secara tahunan tumbuh 6,4%. Berikutnya simpanan tiering Rp200-500 juta juga terkontraksi 0,1% (mtm) menjadi Rp 720,8 triliun. (Yetede)
Pembentukan Badan Haji Bertentangan dengan Undang-Undang
Keterbatasan Emisi Obligasi
Penerbitan obligasi korporasi di tahun 2024 mengalami performa yang kurang menggembirakan dibandingkan dengan ekspektasi awal. Meskipun ada penurunan suku bunga BI, korporasi lebih memilih untuk menahan diri dan tidak melanjutkan emisi surat utang. Hingga September 2024, total emisi hanya mencapai Rp93,4 triliun, jauh dari proyeksi awal yang mencapai Rp155,46 triliun. Menurut Pefindo, penyebab utama penundaan ini adalah suku bunga yang lebih tinggi dari perkiraan, serta persaingan ketat dari instrumen lain seperti SRBI.
Beberapa perusahaan, seperti PT PP (Persero) Tbk. dan PT Lautan Luas Tbk., memilih untuk melunasi utang yang jatuh tempo dengan dana internal alih-alih menerbitkan utang baru. Meskipun begitu, masih ada korporasi yang tetap berminat menerbitkan obligasi, seperti PT Indonesia Infrastructure Finance, yang melihat peluang dengan penurunan suku bunga. Tantangan yang dihadapi pasar surat utang korporasi tahun ini, termasuk kasus gagal bayar yang meningkat, membuat investor institusi menjadi lebih selektif.
Secara keseluruhan, kondisi pasar obligasi korporasi di tahun 2024 menunjukkan ketidakpastian dan kehati-hatian dari korporasi dalam menggalang dana.
Freeport Indonesia: Hambatan dalam Perpanjangan IUPK
Freeport-McMoRan Inc. (FCX) sedang dalam proses negosiasi dengan PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID) terkait divestasi tambahan 10% saham Freeport Indonesia, yang diperlukan untuk perpanjangan izin pasca 2041. Saat ini, MIND ID menguasai 51,2% saham Freeport Indonesia, dan setelah divestasi, angka ini akan meningkat menjadi 61,2%. VP Corporate Communications Freeport Indonesia, Katri Krisnati, mengungkapkan bahwa negosiasi telah memasuki tahap finalisasi, meskipun rincian lebih lanjut belum diungkapkan.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa proses ini akan selesai di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, dan berharap Freeport dapat memenuhi persyaratan perpanjangan izin dengan cepat. FCX juga menjelaskan bahwa penawaran harga untuk divestasi akan mengacu pada nilai buku pada akhir 2041.
Dari sisi kinerja, Freeport Indonesia melaporkan peningkatan produksi dan penjualan tembaga dan emas pada kuartal III/2024, dengan produksi tembaga mencapai 1,37 miliar pound, naik 17,09% dibandingkan tahun lalu. Keseluruhan, meskipun ada tantangan dalam negosiasi, Freeport menunjukkan kinerja yang positif di sektor pertambangan.
Temuan BPK: Pindad Hadapi Masalah Keuangan
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), melalui Anggota VIII BPK, Slamet Edy Purnomo, mengungkapkan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh PT Pindad (Persero) terkait pengelolaan keuangan dan dana pensiun pegawainya. Temuan tersebut berasal dari Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan PT Pindad dari tahun 2021 hingga semester I tahun 2023.
BPK menemukan bahwa PT Pindad mengalami biaya ekonomi yang berat dan dalam kondisi financial distress. Selain itu, terdapat masalah dalam pengakuan aset dan pendapatan yang tidak memadai serta tidak sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). Pengelolaan dana pensiun juga dinilai tidak prudent, kurang transparan, dan tidak akuntabel.
BPK merekomendasikan agar Dewan Komisaris Pindad meningkatkan pengawasan terhadap pengelolaan perusahaan. Selain itu, Direksi Pindad diharapkan untuk menerapkan prinsip tata kelola yang lebih ketat dan bertanggung jawab guna memperbaiki kondisi yang ada.
Ancaman PHK Masih Mengintai
Kesempatan untuk Masuk dalam Indeks Saham Elite
Diversifikasi Batubara oleh ADRO
Harapan Tinggi pada Kinerja BEI
Pemerintahan baru yang dipimpin oleh Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka membawa optimisme bagi Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menetapkan target kinerja pasar modal yang lebih ambisius pada tahun depan. Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menyatakan keyakinannya bahwa pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan sebesar 8% akan memberikan dampak positif bagi emiten dan kegiatan penggalangan dana di pasar modal.
BEI menetapkan target moderat dengan proyeksi penambahan 66 emiten baru, meskipun saat ini baru tercatat 36 emiten. Iman menekankan pentingnya kualitas emiten yang terdaftar dan akan lebih selektif dalam menerima pencatatan baru. Ia berharap stabilitas politik dan perbaikan kualitas emiten akan menarik lebih banyak korporasi untuk berpartisipasi di pasar modal.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyatakan bahwa untuk meningkatkan kualitas efek, BEI akan bekerja sama dengan pihak independen untuk menghasilkan kebijakan yang komprehensif. Sementara itu, analis pasar, Maximilianus Nico Demus, menilai bahwa kepercayaan terhadap pasar modal yang meningkat akan berkontribusi pada gairah transaksi, dengan proyeksi pertumbuhan nilai transaksi harian sebesar 10% tahun depan.
Namun, pengamat pasar modal, Lanjar Nafim, mengingatkan bahwa BEI perlu meningkatkan transparansi dan tata kelola perusahaan agar daya tarik pasar modal dapat terjaga. Hal ini penting untuk memastikan bahwa pasar saham Indonesia tetap menarik bagi investor domestik dan asing. Budi Frensidy, seorang pengamat pasar, juga menyoroti bahwa kebijakan yang bermasalah sebelumnya menjadi tantangan, sehingga perbaikan diperlukan agar pasar modal dapat tumbuh lebih dinamis dan sehat.
Pasar Modal Menunjukkan Tren Positif
Meskipun di tengah tekanan melemahnya perekonomian global dan domestik, kinerja pasar modal Indonesia hingga bulan ini menunjukkan hasil yang cukup baik. Nilai kapitalisasi bursa mencapai Rp12.967 triliun, tumbuh 11% dibandingkan akhir 2023. Transaksi harian juga meningkat, dengan rata-rata diperkirakan mencapai Rp12,25 triliun, lebih tinggi dari tahun lalu.
Namun, fluktuasi indeks akibat faktor eksternal dan internal, termasuk konflik di Timur Tengah dan perlambatan ekonomi China, telah mempengaruhi perekonomian nasional. Daya beli masyarakat, terutama segmen menengah ke bawah, melemah dan banyak pabrikan menunda ekspansi. Meski demikian, keputusan The Fed untuk menurunkan suku bunga memberikan dampak positif, membuat indeks harga saham gabungan mencapai rekor tertinggi di 7.905,30 pada 19 September 2024.
Menteri Keuangan, yang belum disebutkan namanya dalam artikel, memberikan keyakinan bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh lembaga internasional mencapai 5% tahun ini, dengan sedikit peningkatan di tahun depan. Otoritas bursa memperkirakan pertumbuhan pasar modal yang lebih besar pada 2025, dengan target jumlah investor baru dan perusahaan yang melakukan IPO meningkat.
Namun, perlu diingat bahwa penciptaan pasar modal yang sehat dengan fundamental kuat sangat penting, dan perlindungan terhadap investor harus terus diperkuat. Ke depan, pemerintah baru harus menyiapkan strategi untuk menghadapi tantangan yang ada, dengan harapan pasar modal terus bertumbuh dan lebih atraktif.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









