Rusmidah, Dengan Ketelatenan, Memuliakan Batik Gentongan
Meski usianya telah memasuki 60 tahun, Rusmidah tetap setia menggarap batik gentongan yang rumit dan membutuhkan waktu pengerjaan yang lama. Di usia senjanya pun, corak batik yang dibuat Rusmidah bukannya semakin sederhana atau mengikuti selera pasar, tetapi justru semakin istimewa. Torehan ”uget” berupa garis dan titik halusnya semakin banyak. Garis dan titik halus bertebaran di setiap lembar batik gentongan. Menurut pembatik di Desa Macajah, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur, ini, garis da titik halus tersebut adalah salah satu keistimewaan yang menjadi talentanya. Saat ini kian sulit menjumpai pembatik yang telaten menorehkan uget dilembaran batik.
”Membubuhkan uget ke dalam selembar batik hingga ribuan jumlahnya itu sangat membutuhkan ketelitian dan ketelatenan,” kata Rusmidah yang ditemui di rumahnya di Desa Macajah, Selasa (15/10/2024). Uget, menurut ibu dari dua putra ini, adalah garis-garis pendek dan titik-titik di seluruh lembaran batik yang berfungsi untuk menguatkan corak batik.Titik yang ditorehkan di luar atau di dalam corak batik tersebut sangat kecil dan tidak bisa hanya asal ada. Kian banyak dan rapat uget, corak dan warna batik gentongan akan semakin mencuri hati penggemar batik. ”Uget inilah yang menjadi kekhasan dari batik gentongan yang saya buat,” kata Rusmidah. Corak batik gentongan karyanya didominasi bunga dan daun. Ada juga motif hewan, seperti burung,tetapi sangat sedikit serta sangat tergantung dari pesanan. Menurut Rusmidah, sulitnya membubuhkan uget pada lembaran batik membuat pengerjaan corak membutuhkan waktu minimal satu bulan.
Ditambah dengan waktu pewarnaan menggunakan gentong, rata-rata pengerjaan batik gentong membutuhkan waktu minimal satu tahun. Lamanya waktu pengerjaan batik gentongan itu mendorong pelanggan harus memesan lebih awal. Apabila batik gentongan akan dikenakan untuk pernikahan, dibutuhkan waktu setahun atau bahkan dua tahun lebih lama. Sering kali pemesan memilih sarimbit atau sepasang terdiri atas tiga lembar batik termasuk selendang dalam sekali pesan. Saatini, dengan bantuan 60 pembatik yang tinggal di sekitar Macajah, Rusmidah terus melestarika batik gentongan. Karena tingkat kesulitan yang tinggi dan waktu pewarnaan yang lama dalam tidak mengherankan jika harga selembar batik gentongan sangat mahal. ”Peminat batik gentongan sangat terbatas, tetapi pencintanya tak pernah berhenti memesan,” kata pembatik yang selama ini mendapat pendampingan dari Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) itu. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023