Ekonomi
( 40447 )Ditengah Kondisi Biaya Dana yang Mahal dan Sejumlah Tantangan Makroekonomi
Musim Gugur Bank Perkreditan
IPO Jumbo Hadapi Rintangan Berat
Pasar saham Indonesia tengah menghadapi tantangan besar terkait dengan Initial Public Offering (IPO) di penghujung tahun ini. Meskipun dua emiten besar, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dan PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY), telah mengumumkan rencana IPO, langkah ini menjadi pertaruhan besar mengingat kondisi pasar yang tengah lesu. Sepanjang tahun ini, kebanyakan IPO didominasi oleh emiten kecil dan menengah dengan nilai emisi yang jauh lebih rendah dibandingkan tahun lalu, yang mencatatkan 79 emiten baru. Selain ketidakpastian pasar yang mendorong calon emiten menunda IPO, kualitas IPO juga menjadi sorotan, terutama terkait dengan tindakan oknum yang mencoreng citra pasar modal, yang mendorong Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk lebih selektif dalam meloloskan emiten baru.
Tokoh yang relevan dalam artikel ini adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dan PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY) sebagai dua calon emiten besar yang tengah menyambut kesempatan untuk melaksanakan IPO di tengah situasi pasar yang penuh tantangan.
Window Dressing, Harapan Akhir Tahun Pasar Saham
Meskipun terdapat harapan akan terjadinya window dressing dan beberapa aksi besar di pasar modal, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir tahun ini cenderung lesu. Pada bulan November, IHSG mengalami penurunan signifikan sebesar 4,94%, meskipun secara tahunan (YoY) masih mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 2,33%. Perdagangan yang lesu ini mencerminkan penurunan gairah investor dan transaksi pasar yang melambat, dengan rata-rata transaksi harian yang jauh di bawah target Bursa Efek Indonesia (BEI).
Namun, terdapat optimisme karena aksi window dressing yang biasanya dilakukan oleh manajer investasi di penghujung tahun, serta adanya dua IPO jumbo yang diharapkan dapat memberikan dorongan positif bagi pasar. Kedua emiten besar tersebut adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dan PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY), yang keduanya berpotensi meraup dana besar melalui IPO mereka, masing-masing sekitar Rp4,59 triliun dan Rp4,71 triliun.
Tokoh yang relevan dalam artikel ini adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dan PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY), yang diharapkan akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pergerakan pasar saham Indonesia menjelang tutup tahun.
Daya Tarik Saham LQ45 di Tengah Gejolak
Kinerja Indeks LQ45 mengalami penurunan signifikan, tertekan oleh sentimen negatif setelah kemenangan Donald Trump dalam Pilpres AS. Dalam periode sebulan terakhir, Indeks LQ45 turun 6,57%, lebih dalam dibandingkan dengan penurunan IHSG yang sebesar 5,69%. Secara year-to-date (YtD), Indeks LQ45 turun 10%. Meskipun demikian, sejumlah analis percaya bahwa masih ada peluang penguatan Indeks LQ45 di bulan Desember 2024, terutama berkat fenomena window dressing yang sering terjadi di akhir tahun.
Angga Septianus, Community Lead Indo Premier Sekuritas (IPOT), optimis bahwa penguatan Indeks LQ45 bisa terjadi pada Desember, meskipun sulit berbalik hijau secara YtD. Ia memprediksi saham-saham bluechip seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI), PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI), PT Telkom Indonesia Persero (TLKM), dan PT Astra International Tbk. (ASII) akan mengalami dorongan positif. Sukarno Alatas, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, juga menilai adanya peluang penguatan teknikal rebound jangka pendek, sementara Nafan Aji Gusta, Senior Market Chartist di Mirae Asset Sekuritas, mengharapkan penurunan suku bunga acuan baik dari Federal Reserve maupun Bank Indonesia dapat mendorong penguatan indeks.
Namun, tantangan terbesar tetap datang dari ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh tensi geopolitik. BRI Danareksa Sekuritas juga mengurangi target IHSG menjadi 7.448 pada akhir 2024, dengan sektor-sektor yang lebih fokus pada pasar domestik, seperti konsumer dan ritel, diharapkan bisa memberikan kontribusi positif karena katalis musiman seperti belanja politik Pilkada dan harga CPO yang tinggi.
Tokoh yang relevan dalam artikel ini adalah Angga Septianus dari Indo Premier Sekuritas (IPOT), Sukarno Alatas dari Kiwoom Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas, dan Erindra Krisnawan serta Wilastita Muthia Sofi dari BRI Danareksa Sekuritas, yang memberikan berbagai pandangan dan proyeksi terkait pergerakan Indeks LQ45 dan IHSG menjelang akhir tahun.
KAI Rancang Proyek di 5 Lokasi Baru
PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau PT KAI sedang mempersiapkan lima lokasi untuk proyek Transit Oriented Development (TOD), yang bertujuan untuk menciptakan kawasan hunian terintegrasi dengan moda transportasi kereta api. Kelima lokasi tersebut berada di Kota Solo (Stasiun Purwosari dan Stasiun Solo Balapan), Kota Surabaya (Stasiun Surabaya Gubeng), Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang (Stasiun Cicayur), dan Bintaro, Tangerang (Stasiun Sudimara). Total luas lahan yang disiapkan untuk pembangunan kawasan hunian ini mencapai 17 hektare.
Menteri BUMN Erick Thohir menekankan bahwa konsep TOD akan membawa kemudahan mobilisasi masyarakat dengan hunian vertikal yang dekat dengan stasiun kereta api. PT KAI juga telah bekerja sama dengan Perum Perumnas untuk membangun empat hunian berbasis TOD di lokasi-lokasi lain, seperti Semesta Mahata Serpong, Semesta Mahata Margonda, Semesta Mahata Tanjung Barat, dan Semesta Parayasa.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait menyatakan kesiapan kementeriannya untuk berkoordinasi dengan PT KAI dan Kementerian BUMN dalam mempercepat pembangunan proyek TOD ini. Kementerian PKP juga berencana untuk menyusun program penataan kawasan permukiman di sekitar Stasiun Manggarai untuk mendukung pembangunan hunian bagi masyarakat sekaligus program Tiga Juta Rumah.
Selain itu, Kementerian PKP juga telah menjalin komitmen dengan investor dari China, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA) untuk mendanai proyek Tiga Juta Rumah, yang bertujuan untuk meningkatkan penyediaan hunian bagi rakyat.
Dominasi Petahana di Pilkada Serentak 2024
Kinerja Lesu, Emiten Turun Kasta
Saham Populer Tunggu Momentum Kenaikan
Prospek Emiten Nikel di Tengah Ancaman Harga
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









