;
Kategori

Ekonomi

( 40447 )

Ditengah Kondisi Biaya Dana yang Mahal dan Sejumlah Tantangan Makroekonomi

29 Nov 2024
Ditengah kondisi biaya dana yang  mahal dan sejumlah tantangan makroekonomi, penyaluran kredit PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) pada kuartal III-2024 tetap meningkatkan ditopang permintaan KPR Subsidi dan KPR Non-Subsidi, serta pertumbuhan dana pihak ketika (DPK) yang tercatat di atas rata-rata industri perbankan nasional. Pencapaian tersebut menunjukkan core business BTN yang bertumbuh sehat dan solid. BTN menyalurkan kredit dan pembiayaan sebesar Rp356,1 triliun per akhir September 2024 atau tumbuh sebesar 11,9% secara tahunan (year on year/yoy) dibanding periode yang sama tahun lalu. Pencapaian tersebut masih tercatat di atas pertumbuhan rata-rata kredit industri perbankan nasional yang mencapai 10,9% yoy. Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, tahun 2024 merupakan tahun yang cukup menantang karena pertumbuhan konsumsi rumah tangga nasional mengalami stagnasi dan daya beli masyarakat mengalami pelemahan. Namun, BTN tetap mampu menjaga pertumbuhan kredit sesuai dengan target yang telah ditetapkan yakni di level 10-11% pada tahun ini. (Yetede)

Musim Gugur Bank Perkreditan

29 Nov 2024
RUKO bekas kantor Bank Perkreditan Rakyat Nature Primadana Capital (BPR NPC) di Graha Cibinong Blok F Nomor 5, Bogor, Jawa Barat, itu kini sepi. Di pintu masuk bangunan tersebut terpampang informasi bahwa bank tutup. Tak jauh dari situ, berdiri papan informasi yang mengarahkan para nasabah untuk mencairkan dana mereka di Bank Rakyat Indonesia cabang Cibinong dan Cileungsi. Sudah dua bulan BPR ini tutup. Otoritas Jasa Keuangan mencabut izin usaha entitas tersebut pada 13 September 2024, menjadikannya bank perkreditan rakyat ke-15 yang berhenti beroperasi pada tahun ini. Sebelum keputusan tersebut diambil, OJK menetapkan status pengawasan “Bank dalam Penyehatan” untuk BPR NPC pada 29 Januari 2024. Sebab, rasio kewajiban pemenuhan modal minimum di bawah ketentuan, yaitu minus 31,21 persen, dan tingkat kesehatan memiliki predikat “Tidak Sehat”.

Lalu pada 22 Agustus 2024, OJK mengubah status pengawasan menjadi “Bank dalam Resolusi”. Per 6 September 2024, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memutuskan untuk tidak melakukan penyelamatan dan meminta OJK mencabut izin usaha BPR tersebut. Daftar pencabutan izin BPR tak berhenti di Bogor. OJK mencabut izin usaha PT BPRS Kota Juang Perseroda yang beroperasi di Kabupaten Bireun, Provinsi Aceh, pada 29 November 2024. Alasannya serupa. Bank yang berstatus dalam pengawasan sejak 13 Maret 2024 itu memiliki rasio kewajiban pemenuhan modal minimum di bawah ketentuan, yaitu negatif 184,74 persen, dan tak ada perbaikan. "Pencabutan izin usaha ini bagian dari tindakan OJK menjaga dan memperkuat industri perbankan serta melindungi konsumen," ujar Kepala OJK Provinsi Aceh Daddi Peryoga dalam keterangan resminya.

Sejak Januari hingga November 2024, tercatat 16 BPR dicabut izinnya oleh OJK. Jumlahnya meningkat dibanding pada tahun lalu yang hanya empat BPR. Urusan modal menjadi salah satu tantangan terbesar BPR. OJK mewajibkan bank memiliki modal inti minimum Rp 6 miliar sejak 2015. Lantaran tak kunjung dipenuhi, sejak tahun lalu Otoritas mendorong BPR untuk bisa memenuhi ketentuan tersebut sebelum 31 Desember 2024 dan BPR syariah (BPRS) sebelum 31 Desember 2025.  OJK menyatakan kebijakan soal modal inti minimum ini dibuat untuk memperkuat BPR. "Size does matter (Ukuran itu penting)," ucap Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Perbankan OJK Eddy Manindo Harahap di Batam, Kepulauan Riau, seperti dilansir Antara pada Sabtu, 8 Juni 2024. (Yetede)

IPO Jumbo Hadapi Rintangan Berat

29 Nov 2024

Pasar saham Indonesia tengah menghadapi tantangan besar terkait dengan Initial Public Offering (IPO) di penghujung tahun ini. Meskipun dua emiten besar, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dan PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY), telah mengumumkan rencana IPO, langkah ini menjadi pertaruhan besar mengingat kondisi pasar yang tengah lesu. Sepanjang tahun ini, kebanyakan IPO didominasi oleh emiten kecil dan menengah dengan nilai emisi yang jauh lebih rendah dibandingkan tahun lalu, yang mencatatkan 79 emiten baru. Selain ketidakpastian pasar yang mendorong calon emiten menunda IPO, kualitas IPO juga menjadi sorotan, terutama terkait dengan tindakan oknum yang mencoreng citra pasar modal, yang mendorong Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk lebih selektif dalam meloloskan emiten baru.

Tokoh yang relevan dalam artikel ini adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dan PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY) sebagai dua calon emiten besar yang tengah menyambut kesempatan untuk melaksanakan IPO di tengah situasi pasar yang penuh tantangan.



Window Dressing, Harapan Akhir Tahun Pasar Saham

29 Nov 2024

Meskipun terdapat harapan akan terjadinya window dressing dan beberapa aksi besar di pasar modal, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir tahun ini cenderung lesu. Pada bulan November, IHSG mengalami penurunan signifikan sebesar 4,94%, meskipun secara tahunan (YoY) masih mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 2,33%. Perdagangan yang lesu ini mencerminkan penurunan gairah investor dan transaksi pasar yang melambat, dengan rata-rata transaksi harian yang jauh di bawah target Bursa Efek Indonesia (BEI).

Namun, terdapat optimisme karena aksi window dressing yang biasanya dilakukan oleh manajer investasi di penghujung tahun, serta adanya dua IPO jumbo yang diharapkan dapat memberikan dorongan positif bagi pasar. Kedua emiten besar tersebut adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dan PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY), yang keduanya berpotensi meraup dana besar melalui IPO mereka, masing-masing sekitar Rp4,59 triliun dan Rp4,71 triliun.

Tokoh yang relevan dalam artikel ini adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dan PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY), yang diharapkan akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pergerakan pasar saham Indonesia menjelang tutup tahun.


Daya Tarik Saham LQ45 di Tengah Gejolak

29 Nov 2024

Kinerja Indeks LQ45 mengalami penurunan signifikan, tertekan oleh sentimen negatif setelah kemenangan Donald Trump dalam Pilpres AS. Dalam periode sebulan terakhir, Indeks LQ45 turun 6,57%, lebih dalam dibandingkan dengan penurunan IHSG yang sebesar 5,69%. Secara year-to-date (YtD), Indeks LQ45 turun 10%. Meskipun demikian, sejumlah analis percaya bahwa masih ada peluang penguatan Indeks LQ45 di bulan Desember 2024, terutama berkat fenomena window dressing yang sering terjadi di akhir tahun.

Angga Septianus, Community Lead Indo Premier Sekuritas (IPOT), optimis bahwa penguatan Indeks LQ45 bisa terjadi pada Desember, meskipun sulit berbalik hijau secara YtD. Ia memprediksi saham-saham bluechip seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI), PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI), PT Telkom Indonesia Persero (TLKM), dan PT Astra International Tbk. (ASII) akan mengalami dorongan positif. Sukarno Alatas, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, juga menilai adanya peluang penguatan teknikal rebound jangka pendek, sementara Nafan Aji Gusta, Senior Market Chartist di Mirae Asset Sekuritas, mengharapkan penurunan suku bunga acuan baik dari Federal Reserve maupun Bank Indonesia dapat mendorong penguatan indeks.

Namun, tantangan terbesar tetap datang dari ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh tensi geopolitik. BRI Danareksa Sekuritas juga mengurangi target IHSG menjadi 7.448 pada akhir 2024, dengan sektor-sektor yang lebih fokus pada pasar domestik, seperti konsumer dan ritel, diharapkan bisa memberikan kontribusi positif karena katalis musiman seperti belanja politik Pilkada dan harga CPO yang tinggi.

Tokoh yang relevan dalam artikel ini adalah Angga Septianus dari Indo Premier Sekuritas (IPOT), Sukarno Alatas dari Kiwoom Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas, dan Erindra Krisnawan serta Wilastita Muthia Sofi dari BRI Danareksa Sekuritas, yang memberikan berbagai pandangan dan proyeksi terkait pergerakan Indeks LQ45 dan IHSG menjelang akhir tahun.


KAI Rancang Proyek di 5 Lokasi Baru

29 Nov 2024

PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau PT KAI sedang mempersiapkan lima lokasi untuk proyek Transit Oriented Development (TOD), yang bertujuan untuk menciptakan kawasan hunian terintegrasi dengan moda transportasi kereta api. Kelima lokasi tersebut berada di Kota Solo (Stasiun Purwosari dan Stasiun Solo Balapan), Kota Surabaya (Stasiun Surabaya Gubeng), Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang (Stasiun Cicayur), dan Bintaro, Tangerang (Stasiun Sudimara). Total luas lahan yang disiapkan untuk pembangunan kawasan hunian ini mencapai 17 hektare.

Menteri BUMN Erick Thohir menekankan bahwa konsep TOD akan membawa kemudahan mobilisasi masyarakat dengan hunian vertikal yang dekat dengan stasiun kereta api. PT KAI juga telah bekerja sama dengan Perum Perumnas untuk membangun empat hunian berbasis TOD di lokasi-lokasi lain, seperti Semesta Mahata Serpong, Semesta Mahata Margonda, Semesta Mahata Tanjung Barat, dan Semesta Parayasa.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait menyatakan kesiapan kementeriannya untuk berkoordinasi dengan PT KAI dan Kementerian BUMN dalam mempercepat pembangunan proyek TOD ini. Kementerian PKP juga berencana untuk menyusun program penataan kawasan permukiman di sekitar Stasiun Manggarai untuk mendukung pembangunan hunian bagi masyarakat sekaligus program Tiga Juta Rumah.

Selain itu, Kementerian PKP juga telah menjalin komitmen dengan investor dari China, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA) untuk mendanai proyek Tiga Juta Rumah, yang bertujuan untuk meningkatkan penyediaan hunian bagi rakyat.


Dominasi Petahana di Pilkada Serentak 2024

29 Nov 2024
Hasil hitung cepat menunjukkan kandidat yang diusung Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus mendominasi pilkada serentak 2024, memenangkan lebih dari 28 provinsi. Dominasi ini memperkuat kontrol KIM Plus di pemerintahan pusat dan daerah. Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa stabilitas politik dan keamanan menjadi kunci untuk mencapai visi pembangunan nasional.

Dari sudut pandang dunia usaha, stabilitas politik dianggap penting, namun tidak cukup. Bambang Ekajaya, Wakil Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI), menyebut harmonisasi pemerintah pusat dan daerah sangat penting untuk mendukung perencanaan usaha. Roy N. Mandey, Ketua Umum Agra, mengingatkan bahwa dominasi kekuasaan tanpa kekuatan penyeimbang dapat menimbulkan risiko penyalahgunaan wewenang.

Namun, Achmad Nur Hidayat, Ekonom UPN Veteran Jakarta, menyoroti tantangan seperti tingginya angka golput dan potensi ketidakpastian regulasi akibat lemahnya penegakan hukum terhadap pelanggaran politik, seperti politik uang. Hal ini dapat menciptakan ketidakstabilan di masa depan.

Dari sisi kebijakan usaha, Nailul Huda dari Celios menilai bahwa pengaruh pemimpin daerah terhadap investasi relatif kecil karena kebijakan investasi sudah banyak diambil alih oleh pemerintah pusat melalui UU Cipta Kerja. Alphonzus Widjaja, Ketua APPBI, menekankan pentingnya dukungan dari pemerintah daerah untuk menciptakan iklim usaha kondusif.

Stabilitas politik yang diciptakan kemenangan KIM Plus dapat menjadi peluang bagi aktivitas bisnis dan investasi, tetapi memerlukan pengawasan, transparansi, dan pemerintahan yang bersih agar dapat memberikan dampak positif secara berkelanjutan.

Kinerja Lesu, Emiten Turun Kasta

29 Nov 2024
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan perubahan papan pencatatan bagi 11 emiten, yang efektif berlaku Jumat (29/11). Hanya PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) yang berhasil naik dari papan pengembangan ke papan utama, sedangkan 10 emiten lainnya turun dari papan utama ke pengembangan. Kenaikan kelas CSRA dinilai mencerminkan kinerja operasional dan keuangan yang positif.

Miftahul Khaer, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, menjelaskan bahwa perpindahan CSRA ke papan utama menunjukkan stabilitas keuangan perusahaan. Perubahan ini diharapkan meningkatkan likuiditas saham CSRA dan menarik minat investor institusi, sehingga berpotensi memberikan dorongan harga dalam jangka pendek hingga menengah. Miftahul merekomendasikan trading buy saham CSRA dengan target harga Rp 690, mengingat sentimen positif seperti kenaikan harga CPO global dan valuasi yang masih wajar.

Namun, untuk 10 emiten yang turun kelas, Miftahul menilai hal ini mencerminkan perlambatan atau penurunan kinerja, yang biasanya berdampak pada likuiditas dan kapitalisasi sahamnya.

Sementara itu, Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, menilai perpindahan papan pencatatan ini sudah dianggap priced in oleh pasar. Ia mengamati bahwa sebagian besar emiten yang berpindah papan mengalami pergerakan saham dalam tren yang acak (random), seperti CSRA, AXIO, CMNT, dan lainnya. Sementara saham seperti BANK, CBUT, dan SDRA sedang dalam fase koreksi.

Saham CSRA dinilai masih menarik untuk dicermati karena didukung kinerja positif, likuiditas yang meningkat, dan sentimen dari pasar CPO global.

Saham Populer Tunggu Momentum Kenaikan

29 Nov 2024
Saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) seperti BBRI, BBNI, BMRI, TLKM, ASII, dan SIDO mengalami kenaikan jumlah pemegang saham meskipun harga sahamnya turun sejak awal tahun. Daniel Agustinus, Direktur Kanaka Hita Solvera, menjelaskan bahwa investor cenderung membeli saham-saham fundamental kuat yang sedang mengalami penurunan harga, dengan harapan terjadi kenaikan di masa depan. Daniel merekomendasikan saham BBRI (target harga Rp 4.800), ASII (Rp 5.500), dan TLKM (Rp 3.200).

Hendra Wardhana, pendiri Stocknow.id, menambahkan bahwa saham populer seperti BBRI, TLKM, BBCA, dan GOTO menarik minat investor ritel karena likuiditas tinggi, kapitalisasi besar, dan rekam jejak dividen yang konsisten. Saham ini juga sering masuk indeks unggulan seperti LQ45 atau IDX30, sehingga menarik perhatian pasar.

Namun, jumlah pemegang saham yang besar tidak selalu mencerminkan kinerja positif. Nafan Aji Gusta Utama, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, menyebut fenomena "dead money," di mana investor bertahan meski saham tidak memberikan return yang menjanjikan, sering terjadi pada emiten seperti GOTO dan FREN yang belum mencapai titik profitabilitas.

Sebaliknya, saham dengan jumlah pemegang kecil seperti BREN dan PANI menunjukkan lonjakan harga signifikan meski memiliki risiko likuiditas yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan investor pada fundamental emiten dan aksi korporasi menjadi faktor utama yang menentukan pilihan investasi.

Prospek Emiten Nikel di Tengah Ancaman Harga

29 Nov 2024
Kinerja PT Vale Indonesia Tbk (INCO) diperkirakan tertekan tahun ini akibat penurunan harga nikel dunia yang mencapai US$ 15.883 per ton, turun 6,14% dari akhir 2023. Arinda Izzaty, Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, menyebut lemahnya permintaan global dari sektor baja tahan karat dan kendaraan listrik, serta kelebihan pasokan dari Indonesia, menjadi faktor utama tekanan harga nikel. Ia memproyeksikan support di level US$ 15.490 dan resistance di US$ 16.525 per ton.

Sementara itu, Miftahul Khaer dari Kiwoom Sekuritas Indonesia melihat potensi stabilisasi harga di kisaran US$ 14.000 - US$ 15.000 per ton jika produsen besar menyesuaikan produksi. Meski demikian, turunnya harga nikel memengaruhi margin keuntungan INCO, terutama karena nikel matte adalah sumber utama pendapatannya.

Namun, prospek jangka panjang INCO tetap positif. Hasan Barakwan dari Maybank Sekuritas Indonesia merevisi turun proyeksi laba bersih INCO untuk 2024 dan 2025, masing-masing menjadi US$ 56 juta dan US$ 73 juta. Ia tetap mempertahankan rekomendasi beli, mengapresiasi inisiatif INCO menjual bijih nikel sebagai strategi diversifikasi yang membantu mengurangi dampak melemahnya harga nikel.

Arinda juga optimistis bahwa kebijakan stimulus ekonomi China dan dukungan pemerintah Indonesia melalui insentif hilirisasi dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik akan mendorong permintaan nikel. Ia merekomendasikan beli saham INCO dengan target harga Rp 4.850. Miftahul menyarankan strategi buy on weakness dengan target Rp 3.850, sementara Maybank Sekuritas menargetkan Rp 4.600 per saham, meskipun telah direvisi turun dari Rp 5.100.

Diversifikasi produk dan peluang dari transisi energi bersih menjadi kunci daya saing dan ketahanan INCO di tengah tantangan pasar saat ini.