;
Kategori

Ekonomi

( 40554 )

Kenaikan PPN Akan Semakin Memperburuk Inflasi

03 Dec 2024
Inflasi pada tahun 2024 diperkirakan akan berada pada kisaran 1,7% sampai 1,2%. Meski angka ini lebih rendah dari inflasi sepanjang tahun 2023 yang sebesar 2,81%, pemerintah harus mewaspadai lonjakan inflasi yang akan terjadi pada triwulan I 2025 yang disebabkan oleh beberapa faktor, terutama dengan adanya kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan 11% menjadi 12%.  Pada Novembr 2024, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi secara bulanan sebesar 0,3% atau lebih tinggi dibanding inflasi Oktober yang mencapai 0,08%. Adapun inflasi tahunan (year on year/yoy) sebesar 1,55% dan inflasi tahun kalender sebesar 1,12%. Inflasi tahunan pada November terjadi karena peningkatan indeks tertinggi terjadi di Papua Tengah sebesar 4,35% dan inflasi terendah terjadi di Kepaulauan Bangka Belitung sebesar 0,22%. Ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios), Nailul Huda, mengatakan untuk menjaga inflasi tetap terkendali pemerintah perlu membatalkan rencana penaikan PPN. Sebab, kebijakan tersebut akan meningkatkan harga barang-barang sehingga berpotensi mengerek laju inflasi. (Yetede)

IHSG Terpukul di Bursa Saham

03 Dec 2024
Pasar saham domestik kembali diterpa tekanan berat menjelang tutup tahun 2024. IHSG anjlok 26,27 poin atau 0,95% pada penutupan perdagangan Senin (02/12/2024),  menetap di level 7.046,9. Ini menjadi hari keempat pelemahan IHSG secara berturut-turut, mengisyaratkan sentimen negatif yang terus membayangi pasar, Seiring dengan pelemahan itu, nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp10,32 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 19,06 miliar saham. Dari total 791 saham yang diperdagangkan, sebanyak 370 saham mengalami penurunan, 222 saham menguat, dan 199 stagnan. Mayoritas sektor saham pun berguguran, dengan sektor barang konsumsi  nonprimer memimpin pelemahan hingga sebesar 2,7%. Disisi lain, sektor energi dan teknologi menjadi satu-satunya sektor yang mencatat penguatan tipis 0,4% dan 03%. Pelemahan IHSG kali ini di terjadi di tengah sentimen negatif dari dalam negeri dan dinamika global yang mengkhawatirkan. Data Purchasing Manager's Indeks (PMI) manufaktur Indonesia untuk November menunjukkan kontraksi di level 49,6- di bawah ambang batas ekspansi 50- menandakan melemahnya aktivitas perekonomian domsetik. (Yetede)

BEI Perluas Saham

03 Dec 2024

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memperluas deretan saham yang dapat ditransaksikan saat pre opening atau sebelum pembukaan perdagangan pukul 9 pagi hari. Menurut Direktur BEI Irvan Sudandy, peraturan tersebut diterapkan untuk memperluas kesempatan bagi saham-saham lain agar dapat berada pada harga terbaiknya pada pembukaan perdagangan. "Pertimbangan BEI unuk memperluas saham-saham dalam sesi pre opening adalah untuk memberikan kesempatan bagi kelompok di luar konstituen indeks LQ45 untuk melakukan price discovery, sehingga harga pembukaaan saham berada pada harga terbaik sesuai dengan informasi pasar sebelum sesi perdagangan dimulai, " kata Irvan.

Awalnya, peraturan penjualan saham pada waktu pre opening hanya diperbolehkan pada saham-saham yang termasuk dalam indeks bergengsi LQ45. Namun, saat ini, selain saham-saham yang bergabung dalam LQ45, ada juga saham-saham papan utama, new economy, dan papan pengembangan yang diperbolehkan. (Penerapan perluasan jumlah saham yang masuk ke dalam sesi pre opening diharapkan dapat membantu mendistribusikan jumlah order secara merata terhadap jumlah order masuk ke dalam sistem perdagangan bursa (JATS) pada detik awal pembukaan sesi satu perdangan, sehingga dapat mengurangi tekanan pada sistem di detik-detik awal sesi perdagangan, Juga menyelaraskan dengan paraktek umum pembukaan perdgangan di bursa regional lainnya," terang dia. (Yetede)

Dukungan untuk Menjaga Daya Beli Masyarakat

03 Dec 2024

Pemerintah menghadapi tugas yang mendesak untuk menjaga daya beli masyarakat yang sedang tertekan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan pada November hanya tercatat 1,55%, menunjukkan tren penurunan yang berlanjut sejak April. Hal ini mencerminkan lemahnya permintaan masyarakat, yang juga terindikasi oleh penurunan keyakinan konsumen dan kontraksi sektor manufaktur.

Untuk merespons kondisi ini, pemerintah telah mengambil langkah-langkah strategis, seperti menurunkan harga tiket penerbangan untuk libur Natal dan Tahun Baru serta menaikkan upah minimum nasional (UMN) sebesar 6,5% untuk tahun 2025. Presiden Prabowo menjelaskan bahwa kenaikan UMN bertujuan untuk meningkatkan daya beli pekerja, sambil mempertimbangkan daya saing usaha. Namun, beberapa kalangan mengkritik bahwa kebijakan ini belum tentu efektif karena banyak perusahaan yang kesulitan menaikkan upah, dan kenaikan tersebut mungkin tidak mencukupi untuk menutupi biaya hidup yang semakin tinggi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa kenaikan UMN sudah mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk inflasi dan kemampuan perusahaan. Ia juga memastikan bahwa pemutusan hubungan kerja (PHK) akan menjadi langkah terakhir untuk mengatasi tekanan biaya. Meskipun langkah-langkah ini menunjukkan upaya pemerintah untuk menjaga daya beli, keberhasilan jangka panjangnya sangat bergantung pada implementasi di lapangan dan kemampuan perusahaan untuk menyesuaikan dengan kebijakan tersebut.


Memberantas Kecurangan dalam Industri Asuransi

03 Dec 2024

Fraud asuransi menjadi masalah besar di Amerika Serikat dan Indonesia, dengan kerugian yang mencapai miliaran dolar per tahun. Di AS, sektor asuransi kesehatan menjadi penyumbang terbesar, sementara di Indonesia, kasus fraud melibatkan berbagai pihak, baik nasabah maupun agen asuransi. Salah satu contoh di Indonesia adalah kasus di mana seorang nasabah merekayasa kematiannya untuk mencairkan klaim asuransi, serta penipuan yang melibatkan agen asuransi dan pegawai bank yang merugikan nasabah hingga Rp200 miliar.

Fraud dalam industri asuransi terbagi menjadi dua jenis: hard fraud, yang mencakup penipuan ekstrem seperti kecelakaan yang disengaja, dan soft fraud, seperti klaim yang dilebihkan atau dipalsukan. Kedua jenis fraud ini dapat meningkatkan biaya risiko bagi perusahaan asuransi, merusak reputasi mereka, dan menambah beban administratif.

Untuk mengatasi masalah ini, industri asuransi harus berinovasi dalam tata kelola fraud, termasuk memanfaatkan teknologi analitik dan big data untuk mendeteksi perilaku mencurigakan. Selain itu, platform database fraud seperti SIPELAKU yang diperkenalkan oleh OJK, serta penguatan proses underwriting dan klaim, dapat membantu mencegah risiko fraud. Dengan mengkombinasikan teknologi canggih, pembuatan database, dan penguatan seleksi risiko, diharapkan industri asuransi dapat mengurangi kerugian finansial akibat fraud, menciptakan ekosistem yang lebih sehat, dan mendorong pertumbuhan industri yang berkelanjutan serta tepercaya.


Ketidakpastian Tinggi, Investasi Tersungkur

03 Dec 2024
Ketidakpastian global dan domestik menjelang 2025 membawa tantangan bagi pasar keuangan Indonesia. Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, menjelaskan bahwa kontraksi PMI Manufaktur Indonesia selama lima bulan berturut-turut, yang terakhir di level 49,6, mencerminkan melemahnya aktivitas ekonomi domestik dan permintaan, yang turut menekan IHSG hingga ke level 7.046,99 pada 2 Desember 2024.

Dari sisi global, Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures, mencatat bahwa rencana kebijakan tarif impor Donald Trump bisa memicu inflasi tinggi dan perlambatan ekonomi, dengan dampak signifikan pada pasar global. Sementara itu, aset seperti bitcoin, yang menunjukkan kenaikan 122,13% sepanjang 2024, diprediksi akan mendapat angin segar berkat kebijakan Trump yang ramah terhadap crypto. Fikri C. Permana, Ekonom Senior KB Valbury Sekuritas, menyoroti emas sebagai instrumen investasi yang tetap menarik di 2025, terutama dengan kemungkinan dorongan BRICS untuk menggunakan emas sebagai basis mata uang baru.

Untuk jangka pendek, investasi pada emas, obligasi jangka pendek, dan pasar uang menjadi pilihan yang lebih aman menurut Fikri. Eko Endarto, Perencana Keuangan Finansia Consulting, juga menilai saham masih menarik meski dalam jangka pendek pergerakannya belum signifikan akibat rencana kenaikan PPN dan kondisi ekonomi domestik yang belum stabil.

Inflasi Terendah dalam Tiga Tahun

03 Dec 2024
Inflasi Indonesia pada November 2024 mengalami kenaikan sedikit menjadi 0,30% month-to-month (mtm), namun secara tahunan, tingkat inflasi mencatatkan angka terendah dalam tiga tahun, yakni 1,55% year-on-year (yoy). Inflasi ini didorong oleh harga-harga bergejolak, seperti bawang merah, tomat, dan daging ayam. Namun, inflasi inti dan yang diatur pemerintah tetap rendah. Amelia Adininggar Widyasanti, Plt Kepala BPS, menjelaskan bahwa rendahnya inflasi tahunan disebabkan oleh tidak adanya lonjakan permintaan besar dan harga-harga yang stabil di komponen harga bergejolak.

Myrdal Gunarto, Global Markets Economist Maybank Indonesia, memproyeksikan bahwa meskipun inflasi tahunan menurun, lonjakan inflasi bulanan akan berlanjut hingga akhir tahun, dengan proyeksi inflasi Desember 2024 mencapai 1,62%. David Sumual, Kepala Ekonom BCA, memperkirakan inflasi bulanan Desember akan naik menjadi 0,40% mtm, sementara Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, memprediksi inflasi tahun 2024 akan berada di kisaran 1,7%-2%, lebih rendah dibandingkan tahun lalu, dan memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertimbangkan penurunan suku bunga.

Efisiensi Distribusi Jadi Andalan Pertumbuhan

03 Dec 2024
Kinerja PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) diperkirakan akan didorong oleh peningkatan impor liquefied natural gas (LNG) untuk mengimbangi penurunan produksi gas pipa domestik. PGAS berencana mengimpor sekitar 40-50 kargo LNG pada 2025, yang akan berkontribusi pada defisit perdagangan gas yang diperkirakan mencapai US$ 2 miliar. Peningkatan biaya distribusi LNG ini memungkinkan PGAS mengenakan biaya yang lebih tinggi, meskipun ada potensi risiko intervensi pemerintah.

Ryan Winipta, analis Indo Premier Sekuritas, menyoroti potensi pendapatan dan volume distribusi yang kuat dari PGAS, berkat tambahan kargo LNG pada kuartal IV-2024, yang dapat mengimbangi penurunan dari gas pipa. Namun, risiko tetap ada pada penurunan pendapatan dari bisnis transmisi dan Saka Energi.

Rizal Rafly, analis Panin Sekuritas, mengungkapkan bahwa PGAS juga berperan dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) dan mendukung transisi energi menuju target net zero emission 2060. Analis memberikan rekomendasi berbeda untuk PGAS, dengan Arnanto Januri dari JP Morgan Sekuritas mempertahankan peringkat netral dan target harga Rp 1.370 per saham, Ryan menyarankan hold dengan target harga Rp 1.500 per saham, sementara Rizal Rafly merekomendasikan beli dengan target harga Rp 1.900 per saham.

AP Integrasikan Bisnis Properti Bandara

03 Dec 2024
Aksi merger entitas pelat merah kembali terjadi di sektor aviasi dan pariwisata Indonesia, kali ini melibatkan entitas usaha Angkasa Pura, yaitu PT Angkasa Pura Hotel (APH) dan PT Angkasa Pura Properti (APP), yang akan bergabung menjadi PT InJourney Aviation Service Properties (IASP). Langkah ini bertujuan untuk mengoptimalkan portofolio bisnis dan mengurangi tumpang tindih yang ada antara berbagai lini usaha dalam Grup Angkasa Pura.

Herry Gunawan, pengamat BUMN dari Datanesia Institute, menilai bahwa merger ini akan memberikan dampak positif terhadap kinerja keuangan perusahaan dan mengurangi risiko tumpang tindih kegiatan usaha. Ia juga menyebutkan bahwa ini adalah bagian dari agenda konsolidasi yang lebih besar di tubuh Angkasa Pura untuk menciptakan efisiensi dalam menjalankan bisnis, yang mungkin akan diikuti dengan merger entitas lainnya dalam grup tersebut.

Daya Beli Kian Terpuruk akibat banyaknya pungutan

02 Dec 2024

Kenaikan tarif PPN bukan satu-satunya faktor yang akan menggerus isi dompet masyarakat pada tahun 2025. Setidaknya, ada enam rencana pungutan dan iuran lain yang akan diterapkan pemerintah mulai tahun depan dan bakal semakin melemahkan daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah. Enam rencana pungutan dan iuran lain itu adalah program asuransi wajib kendaraan bermotor, iuran wajib Tapera, kenaikan iuran BPJS Kesehatan, program dana pensiun wajib, cukai minuman berpemanis dalam kemasan, serta normalisasi PPh final UMKM. Jika sejumlah kebijakan itu diterapkan pada 2025, akumulasi dampaknya bisa menjadi bumerang yang mengorbankan pertumbuhan ekonomi nasional di tengah lesunya kondisi daya beli masyarakat dan dunia usaha.

Efek implementasi kebijakan itu terhadap kantong masyarakat berbeda. Ada yang berdampak pada kenaikan harga barang dan jasa serta mendorong inflasi. Sebut saja, kenaikan tarif PPN dari 11 % menjadi 12 % pada 1 Januari 2025, yang akan menaikkan harga sejumlah barang dan jasa di pasaran. Simulasi yang dibuat oleh Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menunjukkan, dampak kenaikan tarif PPN dan pembatasan subsidi BBM bisa membuat inflasi tahun depan meningkat signifikan. Jika pemerintah tidak menaikkan tarif PPN dan membatasi BBM subsidi, proyeksi inflasi 2025 berada di kisaran 1,3-1,7 %. Namun, jika pemerintah memutuskan tetap memberlakukan dua kebijakan itu, proyeksi inflasi bisa naik menjadi 2,0-2,6 %.

”Banyak rencana kebijakan yang lebih berpotensi menekan ketimbang mendorong pertumbuhan kelas menengah. Padahal, kelompok ini berkontribusi paling besar terhadap transaksi barang dan jasa di Indonesia. Jika tak ada perubahan signifikan, ekonomi tidak akan lebih baik dari sekarang,” kata Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, Minggu (1/12). Direktur Kebijakan Publik Center of Economics and Law Studies (Celios) Media Wahyudi Askar mengatakan, dibanding kelompok miskin dan rentan, masyarakat kelas menengah akan mengalami tambahan pengeluaran terbesar, yakni Rp 354.293 per bulan atau Rp 4,2 juta per tahun. Untuk buruh bergaji Rp 5 juta, pengeluaran bulanan meningkat hingga Rp 357.000. ”Tanpa memasukkan indikator pungutan dan iuran lain saja, pengeluaran masyarakat sudah akan meningkat signifikan. Apalagi dengan tambahan pungutan iuran lain tahun depan,” kata Media. (Yoga)