Ekonomi
( 40447 )Membangkitkan Potensi Ekonomi Lokal
Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2024 membawa harapan besar bagi akselerasi perekonomian daerah yang selama ini belum berkembang sesuai potensinya. Para kepala daerah yang akan terpilih diharapkan dapat mengatasi tantangan ekonomi daerah, seperti daya saing yang melemah dan perlambatan investasi, dengan mengoptimalkan potensi lokal serta menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global. Dalam Pilkada Serentak 2024, terdapat 1.556 pasangan calon dari berbagai tingkatan, dan beberapa pasangan unggul sementara, seperti Pramono Anung-Rano Karno di Jakarta, Dedi Mulyadi-Irwan Setyawan di Jawa Barat, Ahmad Luthfi-Taj Yasin di Jawa Tengah, Khofifah-Emil di Jawa Timur, dan Bobby Nasution-H. Surya di Sumatera Utara.
Para pemimpin daerah terpilih diharapkan untuk dapat mewujudkan komitmen pembangunan ekonomi yang efektif. Herman N. Suparman, Direktur Eksekutif KPPOD, menekankan bahwa kapasitas dan integritas pemimpin sangat menentukan keberhasilan perekonomian daerah, dengan fokus pada evaluasi kebijakan yang menghambat dunia usaha, seperti peraturan pajak dan perizinan. Pelaku usaha lokal juga berharap agar pemimpin daerah baru dapat mendorong kebijakan pro-investasi, mendukung kinerja ekspor, dan menciptakan lapangan kerja.
Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulawesi Selatan, Firdaus Deppu, berharap agar gubernur baru lebih melibatkan pengusaha lokal dalam pembangunan dan menciptakan iklim usaha yang baik. Begitu juga dengan Ning Wahyu Astutik, Ketua Apindo Jawa Barat, yang menekankan pentingnya fokus pada penciptaan lapangan kerja di tengah tingginya angka pengangguran di wilayah tersebut.
Namun, tantangan utama yang dihadapi pemimpin daerah baru adalah menjaga stabilitas sosial-politik, mengatasi kesenjangan ekonomi, dan memastikan anggaran publik digunakan secara efektif untuk program pembangunan prioritas. Shinta W. Kamdani, Ketua Umum Apindo, juga menyoroti pentingnya penyederhanaan regulasi dan perizinan usaha agar prosesnya lebih efisien dan transparan.
Secara keseluruhan, para pemimpin daerah yang terpilih diharapkan dapat fokus pada stabilitas ekonomi, mendukung pengembangan investasi, mempercepat perizinan usaha, serta mendorong kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta untuk meningkatkan daya saing daerah.
Pasar dan Kinerja Perbankan Pasca Kemenangan Trump
Pemilihan Presiden Amerika Serikat yang berlangsung pada awal November 2024 menunjukkan kemenangan Donald Trump dari Partai Republik yang mengungguli pesaingnya, Kamala Harris dari Partai Demokrat. Kemenangan Trump diprediksi akan membawa perubahan signifikan dalam kebijakan ekonomi AS, dengan penekanan pada prioritas ekonomi domestik, seperti peningkatan investasi dalam negeri, kenaikan bea impor, dan pemotongan pajak korporasi. Kebijakan ekonomi yang sering disebut sebagai Trump 2.0 ini, dengan fokus pada pajak dan tarif impor yang lebih tinggi, diperkirakan akan mempengaruhi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, melalui arus dana yang keluar dan dampaknya pada suku bunga global.
Kebijakan Trump yang kemungkinan akan menahan penurunan suku bunga The Fed dapat mendorong Bank Indonesia untuk menyesuaikan suku bunga dalam rangka mempertahankan stabilitas ekonomi domestik, menghindari keluarnya modal, dan menarik arus investasi asing. Dalam konteks ini, meskipun kinerja perbankan nasional Indonesia, seperti yang terlihat pada laporan keuangan kuartal III 2024 dari bank-bank besar seperti BRI, Mandiri, BCA, dan BNI, menunjukkan pertumbuhan laba yang positif, saham-saham perbankan mengalami penurunan harga. Hal ini mencerminkan adanya arus keluar dari pasar modal Indonesia yang harus menjadi perhatian serius bagi pemangku kepentingan pasar modal di Indonesia.
Selain itu, meskipun sektor perbankan Indonesia relatif resilien terhadap gejolak global, tantangan tetap ada, seperti kenaikan harga minyak dan inflasi, yang dapat memengaruhi daya beli masyarakat dan kinerja industri keuangan. Pemerintah Indonesia perlu melakukan langkah-langkah strategis, seperti evaluasi kebijakan suku bunga dan memastikan anggaran belanja negara difokuskan untuk kegiatan produktif yang bisa membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan daya beli masyarakat. Peningkatan PPN yang diiringi dengan penurunan daya beli juga harus menjadi perhatian pemerintah agar tidak semakin menekan perekonomian domestik.
Secara keseluruhan, kebijakan ekonomi yang tepat dan responsif dari pemerintah Indonesia, serta kebijakan fiskal yang mendukung daya saing ekonomi domestik, akan sangat krusial dalam mengatasi tantangan ekonomi yang datang baik dari dalam negeri maupun faktor eksternal, seperti dampak dari kebijakan ekonomi Trump dan gejolak geopolitik global.
Menjaring Keuntungan dari Window Dressing
Bekal Ekspansi untuk Emiten Nikel
Efisiensi, Jawaban di Tengah Konsumsi Lesu
Kepemimpinan Daerah Baru Jadi Penentu Ekonomi Lokal
Waspada Lonjakan Utang Jika Pajak Tak Maksimal
IPO dan Saham PUPS AADI: Potensi atau Risiko?
Dorongan Orang Dalam Topang Kinerja Saham
Persiapan BPR Penuhi Ketentuan Modal Baru
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









