;
Kategori

Ekonomi

( 40554 )

TikTok & CapCut Diblokir: Implikasi bagi Ekosistem Digital

20 Jan 2025

TikTok dan CapCut, dua aplikasi yang dikembangkan oleh perusahaan China, ByteDance, resmi ditutup di Amerika Serikat mulai 19 Januari 2025, setelah undang-undang pelarangan atau divestasi yang disahkan tahun lalu mulai berlaku. Penutupan ini menyebabkan jutaan pengguna di AS tidak dapat mengakses kedua aplikasi tersebut, yang kini tidak lagi tersedia di toko aplikasi Apple dan Google, serta situs web. Pengguna yang mencoba membuka aplikasi ini juga diblokir dari konten TikTok. Keputusan ini berdampak besar, mengingat TikTok digunakan oleh sekitar 170 juta orang di AS. Sebelum penutupan resmi, muncul pemberitahuan peringatan di kedua aplikasi tersebut, yang menginformasikan pengguna mengenai penghentian sementara layanan akibat implementasi undang-undang tersebut.


Startup RI: Tantangan dan Peluang di Tengah Kompetisi

20 Jan 2025

Perjalanan bisnis startup di Indonesia, terutama setelah melakukan penawaran umum saham perdana (IPO), seringkali menghadapi berbagai tantangan. Menurut analis Richard Jonathan Halim, kinerja saham startup yang kurang memuaskan disebabkan oleh strategi "bakar duit" yang digunakan untuk mempercepat pertumbuhan dan mempertahankan daya saing, terutama di industri yang sudah matang. Hal ini mengakibatkan banyak startup yang belum mencapai profitabilitas.

Analis lain, Niko Margaronis, menekankan pentingnya GMV (Gross Merchandise Value) dalam mengukur kinerja startup, namun mengingatkan bahwa GMV besar tidak selalu berbanding lurus dengan keuntungan. Selain itu, stabilitas biaya operasional dan kemampuan mencapai profitabilitas jangka panjang dianggap sebagai indikator kunci keberhasilan startup.

Handito Joewono, Ketua Asosiasi Startup Teknologi Indonesia, juga menyoroti adanya upaya ekstrem untuk meningkatkan valuasi perusahaan startup yang seringkali menghasilkan bubble di pasar saham Indonesia. Oleh karena itu, ia menyarankan perlunya ekosistem keuangan yang lebih mendukung bagi startup, termasuk adanya bursa saham yang mirip dengan Nasdaq.

Di sisi lain, terdapat optimisme terkait ekosistem startup di Indonesia, seperti yang disampaikan oleh Pandu Sjahrir, pendiri AC Ventures. Dia mencatat bahwa meskipun ada tantangan, sektor-sektor seperti transisi energi dan kecerdasan buatan (AI) menawarkan peluang investasi yang menarik bagi investor global.

Melalui berbagai upaya perbaikan, baik dari sisi strategi bisnis maupun dukungan kebijakan pemerintah, diharapkan ekosistem startup Indonesia dapat tumbuh dan berkembang, meskipun menghadapi kondisi pasar yang menantang.


Trump Kembali? BRICS, Energi, dan Dampak Global

20 Jan 2025

Kembalinya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat pada periode 2025-2029 dapat membawa dinamika baru dalam geopolitik dan geoekonomi global. Dengan semboyan Make America Great Again, kebijakan proteksionisme dan fokus domestik Trump 2.0 berpotensi memperkuat dominasi energi fosil, termasuk meningkatkan produksi minyak dan gas AS serta agresifitas dalam ekspor LNG. Hal ini dapat memperlambat transisi global menuju energi terbarukan, yang berimplikasi pada pasar energi global, termasuk Indonesia, yang dapat meningkatkan kerjasama dalam teknologi pengendalian emisi dengan AS.

Dari sisi geopolitik, kebijakan Trump 2.0 yang cenderung proteksionis berpotensi memperlemah komitmen AS terhadap perjanjian internasional dan forum multilateral, memberi peluang bagi BRICS untuk memperluas pengaruhnya. BRICS, yang terdiri dari negara-negara berkembang seperti Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan, semakin vokal dalam menggagas tatanan ekonomi yang lebih multipolar, termasuk tantangan terhadap dominasi dolar AS dalam transaksi global.

Dari perspektif geoekonomi, meskipun negara-negara G7 masih menguasai pangsa PDB global yang lebih besar, BRICS memiliki populasi yang jauh lebih besar dan potensi untuk menjadi kekuatan ekonomi global. Indonesia, yang baru bergabung dengan BRICS, harus berhati-hati dalam mengelola hubungan dengan AS, terutama dalam sektor perdagangan dan investasi, untuk meminimalkan dampak negatif. Indonesia dapat memanfaatkan potensi ekspor energi fosil, seperti batu bara dan gas, namun harus memperhatikan transisi energi yang matang dan bertahap.

Secara keseluruhan, Indonesia perlu mengambil sikap strategis dan pragmatis untuk menjaga keseimbangan hubungan dengan kedua kekuatan besar, AS dan BRICS, demi kepentingan nasional yang lebih besar.


Krisis Startup: Strategi untuk Bertahan

20 Jan 2025

Pendanaan modal ventura untuk startup di Indonesia mengalami penurunan drastis, dari US$8,94 miliar pada 2021 menjadi hanya US$693 juta pada 2024, mencatat penurunan hingga 92,95%. Penurunan ini dipengaruhi oleh fenomena tech winter yang melanda pasar global, termasuk di Asia Tenggara. Meskipun ada penurunan signifikan di Indonesia, laju penurunan di kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan lebih rendah (87,21%).

Eddi Danusaputro, Ketua Umum Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo), menekankan bahwa masa-masa sulit ini merupakan ujian bagi ketahanan startup dan pengelolaan mereka, serta pentingnya fokus pada profitabilitas daripada valuasi semata. Sementara itu, Darryl Ratulangi dari OCBC Ventura menyatakan bahwa sentimen negatif terhadap startup yang bermasalah dapat mempengaruhi keputusan investasi modal ventura pada 2025, meskipun ada potensi bagi sektor-sektor tertentu yang masih menarik. Ronald S. Simorangkir dari Mandiri Capital Indonesia menambahkan bahwa kondisi perekonomian domestik juga berpengaruh terhadap tren investasi di Indonesia.

Meski tantangan yang dihadapi cukup besar, beberapa sektor seperti teknologi finansial dan kendaraan listrik masih dipandang memiliki potensi pertumbuhan, seperti yang dijelaskan oleh Rudiantara dan Randolph Hsu. Selain itu, Willson Cuaca dari East Ventures menambahkan bahwa penurunan pendanaan juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti tingginya suku bunga. Namun, potensi Indonesia sebagai pasar yang menarik tetap ada, terutama di sektor energi bersih dan transportasi hijau.



BUMN Karya Dibawah Tekanan Berat

20 Jan 2025
Kinerja emiten BUMN Karya pada 2025 menghadapi tantangan berat, terutama karena berkurangnya alokasi anggaran pemerintah untuk infrastruktur dan semakin ketatnya persaingan dengan perusahaan jasa konstruksi swasta. Presiden Prabowo Subianto menegaskan akan memberikan sebagian besar proyek infrastruktur kepada swasta karena dinilai lebih efisien dan efektif.

Meski begitu, emiten BUMN Karya seperti PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan PT Adhi Karya Tbk (ADHI) menyatakan siap menjalin kerja sama dengan pihak swasta. Sekretaris Perusahaan WIKA, Mahendra Vijaya, menyatakan pihaknya akan tetap fokus pada proyek infrastruktur. Sementara Corporate Secretary ADHI, Rozi Sparta, optimistis dapat memanfaatkan pengalaman mereka dalam proyek berbasis Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), dengan target pertumbuhan kontrak baru sebesar 30%-40% pada 2025.

Namun, analis seperti Andhika Cipta Labora dari Kanaka Hita Solvera menilai bahwa keterlibatan swasta dalam proyek strategis dapat mengurangi kontrak BUMN Karya dan menekan laba mereka. Selain itu, menurut Sukarno Alatas, Head of Research Kiwoom Sekuritas, sentimen negatif terhadap emiten BUMN Karya masih dominan akibat restrukturisasi utang, proyek yang tertunda, dan proses hukum yang belum selesai.

Di sisi lain, pemulihan ekonomi, kejelasan regulasi, efisiensi biaya, dan kelancaran restrukturisasi utang dapat menjadi katalis positif untuk emiten BUMN Karya. Meski demikian, Sukarno merekomendasikan pendekatan wait and see untuk saham BUMN Karya. Bagi investor yang sudah masuk, ia menyarankan untuk hold saham PTPP, ADHI, dan WIKA, dengan target harga masing-masing Rp 370, Rp 230, dan Rp 270 per saham.

Dampak Suku Bunga pada Pertumbuhan Ekonomi

20 Jan 2025
Pemangkasan suku bunga acuan di 2025 dinilai menjadi katalis positif bagi kinerja emiten sektor konsumer siklikal, terutama yang berbasis otomotif dan ritel. Andhika Audrey, analis Panin Sekuritas, menyatakan bahwa biaya dana yang lebih rendah meningkatkan arus kas dan profitabilitas emiten, dengan sektor otomotif diproyeksikan paling diuntungkan karena mayoritas pembelian kendaraan dilakukan melalui kredit. Momentum Idul Fitri juga diyakini akan meningkatkan penjualan mobil.

Sektor ritel, terutama emiten dengan target pasar menengah atas seperti Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) dan MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA), diprediksi tetap tangguh meskipun tantangan dari pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan biaya tenaga kerja tetap ada. Natalia Sutanto, analis BRI Danareksa Sekuritas, menekankan bahwa biaya tenaga kerja yang mencapai 10%-17% dari pendapatan bisa menekan profitabilitas, sehingga efisiensi dan peningkatan produktivitas menjadi strategi utama.

Optimisme juga didukung oleh peningkatan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) yang mencapai 127,7 dan proyeksi pertumbuhan ekonomi 5,1% oleh Bank Dunia. Nafan Aji Gusta, analis Mirae Asset Sekuritas, mencatat bahwa kondisi konsumsi domestik masih bisa tumbuh positif, terutama dengan potensi pemangkasan suku bunga lebih lanjut ke level 5,5%.

Analis lain seperti Rifdah Fatin Hasanah dari Ina Sekuritas merekomendasikan buy untuk Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), yang berpotensi meningkatkan margin meski menghadapi tantangan seperti larangan penjualan iPhone. Berbagai emiten berbasis ritel, seperti ACES, MAPI, dan Alfamart Tbk (AMRT), juga direkomendasikan untuk pembelian oleh para analis dengan target harga yang beragam, menunjukkan prospek yang tetap menjanjikan meskipun ada hambatan.

Fenomena Makan Tabungan: Menunggu Titik Balik Konsumsi

20 Jan 2025
Fenomena "makan tabungan" di Indonesia terus berlanjut, terlihat dari penurunan rata-rata nominal simpanan rumah tangga di rekening tabungan perbankan. Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan rata-rata simpanan per rekening tabungan pada November 2024 turun menjadi Rp 4,16 juta, dibandingkan Rp 4,33 juta pada November 2023.

Menurut Efdinal Alamsyah, Direktur Kepatuhan Bank Oke, fenomena ini mencerminkan tekanan ekonomi yang memaksa rumah tangga menggunakan tabungan untuk kebutuhan sehari-hari, seiring kenaikan biaya hidup. Hal ini juga diperkuat oleh Muhammad Iqbal, Direktur SME dan Retail Funding BTN, yang menyebutkan bahwa saldo tabungan dengan nominal kecil di BTN turun signifikan, menjadi Rp 1,8 juta pada November 2024.

Namun, Iqbal optimistis saldo tabungan bisa meningkat seiring penurunan suku bunga acuan (BI rate) dan berbagai program pemerintah, seperti program makan siang gratis dan 3 juta rumah.

Di sisi lain, SVP Retail Deposit Product & Solution Bank Mandiri, Evi Dempowati, mencatat bahwa Dana Pihak Ketiga (DPK) ritel di Bank Mandiri justru tumbuh lebih dari 8% secara tahunan pada November 2024.

David Sumual, Kepala Ekonom Bank Central Asia, memandang penurunan BI rate bisa membantu meredam fenomena makan tabungan, meskipun dampaknya baru terasa di semester II-2025. Ia juga menyoroti bahwa masyarakat kelas menengah bawah mulai bergantung pada pinjaman daring akibat tekanan ekonomi. David menilai, kenaikan harga komoditas, terutama minyak sawit mentah (CPO), kopi, dan cokelat, dapat mengurangi tekanan ekonomi dan fenomena ini di masa mendatang.

Penutupan TikTok di AS

20 Jan 2025
Penutupan aplikasi Tiktok di Amerika Serikat memiliki beberapa alasan. Akan tetapi, langkah ini berpotensi menjadi alasan pembatasan ruang siber. Aplikasi Tiktok menuju saat-saat terakhir di Amerika Serikat sebelum mereka dihapus dari berbagai pelantar pengunduhan. Pada Sabtu (18/1/2025) malam waktu setempat atau Minggu (19/1) pagi WIB, Tiktok telah memberi tahu para penggunanya bahwa Tiktok tidak lagi akan bisa digunakan untuk sementara waktu mulai Minggu waktu setempat. Laman media The Information melaporkan, para pengambil kebijakan pada Oracle, pengelola komputasi awan untuk operasional data Tiktok di AS, telah memerintahkan para staf mereka untuk segera mempersiapkan penutupan peladen (server) data Tiktok di AS mulai Sabtu pukul 21.00 waktu setempat atau Minggu pukul 09.00 WIB (Kompas.id, 19/1/2025). Sejak awal pengusulan undang-undang yang menyebabkan penutupan Tiktok, Pemerintah Amerika Serikat selalu beralasan soal ancaman keamanan nasional.

Mereka khawatir penggunaan aplikasi asal China secara luas akan mengancam keamanan nasional mereka. Mereka tidak bisa mengendalikan pengambilan dan pengelolaan data yang dilakukan oleh Tik-tok. Saat itu pilihannya adalah Tiktok ditutup atau melakukan divestasi alias penjualan sebagian saham ke entitas bisnis Amerika Serikat. Akhirnya Tiktok memilih menutup usahanya di negara itu. Kasus ini, lepas dari kemungkinan Tiktok bisa beroperasi lagi di Amerika Serikat setelah Donald Trump kembali memimpin, bisa memberi sinyal dan memicu negara lain dalam memberlakukan perusahaan teknologi di ruang siber. Apalagi, selama ini kalangan pengamat politik telah melihat posisi perusahaan teknologi yang makin lebih tinggi dibandingkan dengan negara.

Oleh karena itu, penutupan Tiktok ini bisa menjadi contoh bagi negara lain untuk melakukan langkah yang sama ketika mereka melihat kehadiran platform media sosial bisa menjadi ancaman nasional. Apakah dari kasus ini akan muncul kecenderungan pembatasan di ruang siber? Sangat mungkin. Apalagi, banyak negara juga sudah melarang penggunaan sejumlah media sosial, baik secara penuh maupun parsial. China sendiri melalui World Internet Conference berusaha mengajak sejumlah negara untuk menyusun kedaulatan siber. Prinsip mereka adalah ruang siber tidak bisa dibiarkan bebas dan tanpa kendali karena perusahaan teknologi melalui berbagai platform telah menjadi aktor dalam politik sebuah negara. Dua kemungkinan yang terjadi, pemimpin yang otoriter akan memanfaatkan atau membajak peluang ini dengan mematikan ruang siber untuk kepentingan mereka, tetapi di sisi lain kecenderungan pembatasan cepat atau lambat akan terjadi. (Yoga)

Pekerjaan 2030 yang Akan Diprediksi Tumbuh

20 Jan 2025
Melalui Future of Jobs Report 2025 yang dirilis pada 8 Januari 2025, Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) memprediksi bidang pekerjaan garis depan (frontline job roles) yang akan mengalami pertumbuhan terbesar dalam volume pada 2030 meliputi pekerjaan pertanian, pengemudi pengiriman, pekerja konstruksi, tenaga penjualan, dan pekerja pengolahan makanan. Pekerjaan ekonomi perawatan, seperti profesional keperawatan, profesional pekerjaan sosial dan konseling, dan asisten perawatan pribadi, juga diprediksi akan tumbuh secara signifikan selama lima tahun ke depan, bersamaan dengan peran guru pendidikan tinggi dan menengah. Lalu, bidang pekerjaan terkait dengan teknologi diprediksi sebagai bidang pekerjaan yang tumbuh paling cepat. Misalnya, spesialis mahadata (big data), insinyur teknologi finansial, spesialis akal imitasi atau kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan pembelajaran mesin, serta pengembang perangkat lunak dan aplikasi.

Bidang pekerjaan terkait transisi hijau dan energi, termasuk spesialis kendaraan otonom dan listrik, insinyur lingkungan, dan insinyur energi terbarukan, juga termasuk bidang pekerjaan yang diprediksi akan tumbuh paling cepat. Di sisi lain, permintaan bidang-bidang pekerjaan yang diprediksi akan turun signifikan pada tahun 2030, yaitu pekerja administrasi dan sekretaris, kasir dan petugas tiket, asisten administrasi dan sekretaris eksekutif, petugas layanan pos, teller bank, dan petugas entri data. Rata-rata pekerja dapat memperkirakan bahwa 39 persen dari keahlian mereka yang ada akan berubah atau menjadi usang selama periode 2025-2030. Meski demikian, ukuran ”ketidakstabilan keterampilan” ini telah melambat dibandingkan dengan edisi laporan sebelumnya, dari 44 persen pada tahun 2023 dan titik tertinggi 57 persen pada tahun 2020 setelah pandemi Covid-19.

Pemikiran analitis tetap menjadi keterampilan inti yang paling dicari di kalangan pengusaha. Sebanyak 7 dari 10 perusahaan menganggapnya penting pada tahun 2025. Keterampilan lainnya adalah ketahanan, fleksibilitas, dan ketangkasan, bersama dengan kepemimpinan dan pengaruh sosial. Keterampilan bidang AI dan mahadata menduduki puncak daftar keterampilan yang tumbuh paling cepat, diikuti jaringan dan keamanan siber serta literasi teknologi. Dalam laporan WEF yang dikutip pada Sabtu (18/1/2025), Direktur Pelaksana Forum Ekonomi Dunia Saadia Zahidi mengatakan, terobosan transformasional, khususnya dalam kecerdasan buatan generatif (GenAI), membentuk kembali industri dan bidang pekerjaan di semua sektor. ”Edisi tahun 2025 menangkap perspektif lebih dari 1.000 pemberi kerja yang mewakili lebih dari 14 juta pekerja di 22 kluster industri dan 55 ekonom yang memberikan wawasan yang tak tertandingi tentang lanskap pekerjaan yang muncul untuk periode 2025-2030,” katanya. (Yoga)

Ekonomi Dunia 2025 Penuh Harap-harap Cemas

20 Jan 2025
Dana Moneter Internasional memperkirakan ekonomi dunia tahun ini masih tumbuh lambat. Forum Ekonomi Dunia bahkan menyebut bakal ada tiga risiko global yang membayangi ”perjalanan” ekonomi. Ekonomi dunia berada dalam situasi harap-harap cemas. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi dunia pada 2025 dan 2026 tumbuh masing-masing 3,3 persen. Angka itu lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi global pada 2024 yang sebesar 3,2 persen. Namun, tingkat pertumbuhan itu berada di bawah rerata pertumbuhan ekonomi dunia pada 2000-2019 yang sebesar 3,7 persen. Kendati demikian, proyeksi itu lebih positif dari perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia yang dirilis pada Oktober 2024 yang sebesar 3,2 persen. Hal itu tertuang dalam World Economic Outlook Update Januari 2025 ”Global Growth: Divergent and Uncertain”. IMF merilis pemutakhiran tinjauan ekonomi tersebut di Washington, Amerika Serikat, Jumat (17/1/2025) waktu setempat.

IMF juga memperkirakan ekonomi Indonesia bakal tumbuh 5,1 persen pada 2025 dan 2026. Angka itu tidak berubah dari proyeksi sebelumnya dan sedikit lebih rendah daripada target pertumbuhan ekonomi 2025 Pemerintah Indonesia yang sebesar 5,2 persen. Tingkat inflasi global juga diperkirakan terus turun menjadi 4,2 persen pada 2025 dan 3,5 persen pada 2026. Pada  2024, tingkat inflasi global mencapai 5,7 persen. ”Ini berarti gangguan global yang sangat besar yang dimulai dengan pandemi Covid-19, kemudian perang di Ukraina yang memicu lonjakan inflasi global terbesar dalam 40 tahun terakhir, telah berlalu. Ini adalah akhir dari sebuah siklus dan awal dari siklus baru,” kata Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas melalui siaran pers. Namun, lanjut Gourinchas, ketidakpastian ekonomi dunia masih cukup besar. Ketidakpastian itu bakal dipicu konflik geopolitik, ketegangan perdagangan, dan perubahan kepemimpinan di negara-negara ekonomi utama.

Ketidakpastian kebijakan perdagangan yang meningkat akan melemahkan permintaan di banyak negara, termasuk China. Tahun ini, ekonomi negara tersebut diperkirakan hanya tumbuh 4,6 persen. Forum Ekonomi Dunia (WEF) juga memotret kondisi global yang kurang lebih sama. Pada 15 dan 16 Januari 2025, WEF merilis dua laporan tentang risiko global dan pandangan para ekonom terhadap perekonomian global. Dalam Global Risk Report 2025, WEF menyebutkan ada tiga risiko global yang tengah dan bakal dihadapi dalam dua hingga 10 tahun ke depan. Teratas adalah konflik bersenjata berbasis negara. Kemudian, pada urutan kedua dan ketiga masing-masing adalah cuaca ekstrem dan konflik geoekonomi. Dalam Chief Economists Outlook 2025, WEF menunjukkan, situasi harap-harap cemas sebagian besar dari 900 responden yang merupakan kepala ekonom lembaga dan perusahaan besar di dunia. (Yoga)