Ekonomi
( 40430 )Sebagian Besar Anggota G20 akan resesi
Dalam hasil riset terbarunya, The Economist merevisi perkiraan pertumbuhan untuk semua negara di seluruh dunia seiring menyebarnya wabah virus corona. Di antara seluruh negara G20, semua kecuali tiga negara akan mengalami resesi ekonomi pada tahun ini. Sementara itu, ekonomi global akan mengalami kontraksi sebesar 2,2%. Berdasarkan revisi prediksi pertumbuhan untuk negara-negara G20 pada tahun 2020, ada tiga negara yang diramal masih akan mencatatkan pertumbuhan. Indonesia merupakan salah satunya dengan revisi pertumbuhan 1% dari sebelumnya 5,1%. Dua negara lainnya adalah China dan India. Revisi pertumbuhan ekonomi China tahun ini adalah 1% dari sebelumnya 5,9%. Sementara India diramal akan mencatatkan pertumbuhan 2,1% (revisi) dari sebelumnya 6%.
Ekonomi AS akan mengalami kontraksi sebesar 2,8% tahun ini. Selain itu, ketika risiko ekonomi yang terkait dengan Covid-19 mulai meningkat, perjanjian antara Arab Saudi dan Rusia untuk memangkas produksi minyak gagal total, yang pada akhirnya membuat harga minyak jatuh. Kombinasi epidemi virus corona dan penurunan harga minyak global, berarti bahwa investasi akan mengalami kontraksi tajam tahun ini, terutama di sektor energi, dan pertumbuhan ekspor akan menurun. Zona Eropa akan menjadi salah satu wilayah yang paling terpukul, yang diprediksi akan mencatatkan resesi setahun penuh sebesar 5,9%. Perinciannya, Jerman akan terkontraksi -6,8%, Prancis -5%, dan Italia -7% di 2020. Di Jerman, sektor manufaktur besar sangat berorientasi ekspor, yang berarti bahwa negara tersebut secara khusus terkena gangguan rantai pasokan dan permintaan global yang lemah. Prospek pertumbuhan sangat buruk di Amerika Latin. Perinciannya adalah Argentina terkontraksi -6,7%, Brasil -5,5%, dan Meksiko -5,4% di tahun ini. Ekonomi Meksiko sangat bergantung pada tren di AS, dan ekspektasi kami bahwa pertumbuhan PDB AS akan turun memberi tekanan pada prospek ekonomi Meksiko.
Proyeksi Kinerja, Jalan Manufaktur Kian Terjal
Kinerja sektor manufaktur diperkirakan tertekan lebih dalam pada periode
April hingga Mei 2020 selama pandemi COVID-19 belum teratasi.
Purchasing Managers’ Index (PMI) sektor manufaktur yang dirilis oleh IHS
Markit pada Maret 2020 anjlok ke angka 45,3, terendah sejak 2011.
Adapun, level 50 ke atas mencatatkan adanya ekspansi. Saat ini posisi konsumsi sedang turun karena adanya pembatasan dan
protokol kesehatan, artinya penjualan pun menurun. Di sisi produksi,
bahan baku juga mulai habis. Kuartal II/2020 ini nantinya akan menjadi puncak tekanan pada industri.
Apindomenghimbau agar seluruh pabrikan menggunakan semua opsi untuk mempertahankan eksistensi dalam kondisi krisis seperti saat ini. Apindo meminta pada pabrikan yang masih memiliki permintaan untuk menggenjot kapasitas produksinya. Sementara itu, pabrikan yang pasarnya menyusut disarankan agar melakukan restrukturisasi utang, memanfaatkan stimulus, renegosiasi kontrak dengan klien, menurunkan kapasitas produksi, atau mengalihkan produksi.
Penurunan tajam PMI pada akhir kuartal I/2020 dipengaruhi oleh banyaknya
daerah yang terjangkit COVID-19. Alhasil, penurunan utilitas pabrikan
di berbagai sektor manufaktur tidak dapat dihindari.
Kemenperin
akan mengusahakan pemberian berbagai stimulus fiskal dan non-fiskal. Hal tersebut merupakan antisipasi banyaknya negara yang
melakukan protokol penguncian (lockdown) yang memberikan dampak negatif
bagi pasar lokal maupun global.
Kepala Center of Industry, Trade, and Investment Indef Andry Satrio
Nugroho mengatakan jika merujuk pada proyeksi pemerintah maka, ekonomi
Tanah Air akan masuk gelombang resesi jika sampai akhir kuartal II/2020
belum ada perbaikan dari tekanan COVID-19.
Diprediksi jika level PMI di Indonesia menyentuh 40 dan memasuki gelombang
resesi, kemungkinan industri juga bukan berada pada posisi sepenuhnya
berhenti produksi. Ekonom PT Bank Maybank Indonesia Tbk. Myrdal Gunarto sepakat kejadian
perlambatan aktivitas ekonomi maupun manufaktur ini merupakan kejadian
luar biasa pertama sejak Indonesia merdeka. Alhasil, belum ada proxy yang tepat untuk melihat arah tren bagi laju perekonomian dari kondisi ini.
Antisipasi COVID-19, Stimulus Logistik Siap Meluncur
Pemerintah tengah menyiapkan stimulus jilid ketiga dengan fokus sektor
logistik untuk mengurangi dampak penyebaran virus corona terhadap
perekonomian.
Secara prinsip stimulus ini mencakup fiskal, pembiayaan, dan perizinan. Stimulus itu penting diberikan karena sektor logistik menjadi salah satu
sektor penopang industri yang ke depan pasti sangat terdampak berbagai
antisipasi penyebaran virus corona. Stimulus itu diberikan agar nantinya para pengusaha logistik tetap
beroperasi di tengah upaya pembatasan sosial skala besar (PSSB).
Terkait rencana karantina wilayah di Jabodetabek, angkutan logistik akan menjadi salah satu kendaraan yang dikecualikan
dan dapat tetap beroperasi.
Sementara itu, Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo)
mengemukakan permintaan untuk jasa truk telah anjlok
60%.
Bila pandemi semakin berkepanjangan, tingkat permintaan jasa angkutan barang bisa hanya 10% saja.
Bila dampak pandemi corona berlangsung selama 6 bulan, diprediksi
masa pemulihan bagi sektor logistik memakan waktu 1 tahun sampai dengan 2
tahun. Oleh karena itu, Aptrindo bersama pemerintah telah melakukan rapat
koordinasi secara online dan mengusullan sejumlah insentif yang
dibutuhkan oleh pelaku jasa logistik. Aptrindo mengusulkan agar perbankan
merelaksasi pengembalian pinjaman pokok selama 12 bulan. Selain
itu, sejumlah stimulus yang telah diusulkan oleh asosiasi adalah
pemotongan suku bunga pinjaman hingga 50%. Diharapkan pula
PPh 21 supaya ditiadakan selama 12 bulan. Selanjutnya relaksasi
ketentuan PPh pasal 23 selama 12 bulan dan PPh pasal 25 dihilangkan. Selain kelonggaran untuk PPh, Aptrindo juga mengharapkan bantuan percepatan modal kerja dari pemerintah.
Orkestrasi Daya Pasok Ritel
Di tengah penyebaran Covid-19 di China, ritel jadi sektor yang turut berperan penting. Mereka berada digarda terdepan penyedia kebutuhan harian. Gerakan itu tidak hanya dari peritel yang digandeng Pemerintah China tetapi juga asosiasi ritel besar, pedagang pasar dan toko-toko kelontong yang diorkestrasi oleh Pemerintah Provinsi Hubei.
Ritel di China memang memiliki kekuatan suplai kebutuhan hidup harian masyarakat, baik konvensional maupun daring. Adopsi pemesanan daring telah tinggi dan berkembang di China tak lepas dari kesuksesan Alibaba dan JD.com dalam mengintegrasikan pengalaman belanja daring dan luring dengan sistem operasi logistik.
Di Indonesia para peritel, pelaku logistik, e-dagang bahkan pedagang kecil telah bergerak mandiri menyelamatkan usaha dan memasok kebutuhan warga. Yang dilakukan Pemerintah China belum terlihat di Indonesia. Belum ada langkah strategis yang diambil yang dapat menjadikan logistik sebagai ujung tombak pencegahan penularan Covid-19.
Pemerintah Mulai Kucurkan Stimulus Sektor Perumahan
Kementerian PUPR mulai hari ini memberlakukan stimulus fiskal perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) guna mengantisipasi pelemahan ekonomi akibat wabah Covid-19. Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan, Eko Djoeli Heripoerwanto, mengatakan bentuk stimulus tersebut berupa Subsidi Selisih Bunga (SSB) dan Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM) untuk kredit pemilikan rumah.
Anggaran yang disiapkan untuk 175 ribu rumah tagga MBR ini mencapai Rp 1,5 triliun. Heri menjelaskan, dengan skema saat ini, konsumen bisa membayar angsuran KPR dengan suku bunga sebesar 5 persen per tahun selama 10 tahun. Pemerintah akan membayar subsdi sebesar selisih angsuran denga suku bunga pasar dariyang harus dibayar nasabah. Khusus untuk pembelian rumah tapak, MBR akan mendapatkan manfaat tambahan, yaitu pemberian sebagian uang muka KPR melalui SBUM sebesar Rp 4 juta. Khusus untuk Proinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. SBUM yang diberikan sebesar Rp 10 juta. Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Real Estate Indonesia (REI), Paulus Totok Lusida, mengatakan stimulus yang mulai berlaku hari ini juga harus didukung oleh layanan perbankan. Totok berharap pemerintah juga memberikan pelonggaran PPh pasal 21 terhadap sektor properti. Sebab, sektor properti merupan penggerak perekonomian karena memiliki lebih dari 150 industri turunan.
World Bank : Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2,1%
Pandemi virus corona alias Covid-19 tak hanya menyeret ke bawah prospek pertumbuhan ekonomi global sepanjang tahun ini, tetapi juga pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Dalam laporan ekonomi regional edisi April, Asia Timur dan Pasifik di Masa Covid-19, Selasa (31/3) World Bank memproyeksi, ekonomi Indonesia hanya tumbuh 2,1% di 2020. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga, yang selama ini menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia, akan turun tajam tahun ini, yaitu hanya 1,5% dibandingkan dengan 2019 yakni 5,2%. Dalam laporannya Bank Dunia menyebut perubahan ini seiring dengan implementasi restriksi pergerakan manusia untuk menekan penyebaran virus corona. Begitu juga dengan investasi alias Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) diperkirakan tidak tumbuh sepanjang 2020 atau 0%. Tahun lalu, investasi masih tumbuh 4,4%. Sebaliknya, konsumsi pemerintah diperkirakan menjadi komponen memperkuat ekonomi Indonesia sejalan berbagai paket kebijakan stimulus fiskal yang dikeluarkan oleh pemerintah. World Bank memproyeksi pertumbuhan konsumsi pemerintah naik dari 3,2% pada tahun lalu menjadi 5% pada tahun ini.
Di tengah tajamnya penurunan pertumbuhan ekonomi dan perdagangan global, pertumbuhan ekspor dan impor Indonesia akan tetap kontraksi untuk dua tahun berturut-turut di 2020. Ekspor dan impor barang maupun jasa diprediksi mengalami tekanan masing-masing sebesar -2% dan -7%, dibandingkan tahun lalu -0,9% dan -7,7%. Akibatnya, defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) diproyeksi melebar dari 2,7% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2019 menjadi 2,8% terhadap PDB pada 2020. Ini sejalan dengan lumpuhnya sektor pariwisata dan jatuhnya harga komoditas. Namun, World Bank menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalami rebound dengan rata-rata pertumbuhan 5,4% pada tahun 2021-2022 mendatang. Perbaikan pertumbuhan ekonomi diharapkan terjadi seiring dengan pulihnya agregat permintaan global dan domestik. Proyeksi World Bank ini jauh di bawah proyeksi Bank Indonesia (BI), yaitu ekonomi Indonesia pada tahun ini tumbuh di kisaran 4,2%-4,6%. Namun, proyeksi pertumbuhan Indonesia untuk tahun depan, sejalan dengan proyeksi BI, yang sebesar 5,2%-5,6%.
Perbaikan ini seiring dengan membaiknya ekonomi global dan harga komoditas, serta kembali berjalannya aktivitas produksi dan investasi global pasca Covid-19. BI menilai, kebijakan domestik berupa berlanjutnya peningkatan kuota ekspor tembaga, hilirisasi, dan pembangunan kawasan industri akan berdampak positif terhadap perbaikan kinerja ekspor. Hal ini akan berdampak pada perbaikan kinerja investasi, terutama non-bangunan. Perbaikan investasi juga dipengaruhi oleh upaya pemerintah dalam memperbaiki iklim investasi melalui omnibus law Rancangan Undang- undang (UU) Cipta Kerja dan UU Ketentuan Umum dan Fasilitas Perpajakan untuk Penguatan Perekonomian.
Penyelundupan Tekstil, DPR Sinyalir Aparat Negara Terlibat
Anggota DPR menengarai ada keterlibatan aparat negara dalam
penyelundupan 27 kontainer tekstil premium. Anggota Komisi III DPR Arteria
Dahlan mengatakan mulusnya penyelundupan-penyelundupan tersebut
memunculkan dugaan adanya persekongkolan jahat antara pelaku dengan
oknum aparat penegak hukum yang mengawasi lalu lintas barang. Ada indikasi kapal sempat membongkar muatan dan mengganti kontainer dalam pelabuhan serta mendapatkan dokumen yang berbeda. Biaya pengiriman akan lebih murah apabila barang langsung dikirim dari
negara penghasil tekstil ke Jakarta, dibandingkan harus singgah di Port
Kelang, Malaysia dan melakukan bongkar muat dan berganti kapal angkut ke
Jakarta.
Kasus penyelundupan 27 kontainer tekstil premium itu dilakukan secara terstruktur, sistematis, dengan
menggunakan perencanaan yang matang dan masif, dengan jumlah yang besar
dan dilakukan secara berulang-ulang.
Salah satu perusahaan, hanya membayar Rp730 juta untuk bea dan
pajak 10 Kontainer. Sementara, perusahaan lainnya, hanya membayar Rp1,09
miliar untuk 17 Kontainer. Padahal, dengan menghitung
akumulasi biaya tambahan bea safeguard, kesesuaian jenis,
jumlah atau kuantitas barang, bea masuk dan pajak, kedua perusahaan
tersebut seharusnya membayar Rp1 miliar tiap kontainer. Jajaran Bea dan Cukai berhasil membongkar aksi penyelundupan 27 kontainer
tekstil premium, yang disinyalir milik seorang pengusahaa berinisial DR.
Badai Virus Corona, Bisnis Aviasi Menuju Titik Nadir
Saat virus corona mulai menyebar awal tahun, maskapai Indonesia telah lebih dahulu mengalami kesulitan. Kini, operator penerbangan nasional terancam bangkrut setelah tak mendapatkan peran berarti dalam penanganan wabah COVID-19. Keputusan maskapai penerbangan AirAsia Indonesia menghentikan operasi sementara di Tanah Air seperti terdengar berita biasa di tengah ingar bingar berita korban meninggal akibat terjangkit virus corona. Dalam skala lebih kecil maskapai berjadwal TransNusa juga menghentikan sementara operasi penerbangan ke seluruh Indonesia. Sebagian maskapai lainnya seperti Garuda Indonesia, Lion Air Group, Sriwijaya Air juga telah memangkas layanan penerbangan, baik domestik maupun internasional. Semua langkah itu diterapkan untuk mencegah kerugian setelah permintaan penerbangan anjlok hingga tersisa di bawah 50%. Bila penuntasan pandemi Coronavirus disease 2019 (COVID-19) makin tidak pasti, dia meramalkan industri aviasi bakal kian terpuruk bahkan sebagian operator penerbangan memilih tidak beroperasi karena bangkrut. Untuk mengurangi kerugian yang diderita, Indonesia National Air Carriers Association (INACA) tak menampik jika sejumlah maskapai penerbangan telah melakukan langkah antisipasi di antaranya memilih opsi tutup operasi serta melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawannya. Opsi PHK dilakukan kepada pilot, awak kabin, teknisi dan karyawan pendukung lainnya. Dampak kebangkrutan maskapai nasional bukan hanya di industri penerbangan, tetapi juga industri pendukungnya baik hilir maupun hulu seperti bengkel pesawat, ground handling, dan agen perjalanan.
Sejumlah usulan insentif dari asosiasi penerbangan, segera
dikoordinasikan dalam rapat di level kementerian koordinator. Insentif bagi sektor penerbangan harus dirumuskan dengan tepat setelah
insentif sebelumnya soal diskon tiket pesawat udara menuju 10 destinasi
wisata yang dikeluarkan pemerintah tak lagi berlaku. Pandangan berbeda datang dari pemerhati penerbangan dari Jaringan
Penerbangan Indonesia (Japri) Gerry Soejatman. Dia menyarankan
pemerintah mulai memberikan peran penting kepada maskapai nasional
terlibat dalam penanganan pandemi virus corona sebagai salah satu upaya
mengurangi beban maskapai yang kini terjerambab dalam krisis.
Kementerian Perhubungan sebaiknya memberikan keringanan perizinan bagi
pesawat penumpang untuk bisa membawa kargo alat kesehatan selama masa
tanggap darurat nasional. Perlu ada insentif fiskal seperti pembebasan untuk bea masuk komponen
suku cadang hingga penundaan PPh. Sebaiknya, lanjutnya, maskapai
diberikan penurunan long term parking charges untuk penyimpanan pesawat
di bandara.
Makin cepat pemerintah melewati puncak wabah, semakin cepat industri penerbangan dan pariwisata bisa pulih lagi.
Dampak COVID-19, Laju Pertumbuhan Makin Tertekan
Pertumbuhan ekonomi nasional diprediksi makin tertekan akibat penyebaran
wabah virus corona atau COVID-19. World Bank bahkan memprediksi
pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 hanya mencapai 2,1%
(year-on-year/yoy).
Dalam laporan berjudul World Bank East Asia and Pacific Economic Update:
April 2020 yang dirilis awal pekan ini, lembaga tersebut menuliskan
bahwa tekanan terjadi dari ekspor dan impor.
Ekspor dan impor pada 2020 masing-masing akan terkontraksi sebesar -2%
dan -7 , melanjutkan kontraksi pada 2019 yang masing-masing -0,87% dan
-7,69%. Investasi juga diproyeksi jalan di tempat dan konsumsi swasta
diproyeksikan tumbuh 1,5% (yoy) karena adanya pembatasan pergerakan
masyarakat oleh pemerintah. Satu-satunya komponen PDB yang akan
tumbuh lebih tinggi hanyalah konsumsi pemerintah. Bank Dunia memproyeksi
konsumsi pemerintah tumbuh 5% (yoy) pada 2020 karena banyaknya stimulus
fiskal. COVID-19 telah menyebabkan krisis di banyak negara, hingga resesi
global. Bencana ini berdampak pada sejumlah sektor, di antaranya
perdagangan dan investasi. Ekonomi di Tanah Air pun terdampak. Hal
itu terlihat dari mulai berhentinya sendi-sendi bisnis, terutama di
pusat kota, baik bisnis sektor formal maupun informal.
Bersiasat Hadapi Pandemi
Pandemi Covid-19 yang diikuti kebijakan pembatasan sosial telah melambatkan roda perdagangan. Namun, sejumlah pelaku usaha bersiasat agar usahanya tetap berjalan. PT Darta Pangan Maju Bersama (Sembago) misalnya menjajal peluang penyediaan dan pengantaran produk sayur dan buah untuk kebutuhan rumah tangga. Mitigasi penyebaran virus yang kian masif membuat permintaan turun hingga 70%.
Dalam kedaruratan akibat pandemi, teknologi menjadi jalan keluar bagi para pedagang jaringan perbelanjaan, Hypermart misalnya membuka layanan pesan antar barang kebutuhan sehari-hari dengan memanfaatkan media sosial (aplikasi whatsapp). Adapun peritel yang tergabung dalam Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) berupaya menggarap pasar melalui jejaring media sosial, mengoptimalkan aplikasi e-dagang serta melayani pesan antar barang kebutuhan sehari-hari.
Menurut Head of RegoPantes Wilda Romadona, transaksi melalui aplikasi ponsel naik 3-4 kali lipat dari masa normal. CEO dan Founder Etanee Cecep Muhammad menyatakan transaksi naik 10 kli lipat dibandingkan kondisi normal. Secara harian tumbuh 5-10%.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









