Proyeksi Kinerja, Jalan Manufaktur Kian Terjal
Kinerja sektor manufaktur diperkirakan tertekan lebih dalam pada periode
April hingga Mei 2020 selama pandemi COVID-19 belum teratasi.
Purchasing Managers’ Index (PMI) sektor manufaktur yang dirilis oleh IHS
Markit pada Maret 2020 anjlok ke angka 45,3, terendah sejak 2011.
Adapun, level 50 ke atas mencatatkan adanya ekspansi. Saat ini posisi konsumsi sedang turun karena adanya pembatasan dan
protokol kesehatan, artinya penjualan pun menurun. Di sisi produksi,
bahan baku juga mulai habis. Kuartal II/2020 ini nantinya akan menjadi puncak tekanan pada industri.
Apindomenghimbau agar seluruh pabrikan menggunakan semua opsi untuk mempertahankan eksistensi dalam kondisi krisis seperti saat ini. Apindo meminta pada pabrikan yang masih memiliki permintaan untuk menggenjot kapasitas produksinya. Sementara itu, pabrikan yang pasarnya menyusut disarankan agar melakukan restrukturisasi utang, memanfaatkan stimulus, renegosiasi kontrak dengan klien, menurunkan kapasitas produksi, atau mengalihkan produksi.
Penurunan tajam PMI pada akhir kuartal I/2020 dipengaruhi oleh banyaknya
daerah yang terjangkit COVID-19. Alhasil, penurunan utilitas pabrikan
di berbagai sektor manufaktur tidak dapat dihindari.
Kemenperin
akan mengusahakan pemberian berbagai stimulus fiskal dan non-fiskal. Hal tersebut merupakan antisipasi banyaknya negara yang
melakukan protokol penguncian (lockdown) yang memberikan dampak negatif
bagi pasar lokal maupun global.
Kepala Center of Industry, Trade, and Investment Indef Andry Satrio
Nugroho mengatakan jika merujuk pada proyeksi pemerintah maka, ekonomi
Tanah Air akan masuk gelombang resesi jika sampai akhir kuartal II/2020
belum ada perbaikan dari tekanan COVID-19.
Diprediksi jika level PMI di Indonesia menyentuh 40 dan memasuki gelombang
resesi, kemungkinan industri juga bukan berada pada posisi sepenuhnya
berhenti produksi. Ekonom PT Bank Maybank Indonesia Tbk. Myrdal Gunarto sepakat kejadian
perlambatan aktivitas ekonomi maupun manufaktur ini merupakan kejadian
luar biasa pertama sejak Indonesia merdeka. Alhasil, belum ada proxy yang tepat untuk melihat arah tren bagi laju perekonomian dari kondisi ini.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023