Ekonomi
( 40554 )Ekspor Besi dan Baja Melonjak Selama Pandemi
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor besi dan baja pada triwulan melonjak drastis ke US$ 2,26 miliar dari US$ 610 juta pada Februari dan US$ 649 juta pada Maret tahun lalu. Namun Menurut pelaksana tugas Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian Taufiek Bawazir, kenaikan ini terjadi lantaran kinerja industri dan dampak pandemi Covid-19 belum terlihat ke ekonomi internasional. Kenaikan ekspor besi dan baja ditopang oleh permintaan baja ke Amerika Serikat yang berasal dari Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah; serta Kawasan Industri Bantaeng, Sulawesi Selatan, yang meningkat dimana ada sejumlah perusahaan dengan penyertaan modal asing asal Cina yang memiliki smelter dengan nilai ekspor yang cukup besar.
Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kementerian Perdagangan,?Kasan?Muhri, mengatakan pernyataan senada dimana kenaikan ekspor tersebut diperkirakan karena pemenuhan kontrak yang sudah ditandatangani pada tahun lalu. Sedangkan Ketua Cluster Flat Product Asosiasi Besi dan Baja Indonesia (IISIA), Purwono Widodo menambahkan, kenaikan ekspor juga dipicu karena produsen mulai mengarahkan orientasinya untuk ekspor akibat permintaan domestik anjlok hingga 40 persen. Menurut mereka, pada triwulan kedua, sudah pasti ekspor besi dan baja akan turun baik domestic maupun ekspor lantaran penyerapan baja untuk konstruksi dan otomotif juga turun karena ada beberapa perusahaan yang berhenti sementara sampai Covid-19 mereda atau selesai
Pandangan ini diperkuat juga dengan analisa dari Ekonom Bahana Sekuritas, Satria Sambijantoro yang mengatakan kenaikan ekspor ditopang permintaan dari Cina cukup tinggi karena persediaan baja menipis akibat libur Imlek dan disusul penguncian wilayah (lockdown). Sehingga terjadi backload (ditumpuk di belakang) ia juga beranggapan pemulihan ekonomi di Tiongkok tidak seburuk yang diprediksi banyak orang.Pengiriman Ekspress, Jasa Kurir Tuai Berkah PSBB
Sejumlah perusahaan pengiriman ekspres menuai berkah dengan melonjaknya volume paket seiring dengan kebijakan pembatasan sosial berskala besar di sejumlah kota/kabupaten. Chief Executive Of? cer J&T Express Robin Lo menuturkan volume pengiriman barang meningkat secara nasional dari tra?k normal setelah pandemi virus corona merebak di Indonesia. Dimana volume pengiriman barang mengalami peningkatan secara keseluruhan di Indonesia meski hanya 15% dari volume pengiriman normal.
Optimisme senada disampaikan Chief Marketing Of?cer (CMO) SiCepat Ekspres Wiwin Dewi Herawati. Pasalnya, aktivitas pengiriman perusahaan terus mengalami peningkatan. Bisa dikatakan penerapan PSBB di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya justru berdampak positif dengan kenaikannya sekitar 20,3%
Meski tidak terlalu menyoroti mengenai peningkatan, Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusaha Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia (Asperindo) sekaligus Direktur Utama JNE Mohamad Feriadi mengatakan pengusaha jasa pengiriman ekspres mulai merasakan pendapatan yang stabil di tengah pandemi virus corona.Kemudahan Impor Ekspor Akses Pasar Diperluas
Pemerintah memberikan perluasan akses pasar di dalam negeri bagi pelaku usaha yang memanfaatkan kemudahan impor tujuan ekspor (KITE). Selain itu, wajib pajak KITE juga mendapatkan keringanan pajak sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No .31/2020 tentang Insentif Tambahan untuk Perusahaan Penerima Fasilitas Kawasan Berikat dan/atau Kemudahan Impor Tujuan Ekspor untuk Penanganan Dampak Bencana Covid-19. Dari sisi ?skal, wajib pajak KITE mendapatkan insentif berupa pembebasan PPN dan PPnBM untuk pemasukan barang dari dalam negeri yang diolah untuk dieskpor.
Plt. Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jalur Prioritas (APJP) Rishdianto Budi Irawan menilai, kebijakan ini menjadi angin segar bagi pelaku usaha, ia beranggapan kemudahan ini akan menggerakkan ekonomi yang telah lesu dalam beberapa bulan terakhir, serta mendongkrak daya beli masyarakat dengan akan membantu memenuhi kebutuhan dalam negeri, dan menurunkan biaya logistik
Lebih lanjut, Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga Ditjen Bea dan Cukai Syarif Hidayat menjelaskan tujuan klausul ini adalah untuk memberikan persamaan perlakuan antarpengusaha KITE yang tidak mendapatkan fasilitas sejenis dan produknya dijual di dalam negeri.
Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai pilihan untuk menjual hasil produksi ke dalam negeri bakal lebih menarik bagi perusahaan KITE ketimbang menjual ke luar negeri karena didorong prospek ekonomi Indonesia yang cenderung lebih baik dibandingkan dengan negara lain dan hal ini merupakan kabar positif bagi perusahaan yang menjual produknya di Indonesia.Menyelamatkan UMKM
Pemerintah telah mengumumkan sejumlah insentif untuk menjaga roda bisnis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) diantaranya berupa relaksasi kredit , perpajakan dan penerapan Kartu Prakerja. Meski sudah mulai berjalan beberapa program insentif, sejauh ini masih ditemukan sejumlah kendala dilapangan bahkan beberapa belum terealisasi. Presiden Joko Widodo menginstruksikan Percepatan eksekusi insentif kepada jajaran kabinetnya dalam rapat terbatas, Rabu (15/4). Pada kesempatan yang sama, Presiden juga memerintahkan pemberian insentif tambahan, yaitu pemberian pinjaman baru dan pemberian bantuan sosial untuk usaha mikro dan ultra mikro. Pasalnya, UMKM di Indonesia berperan penting karena menyerap lebih dari 100 juta tenaga kerja dan berkontribusi sekitar 60% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Adapun, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menuturkan, ada delapan program yang sedang dipersiapkan bagi sektor UMKM, yang salah satunya adalah penghapusan pajak bagi UMKM dalam 6 bulan kedepan yang sedang dibahas dengan Ditjen Pajak sebagaimana konfirmasi Direktur Peraturan Perpajakan Direktorat Jenderal Pajak Yunirwansyah menerangkan, implementasi skema tersebut akan tertuang dalam revisi Peraturan Pemerintah (PP) No. 23/2018.
Terkait dengan program relaksasi kredit, konfirmasi datang dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Melalui Corporate Secretary Rully Setiawan dan Executive Vice President Secretariat & Corporate Communication PT Bank Central Asia Tbk. Hera F. Haryn ditempat masing-masing, mengatakan, perseroan telah melakukan percepatan penawaran dan proses restrukturisasi dengan menyesuaikaan kondisi debitur.
Di lain pihak, Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) 2B OJK Bambang W. Budiawan menyatakan, saat ini perusahaan pembiayaan masih dalam tahap veri?kasi data lapangan agar insentif yang diberikan tepat sasaran. Namun, Direktur Sales dan Distribusi PT Mandiri Tunas Finance (MTF) Harjanto Tjitohardjojo meyakini, penyaluran kredit ke sektor UMKM bakal tetap turun kendati pemerintah memberikan sejumlah stimulus kepada kelompok usaha tersebut, hal ini karena daya beli menurun dan multifinance menaikkan DP untuk menjaga kualitas kredit . Ekonom BCA David E. Sumual menilai, hingga saat ini tidak ada masalah dalam penerapan program relaksasi kredit UMKM sepanjang telah mengikuti arahan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Adapun, Ketua Bidang Pengkajian dan Pengembangan Perbanas Aviliani menuturkan, menambah insentif subsidi kredit kepada UMKM tanpa perhitungan yang matang tidak akan memberi efek signifikan pada ekonomi riil, lantaran permintaan yang melemah dan justru berpotensi menimbulkan potensi moral hazard. Sementara itu, Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) Ikhsan Ingratubun berharap insentif dari pemerintah dapat dilakukan secara merata dan tidak hanya menyasar usaha ultra mikro. Dia mencontohkan, pembebasan tarif listrik yang masih belum menyentuh usaha kecil dan menengah. Dan pendapat ini juga didukung Ekonom Indef Bhima Yudhistira yang mengatakan pemerintah sebaiknya memberikan diskon tarif listrik sebesar 50%— 70% bagi UMKM pelanggan 900 VA dan 1.300 VA. Selain itu, harga LPG 3 kg juga diusulkan untuk diturunkan.
Industri Digital di Tengah Badai Pandemi
Industri digital di Tanah Air ternyata juga ikut merasakan dampak dari tak menentunya situasi selama kurang lebih sebulan terakhir ini akibat banyak masyarakat Indonesia beraktivitas di rumah. Founder & CEO Help Apps Melia Lustojoputro mengakui, ada perubahan signifikan terhadap layanan perusahaan rintisan miliknya, Help Apps yang merupakan platform berbagai jenis jasa keperluan rumah tangga. Permintaan berkurang secara bertahap hingga 70 persen dibandingkan biasanya. Melia menerapkan kegiatan bekerja dari rumah dan menggencarkan promosi melalui media sosial. Setelah pandemi ini berlalu, Help akan mengadakan pelatihan bagi helper mereka dan akan memberikan promosi-promosi untuk para klien dalam bentuk diskon dan giveaway.
Masa-masa yang tak pasti seperti saat ini ternyata juga membuka peluang baru, salah satunya, Sampingan, platform yang fokus utamanya adalah pekerja blue collar, seperti sales, kurir, dan surveyor lapangan. CEO dan Co-Founder Sampingan Wisnu Nugrahadi mengungkapkan, sejak berdiri pada Januari 2019 Sampingan tumbuh sangat baik tiap bulannya. Peningkatan permintaan terjadi dari industri logistik, karena masyarakat lebih mengandalkan tenaga pengiriman ketika akan memesan barang ataupun berbelanja. Wisnu menyebut, peningkatan jumlah kawan Sampingan yang bergabung karena adanya kebutuhan akan penghasilan tambahan.
Perubahan strategi juga dialami oleh perusahaan ventura capital. Co-Founder dan Managing Partner East Ventures Willson Cuaca memprediksi, akan ada pergeseran yang signifikan dalam pendanaan perusahaan rintisan pada masa pandemi karena lebih berfokus untuk membantu existing portfolio mengarungi krisis. Willson menegaskan, fokus dan strategi perusahannya adalah mendukung wirausaha (entrepreneur) yang menggunakan teknologi untuk memberikan nilai tambah di setiap sektor. Pergerakan krisis yang sangat cepat dan dinamika dunia perusahaan rintisan juga sangat cepat, sehingga kedua kombinasi ini membutuhkan daya adaptasi dan sensitivitas yang tinggi untuk melihat peluang dan target investasi.
Waspadai Komposisi Impor
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan, neraca perdagangan Indonesia pada kuartal pertama tahun ini surplus 2,62 miliar dolar AS dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu yang mencatat defisit 62,8 juta dolar AS. Namun, Suhariyanto menekankan, Indonesia tetap perlu meningkatkan kewaspadaan, khususnya mengenai komposisi impor bahan baku dan barang modal yang akan berpengaruh ke pergerakan sektor industri, perdagangan, dan investasi. Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyebutkan, neraca dagang yang mengalami surplus belum dapat menggambarkan kondisi sehat secara penuh. Namun, berita baiknya adalah perkembangan ekspor ke Cina mengalami pertumbuhan cukup signifikan karena Cina merupakan mitra dagang utama ekspor kita.
Yusuf berujar, pertumbuhan impor terbesar justru terjadi pada kelompok barang konsumsi. Salah satunya adalah bawang putih, yang nilai impor komoditasnya pada Maret 2020 mengalami kenaikan hingga 18,8 juta dolar AS. Ketua Perkumpulan Pelaku Usaha Bawang Putih dan Sayuran Umbi Indonesia (Pusbarindo), Valentino menuturkan, harga bawang putih impor yang masuk ke Indonesia akan segera menstabilkan harga dalam negeri. Valentino menjelaskan, ketersediaan bawang putih untuk Ramadhan dan Idul Fitri akan aman.
Bank BJB Salurkan Dividen Rp 925,04 Miliar
Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldi melalui siaran pers yang diterima Republika, Kamis (16/4), menginformasikan bahwa Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2019 Bank BJB menyepakati pembagian dividen senilai Rp 925,04 miliar atau setara dengan rasio 60 persen dari laba bersih 2019 yang dibukukan sebesar Rp 1,56 triliun. Persetujuan atas laporan tahunan perseroan juga disertai dengan kesepakatan penetapan penggunaan laba bersih perseroan untuk pembagian dividen 2019. Yuddy menyampaikan, RUPST juga menyepakati penunjukan kantor akuntan publik yang akan berperan mengaudit laporan keuangan perseroan tahun buku 2020.
Sepanjang 2019, papar Yuddy, Bank BJB berhasil mempertahankan kinerja positif dengan raihan laba bersih sebesar Rp 1,56 triliun yang diikuti dengan penambahan nilai aset. Yuddy menyebutkan, sektor kredit yang menjadi ujung tombak utama perseroan dalam mendongkrak pendapatan yang pertumbuhannya berada di atas rata-rata pertumbuhan industri perbankan nasional, di kisaran 6,97 persen per November 2019. Dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun perseroan juga bertumbuh sebesar 2,7 persen (yoy), berkat bertambahnya porsi dana murah atau current account saving account (CASA).
Industri Syariah Tetap Bergeliat
Sejumlah perusahaan berbasis syariah mencatat sejumlah kinerja positif di tengah penyebaran wabah virus korona baru atau Covid-19. CEO PT Ammana Fintek Syariah Lutfi Adhiansyah mengakui, tidak semua sektor mengalami penurunan, ada yang meningkat. Lutfi mengatakan telah menyetop sekitar 80 persen pembiayaan, sisanya sekitar 20 persen portofolio mengalami peningkatan bisnis sehingga mendapatkan pembiayaan lebih besar. Misalnya, seperti sektor energi, tekstil, pangan, dan perkebunan. Ekspor kelapa sawit berjalan terus meningkat ke negara empat musim, karena digunakan sebagai briket bahan bakar arang di negara-negara tersebut. Peningkatan pembiayaan juga terjadi pada sektor konveksi atau tekstil, pengusaha memanfaatkan momentum ini untuk beralih membuat alat kesehatan, seperti alat pelindung diri (APD) atau masker. Di sektor pangan, cukup banyak pengusaha yang beralih bisnis memproduksi frozen food melalui niaga daring.
BRI Syariah juga tetap melanjutkan proses ekspansi bisnis dalam menyambut penerapan qanun Aceh dengan membuka 11 kantor cabang di kota Aceh. Sekretaris Perusahaan BRI Syariah Mulyatno Rachmanto mengatakan, ekspansi 11 kantor cabang tersebut bertujuan mempermudah masyarakat Aceh memindahkan simpanan dan pinjamannya kepada BRI Syariah. BRI Syariah juga berupaya mengakselerasi proses konversi dengan pembukaan Layanan Syariah Bank Umum (LSBU) di seluruh unit kerja BRI.
Permintaan Minyak 2020 Anjlok 9,3 Juta Bph
Badan Energi International atau International Energy Agency (IEA) menyampaikan tahun ini permintaan minyak global akan mengalami penurunan lebih rendah dibandingkan tahun lalu, bahkan mencapai level yang terakhir terlihat pada 1995, menyusul langkah-langkah karantina (lockdown) di banyak negara guna mencegah penyebaran wabah virus corona Covid-19 yang telah membuat perekonomian mandek. Dalam laporan bulanan terbaru IEA yang dirilis pada Rabu (15/4), Menurut IEA, aktivitas di sektor transportasi hampir menunjukkan penurunan dramatis di mana-mana, seraya mencatat bahwa tindakan karantina telah dilaksanakan di 187 negara dan wilayah sebagai respons terhadap wabah Covid-19. “Bahkan dengan asumsi pembatasan perjalanan telah berkurang pada semester kedua tahun ini, kami memperkirakan permintaan minyak global pada tahun 2020 akan turun 9,3 juta barel per hari dibandingkan 2019, menghapus hampir satu dekade pertumbuhan,” ujar badan yang berkantor pusat di Paris, Prancis seperti dilansir dari CNBC
Neraca Dagang RI Bergantung Pemulihan Ekonomi Tiongkok
Kinerja neraca perdagangan ekspor Indonesia dinilai akan sangat bergantung pada perkembangan pemulihan perekonomian Tiongkok pascapandemi Covid-19 yang merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia. Hal ini sebagaimana pendapat yang disampaikan ekonom yang juga Rektor Universitas Indonesia Ari Kuncoro ketika dihubungi pada Rabu (15/4). Perekonomian akan berbanding lurus dengan impor dan ekspor. Ari Kuncoro juga bependapat perekonomian Tiongkok masih dalam tahap awal pemulihan sehingga hal ini masih akan terus terjadi (surplus) tapi tidak terlalu besar, ia menambahkan bahwa kondisi ini akan berdampak baik terhadap nilai tukar rupiah apalagi pemerintah juga sudah menerbitkan pandemic bonds.
Ditempat terpisah, Kepala BPS Kecuk Suhariyanto menyampaikan informasi yang cukup menggembirakan dalam konferensi pers data ekspor-impor Maret 2020 secara virtual, Kamis (15/4) dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat, neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2020 mengalami surplus sebesar US$ 743 juta. Ini terjadi karena jumlah ekspor mencapai US$ 14,09 miliar, sementara impor mencapai US$ 13,35 miliar.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023








