;
Kategori

Ekonomi

( 40430 )

Menyelamatkan UMKM

20 Apr 2020

Pemerintah telah mengumumkan sejumlah insentif untuk menjaga roda bisnis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) diantaranya berupa relaksasi kredit , perpajakan dan penerapan Kartu Prakerja. Meski sudah mulai berjalan beberapa program insentif, sejauh ini masih ditemukan sejumlah kendala dilapangan bahkan beberapa belum terealisasi. Presiden Joko Widodo menginstruksikan Percepatan eksekusi insentif kepada jajaran kabinetnya dalam rapat terbatas, Rabu (15/4). Pada kesempatan yang sama, Presiden juga memerintahkan pemberian insentif tambahan, yaitu pemberian pinjaman baru dan pemberian bantuan sosial untuk usaha mikro dan ultra mikro. Pasalnya, UMKM di Indonesia berperan penting karena menyerap lebih dari 100 juta tenaga kerja dan berkontribusi sekitar 60% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Adapun, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menuturkan, ada delapan program yang sedang dipersiapkan bagi sektor UMKM, yang salah satunya adalah penghapusan pajak bagi UMKM dalam 6 bulan kedepan yang sedang dibahas dengan Ditjen Pajak sebagaimana konfirmasi Direktur Peraturan Perpajakan Direktorat Jenderal Pajak Yunirwansyah menerangkan, implementasi skema tersebut akan tertuang dalam revisi Peraturan Pemerintah (PP) No. 23/2018.

Terkait dengan program relaksasi kredit, konfirmasi datang dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Melalui Corporate Secretary Rully Setiawan dan Executive Vice President Secretariat & Corporate Communication PT Bank Central Asia Tbk. Hera F. Haryn ditempat masing-masing,  mengatakan, perseroan telah melakukan percepatan penawaran dan proses restrukturisasi dengan menyesuaikaan kondisi debitur.

Di lain pihak, Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) 2B OJK Bambang W. Budiawan menyatakan, saat ini perusahaan pembiayaan masih dalam tahap veri?kasi data lapangan agar insentif yang diberikan tepat sasaran. Namun, Direktur Sales dan Distribusi PT Mandiri Tunas Finance (MTF) Harjanto Tjitohardjojo meyakini, penyaluran kredit ke sektor UMKM bakal tetap turun kendati pemerintah memberikan sejumlah stimulus kepada kelompok usaha tersebut, hal ini karena daya beli menurun dan multifinance menaikkan DP untuk menjaga kualitas kredit . Ekonom BCA David E. Sumual menilai, hingga saat ini tidak ada masalah dalam penerapan program relaksasi kredit UMKM sepanjang telah mengikuti arahan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Adapun, Ketua Bidang Pengkajian dan Pengembangan Perbanas Aviliani menuturkan, menambah insentif subsidi kredit kepada UMKM tanpa perhitungan yang matang tidak akan memberi efek signifikan pada ekonomi riil, lantaran permintaan yang melemah dan justru berpotensi menimbulkan potensi moral hazard. Sementara itu, Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) Ikhsan Ingratubun berharap insentif dari pemerintah dapat dilakukan secara merata dan tidak hanya menyasar usaha ultra mikro. Dia mencontohkan, pembebasan tarif listrik yang masih belum menyentuh usaha kecil dan menengah. Dan pendapat ini juga didukung Ekonom Indef Bhima Yudhistira yang mengatakan pemerintah sebaiknya memberikan diskon tarif listrik sebesar 50%— 70% bagi UMKM pelanggan 900 VA dan 1.300 VA. Selain itu, harga LPG 3 kg juga diusulkan untuk diturunkan. 

Industri Digital di Tengah Badai Pandemi

19 Apr 2020

Industri digital di Tanah Air ternyata juga ikut merasakan dampak dari tak menentunya situasi selama kurang lebih sebulan terakhir ini akibat banyak masyarakat Indonesia beraktivitas di rumah. Founder & CEO Help Apps Melia Lustojoputro mengakui, ada perubahan signifikan terhadap layanan perusahaan rintisan miliknya, Help Apps yang merupakan platform berbagai jenis jasa keperluan rumah tangga. Permintaan berkurang secara bertahap hingga 70 persen dibandingkan biasanya. Melia menerapkan kegiatan bekerja dari rumah dan menggencarkan promosi melalui media sosial. Setelah pandemi ini berlalu, Help akan mengadakan pelatihan bagi helper mereka dan akan memberikan promosi-promosi untuk para klien dalam bentuk diskon dan giveaway.

Masa-masa yang tak pasti seperti saat ini ternyata juga membuka peluang baru, salah satunya, Sampingan, platform yang fokus utamanya adalah pekerja blue collar, seperti sales, kurir, dan surveyor lapangan. CEO dan Co-Founder Sampingan Wisnu Nugrahadi mengungkapkan, sejak berdiri pada Januari 2019 Sampingan tumbuh sangat baik tiap bulannya. Peningkatan permintaan terjadi dari industri logistik, karena masyarakat lebih mengandalkan tenaga pengiriman ketika akan memesan barang ataupun berbelanja. Wisnu menyebut, peningkatan jumlah kawan Sampingan yang bergabung karena adanya kebutuhan akan penghasilan tambahan.

Perubahan strategi juga dialami oleh perusahaan ventura capital. Co-Founder dan Managing Partner East Ventures Willson Cuaca memprediksi, akan ada pergeseran yang signifikan dalam pendanaan perusahaan rintisan pada masa pandemi karena lebih berfokus untuk membantu existing portfolio mengarungi krisis. Willson menegaskan, fokus dan strategi perusahannya adalah mendukung wirausaha (entrepreneur) yang menggunakan teknologi untuk memberikan nilai tambah di setiap sektor. Pergerakan krisis yang sangat cepat dan dinamika dunia perusahaan rintisan juga sangat cepat, sehingga kedua kombinasi ini membutuhkan daya adaptasi dan sensitivitas yang tinggi untuk melihat peluang dan target investasi.


Waspadai Komposisi Impor

19 Apr 2020

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan, neraca perdagangan Indonesia pada kuartal pertama tahun ini surplus 2,62 miliar dolar AS dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu yang mencatat defisit 62,8 juta dolar AS. Namun, Suhariyanto menekankan, Indonesia tetap perlu meningkatkan kewaspadaan, khususnya mengenai komposisi impor bahan baku dan barang modal yang akan berpengaruh ke pergerakan sektor industri, perdagangan, dan investasi. Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyebutkan, neraca dagang yang mengalami surplus belum dapat menggambarkan kondisi sehat secara penuh. Namun, berita baiknya adalah perkembangan ekspor ke Cina mengalami pertumbuhan cukup signifikan karena Cina merupakan mitra dagang utama ekspor kita.

Yusuf berujar, pertumbuhan impor terbesar justru terjadi pada kelompok barang konsumsi. Salah satunya adalah bawang putih, yang nilai impor komoditasnya pada Maret 2020 mengalami kenaikan hingga 18,8 juta dolar AS. Ketua Perkumpulan Pelaku Usaha Bawang Putih dan Sayuran Umbi Indonesia (Pusbarindo), Valentino menuturkan, harga bawang putih impor yang masuk ke Indonesia akan segera menstabilkan harga dalam negeri. Valentino menjelaskan, ketersediaan bawang putih untuk Ramadhan dan Idul Fitri akan aman.


Bank BJB Salurkan Dividen Rp 925,04 Miliar

19 Apr 2020

Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldi melalui siaran pers yang diterima Republika, Kamis (16/4), menginformasikan bahwa Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2019 Bank BJB menyepakati pembagian dividen senilai Rp 925,04 miliar atau setara dengan rasio 60 persen dari laba bersih 2019 yang dibukukan sebesar Rp 1,56 triliun. Persetujuan atas laporan tahunan perseroan juga disertai dengan kesepakatan penetapan penggunaan laba bersih perseroan untuk pembagian dividen 2019. Yuddy menyampaikan, RUPST juga menyepakati penunjukan kantor akuntan publik yang akan berperan mengaudit laporan keuangan perseroan tahun buku 2020.

Sepanjang 2019, papar Yuddy, Bank BJB berhasil mempertahankan kinerja positif dengan raihan laba bersih sebesar Rp 1,56 triliun yang diikuti dengan penambahan nilai aset. Yuddy menyebutkan, sektor kredit yang menjadi ujung tombak utama perseroan dalam mendongkrak pendapatan yang pertumbuhannya berada di atas rata-rata pertumbuhan industri perbankan nasional, di kisaran 6,97 persen per November 2019. Dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun perseroan juga bertumbuh sebesar 2,7 persen (yoy), berkat bertambahnya porsi dana murah atau current account saving account (CASA). 


Industri Syariah Tetap Bergeliat

19 Apr 2020

Sejumlah perusahaan berbasis syariah mencatat sejumlah kinerja positif di tengah penyebaran wabah virus korona baru atau Covid-19. CEO PT Ammana Fintek Syariah Lutfi Adhiansyah mengakui, tidak semua sektor mengalami penurunan, ada yang meningkat. Lutfi mengatakan telah menyetop sekitar 80 persen pembiayaan, sisanya sekitar 20 persen portofolio mengalami peningkatan bisnis sehingga mendapatkan pembiayaan lebih besar. Misalnya, seperti sektor energi, tekstil, pangan, dan perkebunan. Ekspor kelapa sawit berjalan terus meningkat ke negara empat musim, karena digunakan sebagai briket bahan bakar arang di negara-negara tersebut. Peningkatan pembiayaan juga terjadi pada sektor konveksi atau tekstil, pengusaha memanfaatkan momentum ini untuk beralih membuat alat kesehatan, seperti alat pelindung diri (APD) atau masker. Di sektor pangan, cukup banyak pengusaha yang beralih bisnis memproduksi frozen food melalui niaga daring.

BRI Syariah juga tetap melanjutkan proses ekspansi bisnis dalam menyambut penerapan qanun Aceh dengan membuka 11 kantor cabang di kota Aceh. Sekretaris Perusahaan BRI Syariah Mulyatno Rachmanto mengatakan, ekspansi 11 kantor cabang tersebut bertujuan mempermudah masyarakat Aceh memindahkan simpanan dan pinjamannya kepada BRI Syariah. BRI Syariah juga berupaya mengakselerasi proses konversi dengan pembukaan Layanan Syariah Bank Umum (LSBU) di seluruh unit kerja BRI.

Permintaan Minyak 2020 Anjlok 9,3 Juta Bph

19 Apr 2020

Badan Energi International atau International Energy Agency (IEA) menyampaikan tahun ini permintaan minyak global akan mengalami penurunan lebih rendah dibandingkan tahun lalu, bahkan mencapai level yang terakhir terlihat pada 1995, menyusul langkah-langkah karantina (lockdown) di banyak negara guna mencegah penyebaran wabah virus corona Covid-19 yang telah membuat perekonomian mandek. Dalam laporan bulanan terbaru IEA yang dirilis pada Rabu (15/4), Menurut IEA, aktivitas di sektor transportasi hampir menunjukkan penurunan dramatis di mana-mana, seraya mencatat bahwa tindakan karantina telah dilaksanakan di 187 negara dan wilayah sebagai respons terhadap wabah Covid-19. “Bahkan dengan asumsi pembatasan perjalanan telah berkurang pada semester kedua tahun ini, kami memperkirakan permintaan minyak global pada tahun 2020 akan turun 9,3 juta barel per hari dibandingkan 2019, menghapus hampir satu dekade pertumbuhan,” ujar badan yang berkantor pusat di Paris, Prancis seperti dilansir dari CNBC 

Neraca Dagang RI Bergantung Pemulihan Ekonomi Tiongkok

19 Apr 2020

Kinerja neraca perdagangan ekspor Indonesia dinilai akan sangat bergantung pada perkembangan pemulihan perekonomian Tiongkok pascapandemi Covid-19 yang merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia. Hal ini sebagaimana pendapat yang disampaikan ekonom yang juga Rektor Universitas Indonesia Ari Kuncoro ketika dihubungi pada Rabu (15/4). Perekonomian akan berbanding lurus dengan impor dan ekspor.  Ari Kuncoro juga bependapat perekonomian Tiongkok masih dalam tahap awal pemulihan sehingga hal ini masih akan terus terjadi (surplus) tapi tidak terlalu besar, ia menambahkan bahwa kondisi ini akan berdampak baik terhadap nilai tukar rupiah apalagi pemerintah juga sudah menerbitkan pandemic bonds.

Ditempat terpisah, Kepala BPS Kecuk Suhariyanto menyampaikan informasi yang cukup menggembirakan dalam konferensi pers data ekspor-impor Maret 2020 secara virtual, Kamis (15/4) dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat, neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2020 mengalami surplus sebesar US$ 743 juta. Ini terjadi karena jumlah ekspor mencapai US$ 14,09 miliar, sementara impor mencapai US$ 13,35 miliar. 

UMKM akan Dibebaskan dari PPh

19 Apr 2020

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Teten Masduki dalam telekonferensi dengan media, Rabu (15/4) menerangkan Pemerintah akan membebaskan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari kewajiban pembayaran pajak penghasilan (PPh) selama enam bulan ke depan sebagai langkah untuk memitigasi dampak pandemi Covid-19 terhadap keberlangsungan usaha sektor UMKM. Namun, ia belum menjelaskan secara detail kebijakan pembebasan PPh bagi UMKM itu. Dikesempatan yang sama, Tetan mengatakan pihaknya juga akan menjalankan sembilan program yang meliputi stimulus daya beli produk UMKM dan koperasi, belanja di warung tetangga, serta program restrukturisasi, subsidi suku bunga kredit usaha mikro serta beberapa program lainnya yang diselaraskan dengan instruksi Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memitigasi dampak Covid-19 bagi para pelaku koperasi dan UMKM. Implementasi sejumlah program ini sedang dibahas dengan Kementerian Keuangan.

Sementara itu, pengusaha Sandiaga Uno mengatakan, kondisi saat ini berbeda dengan kondisi krisis 1998, sebab yang paling terdampak justru UMKM dari kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSSB) yang dijalankan pemerintah. Menurutnya, Jenis usaha UMKM sebagian besar menjalankan kegiatan secara harian sehingga dalam hal ini penyaluran uang tunai melalui bantuan langsung tunai (BLT ) harus segera dijalankan. “UMKM harus beradapasti ke situasi yang kita sebut situasi new normal,” kata Sandiaga menerangkan bahwa pengusaha UMKM harus beradaptasi dengan kondisi saat ini. Sebab, dari sejumlah perkiraan, dampak dari Covid-19 masih akan terasa dalam tiga bulan ke depan.

Dampak Covid-19 : Resesi Terburuk, Baru Pulih Tahun Depan

19 Apr 2020

Dana Moneter Internasional memproyeksikan, pandemi Covid-19 kini mendorong ekonomi global ke dalam resesi terdalam selama seabad ini, yakni membuat produk domestik bruto dunia tumbuh negatif 3 persen tahun ini. Namun, ekonomi global diproyeksikan kembali pulih dengan akselerasi tinggi pada 2021. Kepala Ekonom Dana Moneter Internasional (IMF) Gita Gopinath dalam presentasi World Economic Outlook, Selasa (14/4/2020) mengatakan Kerugian kumulatif terhadap produk domestic bruto (PDB) global sepanjang 2020 dan 2021 dari krisis akibat pandemi bisa sekitar 9 triliun dollar AS, lebih besar dari gabungan ekonomi Jepang dan Jerman.

Ekonomi global diperkirakan kembali tumbuh hingga 5,8 persen pada 2021, dengan syarat pandemi berakhir pada paruh kedua 2020. Namun, IMF kesulitan dalam membuat perkiraan akurat di tengah situasi yang berubah begitu cepat saat ini. Kemungkinan penurunan ekonomi global tahun ini adalah yang terburuk sejak Depresi Besar tahun 1930-an, IMF mengatakan hal ini lewat laporannya yang berjudul “Penutupan Besar (The Great Lockdown)” yang dirilis menjelang pertemuan semi virtual IMF dan Bank Dunia

Tahun ini, negara-negara maju diperkirakan tertekan sekitar 6 persen. Perlambatan parah itu, menurut IMF, tidak dapat dihindari, tetapi langkah-langkah fiskal, moneter, dan finansial dapat mengurangi tekanan negara-negara. Banyak pemerintah bersama bank sentral telah menerapkan belanja besar-besaran yang memompa likuiditas ke dalam sistem keuangan guna mencegah gangguan. Gopinath mengatakan, akan lebih banyak lagi yang dibutuhkan setelah krisis kesehatan ini berakhir. Dikatakan, pengeluaran besar-besaran akan menyebabkan peningkatan tajam utang pemerintah dan tingkat defisit. Total utang secara global kini sudah lebih dari 80 persen dari PDB global. Jika pemulihan dimulai pada 2021 dan dengan suku bunga rendah, maka perlahan-lahan tingkat utang akan turun. Namun, beberapa negara akan membutuhkan pembebasan dari kewajiban utang mereka. 

Fokus ke Sektor Domestik

19 Apr 2020

Dana Moneter Internasional (IMF) dalam Laporan Proyeksi Ekonomi Global yang dirilis pada Selasa (14/4/2020) pagi waktu Washington DC, Amerika Serikat, atau Selasa malam waktu Indonesia, memperkirakan pertumbuhan ekonomi global minus 3 persen pada 2020. Khusus di Asia, pertumbuhan diproyeksikan diangka 1 persen yang ditopang pertumbuhan ekonomi China 1,2 persen dan India 1,9 persen. Sedangkan untuk Indonesia tahun diproyeksikan tumbuh 0,5 persen. 

Kepala Ekonom UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja menuturkan, kondisi dunia saat ini adalah perpaduan krisis keuangan global 2008-2009, depresi besar 1929, dan pandemi flu Spanyol 1918. Mitigasinya jauh lebih sulit karena belum ada yang bisa menghitung dampak kerugian ekonomi secara global, regional, dan nasional. Ia menambahkan Indonesia harus menitikberatkan pada sektor domestik yang menopang perekonomian saat krisis, diantaranya agrikultur, perikanan dan kehutanan, serta perdagangan. Menurutnya pemerintah perlu memberikan stimulus khusus berupa insentif, relaksasi fiskal, atau fasilitas agar sektor-sektor itu dapat terus berproduksi saat pandemic Covid-19. Sebagai contoh, sektor - sektor ini harus bekerja sama dengan sektor perdagangan karena kontribusi keduanya terhadap pertumbuhan ekonomi cukup signifikan,

Konselor Ekonomi IMF Gita Gopinath dalam Pertemuan Musim Semi IMF-Bank Dunia yang digelar virtual, Selasa, menekankan, pengambil kebijakan diharapkan menyokong rumah tangga, perusahaan, dan pasar keuangan. Dampak pandemic Covid-19 bagi sebagian besar negara di dunia bisa berlanjut pada semester II tahun ini.

Senada dengan pendapat ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, menambahkan skenario terberat pertumbuhan ekonomi dapat mendekati nol persen pada triwulan II-2020 dan minus 2 persen pada triwulan III-2020. Sedangkan Bank Indonesia dalam siaran pers Rapat Dewan Gubernur, memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 dapat 2,3 persen.

Head of Research Analyst FAC Sekuritas Wisnu Prambudi Wibowo mengatakan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dipengaruhi sentimen negatif laporan IMF tentang proyeksi perekonomian global. Ditempat terpisah, Analis Panin Sekuritas, William Hartanto, memandang surplus neraca perdagangan gagal membangun sentimen positif di pasar saham.

Di sisi lain, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto memaparkan, neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2020 surplus 743,4 juta dollar AS. Menanggapi hal ini, peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati mengatakan surplus neraca perdagangan bisa mendorong fundamen perekonomian domestik lebih kuat atau setidaknya membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah