;
Kategori

Ekonomi

( 40554 )

Merger dan Akuisisi Marak

19 Apr 2020

Virus korona (Covid-19) tak menghambat rencana merger dan akuisisi (M&A). Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) menjanjikan akan mempermudah selama masa pandemik ini dan telah memberikan pelonggaran untuk pelaporan aksi korporasi tersebut, salah satunya, laporan terkait M&A bisa disampaikan setelah periode kebijakan bekerja dari rumah (work from home) berakhir. Hal ini juga berlaku untuk perpindahan aset produktif. Pelonggaran ini merujuk pada keterangan tertulis di situs KPPU dan juga seperti dilansir Salah satu staf Humas KPPU ketika dihubungi KONTAN, Rabu (15/4) yang mengatakan, penyampaian pemberitahuan M&A lebih lanjut akan dijelaskan pada situs dan media sosial KPPU. Meski demikian, sejauh ini KPPU belum membuat kebijakan baru.

Komisi mencatat, pemberitahuan M&A pada tahun ini cukup marak. Hingga 15 April 2020, sudah ada 66 pemberitahuan rencana M&A sedangkan pada tahun lalu hanya 38 perusahaan. Bahkan, pemberitahuan akuisisi tersebut melibatkan perusahaan besar antara lain: 1) PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek) mengakuisisi Moka Technology Solutions Pte Ltd.; 2) PT Bio Farma mencaplok PT Indofarma Tbk dan PT Kimia Farma Tbk; 3) Marubeni Corporation mengambil alih operator bengkel merek 1 Station, PT Bquik Otomotif Indonesia; 4) PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), anak usaha Grup Indofood menjajaki akuisisi Pinehill Company Limited atau Grup Pinehill ( produsen mi instan sekaligus pemegang lisensi Indomie di Arab Saudi, Turki dan Afrika ); dan 5) Akuisisi saham PT Link Net Tbk (LINK) oleh PT MNC Vision Networks Tbk (IPTV).


Pertamina-PLN Terbebani Utang Valas

19 Apr 2020

Beban utang valas dua perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yakni PT Pertamina (Persero) dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), berpotensi membuat kantong perusahaan jebol dikarenakan anjloknya nilai tukar rupiah atas dolar AS. Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, saat ini penjualan BBM Pertamina turun sangat dalam hingga 34,6 persen secara nasional dan merupakan penurunan penjualan paling rendah dalam sejarah Pertamina. Nicke menjelaskan, ada dua skenario yang dibuat perusahaan sesuai arahan pemerintah. Pertama, skenario berat dengan asumsi Indonesia Crude Price (ICP) 38 dolar AS per barel dan yang kedua, skenario sangat berat ICP diasumsikan turun ke 31 dolar AS per barel.

Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini mengakui, mayoritas utang yang dimiliki oleh PLN saat ini berbentuk valas. Zulkifli menjelaskan, adanya kebutuhan dana untuk investasi yang tidak sedikit sementara ruang pinjaman yang di sediakan oleh perbankan nasional hanya maksimal Rp 140 triliun, membuat PLN harus meminjam dari bank di luar domestik. Zulkifli menyebutkan, setiap pelemahan senilai Rp 1.000 per dolar AS, biaya yang ditanggung PLN bisa meningkat Rp 9 triliun.

Kinerja Industri dalam Negeri Melemah

19 Apr 2020

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto ,mengatakan berdasarkan catatan pihakanya, neraca perdagangan selama periode Januari-Maret 2020 surplus sebesar US$ 2,62 miliar dengan nilai ekspor US$ 41,79 miliar dan impor US$ 39,17 miliar atau lebih baik dibanding periode sama tahun lalu. Namun menurutnya, komposisi impor sepanjang triwulan pertama perlu menjadi perhatian dimana Impor barang konsumsi naik berkebalikan dengan turunnya impor bahan baku dan barang modal yang akan berpengaruh pada pergerakan sektor industri perdagangan dan juga pembentukan modal tetap bruto atau investasi.

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kementerian Perdagangan, Kasan Muhri dan Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Hubungan Internasional, Shinta Kamdani ditempat terpisah juga mengatakan hal yang senada, menurut keduanya surplus neraca perdagangan dipicu oleh penurunan impor yang lebih besar dari penurunan ekspor dimana sebagian besar impor bahan baku dan barang modal didominasi dari Cina. Adanya pandemi Covid-19 menyebabkan arus barang dari negara itu dan beberapa negara utama terhambat sehingga menyebabkan impor Indonesia turun. Keduanya menjelaskan mengingat impor didominasi oleh bahan baku dan barang modal yang sangat dibutuhkan industri, penurunan impor ini dikhawatirkan justru akan menurunkan kinerja ekspor beberapa bulan ke depan, bahkan dapat mengancam eksistensi dan pertumbuhan industri dalam negeri dan berdampak terutama ke ekspor produk manufaktur

Shinta menambahkan, Pemerintah tidak bisa lagi mengandalkan ekspor komoditas mentah sebagai penghasilan karena agregat permintaan dunia juga turun drastic kecuali bahan baku obat-obatan dan alat kesehatan. Berdasarkan data Riset IHS Markit, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan purchasing managers index (PMI) manufaktur Indonesia menurun, sehingga menurut Faisal yang perlu dikhawatirkan adalah tekanan kondisi ekonomi dalam negeri akan menekan manufaktur.

Angin Segar untuk Industri

17 Apr 2020

Kementerian ESDM terbitkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 8 Tahun 2020 tentang Harga Gas Khusus Industri sebesar enam dolar AS per million British thermal unit (MMBTU). Sekretaris Perusahaan PGN Rachmat Hutama menjelaskan, perseroan akan melakukan penyesuaian harga jual gas bumi kepada pelanggan industri yang telah ditetapkan oleh Kementerian ESDM. PGN siap untuk mengemban tugas sebagai mitra pemerintah ke depan dalam mengembangkan infrastruktur dan pemanfaatan gas bumi nasional.

Direktur Komersial PGN Dilo Seno Widagdo mengatakan, penerapan lockdown sejumlah negara turut memengaruhi keberlanjutan sektor industri sebagai salah satu pelanggan PGN. Masa puncak penurunan konsumsi gas hampir menyentuh 10% karena Covid-19 bakal terjadi pada Juni-Juli 2020. Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengaku penurunan harga gas akan mendorong penghematan biaya produksi perusahaan sampai 10 persen dan meningkatkan daya saing ekspor. Head of Corporate Communication Pupuk Indonesia Wijaya Laksana mengatakan penurunan harga gas berpengaruh pada biaya produksi perusahaan dalam memproduksi pupuk urea dan mengurangi beban subsidi pemerintah. Wijaya berharap perbaikan kurs juga bisa membantu perusahaan lebih efisien.


Prospek Pertumbuhan Ekonomi 2021 - Pemulihan Harus Tepat Sasaran

16 Apr 2020

Pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi yang cukup optimistis pada tahun depan, yakni sekitar 4,5%–5,5%. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan penetapan angka pertumbuhan itu sejalan dengan optimisme pemulihan ekonomi nasional pada pengujung tahun ini. Sri Mulyani mengakui tekanan pertumbuhan ekonomi akan terjadi pada kuartal II dan III/2020. Sementara itu, akselerasi akan terjadi pada akhir 2020 atau kuartal IV/2020 dan pada 2021 dengan catatan masih banyak tekanan ekonomi.

Pemerintah berusaha mendisiplinkan anggaran dengan memfokuskan belanja pada sektor yang menjadi prioritas pada tahun depan, yakni sektor kesehatan, bantuan sosial, pendidikan, transfer ke daerah dan dana desa, serta transformasi ekonomi.

Gubernur BI Perry Warjiyo memperkirakan ekonomi Indonesia sepanjang 2020 hanya akan tumbuh 2,3% karena penurunan ekonomi global akibat pandemi. Namun Perry optimistis pertumbuhan ekonomi nasional akan kembali meningkat pada 2021.

Menurut ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan pemerintah untuk tahun depan cukup realistis. Keputusan pemerintah yang berfokus pada penanganan sektor kesehatan dan bantuan sosial cukup tepat, dan yang tak kalah penting adalah mendorong penciptaan lapangan kerja baru bagi masyarakat terdampak.

Yusuf menilai target defisit yang ditetapkan sebesar 3% - 4% pada tahun depan cukup ambisius. Pasalnya, kebutuhan belanja masih sangat besar untuk proses recovery ekonomi. Di sisi lain, pemerintah juga masih belum memaksimalkan penerimaan pajak karena dunia usaha masih melakukan konsolidasi setelah pandemi.


Korona Memangkas Setoran Dividen BUMN

16 Apr 2020

JAKARTA, Wabah virus corona (Covid-19) berimbas pada sejumlah sektor usaha di dalam negeri termasuk badan usaha milik negara (BUMN) yang mengakibatkan, setoran dividen BUMN ke APBN tahun ini diperkirakan meleset. Outlook dividen BUMN Sepanjang 2020 diperkirakan hanya mencapai Rp 43,8 triliun susut Rp 5.2 triliun dari target awal Rp 49 triliun sebagaimana dipaparkan Menteri Keuangan Sri Mulyani saat rapat kerja (raker) dengan Komisi XI DPR, Senin (6/4) lalu. 

Sebelumnya dalam raker antara Menteri BUMN Erick Thohir dengan Komisi VI DPR Jumat (3/4) juga memproyeksikan dividen BUMN baru akan kembali stabil pada tahun 2022 mendatang. Erick menyebut, situasi yang terjadi dampak dari Covid-19 diantaranya: 1 ). Peningkatan Non Performing Loan (NPL) pada Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), terutama pada usaha mikro kecil dan menengah (UMKM); 2) Cash flow Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Pertamina juga terganggu akibat melemahnya nilai tukar rupiah; 3) Pendapatan BUMN sektor pariwisata dan transportasi mengalami penurunan imbas penurunan permintaan (demand), misalnya, PT Angkasa Pura Nasional Indonesia, PT Garuda indonesia Tbk, PT KAI, PT Pelabuhan Indonesia, sampai PT Pelayaran

Di sisi lain, Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manlet mengatakan, apabila melihat dari setoran dividen BUMN tahun lalu, BUMN yang menyumbang dividen terbesar adalah PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) dan menurutnya kinerjanya tidak akan terganggu, bahkan dengan adanya kebijakan work from home (WFH) traffic data pengguna Telkom akan meningkat dan berdampak pada nalknya laba perusahaan, Ia menambahkan menurutnya beberapa kinerja Bank BUMN juga relatif masih baik sehingga seharusnya masih bisa menopang laba contohnya BUMN sektor kesehatan. 

Jaga Rupiah, BI perlu Tahan Bungan Acuan

16 Apr 2020

Pandemi virus korona Covid-19 tak hanya menekan perekonomian, tetapi juga stabilitas sektor keuangan. Peneliti Ekonomi Senior institut Kajlan Strategis (IKS) Universitas Kebangsaan RI Eric Sugandi memandang, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI sebaiknya menahan suku bunga acuan dan fokus ke nilai tukar rupiah yang masih rentan akibat tekanan capital outlaws akibat pandemi Covid-19

Hal serupa disampaikan Ekonom Bank Permata Josua Pardede dan Ekonom Bank Danamon Wisnu Wardhana ditempat terpisah, mereka melihat pada rapat bulan ini Gubernur BI bakal menahan bunga acuannya, hal ini perlu dilakukan untuk menjaga confidence pelaku pasar di tengah masih tingginya ketidakpastian global akibat Covid-19

Sementara Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef] Bhima Yudhistira menganggap BI justru perlu menurunkan bunga acuan, diharapkan dengan kebijakan suku bunga yang lebih longgar, daya beli masyarakat akan terbantu. Sebab, tidak semua lapisan masyarakat mampu mendapatkan fasilitas keringanan kredit perbankan.

Prospek Sektoral Emiten Farmasi Masih Seksi

16 Apr 2020

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis Indonesia, di tengah gejolak pasar akibat pandemi COVID-19, sembilan saham emiten farmasi kompak melaju di teritori hijau dalam 1 bulan. Penguatan dipimpin oleh saham KAEF dan INAF. Di sisi profitabilitas, mayoritas emiten mengantongi pertumbuhan laba bersih pada 2019.

Sekretaris Perusahaan Kimia Farma Ganti Winarno Putro kepada Bisnis mengatakan Perseroan terus ber upaya men dukung pemerintah da lam penanggu langan penyebaran COVID-19 di Indonesia meski dibayangi terhambatnya pasokan bahan baku obat. Ganti menambahkan PT Kimia Farma Tbk (KAEF) telah menyiapkan mitigasi risiko, seperti mencari sumber bahan baku alternatif ke India, Korea Selatan dan Eropa.

Senada, Sekretaris Perusahaan Phapros (PEHA) Zahmila Akbar mengatakan saat ini perseroan memiliki persediaan beberapa kategori obat untuk peng adaan di pasar reguler bagi kebutuhan seluruh masyarakat Indonesia. Untuk bahan baku obat, PEHA memiliki 2-3 sumber alternatif. 

Hingga Februari 2020, lanjutnya, penjualan Phapros tercatat naik 10% secara tahunan, hal ini juga dialami oleh Kalbe Farma (KLBF) sebagaimana dilansir Direktur Keuangan Kalbe Farma Bernadus Karmin Winata yang mengutarakan sampai saat ini wabah COVID-19 tidak berdampak signi?kan terhadap kegiatan operasi grup dan perseroan telah menargetkan pertumbuhan penjualan bersih pada 2020 sebesar 6%-8% dengan proyeksi pertumbuhan laba bersih sekitar 5%-6%

Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan mengatakan saham sektor farmasi terbilang defensif di tengah pandemi corona dan sahamnya berpotensi naik lebih tinggi apabila market recovery. Hal serupa disampaikan Kepala Riset Samuel Sekuritas Suria Dharma yang menyebutkan emiten farmasi berpeluang bertumbuh karena banyak orang yang memerlukan obat, vitamin, dan alat kesehatan di tengah pandemi COVID-19. Tantangan yang ada adalah bahan baku yang mayoritas diimpor dari China serta tingginya permintaan obat generik yang membuat margin laba tipis.

Secara teknikal, analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani mengungkapkan saham PT Indofarma Tbk (INAF) yang dalam sebulan terakhir melonjak 90 % juga masih berada pada tren menguat dengan support terdekat Rp1.070. Ia menambahkan, selama masih berada di level kisaran Rp1.070, INAF masih berpeluang untuk bergerak positif

Ekonomi Global Mungkin Resesi Parah

16 Apr 2020

Gita Gopinath, kepala ekonom IMF mengatakan “Ekonomi global tahun ini sangat mungkin akan mengalami resesi terburuk sejak Depresi Besar, melampaui apa yang terjadi pada masa krisis finansial global satu dekade lalu”. Dalam skenario terbaik, IMF memperkirakan ekonomi dunia mencatatkan produk domestik bruto (PDB) sebesar US$ 9 triliun dalam dua tahun ke depan. Nilai tersebut lebih besar dibandingkan PDB Jerman dan Jepang saat ini.

Proyeksi tersebut berdasarkan asumsi bahwa infeksi Covid-19 akan memuncak di sebagian besar negara pada kuartal II 2020. Lalu kemudian menurun sepanjang paruh kedua tahun ini. Kemudian secara bertahap kegiatan bisnis dan langkah-langkah pembatasan lainnya dilonggarkan atau dicabut.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva pekan lalu mengatakan, stimulus fiskal sebesar US$ 8 triliun yang dikucurkan pemerintah di seluruh dunia ini kemungkinan tidak cukup. IMF dan Bank Dunia berharap ada lebih banyak keringanan utang bagi negara-negara miskin.

IMF memperkirakan beberapa negara di Asia kemungkinan terhindar dari resesi tahun ini dan bakal bangkit pada 2021, jika pandemi Covid-19 dapat diatasi. IMF memprediksi Tiongkok yang memimpin pemulihan ekonomi tersebut.

“Negara-negara berkembang di Asia diproyeksikan menjadi satu-satunya wilayah dengan tingkat pertumbuhan positif pada 2020, yakni 1,0%. Meski-pun angka itu lebih dari 5 poin persentase di bawah rata-rata pada dekade sebelumnya. Sedangkan wilayah lain diproyeksikan mengalami perlambatan parah atau kontraksi langsung dalam kegiatan ekonomi,” demikian pernyataan IMF.

IMF juga memprediksi Tiongkok bakal bangkit kembali tahun depan dengan pertumbuhan 9,2%. Sedangkan India, negara dengan kekuatan ekonomi terbesar ketiga di Asia diperkirakan tumbuh 1,9% pada 2020 sebelum melonjak 7,4% pada tahun depan. Pertumbuhan Indonesia sendiri diperkirakan hanya akan ada di kisaran kenaikkan 0,5%, tahun ini sebelum naik 8,2% pada 2021.

Di sisi lain, IMF memperkirakan negara-negara di Asia dengan kekuatan ekonomi yang lebih maju seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, Singapura dan Hong Kong, termasuk Thailand dan Malaysia  akan jatuh ke dalam resesi.

Sanofi-GSK Siapkan Vaksin Covid-19 untuk 2021

16 Apr 2020

PARIS – Dua raksasa farmasi dunia, Sanofi dan GlaxoSmithKline (GSK) akan bekerja sama membuat vaksin virus corona Covid-19, yang diharapkan dapat memasuki fase pengujian klinis tahun ini. Dengan demikian diharapkan dapat tersedia pada paruh kedua 2021.

CEO Sanofi Paul Hudson mengatakan, dalam menghadapi krisis kesehatan global luar biasa ini, tidak ada satu pun perusahaan yang dapat sendirian mengupayakan adanya vaksin itu.

Menurut pernyataan bersama kedua perusahaan pada Selasa (14/4), Vaksin ini akan mengombinasikan antigen yang dikembangkan Sanofi yang merangsang produksi antibodi pembunuh kuman, dengan teknologi adjuvan dari GSK - substansi yang memperkuat respons imun yang dipicu oleh vaksin.

Sanofi dan GSK mengungkapkan, upaya bersamanya didukung oleh pendanaan dan kolaborasi dengan Biomedical Advanced Research and Development Authority (BARDA) dari Departemen Kesehatan Amerika Serikat (AS). Direktur BARDA Rick Bright mengatakan, pengembangan vaksin Covid-19 yang diperkuat adjuvan itu berpotensi dapat mengakhiri wabah ini. Dan akan membantu dunia untuk lebih siap menghadapi wabah-wabah akibat virus korona di masa depan