Ekonomi
( 40460 )Kemampuan Membayar Utang RI Mulai Diragukan
Pemerintah memperkirakan, defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2020 melebar menjadi sebesar 6,27% dari produk domestik bruto (PDB) menjadi Rp 1.028,5 triliun. Dari pelebaran defisit tersebut, pembiayaan utang pemerintah pun bertambah. Dalam dokumen outlook APBN pembiayaan utang yang ditargetkan pemerintah pada tahun ini mencapai Rp 1.633,6 triliun yang beberapa di antaranya akan dipenuhi dari penerbitan surat utang negara (SUN) di domestik, maupun valas dan penarikan utang program. Sayangnya, tambahan utang tersebut tak sebanding dengan penerimaan pajak maupun ekspor yang semakin merosot di tengah pandemi Covid-19. Alhasil, beban utang pun meningkat.
Dari data Bank Indonesia (BI), rasio utang terhadap pendapatan negara alias debt to service ratio (DSR) pada kuartal I-2020, tercatat sebesar 27,65%, jauh lebih tinggi dari DSR kuartal IV-2019 yang hanya 18%. DSR adalah jumlah beban pembayaran bunga dan cicilan pokok utang luar negeri jangka panjang yang dibagi jumlah penerimaan ekspor. DSR mencerminkan kemampuan sebuah negara untuk menyelesaikan kewajibannya membayar utang. Jika rasio DSR semakin besar maka beban utang yang ditanggung negara itu semakin besar.
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Riza A Pujarama menyebut, ketidakpastian kapan berakhirnya pandemi Covid-19 membuat kemampuan membayar utang dan bunga pemerintah semakin berat. Karenanya, pemerintah perlu memperhatikan hal-hal yang terkait pembayaran utang, terutama pendapatan negara. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa utang bisa menggerakkan perekonomian. Selain itu, efisiensi belanja sehingga belanja bisa ditutupi dari penerimaan sehingga realisasi utang bisa ditekan.
Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy juga melihat, beban utang Indonesia setelah pandemi Covid-19 makin berat. DSR Indonesia bisa mengalami peningkatan lagi. Sebab kinerja ekspor tidak serta merta akan rebound ke level yang baik. Apalagi dengan masih dibayangi ketidakpastian ekonomi global, terutama tahun depan.
Keuangan Syariah RI Bisa Bertahan
Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) menyampaikan, dampak wabah Covid-19 pada keuangan syariah Indonesia diperkirakan lebih minimal dibandingkan sejumlah negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) lainnya.
Direktur Pendidikan dan Penelitian Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Sutan Emir Hidayat menyampaikan, kinerja sektor keuangan syariah Indonesia lebih positif, terutama tecermin dalam indikator indeks pasar modal syariah serta pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).
Informasi tersebut tertuang dalam laporan yang diluncurkan KNEKS bersama Dinar Standard terkait dampak Covid-19 kepada keuangan syariah di mayoritas negara-negara OKI. Laporan ini menyajikan analisis data dan perspektif dari para pelaku industri beserta analisis di 12 negara OKI yang merepresentasikan 87 persen aset keuangan syariah global.
Laporan yang dapat diunduh di laman Salaam Gateway menunjukkan kondisi 12 negara Islam dari negara teluk, Asia Tenggara, Afrika, dan Asia Tengah.
Sementara itu, dari indeks pergerakan bursa saham negara OKI, Emir menyampaikan, Indonesia juga mencatat performa paling baik, diikuti oleh Bahrain dan Bangladesh di kala pandemi. Menurut data indeks JII, dalam rata-rata lima bulan terakhir masih mencatat pertumbuhan 0,27 persen.
Wabah Covid-19 dapat menjadi momentum untuk negara-negara Islam menerbitkan sukuk dalam membantu pemulihan ekonomi. Menurut laporan Islamic Finance Development Indicator (IFDI) tahun 2019, aset keuangan syariah global pada 2018 tercatat 2,5 triliun dolar AS.
Direktur Bidang Hukum, Promosi, dan Hubungan Eksternal KNEKS Taufik Hidayat menambahkan, kondisi ekonomi syariah Indonesia yang lebih baik ini dapat dimanfaatkan untuk menjaring investasi dan kolaborasi.
Wapres: Pemulihan UMKM Disiapkan
Wakil Presiden Ma'ruf Amin mengatakan, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perlu disiapkan agar segera pulih pascapandemi Covid-19.Persiapan dilakukan melalui stimulus perluasan pembiayaan kredit modal kerja dan skema penjaminannya.
Ia mengatakan, menjaga keberlangsungan UMKM serta mempersiapkannya segera pulih sangat penting mengingat UMKM sebagian besar dikelola oleh umat. Ini juga berkaitan dengan kepentingan masa ke depan untuk mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah.
Pemerintah Kabupaten Purwakarta mengalokasikan anggaran bantuan kepada pedagang kecil keliling. Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika mengatakan, pandemi berdampak besar pada turunnya pendapatan UMKM karena daya beli anjlok.
Anne mengatakan, Pemkab Purwakarta telah alokasikan anggaran Rp 2 juta per pedagang untuk 1.000 pedagang kecil yang terdampak wabah Covid- 19. Anne menuturkan, untuk data penerima sendiri diutamakan mereka yang belum terdata atau di luar warga yang sudah menerima BLT dari desa maupun bansos kabupaten.
Di Kabupaten Purbalingga, sebanyak 1.125 pelaku UMKM juga mendapat bantuan sembako. Penyerahan bantuan dilakukan Bupati Dyah Hayuning Pratiwi secara simbolis kepada 82 orang perwakilan UMKM di pendopo Setda setempat. Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Semarang Hasty Wulandari mengatakan, untuk memasuki era normal baru, protokol kesehatan harus dilakukan secara disiplin. Lurah Pasar Babadan, Gatot Suwignyo, mengatakan, pengelola pasar juga sudah menyarankan agar pedagang mengurangi jam berjualan. Dalam waktu 2,5 bulan terakhir, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang tidak menarik retribusi kepada pedagang pasar. Sebenarnya, selain untuk meringankan beban pedagang, uang retribusi yang tidak ditarik ini bisa dimanfaatkan oleh para pedagang untuk membeli makanan bergizi, makanan seimbang, dan vitamin yang dibutuhkan.
96 Pabrik Alas Kaki Setop Produksi
Sekitar 96 pabrik alas kaki berhenti beroperasi akibat pandemi Covid-19. Bahkan, 75% tenaga kerja kontrak dan trainee sudah dirumahkan dan tidak diperpanjang lagi berdasarkan informasi dari Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Firman Bakri. Dampak pandemi Covid-19 terhadap industri alas kaki, sudah mulai dirasakan sejak bulan Februari 2020 saat pandemi Covid masih terjadi di Tiongkok dan semakin memburuk seiring dengan perkembangan pandemi Covid-19 di dalam negeri.
Hal ini dikarenakan impor bahan baku alas kaki dari Tiongkok mengalami keterlambatan karena kebijakan karantina wilayah (lockdown) di negara tersebut. Selain mengalami keterlambatan satu bulan dari target awal, impor bahan baku juga mengalami peningkatan harga hingga 5% dibanding harga normal.
Kondisi, lanjut Firman, semakin memburuk di bulan Maret. Mulai meluasnya pandemi Covid-19 di pasar tujuan ekspor, ditemukannya kasus Covid-19 pertama di Indonesia, dan pemberlakuan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) menyebabkan penurunan omset penjualan retail domestik. Pengiriman order untuk Lebaran juga diminta diundur bahkan hingga cancel order. Menurutnya, sekitar 63% perusahaan alas kaki sudah melakukan pengurangan karyawan.
Pabrik Mobil Mulai Bangkit
Industri otomotif mulai berproduksi kembali setelah sebulan lebih menghentikan pabrik. Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia memaksa sejumlah industri otomotif melakukan penangguhan produksi. Namun, kini, beberapa pabrikan sudah mulai kembali melakukan kegiatan operasional secara bertahap.
Salah satu pabrikan yang sudah melakukan kegiatan produksi adalah Suzuki. 4W Marketing Director PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), Donny Saputra, mengatakan, pada tahap awal, produksi dilakukan untuk memenuhi pasar ekspor. Saat ini SIS belum mematok target produksi dan lebih menekankan pada evaluasi demi memastikan bahwa proses produksi yang dilakukan dapat berjalan dengan baik dan aman.
President Director PT Suzuki Indomobil Motor/PT Suzuki Indomobil Sales, Seiji Itayama, menjelaskan, pada tahap awal Suzuki memang mengurangi volume produksi dan secara bertahap akan melakukan evaluasi agar volumenya bisa ditingkatkan.
Toyota pun melakukan langkah yang sama. Direktur Administrasi, Korporasi dan Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam mengatakan, fasilitas produksi Toyota akan mulai beroperasi pada 5 Juni 2020 dan dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat.
Sementara itu, Honda belum juga melakukan reaktivasi. Business Innovation and Sales & Marketing Director PT Honda Prospect Motor, Yusak Billy, menjelaskan, Honda masih belum melakukan proses produksi. Namun, ia tetap optimistis karena ia yakin penerapan new normal nantinya akan mampu membuat kebutuhan kendaraan kembali meningkat.
Pandemi telah mempengaruhi biaya produksi mobil. Mengingat, kondisi yang ada saat ini telah berdampak pada proses produksi serta rantai pasokan. Hal ini pun terpaksa membuat PT Mitsubishi Motos Krama Yudha Sales Indonesia (MM KSI) melakukan kenaikan harga kendaraan. Head of Sales & Marketing Group MMKSI, Imam Choeru Cahya mengatakan, penyesuaian harga mulai diberlakukan pada Juni 2020.
Business Innovation and Sales & Marketing Director PT Honda Prospect Motor, Yusak Billy mengatakan, hingga saat ini Honda belum melakukan penyesuaian harga yang berkaitan dengan dampak dari Covid-19. Hal senada disampaikan oleh 4W Marketing Director PT Suzuki Indomobil Sales, Donny Saputra yang mengatakan bahwa Suzuki tidak melakukan penyesuaian harga pada bulan Juni.
Investor Saham Lebih Memedulikan Pelonggaran Terkait Covid
Pasar saham global menguat karena para investor lebih memedulikan pelonggaran-pelonggaran dari aturan karantina di berbagai negara. Walaupun mereka tetap mencermati ketegangan antara Tiongkok-Amerika Serikat (AS). Serta aksi protes anti-rasisme disertai kekerasan yang mencengkeram sejumlah kota terbesar di AS akibat tewasnya pria kulit hitam oleh polisi di Minneapolis.
Di Eropa, indeks saham Jerman, Paris dan London menunjukkan keuntungan yang layak karena masih ada optimisme sehubungan dengan pembukaan kembali ekonomi. Pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk melonggarkan pembatasan karantina mereka, jadi ada perasaan yang berkembang bahwa semuanya perlahan-lahan kembali normal. Hal ini sebagaimana disampaikan David Madden, analis dari CMC Markets UK. Senada, Bursa saham di Tokyo, Seoul,Shanghai, Mumbai Taipei, Kuala Lumpur, Manila dan Wellington juga menguat, bahkan Jakarta menguat lebih dari 2% sedangkan Singapura dilaporkan naik lebih dari 2% ketika pihak berwenang mulai mengurangi langkah-langkah lockdown.
Jeffrey Halley dari OANDA mengatakan, para investor tampaknya menepis berita bahwa Tiongkok telah memerintahkan perusahaan-perusahaan pertanian pelat merah untuk sementara waktu menghentikan pembelian beberapa barang pertanian AS – yang dipastikan bakal menimbulkan pertanyaan tentang dampak pada pakta perdagangan negara yang ditandatangani pada Januari.
Pinjaman Fintech Masih Mengalir Deras
Bisnis pinjam meminjam melalui platform financial technology (fintech) masih deras di tengah pandemi korona. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per April 2020 mencatatkan akumulasi penyaluran pinjaman mencapai Rp 106,06 triliun atau tumbuh 186,54% year on year (yoy) dari April 2019 dengan jumlah outstanding pinjaman hingga April 2020 mencapai Rp 13,75 triliun yang disalurkan lewat 161 fintech.
Ketua Harian Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Kuseryansyah menambahkan selama masa wabah Covid-19 ini secara umum penurunan terjadi pada sebagian besar platform penyelenggara fintech peer to peer (P2P) lending. Tapi ada beberapa sektor yang terjadi peningkatan penyaluran pembiayaan diantaranya distribusi healthcare, terutama pada UMKM farmasi, obat-obatan dan alat pendukung kesehatan. Begitu juga sektor terkait distribusi pangan, produk agrikultur, makanan kemasan. Di masa wabah Covid-19 ini, ada kabar gembira dari beberapa platform yang tetap mencatatkan pertumbuhan pencairan. Dengan kekuatan inovasi produk dan adaptasi dari artificial intelligent (credit scoring) dalam pengelolaan risiko, mereka masih mencatatkan pertumbuhan spektakuler hingga lebih dari 100%.
Di tengah derasnya pinjaman, fintech juga banyak menerima permintaan restrukturisasi dari para peminjam. Jumlah restrukturisasi yang disetujui Rp 236,99 miliar. Jumlah pinjaman yang sudah direstrukturisasi tersebut berasal dari 674.068 transaksi pinjaman. Berbeda dengan industri keuangan lain, seperti bank dan multifinance, persetujuan restrukturisasi datang dari pemberi pinjaman.
Bisnis Belum Normal di Era New Normal
Indonesia bersiap memasuki era kenormalan baru. Meski begitu, para pebisnis tidak yakin bisnis bakal langsung kembali normal.Sejumlah perusahaan kakap di bursa tetap merasa perlu merevisi target bisnis tahun ini. Beberapa emiten yang memiliki kapitalisasi pasar besar di bursa memutuskan memotong capital expenditure (capex) tahun ini.
Antonius Marcos, Sekretaris Perusahaan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), mengatakan, paruh pertama tahun ini menjadi momen yang sangat berat. Pasalnya, selain pandemi, volume penjualan produsen semen ini juga terganggu peristiwa banjir besar yang terjadi hingga empat kali. Hal ini mengakibatkan manajemen INTP merevisi target penjualan menjadi turun 5%-7% dan memangkas capex menjadi Rp 1,1 triliun.
Sedangkan Sekretaris Perusahaan PT United Tractors Tbk (UNTR) Sara K. Loebis menyambut positif kebijakan new normal namun pihaknya baru akan mengumumkan hasil revisi Capex dan kinerja setelah penyelenggaraan rapat umum pemegang saham (RUPS).
Direktur Hubungan Investor PT Indo TambangrayaMegah Tbk (ITMG) Yulius Gozali mengatakan, emiten ini tetap mempertahankanstrategi di tengah ketidakpastian pasar batubara. ITMG mematok target produksi tahun ini 22 juta ton. Pihaknya juga menerapkan pengeluaran biaya secara disiplin serta melakukan pemotongan biaya dari setiap departemen.
Head of Corporate Communications PT Astra International Tbk (ASII) Boy Kelana Soebroto juga sempat mengatakan beberapa waktu lalu, emiten ini merevisi capex tahun ini dari semula Rp 20-Rp25 triliun menjadi Rp 10-Rp11 triliun. ASII juga mengevaluasi seluruh lini bisnis.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Okie Ardiastama menilai, revisi target kinerja dan capex yang dilakukan emiten masuk akal. Sebab, faktor permintaan pada semester pertama tahun ini memang masih berada di luar ekspektasi. Meski begitu, analis menilai saham sejumlah emiten LQ45 masih menarik dikoleksi. Apalagi, harga saham emiten-emiten paling likuid tersebut sempat tertekan cukup dalam. Saat ini, harga saham emiten mulai bergerak naik. Analis merekomendasikan saham perbankan dan saham barang konsumsi.
Ekspor Perikanan Meningkat
Ekspor perikanan meningkat di tengah pandemi Covid-19. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, volume ekspor perikanan RI pada Januari-April 2020 sebanyak414.700 ton atau meningkat 15,79 persen secaratahunan dengan nilai 1,68 miliar dollar AS ataunaik 10,29 persen secara tahunan. Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengatakan, kenaikan nilai ekspor disumbang komoditas ikan dan udang. Restoran tutup, warung tutup, tetapi mulut manusia tidak akan tutup. Hanya pola peredaran berubah ke industri ritel.Inilah peluang yang perlu dimanfaatkan pelakuindustri,” katanya dalam seminar virtual ”Strategi Sektor Kelautan dan Perikanan Menjadi Motor Penggerak Perekonomian Nasionaldi Tengah Pandemi Covid-19”
Tekfin - Pemberi Pinjaman Mesti Setuju
Industri teknologi finansial di bidang pinjam-meminjam uang antarpihak juga merestrukturisasi pinjaman bagi peminjam yang terkena dampak Covid-19. Penyelenggara tekfin juga berkomitmen melindungi pemberi pinjaman dari risiko pengembalian pinjaman yang macet di tengah pandemi.
Hasil survei Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia (AFPI) menunjukkan, 88 platform pinjam-meminjam uang antar pihak berbasis teknologi atau peer to peer lending menerima permohonan restrukturisasi dari peminjam. Ketua Bidang Humas dan Kelembagaan AFPI Tumbur Pardede mengatakan Pinjaman yang difasilitasi dan disetujui pemberi pinjaman senilai Rp 237 miliar dari 674.068 transaksi dari keseluruhan 1,9 juta transaksi restrukturisasi dengan nilai Rp 1,08 triliun atau hanya sekitar 34%.
Dalam restrukturisasi pinjaman, lanjut Tumbur, penyelenggara tekfin tetap perlu mempertimbangkan dan melindungi risiko pemberi pinjaman. Oleh karena itu, penyelenggara tekfin tidak berwenang merestrukturisasi pinjaman tanpa persetujuan pemberi pinjaman namun tetap memfasilitasi pengajuan.
Ketua Harian AFPI Kuseryansyah mengakui belum ada aturan baku mengenai pinjaman yang direstrukturisasi. Namun, setelah mendapatkan keringanan, pinjaman akan dijadikan kategori lancar. Peminjam yang terkena dampak pandemi Covid-19 kebanyakan dari sektor pariwisata, perhotelan, dan ritel fisik. Adapun restrukturisasi kredit dapat berupa perpanjangan tenor, mengubah jumlah pokok pinjaman, dan mengubah nilai bunga pinjaman.
Kuseryansyah mengakui penyaluran pembiayaan melalui tekfin turun selama pandemi Covid-19. Namun, AFPI melihat masih ada beberapa sektor yang penyaluran pembiayaannya meningkat, di antaranya alat kesehatan, obat-obatan, alat pendukung kesehatan, distribusi pangan, produk agrikultur, dan makanan kemasan.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









