;

Bisnis Belum Normal di Era New Normal

Ekonomi R Hayuningtyas Putinda 07 Jun 2020 Kontan, 3 Juni 2020
Bisnis Belum Normal di Era New Normal

Indonesia bersiap memasuki era kenormalan baru. Meski begitu, para pebisnis tidak yakin bisnis bakal langsung kembali normal.Sejumlah perusahaan kakap di bursa tetap merasa perlu merevisi target bisnis tahun ini. Beberapa emiten yang memiliki kapitalisasi pasar besar di bursa memutuskan memotong capital expenditure (capex) tahun ini.

Antonius Marcos, Sekretaris Perusahaan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), mengatakan, paruh pertama tahun ini menjadi momen yang sangat berat. Pasalnya, selain pandemi, volume penjualan produsen semen ini juga terganggu peristiwa banjir besar yang terjadi hingga empat kali. Hal ini mengakibatkan manajemen INTP merevisi target penjualan menjadi turun 5%-7% dan memangkas capex menjadi Rp 1,1 triliun.

Sedangkan Sekretaris Perusahaan PT United Tractors Tbk (UNTR) Sara K. Loebis menyambut positif kebijakan new normal namun pihaknya baru akan mengumumkan hasil revisi Capex dan kinerja setelah penyelenggaraan rapat umum pemegang saham (RUPS).

Direktur Hubungan Investor PT Indo TambangrayaMegah Tbk (ITMG) Yulius Gozali mengatakan, emiten ini tetap mempertahankanstrategi di tengah ketidakpastian pasar batubara. ITMG mematok target produksi tahun ini 22 juta ton. Pihaknya juga menerapkan pengeluaran biaya secara disiplin serta melakukan pemotongan biaya dari setiap departemen.

Head of Corporate Communications PT Astra International Tbk (ASII) Boy Kelana Soebroto juga sempat mengatakan beberapa waktu lalu, emiten ini merevisi capex tahun ini dari semula Rp 20-Rp25 triliun menjadi Rp 10-Rp11 triliun. ASII juga mengevaluasi seluruh lini bisnis.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Okie Ardiastama menilai, revisi target kinerja dan capex yang dilakukan emiten masuk akal. Sebab, faktor permintaan pada semester pertama tahun ini memang masih berada di luar ekspektasi. Meski begitu, analis menilai saham sejumlah emiten LQ45 masih menarik dikoleksi. Apalagi, harga saham emiten-emiten paling likuid tersebut sempat tertekan cukup dalam. Saat ini, harga saham emiten mulai bergerak naik. Analis merekomendasikan saham perbankan dan saham barang konsumsi.

Tags :
#Bisnis
Download Aplikasi Labirin :