Ekonomi
( 40460 )China Berkomitmen Bantu RI Hadapi Covid
Pemerintah China melalui Duta Besar China untuk Republik Indonesia (RI) Xiao Quan menegaskan komitmennya untuk membantu Indonesia dalam menghadapi pandemi Covid-19. Indonesia menjadi satu dari 150 negara di dunia yang akan terus menjadi bagian komitmen Beijing dalam menanggulangi Covid-19, termasuk dampak ekonomi dan sosial yang dipicu pandemi. Selain tentang Covid-19, Xiao juga mengangkat sejumlah topik lain, seperti 70 tahun hubungan diplomatik China-Indonesia, kerja sama ekonomi dan perdagangan kedua negara, serta keberadaan tenaga kerja China di Indonesia. Xiao menjabarkan sejumlah bidang kerja sama sekaligus penguatan komitmen pemberian bantuan China-Indonesia selama pandemi Covid-19.
Facebook dan Paypal Investasi di Gojek
Gojek mengumumkan bahwa Facebook dan PayPal menjadi investor baru dalam penggalangan dana terkini tanpa menyebutkan besaran investasinya. Sementara itu, pada saat yang sama, Google dan Tencent menambah investasi setelah menanamkan uangnya pada penggalangan dana putaran sebelumnya. Gojek merupakan perusahaan Indonesia pertama yang menerima investasi dari Facebook, seiring dengan keinginan Facebook menciptakan peluang bagi dunia bisnis di Indonesia, termasuk melalui layanan instant messaging yang sudah digunakan secara luas, yakni Whatsapp.
Co-CEO Gojek Andre Soelistyo mengatakan, bergabungnya Facebook, PayPal, Google, dan Tencent merupakan pengakuan bahwa perusahaan teknologi paling inovatif di dunia melihat dampak positif Gojek terhadap Indonesia dan Asia Tenggara. Sumber daya perusahaan-perusahaan teknologi terbesar di dunia itu akan disinergikan dengan teknologi, pendekatan, dan fokus lokal yang dimiliki Gojek. Tujuannya guna mendorong adopsi sistem pembayaran digital secara cepat, sehingga mendatangkan manfaat bagi jutaan usaha dan orang di Indonesia dan Asia Tenggara.
Layanan pembayaran digital dari Gojek, yaitu Gopay, sejak lama fokus untuk meningkatkan akses ekonomi digital bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Bergabungnya perusahaan-perusahaan teknologi global itu bersama Gojek diharapkan akan membantu percepatan misi tersebut, di tengah mayoritas UMKM di Asia Tenggara masih mengandalkan uang tunai dalam bertransaksi. Karena, sebagian besar masyarakat di wilayah ini belum terjangkau layanan perbankan. Hal ini juga turut di tuturkan Chief Operating Officer Whatsapp Matt Idema, ia berpendapat kerja sama ini bisa membantu jutaan UMKM dan pelanggannya untuk bergabung di komunitas ekonomi digital terbesar Asia Tenggara.
Gojek dan PayPal menyepakati bahwa layanan pembayaran PayPal akan diintegrasikan ke Gojek. Kedua perusahaan ini akan berkolaborasi dan membuka akses bagi para pengguna Gopay ke jaringan PayPal yang terdiri atas 25 juta merchant di seluruh dunia. Head of Corporate Development and Ventures for APAC PayPal, Farhad Maleki menyampaikan semangat dari pihaknya mengenai hubungan strategis dengan Gojek untuk memperluas akses dan memberikan pengalaman baru bagi para pengguna.
Sejak diluncurkan tahun 2015, Gojek telah berhasil membantu ratusan ribu merchant untuk mendigitalisasi dan memberikan akses kepada lebih dari 170 juta pengguna Gojek di seluruh Asia Tenggara. Sebagian besar dari pencapaian itu dikontribusi dari Gofood dan perluasan cakupan layanan Gopay pada sektor lain di dalam maupun di luar ekosistem Gojek.
Dapatkah Indonesia Bersaing Merebut Investasi Besar?
Menurut mantan menteri perdagangan dan pengusaha nasional Gita Wirjawan, kemampuan Indonesia memperbaiki sistem dan kualitas pendidikannya sangat berpengaruh dalam meningkatkan produktivitas yang masih rendah. Meski kini menghadapi pandemi Covid-19, Ia berpendapat Indonesia harus menambah alokasi dana yang cukup signifikan bagi pendidikan yang tepat serta jumlah yang signifikan untuk pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan konektivitas.
Gita mengatakan, produktivitas sebuah negara merupakan faktor yang sangat penting dalam 'posisi' daya saing negara tersebut di regional dan global. Produktivitas merupakan ukuran yang biasa digunakan oleh perusahaan-perusahaan multinasional untuk menentukan tempat pembangunan pabrik berikutnya.
Marginal productivity sebuah negara, lanjut dia, merupakan kemampuan untuk memproduksi secara kompetitif barang dan jasa, baik untuk ekspor maupun kebutuhan domestik. Populasi dan ekonomi Indonesia, yang kira-kira di kisaran 45–49% dari seluruh negara di kawasan Asean, akan diuntungkan apabila memiliki marginal productivity yang lebih tinggi, baik secara domestik maupun internasional.
Di Asean, marginal productivity PPP per orang terbesar diraih Singapura, menembus US$ 150.132. Berikutnya adalah Brunei sebesar US$ 143.258, Malaysia US$ 57.442, Thailand US$ 30.202, dan baru Indonesia US$ 23.541. Walaupun telah membaik dalam beberapa tahun terakhir, lanjut Gita, Indonesia masih tertinggal daya saingnya akibat beberapa faktor, mulai dari kondisi tenaga kerja hingga teknologi digital yang masih tertinggal.
“Untuk meningkatkan daya saing itu, Indonesia antara lain harus melaku kan penambahan alokasi dana yang cukup signifikan untuk pendidikan. Selain itu, pandemi Covid-19 telah mengajarkan kepada kita bahwa umat manusia sedang bertransisi ke mode hidup yang sama sekali berbeda, di mana kontak fisik dan berkumpul akan lebih dibatasi, dan akan lebih bersifat digital atau virtual di waktu mendatang. Oleh karena itu, Indonesia harus dapat membangun narasi pendidikannya dengan menggunakan bidang ilmu yang lebih luas, dengan penekanan ke pada STEM (Science, Techno logy, Engineering, and Mathematics), kemampuan-kemampuan vokasi, riset dan pengembangan, kemampuan untuk berkomunikasi dengan masyarakat global, dan akuntabilitas/keterukuran pengeluaran untuk pendidikan oleh pemerintah pusat dan daerah,” tandas dia.
Australia Menuju Resesi
Australia telah mencatat sekitar 7.200 kasus dan 102 kematian akibat Covid-19. Banyak daerah sekarang secara rutin melaporkan nol kasus harian baru. Saat ini, Australia juga dihadapi dengan resesi pertamanya dalam hampir tiga dekade setelah ekonominya kontraksi pada periode Januari-Maret 2020. Proyeksi yang jauh lebih parah diperkirakan dalam tiga bulan ke depan sebagai efek dari karantina terkait wabah virus corona Covid-19. Kontraksi sebesar 0,3% adalah penurunan kuartalan pertama sejak 2009, pada saat terjadi krisis keuangan global. Karantina terkait wabah tersebut memperburuk dampak dari kekeringan berkepanjangan dan kebakaran hutan besar. Walau hasil tersebut lebih kecil dari perkiraan penurunan hingga 0,4%, namun Menteri Keuangan Australia Josh Frydenberg mengatakan, ekonomi negara menuju resesi pertamanya sejak 1991.
Pihak berwenang memerintahkan banyak bisnis tutup dan menutup perbatasan internasional negara untuk membendung penyebaran Covid-19. Dikatakan, kondisi ini akan menelan biaya ekonomi hingga miliaran dolar tetapi mencapai keberhasilan dalam mengendalikan virus. Frydenberg mengatakan, angka negatif kuartal Maret sangat baik dibandingkan dengan hasil di negara-negara lain termasuk Tiongkok, Prancis, Taiwan, dan Inggris.
Adapun pemerintah telah secara efektif membiayai sebagian besar bantuan perekonomian. termasuk memberi subsidi upah dan mendesak penangguhan sewa untuk menjaga bisnis tetap mendukung kehidupan sampai kehidupan normal kembali. Jutaan warga Australia telah kehilangan pekerjaan atau merasakan pengurangan jam kerja. Tetapi para pejabat berharap pendekatan tiga tahap untuk mengangkat pembatasan virus akan membantu memulihkan ekonomi.
Perwakilan dari National Australia Bank Kaixin Owyong mengungkapkan, kemungkinan penyusutan ekonomi akan mencapai 8,4% dalam tiga bulan ke depan. Namun dia menambahkan, pencabutan pembatasan yang lebih awal dari yang diharapkan menunjuk pada pemulihan ekonomi yang dimulai pada kuartal III-2008.
Pekerja Menanti Panggilan Bekerja dari Pengusaha
Menjelang penerapan kenormalan baru (new normal) di Indonesia, Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah, meminta para pengusaha kembali merekrut 1,7 juta tenaga kerja/buruh yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan yang dirumahkan karena dampak Covid-19. Ida berharap kesempatan ini tidak hanya dapat mengurangi angka pengangguran namun juga membuka kesempatan kerja baru semakin meluas.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani memastikan pengusaha akan kembali mempekerjakan karyawan yang dirumahkan. Namun, hal tersebut akan dilakukan secara bertahap tergantung pemulihan masing-masing perusahaan atau industri. Pasalnya, saat ini baik pasar di dalam negeri dan di luar negeri pun terganggu akibat Covid-19. Dia menandaskan, jumlah PHK relatif minim. Sebagian besar karyawan berstatus dirumahkan atau cuti tanpa tanggungan.
Dana Asing Kembali Guyur Pasar Saham
Indikasi investor asing kembali masuk pasar saham menguat. Selama empat hari berturut-turut, investor asing mencatatkan net buy di bursa saham. Kemarin, net buy investor asing di pasar saham bahkan mencapai Rp 1,51 triliun. Investor asing terutama tampak memburu saham-saham perbankan. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi saham yang paling banyak dibeli investor asing, selanjutnya PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri. Selain itu, asing juga mencatatkan net buy di saham PT Astra International Tbk (ASII) lalu PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM).
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai, investor asing kembali masuk dan memborong saham-saham tersebut karena memang harganya sudah terbilang cukup murah. Sedangkan Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menambahkan, ada dua faktor yang membuat investor asing kembali ke pasar saham Indonesia. Pertama, asing merespons positif penerapan new normal di Indonesia. Kedua kebijakan pencabutan hak istimewa Hongkong oleh Amerika Serikat yang juga berpotensi membuat dana dari Hong Kong akan berpindah ke beberapa negara, seperti Singapura dan juga Indonesia.
Optimisme Konsumen Tunggu Hasil New Normal
Optimisme konsumen masih menurun pada Mei 2020. Berdasarkan survei Danareksa Research Institute (DRI), Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada bulan lalu sebesar 75,3 alias turun 6,1% dari bulan sebelumnya yang sebesar 80,2 dan berada di level terendah sejak Juli 2008 sebagai bukti imbas Covid-19 cukup besar bagi konsumen. Apalagi dilihat dari penurunan IKK yang tajam selama dua bulan terakhir/
Penurunan optimisme konsumen dipengaruhi oleh penurunan Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) saat ini yang menurun kian tajam, pandangan negatif atas kondisi perekonomian terkini terutama kondisi lapangan pekerjaan. Kabar baiknya, ekspektasi konsumen menguat dan terlihat dari Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) dimana konsumen lebih optimistis dengan perkembangan ekonomi, bisnis, dan ketersediaan lapangan pekerjaan untuk enam bulan ke depan.
Peningkatan optimisme ke depan ini disebabkan oleh mulai berakhirnya kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di beberapa daerah dan adanya stimulus fiskal yang telah digelontorkan pemerintah dalam mengurangi dampak Covid-19. Lebih lanjut, konsumen memprediksi adanya tekanan inflasi yang lebih rendah untuk 6 bulan selanjutnya. Untuk pergerakan rupiah, konsumen di beberapa kota besar juga lebih optimistis. Penguatan optimisme ini disebabkan penguatan nilai tukar rupiah ke level Rp 15.136 pada April 2020 yang disebabkan oleh penerbitan global bond. Seiring dengan hal itu, konsumen yakin suku bunga acuan akan kembali turun dalam waktu dekat.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy memandang, penurunan optimisme konsumen di bulan tersebut salah satunya disebabkan faktor psikologis masyarakat. kekhawatiran akan penyebaran Covid-19 masih mempengaruhi perekonomian Indonesia dan khawatir distribusi bansos belum sepenuhnya tepat sasaran. Optimisme konsumen akan dipengaruhi oleh bagaimana pemerintah dan pelaku usaha menjalankan aktivitas di tengah kenormalan baru alias new normal ini. Ekonom Institut Kajian Strategis (IKS) Universitas Kebangsaan Eric Sugandi, juga sependapat bahwa optimisme konsumen bisa melonjak ketika aktivitas ekonomi berangsur membaik dan jumlah pasien korona berkurang. Kalau ini terjadi, kepercayaan konsumen ke pemerintah makin bertambah.
Budidaya Belum Tersentuh
Pengembangan budidaya lobster dinilai belum tersentuh di tengah pembukaan keran ekspor benih lobster. Kebijakan mendorong budidaya dinilai sulit berjalan beriringan dengan ekspor benih. Sementara itu, tawaran perusahaan untuk bekerja sama dengan nelayan dan pembudidaya terkait dengan ekspor benih lobster mulai marak. Ekspor benih lobster diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 12 Tahun 2020. Penetapan kuota dan lokasi penangkapan benih bening lobster diatur sesuai dengan hasil kajian Komisi Nasional Pengkajian Sumber Daya Ikan (Komnas Kajiskan). Hingga akhir Mei 2020, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menetapkan rekomendasi terhadap 18 perusahaan eksportir benih dari 50 perusahaan yang mengajukan.
Kepala Desa Paremas, Kecamatan Jerowaru, Nusa Tenggara Barat, Sahman menyatakan, muncul tawaran kerja sama dari beberapa perusahaan untuk pembelian benih lobster. Sejumlah nelayan juga ditawarkan masuk jalur koperasi. Namun, tawaran itu ditolak masyarakat nelayan karena belum ada jaminan kepastian harga jual benih. Sebaliknya, pasar lobster hasil budidaya tersendat. Sejak pandemi Covid-19, sebagian pembudidaya kesulitan menjual lobster sehingga lobster terus dibesarkan hingga berukuran di atas 1 kilogram per ekor. Ia mengungkapkan, tidak ada pengepul yang mau membeli lobster hasil budidaya saat ini. Sahman menambahkan, potensi budidaya lobster sangat besar. Desa Paremas yang berada di sekitar perairan Teluk Jukung menjadi salah satu sentra lobster di Nusa Tenggara Barat. Jumlah pembudidaya dan nelayan lobster di wilayah itu mencapai 700 orang. Pihaknya berharap perusahaan yang masuk ke wilayah itu berkomitmen membesarkan budidaya lobster dan akses pasar.
Ketua Himpunan Pembudidaya Ikan Laut Indonesia (Hipilindo) Effendy Wong meragukan komitmen pemerintah untuk mengembangkan budidaya lobster di Tanah Air. Hingga saat ini belum ada sosialisasi ataupun peta jalan budidaya lobster di Tanah Air, sedangkan pemerintah terus menambah rekomendasi eksportir benih lobster. Ia pesimistis budidaya lobster di Indonesia mampu tumbuh berbarengan dengan kebijakan ekspor benih walaupun pemerintah mensyaratkan eksportir wajib berhasil dalam budidaya lobster. Muncul indikasi kerja sama dengan pembudidaya lobster merupakan cara perusahaan untuk menenuhi persyaratan izin ekspor benih.
Menurut Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto, pemerintah telah menetapkan target budidaya lobster hingga lima tahun ke depan. Adapun persyaratan eksportir untuk mendapatkan kuota ekspor benih antara lain sudah melakukan panen berkelanjutan dan pelepasliaran sebanyak 2 persen hasil panen. Dari data yang dikompilasi tim uji tuntas perizinan usaha perikanan budidaya lobster, hampir semua perusahaan eksportir memiliki keramba jaring apung ataupun bekerja sama dengan mitra. Penetapan izin budidaya yang dikeluarkan pihaknya berlaku satu tahun. Apabila (perusahaan) tidak mematuhi, akan ada sanksi pencabutan surat penetapan.
Ekspor Jadi Penyelamat
Badai pandemi Covid-19 juga menghantam sektor industri otomotif. Pada saat sektor ini berusaha merangkak naik di tengah penurunan penjualan dalam dua tahun terakhir, pandemi membuat penjualan terpuruk. Ajang pameran otomotif Indonesia International Motor Show 2020 yang sedianya digelar awal April dibatalkan. Adapun, Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2020 diundur dari Agustus ke Oktober-November. Padahal, ajang semacam ini dapat mendongkrak penjualan. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memprediksi pasar otomotif 2020 akan anjlok 50 persen dibandingkan dengan 2019.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita yakin industri otomotif masih jadi andalan ekspor nasional kendati dalam situasi pandemi Covid-19. Pada akhir 2019, ekspor industri otomotif meningkat 2,2 persen secara tahunan menjadi 6,3 miliar dollar AS. Agus menyebutkan, ada sejumlah pesanan produk otomotif Indonesia dari negara lain dan rencana pengiriman dimulai bulan depan. Hal ini mengindikasikan pasar ekspor produk otomotif nasional masih bergeliat.
Direktur Administrasi, Korporasi, dan Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam mengatakan, Pukulan terasa pada triwulan II, turun 50 persen secara tahunan dan Triwulan III dan IV bergantung pada penanganan Covid-19 dan stimulus di setiap negara, tidak hanya Indonesia. Bob menambahkan, berdasarkan berbagai asumsi, pihaknya menyiapkan diri jika krisis molor hingga akhir tahun depan. Kesiapan itu diperlukan karena TMMIN juga menggarap pasar ekspor. Menurut Bob, sekitar 50 persen produk TMMIN mengisi pasar ekspor.
Kebutuhan mengisi pasar ekspor bisa jadi penyelamat pada saat permintaan dalam negeri merosot tajam. Pada pertengahan April 2020, TMMIN sempat mengaktifkan pabrik dua pekan setelah berhenti dua pekan untuk mengisi ekspor karena permintaan ekspor masih ada. Tuntutan ekspor juga membuat PT Suzuki Indomobil Motor mengaktifkan pabrik di Jakarta dan Bekasi sejak 26 Mei 2020 kendati PSBB belum resmi dicabut sebagaiaman dilansir Seiji Itayama, President Director PT Suzuki Indomobil Motor/PT Suzuki Indomobil Sales.
Wakil Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor (TAM) Henry Tanoto tak menampik kondisi industri otomotif menghadapi permintaan pasar yang melemah akibat pandemi Covid-19. Kondisi ini terlihat dari penjualan yang mulai merosot sejak akhir Maret, berlanjut pada April dan Mei. Namun, Henry optimistis kondisi akan membaik pada paruh kedua tahun ini.
Donny Saputra, Direktur Pemasaran Roda 4 PT Suzuki Indomobil Sales, menuturkan penjualan Suzuki melorot baik untuk pasar ekspor maupun pasar dalam negeri. Namun, dalam kondisi berat itu, salah satu model Suzuki, yaitu Suzuki APV, justru membukukan peningkatan penjualan. Alasannya, mobil itu banyak dijadikan ambulans dalam pandemi Covid-19. Sementara, Prianto, HR & GA Director PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia (MMKI), mengatakan, hingga kini masih memantau situasi terkini untuk kembali memulai aktivitas produksi Mitsubishi di pabrik di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Dia menambahkan, Mitsubishi akan memproduksi kendaraan sesuai permintaan, termasuk untuk ekspor.
Pandemi Perberat Pengendalian Karhutla
Pengendalian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) pada musim kemarau tahun 2020 mendapat tantangan berat karena bersamaan dengan pandemi Covid-19. Banyak tenaga dan dana difokuskan untuk menangani penyakit itu, pandemi Covid-19 menyebabkan pergeseran anggaran dan menambah kesulitan penanganan kebakaran di lapangan hal ini sebagaimana disampaikan Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong.
Upaya pencegahan kebakaran perlu terus dilakukan. Salah satu caranya, dengan menggelar teknologi modifikasi cuaca hujan buatan yang memanfaatkan bibit awan tersisa menginjak musim kemarau. Setelah upaya tersebut digelar selama dua pekan kemarin di Riau, selama dua pekan mendatang ini upaya serupa juga dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di wilayah Sumatera Selatan dan sekitarnya serta disusul wilayah Kalimantan.
Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK Ruandha Agung Sugardiman menyebutkan, demi menangani Covid-19, KLHK menghemat anggaran 39 persen. Sebagaimana diberitakan, Global Forest Watch pada 2 Juni 2020 menyebutkan kehilangan tutupan hutan primer Indonesia tahun 2019 terus menurun selama tiga tahun terakhir. Data ini ”mengejutkan” banyak pihak karena tahun 2019 Karhutla meningkat tajam. World Resources Institute Indonesia menduga, area terbakar pada hutan primer tersebut belum terbaca satelit karena terhalang kabut asap seperti pengalaman karhutla 2015.
Menanggapi hal tersebut, Alue Dohong mengatakan, data Global Forest Watch merupakan fakta ilmiah. Namun Pemerintah tetap berkomitmen melindungi tutupan hutan di Indonesia. Presiden Joko Widodo menghentikan izin baru kehutanan di hutan alam primer dan gambut serta moratorium kelapa sawit di kawasan hutan. Upaya pemulihan hutan dan restorasi gambut terus dilakukan. Untuk mencegah dan menangani kebakaran hutan dan lahan, Alue Dohong menyebut langkah restorative justice. Caranya, para pelaku yang tertangkap membakar hutan dan lahan ”digandeng” dan dilibatkan langsung dalam pemadaman kebakaran. Kebijakan ini diharapkan dapat mengubah pola pikir pelaku sehingga tidak mengulangi perbuatannya.
Profesor Riset Emeritus Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, yang juga Ketua Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia, Indroyono Soesilo, mengatakan, tidak heran Indonesia menduduki ranking tiga besar sebagai negara yang kehilangan tutupan hutan global. Indroyono mengatakan, pada kebakaran sangat besar pada tahun 1997, hanya pemerintah yang berupaya menanggulangi. Akibatnya, 5 juta sampai 8 juta hektar hutan dan lahan hangus terbakar. Saat ini, berkat kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat, angka kebakaran hutan dan lahan dapat ditekan. Contohnya, perusahaan swasta bersedia menyediakan helikopter operasional untuk digunakan pemerintah dalam memadamkan kebakaran.
Berdasarkan Presentasi dari Pandu Riono, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Risiko fatalitas penyakit Covid-19 pada daerah seperti Riau, Sumsel, Jambi, Kalteng, Kalbar, Kalsel, dan Papua kian tinggi karena gangguan pernapasan akibat langganan asap menahun.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









