Ekonomi
( 40460 )Pemilik Lion Air di Balik Super Air Jet
Di tengah pagebluk Covid-19, pemilik Grup Lion Air, Rusdi Kirana menyentak bisnis maskapai penerbangan nasional. Rusdi Kirana dan keluarganya siap mengoperasikan maskapai baru bernama Super Air Jet. Kementerian Perhubungan telah selesai memproses sertifikasi terhadap permohonan Air Operator Certificate (AOC) PT Super Air Jet dengan tipe pesawat Airbus A320, pada Jumat (25/6). Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Novie Riyanto, menyebutkan Super Air Jet telah memegang Surat Izin Usaha Angkutan Udara Niaga Berjadwal dengan Nomor SIUAU/NB-036, yang diterbitkan pada 17 September 2020. "Seluruh tahapan telah dilaksanakan sertifikasi selama sembilan bulan, kata Novie dalam pernyataan resminya, akhir pekan lalu.
Berdasarkan penelusuran KONTAN dari data Ditjen Administrasi Hukum Umum (AHU) Kementerian Hukum dan HAM, mengacu perubahan terakhir per 31 Agustus 2020, pemegang saham Super Air Jet meliputi tiga pihak, yakni PT Kabin Kita Top, Achmad dan Rudy Lumingkewas. Nama terakhir menjabat Presiden Direktur Lion Air.
Sementara pemilik Kabin Kita Top adalah Farian Kirana dan Davin Kirana, yang masing-masing memiliki 50% saham. Keduanya adalah anak Rusdi Kirana. Farian saat ini menjabat CEO Lion Parcel, lini logistik Grup Lion Air. Hingga tadi malam, Rusdi Kirana dan Farian Kirana belum bisa dimintai konfirmasinya perihal kepemilikan saham maupun rencana bisnis Super Air Jet ke depan. Manajemen Lion Air juga irit bicara. "Mengenai maskapai lain, bukan kapasitas saya untuk memberikan keterangan, ungkap Danang Mandala Prihantoro, Corporate Communications Strategic Lion Air Group, kemarin.
Pengamat penerbangan, Arista Atmadjati menilai, kehadiran SAJ merupakan strategi Grup Lion Air untuk mengisi rute beberapa maskapai yang sudah dan terancam kolaps. "Seperti Kal Star Aviation, PT ASI Pudjiastuti Aviation (Susi Air), PT Transnusa Aviation Mandiri dan PT Whitesky Aviation, itu beberapa contoh maskapai yang hilang, " ungkap dia, kemarin.
Tawar-Menawar Pajak Korporasi Global Pekan Ini
PARIS, Sebanyak hampir 140 negara di seluruh dunia pekan ini akan tawar-menawar detail-detail kunci dari rencana penerapan pajak korporasi global. Sebagian khawatir akan kalah banyak, tapi sebagian lagi semangat betul untuk memastikan para raksasa teknologi membayar pajak sesuai proporsinya. Sebelumnya di bulan ini, kelompok negara ekonomi maju G-7 menyetujui proposal untuk mengenakan tarif minimum atas pajak korporasi global. Tarifnya paling sedikit 15%. Dengan besaran tersebut, diharapkan tidak ada lagi negara yang bersaing menawarkan tarif pajak paling murah bagi para korporasi multinasional, khususnya yang berasal dari sektor teknologi. Rencana ini menjadi satu dari dua pilar reformasi dunia. Yang nantinya juga negara-negara diperbolehkan memajaki laba 100 perusahaan paling untung di dunia. Tidak masalah di mana pun mereka bermarkas. Seperti Google, Facebook, dan Apple.
Presiden AS Joe Biden mendukung adanya pajak ini. Dan menurut dia, Eropa juga menginginkan adanya kesepakatan ini. Sementara itu, negosiasi untuk meloloskan pajak ini menjadi semakin penting karena negara-negara sedang butuh sumber-sumber penerimaan baru. Karena sudah mengeluarkan paket stimulus besar-besaran untuk menyelamatkan ekonomi dari keambrukan selama pandemi Covid-19.
(Oleh - HR1)
Investasi INA Masuk ke Proyek Level Komersial
JAKARTA – Juru Bicara Indonesia Investment Authority
(INA) atau Lembaga Pengelola
Investasi (LPI) Masyita Crystallin mengatakan, karakteristik
investasi INA akan masuk ke
proyek-proyek yang sudah
mencapai level komersial. Sehingga, investasi dilakukan
terhadap proyek-proyek yang
memiliki interest rate return
(IRR) menjual.
Untuk itu, pemerintah akan
berusaha untuk meningkatkan
nilai jual daerah terpencil di
mata investor dengan melakukan pembangunan infrastruktur yang dikerjasamakan
melalui public private partnership (PPP). Pemerataan pembangunan infrastruktur juga
diperlukan agar tercipta sumber ekonomi baru yang tidak
hanya berpusat di Pulau Jawa.
Menurut Masyita, masuknya
INA ke proyek infrastruktur tol
pada tahap awal diyakini akan
memberikan mulitiplier effect
atau efek berganda bagi daerah
sekitar termasuk UMKM. Sebab,
akses yang semakin mudah akan
memperpendek konektivitas
saat mendistribusikan barang.
“Konektivitas antarwilayah menjadi murah, banyak daerah maju
terkoneksi, sehingga UMKM
ikut naik. Secara direct belum ke
sana,” ujar dia. Perusahaan patungan ini
akan mengelola dana investasi
hingga US$ 3,75 miliar atau
Rp 54 triliun (kurs Rp 14.300/
US$). Investasi keempat entitas
keuangan ini akan difokuskan
pada proyek infrastruktur jalan
tol yang ada di Indonesia.
Bahkan, dalam waktu dekat,
INA akan akan melakukan investasi di tiga jalan tol. Meski
demikian, ia enggan memberitahukan dengan detail ketiga
jalan tol yang akan dimasuki
oleh INA tersebut.
(Oleh - HR1)
Juli, Transaksi Dagang RI-Tiongkok Mulai Gunakan Rupiah dan Yuan
JAKARTA – Bank Indonesia
(BI) memastikan penggunaan
mata uang rupiah dan yuan
dalam transaksi perdagangan
atau kerja sama local currency
settlement (LCS) bisa diterapkan mulai bulan depan.
“Dengan Tiongkok, kita
sedang siapkan regulatorynya, Juli atau kuartal III-2021
launching dan diterapkan,”
ujar Direktur Eksekitif Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan Bank
Indonesia Donny Hutabarat
saat diskusi virtual Blueprint
Pengembangan Pasar Uang
2025, Jumat (25/6).
LCS merupakan kerja sama
Indonesia dengan beberapa
bank sen tral negara lain untuk mendorong peng gunaan
mata uang lokal dalam penyelesaian transaksi perdagangan bilateral dan investasi
langsung. Tujuannya, untuk
meningkatkan peng gunaan
mata uang lokal dan mengurangi ketergantungan
terhadap dolar AS.
Untuk saat ini, Indonesia
sudah menjalin kerja sama
penggunaan mata uang lokal
dengan Malaysia, Thailand,
dan Jepang. Bank Sentral
mengatakan, saat ini kedua
belah pihak juga terus menjalin komunikasi dengan para
eksportir dan importir, di
mitra negara tersebut.
Sebagai informasi, Badan
Pusat Statistik (BPS) mencatat
neraca perdagangan Indonesia
mengalami surplus sebesar
US$ 2,36 miliar pada Mei 2021.
China selalu berkontribusi
terhadap nilai ekspor-impor
Tanah Air.
Ekspor nonmigas Mei 2021
terbesar adalah ke Tiongkok
dengan nilai US$ 3,47 miliar.
Adapun pada periode JanuariMei 2021, Tiongkok tetap merupakan negara tujuan ekspor
yang memiliki peranan terbesar dengan nilai US$ 17,11
miliar atau secara persentase
sebesar 21,55%.
(Oleh - HR1)
Minat Investor Bisa Bergeser dari Saham Perbankan ke Bukalapak dan GoTo
JAKARTA – Pencatatan saham perusahaan teknologi bervaluasi besar seperti Bukalapak dan GoTo (Gojek dan Tokopedia) di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mengubah peta investasi di pasar. Investor diperkirakan bakal mengalihkan dananya dari saham perbankan ke teknologi, antara lain Bukalapak dan GoTo. Apalagi, sektor perbankan kini menghadapi ancaman peningkatan kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL).
Masuknya Bukalapak dan GoTo
juga diyakini akan menggairahkan indeks harga saham gabungan (IHSG).
Bukalapak dan GoTo bakal menjadi
game changer yang mengubah minat
investor, terutama asing.
Direktur Panin Asset Management
Rudiyanto mengatakan, penawaran
umum perdana (initial public offering/IPO) saham unicorn dan decacorn
tersebut menjadi isu bagi investor
ke depannya, selain metodologi free
float dalam perhitungan indeks saham
serta environmental, social, and governance (ESG) investment.
“Bukalapak dan GoTo sangat berpotensi mengubah landscape pasar modal
Indonesia dalam hal positif. IHSG
dalam 3-5 tahun ini tidak terlalu bagus, tertinggi 6.700. Sementara, dunia
berubah. Saat pandemi Covid, investasi
di farmasi. Ketika tidak ada Covid, investasinya di saham teknologi. Apalagi,
Bukalapak dan GoTo bakal punya bobot besar ke indeks dan akan menjadi
tujuan investasi asing,” kata Rudiyanto
dalam acara The First Indonesia Investor
Summit 2021, Minggu (27/6).
(Oleh - HR1)
Prospek Startup Bioteknologi, Injeksi Investor Ungkit Geliat Pasar
JAKARTA – Dengan menyederhanakan regulasi dan membangun iklim bisnis yang lebih pro pasar, peluang bagi perusahaan rintisan bioteknologi nasional untuk menggeliat di level domestik maupun global terbuka luas seiring dengan perubahan arus besar orientasi bisnis institusi farmasi dunia.Saat ini Indonesia memang belum menjadi rumah yang nyaman bagi perusahaan rintisan tersebut untuk bertumbuh. Persoalan utamanya, menurut pebisnis, adalah adanya aturan yang begitu kompleks, sehingga tidak banyak pemain baru yang ingin masuk ke sektor yang sebenarnya sangat menjanjikan ini.“Sektor biotech di Indonesia rata-rata juga masih dipegang perusahaan besar dan konglomerasi serta rata-rata startup berbasis riset membutuhkan waktu lebih lama untuk muncul karena butuh dana lebih besar tanpa kepastian pendapatan,” ujar Bendahara Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia (Amvesindo) Edward Ismawan Chamdani, Minggu (27/6).
Sementara itu, Nusantics, salah satu startup di sektor ini, menyiapkan sejumlah strategi untuk menekan kasus Covid-19 di Indonesia.Head of Business Unit & Group Marketing Nusantics Tri Nuraini mengatakan dalam gugus tugas bersama BPPT, mereka mengembangkan PCR swab test lokal pertama di Indonesia yang telah diproduksi secara massal oleh Biofarma.“Jutaan test kit ini pun telah digunakan di seluruh Indonesia. PCR swab test kit buatan lokal ini lebih akurat dan juga lebih mudah dijangkau,” ujarnya.
Dimintai pendapatnya, Koordinator Pusat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dianta Sebayang mengatakan bahwa meskipun belum menjadi rumah yang nyaman untuk pertumbuhan startup bioteknologi tetapi geliat bisnisnya berpeluang untuk didorong lebih cepat lagi pada tahun ini. “Startup bioteknologi adalah perusahaan yang membutuhkan SDM yang andal, tidak hanya secara digital, tetapi juga secara multiteknologi, kedokteran, kimia, biologi, nanoteknologi, dan lainnya. Selama ini fokus di Indonesia masih lebih banyak pada talenta digital untuk kebutuhan jasa saja,” tegasnya.(Oleh - HR1)
Akselerasi Dagang, Bali Dirancang Jadi Hub Ekspor
DENPASAR — Pemerintah Provinsi Bali merancang Pulau Dewata menjadi hub ekspor terutama produk pertanian, kelautan, dan industri kreatif seiring tingginya aktivitas di Pelabuhan Benoa.
Gubernur Bali I Wayan Koster mengatakan terkait dengan rencana menjadikan Pulau Dewata sebagai hub ekspor telah dibicarakan dengan Menteri Keuangan, Menteri Perhubungan, hingga Menteri Pariwisata. Rencana itu didasari oleh aktivitas Pulau ini yang secara alamiah sudah digunakan menjadi hub ekspor produk-produk dari berbagai wilayah, misalnya dari Papua, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa yang melakukan ekspor melalui Pelabuhan Benoa.
Ketua GPEI Bali Panudiana Kuhn mengatakan langkah pertama untuk menjadikan Bali sebagai hub ekspor yakni dengan meningkatkan kompetensi dari Sumber Daya Manusia (SDM) yang bergerak di dalamnya. Peningkatan SDM tersebut, imbuhnya, dapat melalui pelatihan dan pendidikan vokasi seperti sekolah khusus menjahit untuk memenuhi kebutuhan SDM dalam bidang industri kreatif. “Bali sebenarnya punya peluang, hanya saja memang anak-anak kita banyak yang lebih memilih sekolah di bidang pariwisata. Kalau ada hub ekspor maka dapat membuka peluang untuk bidang lainnya,” jelas Kuhn.
(Oleh - HR1)
Produk Hortikultura, Komoditas Ekspor Pisang Grecek Kutai Timur Diperkuat
BALIKPAPAN — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur serius menggarap potensi buah pisang Kepok Grecek menjadi komoditas ekspor unggulan dengan memperkuat dan mengembangkan produksi.Kepala Bidang Produksi Hortikultura Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kalimantan Timur Erry Erriadi mengatakan pengembangan komoditas dilakukan di Kabupaten Kutai Timur dengan didukung oleh pengadaan bantuan kepada petani.“Total pagu anggaran untuk pengadaan benih pisang 27.000 polybag, 385 liter herbisida dan kapur dolomit 80 kilogram adalah Rp702,5 juta,” ujarnya, Jumat (25/6).Dengan total luas tanam mencapai 1.700 hektare (ha), kata Erry, masih ada potensi lahan mencapai 500 ha untuk pengembangan komoditas pisang di Kutim yang akan dialokasikan pada tahun anggaran 2022.Dari sisi pemasaran, pisang Kepok Grecek sudah berhasil diekspor ke Malaysia dan memenuhi pasar lokal untuk Samarinda, Balikpapan, Bontang dan Sangatta.
Sementara itu, Ketua Koperasi Taruna Bina Mandiri, Priyanto menyatakan komoditas pisang Kepok Grecek dari Desa Kadungan Jaya, Kecamatan Kaubun, Kabupaten Kutai Timur sudah diekspor ke Malaysia. “Dikirim dari Jakarta langsung ke Kuala Lumpur,” ujarnya.Dia menjelaskan pengiriman langsung dari Balikpapan ke Malaysia tidak memungkinkan mengingat jumlah muatan kurang sehingga dikirim melalui Jakarta dengan waktu tempuh perjalanan selama 13 hari. Ekspor ke Malasyia sudah berlangsung sejak 2019 rata-rata dua kali pengiriman dalam sebulan.Terakhir, Koperasi Taruna Bina Mandiri melakukan ekspor pada 20 Juni 2021 sebanyak dua kontainer 20 feet yang mencapai 34 ton, dan kembali pada 24 Juni sebanyak dua kontainer 20 feet mencapai 36 ton.
(Oleh - HR1)Dugaan Manipulasi Data BKPM, Daya Saing RI Berisiko Tergerus
JAKARTA — Daya saing investasi nasional dinilai makin tergerus menyusul temuan Badan Pemeriksa Keuangan terkait dengan dugaan manipulasi data realisasi penanaman modal oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal dalam pemeriksaan 2019—2020.Dalam Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) II Tahun 2020, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan adanya indikasi investasi fiktif senilai Rp15,22 triliun. (Bisnis, 25/6).Lembaga auditor eksternal itu menyebut dugaan manipulasi data berisiko mengganggu iklim dan daya saing investasi di Tanah Air.Terlebih, pemerintah menargetkan perbaikan daya saing, salah satunya target untuk mengerek peringkat kemudahan usaha atau Ease of Doing Business (EODB) berada pada level 60 pada tahun ini dan 40 pada 3 tahun ke depan.Adapun mengacu pada laporan World Bank pada tahun lalu, kemudahan berbisnis di Indonesia berada pada peringkat 73.
Direktur Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira mengatakan, ada tiga dampak yang bakal dihadapi oleh pemerintah terkait dengan temuan BPK ini.Pertama risiko anggaran, di mana dana yang dialokasikan untuk Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) terbuang percuma jika data realisasi investasi yang dicatatkan tidak sesuai dengan kondisi riil.Kedua pandangan investor. Menurutnya, adanya investasi fiktif melunturkan kepercayaan investor terutama asing terhadap kondisi penanaman modal di dalam negeri.“Banyak investor asing yang mengacu pada data BKPM. Lembaga internasional juga menggunakan data BKPM untuk menghitung prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata dia.Ketiga adalah risiko fiskal. Kucuran insentif yang digelontorkan oleh pemerintah berisiko terbuang percuma karena adanya manipulasi data tersebut.
(Oleh - HR1)Program Sejuta Rumah 2021 hingga Mei capai 312.290 unit
Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyatakan program Sejuta Rumah pada 2021 ini hingga akhir Mei tercatat mencapai angka 312.290 unit rumah di seluruh Indonesia. "Capaian Program Sejuta Rumah hingga Bulai Mei 2021 lalu sebanyak 312.290 unit," ujar Direktur Jenderal Perumahan Kementerian PUPR, Khalawi Abdul Hamid di Jakarta, Minggu. Khalawi menerangkan, capaian tersebut terdiri dari 284.970 unit rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan 27.320 unit rumah non-MBR. Selain itu, ujar dia, pihaknya optimistis angka tersebut akan semakin meningkat karena pelaksanaan pembangunan perumahan serta fasilitas pendukung untuk hunian masyarakat masih terus berjalan di lapangan.
(Oleh - HR1)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









