Ekonomi
( 40460 )Bukalapak Siap lepas 25% Saham ke Publik
JAKARTA – PT Bukalapak.com Tbk berencana
mencatatkan sahamnya (listing) di Bursa Efek
Indonesia (BEI) dengan kode saham BUKA pada
29 Juli 2021. Perusahaan e-commerce itu siap
melepas sebanyak-banyaknya 25% saham melalui
penawaran umum perdana (initial public offering/
IPO).
Berdasarkan materi IDX Mini
Expose disebutkan bahwa Bukalapak
akan melangsungkan penawaran
awal (bookbuilding) dan roadshow
pada 28 Juni 2021. Penawaran umum
dijadwalkan pada 23-27 Juli 2021.
Bukalapak menunjuk Mandiri
Sekuritas dan Buana Capital Sekuritas sebagai joint lead managing
underwriter, serta UBS Sekuritas
Indonesia sebagai domestic underwriter. Selain itu, Bukalapak
menunjuk UBS dan BofA Securities
sebagai joint global coordinators.
UBS, BofA Securities, dan Mandiri
Sekuritas juga bertindak sebagai
joint bookrunners.
Terkait kinerja keuangan, Bukalapak tercatat masih rugi sepanjang tahun lalu sebesar Rp 1,34
triliun. Namun, rugi tersebut
turun 51,73% dibandingkan 2019
yang mencapai Rp 2,79 triliun.
Sedangkan pendapatan bersih
naik 25,55% menjadi Rp 1,35 triliun
pada 2020 dari tahun sebelumnya
Rp 1,07 triliun. Sementara, kerugian operasional tahun lalu tercatat sebesar Rp 1,83 triliun, turun
dibandingkan 2019 yang sebesar
Rp 2,84 triliun.
Perseroan juga mencatatkan
penurunan beban penjualan dan
pemasaran menjadi Rp 1,51 triliun
dari tahun sebelumnya Rp 2,32
triliun. Sedangkan beban umum
dan administrasi naik menjadi Rp
1,49 triliun dari tahun sebelumnya
Rp 1,26 triliun. Liabilitas Bukalapak
sebesar Rp 985,82 miliar dan ekuitas
Rp 1,6 triliun. Adapun total aset
perusahaan meningkat menjadi
Rp 2,59 triliun dari sebelumnya Rp
2,05 triliun.
Sementara itu, VP of Corporate
Affairs Bukalapak Siti Sufintri Rahayu enggan berkomentar terkait
materi IDX Mini Expose soal rencana IPO tersebut.“Kami senantiasa
mengeksplorasi kesempatan bagi
perusahaan untuk terus bertumbuh
dan berkembang secara finansial.
Namun, untuk saat ini, kami belum
membuat keputusan apapun,” kata
dia kepada Investor Daily, Kamis
(24/6).
(Oleh - HR1)
Bursa Aset Kripto Diharapkan Bantu Ekonomi Indonesia
JAKARTA, Kehadiran bursa khusus aset kripto di Indonesia yang rencananya dapat diluncurkan pada akhir tahun ini diharapkan bisa memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional. Pasalnya, sebagai sebuah ekosistem investasi, aset kripto di Indonesia dinilai belum membawa dampak menyegarkan bagi perekonomian Indonesia. Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan, aset kripto saat ini belum memberikan sumbangsih bagi pertumbuhan ekonomi, beda halnya dengan obligasi dan saham yang sudah menunjukkan kontribusinya ke negara. Hal ini termasuk dari sisi perpajakan. ”Dampak perekonomiannya (aset kripto) belum ada, kalau sekedar beranak pinak tapi tidak masuk ke hal-hal riil, lalu manfaat buat negara dalam bangun ekonomi apa. Ini jadi sekedar perjudian atau spekulatif. Diharapkan dengan adanya bursa kripto bisa jadi model atau sumber dana baru bagi perekonomian,” katanya dalam diskusi publik ”Plus Minus Investasi Aset Kripto”, Kamis (24/6).
(Oleh - HR1)
Diversifikasi Portofolio demi Meredam Risiko
Pemerintah berupaya menjaga risiko pembiayaan utang di tengah kebutuhan belanja yang meningkat untuk menanggulangi pandemi Covid-19 dan menopang pemulihan ekonomi. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menuturkan, meski tekanan pasar keuangan telah mereda, volatilitas ke depan masih perlu diwaspadai, khususnya terhadap beban bunga utang pemerintah.
Tahun ini defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ditargetkan sebesar 5,7 persen dari produk domestik bruto (PDB). Sri Mulyani memastikan utang pemerintah dikelola secara terbuka dan transparan serta dapat dipertanggung jawabkan. Salah satunya melalui diversifikasi portofolio utang.
Hingga akhir Mei 2021, realisasi pembiayaan utang mencapai Rp 330,1 triliun. Berdasarkan komposisi utang pemerintah pusat dalam bentuk surat berharga negara (SBN) domestik, hingga akhir April 2021 jumlahnya mencapai 67,30 persen. Sri Mulyani menuturkan penerbitan utang dilakukan dengan strategi oportunistis, yaitu dengan memantau pasar serta memasuki pasar dalam kondisi yang kondusif untuk mendapatkan biaya yang efisien.
Direktur Surat Utang Negara (SUN) Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Deni Ridwan, menilai tingkat keterserapan surat utang pemerintah tetap tinggi. Hal ini terbukti dari hasil lelang yang cukup solid di tengah fluktuasi pasar global dan domestik. Deni berujar jumlah penawaran yang masuk dalam lelang pekan ini mencapai Rp 69,95 triliun, didukung oleh likuiditas pasar keuangan domestik yang masih relatif tinggi.
Kripto Masih Jauh dari Bear Market
NEW YORK – Penurunan harga
bitcoin yang sempat di bawah US$
30.000 pada Selasa (22/6) kembali
membangkitkan perdebatan soal
kemerosotan nilai mata uang kripto
(cryptocurrency), seperti dogecoin,
XRP, dan lainnya. Yang juga mengalami penurunan tajam dalam 24
jam terakhir.
Namun, para ahli mengatakan
fundamental bitcoin bagus dan
kondisi pasar pada 2021 sangat
berbeda dari kehancuran besar-besaran terakhir kripto pada 2018.
“Kami jauh dari bear market, hanya para pedagang yang panik atas
teknis yang terlihat di bursa seperti
volume dan aksi harga,” ujar analis
dan ahli statistik on-chain Willy
Woo kepada CNBC.
Sebagai informasi sejak harga
bitcoin memuncak lebih dari US$
63.000 pada April, kondisi beberapa
bulan terakhir ini telah membuat
mata uang kripto terbesat di dunia
mengalami masa-masa sulit. Penyebabnya adalah langkah-langkah
tegas yang dilakukan Tiongkok
terhadap para penambang bitcoin
di seluruh negeri, dan memperparah keadaan bitcoin.
“Kabar baru-baru ini tentang
penutupan tambang Tiongkok
sudah sangat mengingatkan Tiongkok setiap beberapa tahun.
Mereka telah melarang perbankan
menggunakan bitcoin, tetapi ini
sebenarnya berbeda. Saya belum
pernah melihat eksodus seperti ini
sebelumnya,” kata Darin Feinstein,
pendiri Blockcap, salah satu operator penambangan bitcoin terbesar
di Amerika Utara
(Oleh - HR1)
Bappenas: Utang Pemerintah Tetap Dikelola Hati - hati
JAKARTA – Pemerintah tidak menampik
bahwa rasio utang pemerintah Indonesia
telah melebihi batas yang direkomendasikan
oleh Dana Moneter Internasional (IMF)
maupun International Debt Relief (IDR).
Namun demikian, dipastikan pemerintah
tetap melakukan pengelolaan utang secara
hati-hati dan kondisi ini tidak hanya dialami
oleh Indonesia.
“Hampir seluruh negara selama pandemi (Covid-19) ini
utangnya meningkat signifikan.
Pengelolaan utang tetap terjaga,
meski ada rasio-rasio dari IDR,
IMF, dan World Bank yang kita
lampaui. Tapi, hampir tidak ada
negara lain yang memenuhi
standar itu," ujar Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional
(PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
(Bappenas) Suharso Monoarfa
saat rapat kerja dengan Komisi
XI DPR RI, Rabu (23/6).
Bahkan, Suharso menjelaskan, rasio utang pemerintah
hingga akhir 2020 tercatat masih
39,4% dari produk domestik
bruto (PDB) dengan total utang
mencapai Rp 6.074,6 triliun.
Rinciannya adalah total utang
denominasi valas sebesar Rp
2.037 triliun, sedangkan utang
denominasi rupiah tercatat Rp
4.037,6 triliun.
Peningkatan rasio utang ini,
kata Suharso, sejalan dengan
langkah pemerintah untuk menangani Covid-19 dan mendorong pemulihan ekonomi nasional yang berimplikasi pada
defisit anggaran yang melebar.
“Namun, itu juga terjadi di negara Filipina, Korea Selatan,
Chili, Vietnam, Kolombia, dan
Turki,” tutur dia.
Menur ut Suharso, utang
luar negeri juga dimanfaatkan
untuk menggerakkan sektor
riil, khususnya yang bisa turut
menyokong kinerja ekspor dan
menjaga keberlangsungan fiskal
(utang pemerintah). Karena
itu, debt to service ratio (DSR)
atas ekspor relatif terjaga, yaitu
27% pada 2019 dan hanya naik
menjadi 27,9% pada 2020 yaitu
pandemi Covid-19 terjadi.
Sebelumnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengi ngatkan bahwa kesinambungan
fiskal perlu menjadi perhatian
seiring dengan penambahan
utang pemerintah. Apalagi, tren
penambahan utang pemerintah
beserta biaya bunganya telah
melampaui pertumbuhan PDB
dan penerimaan negara.
Ketua BPK Agung Firman
Sampurna menyebutkan, indikator kesinambungan fiskal Indonesia pada 2020 tercatat sebesar
4,27%. Angka ini melampaui
batas yang direkomendasikan
The International Standards of
Supreme Audit Institution (ISSAI) 5411 – Debt Indicators yaitu
di bawah 0%. "Ini memunculkan
kekhawatiran terhadap penurunan kemampuan pemerintah
untuk membayar utang dan
bu nga utang," ujar dia.
(Oleh - HR1)
Udang RI Bisa Kuasai Pasar AS
JAKARTA – Udang asal Indonesia berpeluang menguasai
pasar Amerika Serikat (AS).
Peluang tersebut kian terbuka
lantaran produk udang di pasar
AS sudah tidak dikenakan tarif
bea masuk (BM) bagi semua
negara eksportir, sehingga sudah tidak menjadi penghalang
dalam ekspor udang ke AS.
“Ekspor udang Indonesia ke
Amerika Serikat berpotensi
terus berkembang,” kata Dirjen
Penguatan Daya Saing Produk
Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan
(PDSPKP KKP) Artati Widiarti.
Sejumlah produk udang yang
memiliki pangsa besar dengan
tren meningkat di negeri Paman Sam di antaranya shrimp
warm-water peeled frozen (udang
kupas beku), shrimp breaded
frozen (udang tepung beku),
dan shrimp warm-water shell-on
frozen (udang utuh beku) dari
ukuran 15/20 sampai ukuran
51/60. “Pangsa pasar produk
udang di AS yang besar dengan
tren positif tersebut, Indonesia
pun memiliki daya saing terkait
produk dimaksud," kata Artati
dalam keterangan KKP, kemarin
(Oleh - HR1)
Musim Ekspansi Bisnis Penyimpanan Data
Pengembangan infrastruktur pusat data untuk menyokong aktivitas digital kian menjamur di berbagai daerah. PT DCI Indonesia Tbk (DCI) merupakan salah satu pengelola data center yang baru memperluas basis kerja perusahaan di Jawa Barat. Setelah memiliki empat gedung penyimpan data di sekitar Kawasan Industri Cibitung, perusahaan ini kembali membangun pusat penyimpanan data di Industrial Estate Karawang.
Account Manager DCI Indonesia, Tirza Widjaja, mengatakan pusat layanan milik entitasnya masih berpeluang bertambah sesuai dengan kebutuhan pasar pengguna jasa penyimpanan data. Pusat data DCI Indonesia di Cibitung, sudah melayani penyimpanan data yang kapasitas listriknya mencapai 37 megawatt. Dengan rencana skala besar pusat data Karawang, perusahaan menargetkan penguatan layanan hingga 1.000 megawatt. Infrastruktur DCI yang dibangun di kawasan Pertiwi Lestari itu akan mulai beroperasi pada triwulan terakhir tahun ini.
Operator pusat data asal Singapura, ST Telemedia Global Data Centres, juga berkongsi dengan Temasek serta Grup Triputra milik konglomerat Indonesia, Theodore Permadi Rachmat, untuk membangun kampus pusat data pertama di Greenland International Industrial Center, Kota Deltamas, Bekasi. ST Telemedia merupakan pemain lama data center yang memiliki lebih dari 120 basis layanan di enam negara, termasuk Cina dan Singapura.
Bagi Ketua Umum Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA), Bima Laga, pengelolaan data induk sangat mempengaruhi strategi pemasaran perusahaan digital. Layanan itu akan menentukan kecepatan pencarian produk oleh konsumen. Meski data center terus bermunculan, dia meminta aspek perlindungan data diperkuat. "Ini pekerjaan rumah Indonesia, " tuturnya kepada Tempo.
Pasar Kripto Tergerus US$ 300 Miliar
BEIJING – Pemerintah Tiongkok
melancarkan tindakan tegas baru
terhadap industri mata uang kripto
(cryptocurrency) sehingga nilanya
tergerus US$ 300 miliar sejak Jumat
(18/6). Hal ini terjadi ketika pusat
kegiatan bitcoin utama di dunia itu
telah memerintahkan para penambang ntuk menutup operasinya.
Data CoinDesk melaporkan, harga
bitcoin mengalami penurunan sekitar
2% menjadi US$ 32.330,21 pada Selasa
(22/6), pukul 04.12 waktu setempat.
Mata uang kripto lain, termasuk ethereum (ether) dan XRP juga turun
tajam pada Senin (21/6) malam.
Berdasarkan beberapa laporan
media, pihak berwenang di provinsi
Sichuan, Tiongkok pada Jumat, memerintahkan para penambang mata
uang kripto untuk menutup operasi
mereka. Sichuan sendiri merupakan salah satu pusat penambangan
bitcoin terbesar di Negeri Tirai
Bambu itu.
(Oleh - HR1)
BPK: Pemerintah Harus Waspadai Tren Penambahan Utang
JAKARTA – Badan Pemeriksa Keuangan
(BPK) mengingatkan bahwa kesinambungan
fiskal perlu menjadi perhatian seiring dengan
penambahan utang pemerintah. Apalagi, tren
penambahan utang pemerintah beserta biaya
bunganya telah melampaui pertumbuhan
produk domestik bruto (PDB) dan penerimaan
negara.
Ketua BPK Agung Firman
Sampurna menyebutkan, indikator kesinambungan fiskal Indonesia pada 2020 tercatat sebesar
4,27%. Angka ini melampaui
batas yang direkomendasikan
The International Standards of
Supreme Audit Institution (ISSAI) 5411 – Debt Indicators yaitu
di bawah 0%.
Salah satu agenda rapat
paripurna tersebut adalah penyerahan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Laporan Keuangan
Pemerintah Pusat (LKPP) Tahun 2020 dan Ikhtisar Hasil
Pemeriksaan Semester (IHPS)
II Tahun 2020 kepada pimpinan
DPR. Rapat paripurna dipimpin
langsung oleh Ketua DPR Puan
Maharani.
BPK menyebut realisasi pendapatan negara dan hibah pada
2020 tercatat sebesar Rp 1.647,78
triliun atau mencapai 96,93% dari
target anggaran. Sedangkan
realisasi belanja negara sebesar
Rp 2.595,48 triliun atau mencapai
94,75% dari target anggaran. Hal
itu membuat defisit anggaran
tahun lalu mencapai Rp 947,70
triliun atau 6,14% dari produk
domestik bruto (PDB).
Sementara realisasi pembiayaan APBN 2020 mencapai
Rp 1.193,29 triliun atau sebesar
125,91% dari nilai defisitnya.
Sehingga terdapat Sisa Lebih
Pembiayaan Anggaran (SILPA)
sebesar Rp 245,59 triliun.
BPK juga mengungkapkan,
utang pemerintah 2020 telah
melampaui batas yang direkomendasikan Dana Moneter
Internasional (IMF) dan/atau
International Debt Relief (IDR)
yakni, rasio debt service terhadap penerimaan sebesar 46,77%
melampaui rekomendasi IMF
sebesar 25% - 35%.
(Oleh - HR1)
Menkeu: PP Holding Ultramikro Tunggu Teken Presiden
JAKAR TA – Menteri
Keuangan (Menkeu) Sri
Mulyani Indrawati menyatakan, peraturan pemerintah
(PP) terkait dengan pembentukan holding badan usaha milik negara (BUMN)
ultramikro tinggal menunggu tanda tangan Presiden
Joko Widodo (Jokowi).
“Izin holding BUMN
ultramikro sudah selesai
dan tinggal paraf dari para
menteri dan akan ditandatangani oleh Pak Presiden,
tinggal proses ke depan,”
kata Sri Mulyani dalam
ke terangannya di Jakarta,
Selasa (22/6).
Menkeu memastikan,
holding yang melibatkan
PT Bank Rakyat Indonesia
(Persero) Tbk atau BRI,
PT Pegadaian (Persero),
dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau
PNM, tidak akan berdampak negatif terhadap bisnis
ketiga perusahaan negara
tersebut.
Bahkan dia menegaskan holding BUMN ultramikro (UMi) akan mempertahankan keunggulan
masing-masing perseroan,
sehingga dapat dipastikan
tidak ada ‘kanibalisasi’ perusahaan setelah integrasi
tersebut.
Berdasarkan perhitungan
Kementerian Keuangan,
pascaholding BUMN UMi
terbentuk maka jumlah
aset BRI akan bertambah
se besar 1,5%. Kemudian,
kemampuan ketiga perusahaan juga akan lebih besar
untuk menjangkau hingga
29 juta pelaku usaha UMi
dan UMKM yang selama
ini belum terlayani lembaga
keuangan formal atau unbankable.
“Ini yang akan dijadikan
fokus bagi kita untuk memberikan dukungan tersebut.
Kami sudah konsultasi juga
dengan OJK dan mereka
sampaikan mereka dukung
langkah tersebut,” ucap dia.
(Oleh - HR1)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









