Juli, Transaksi Dagang RI-Tiongkok Mulai Gunakan Rupiah dan Yuan
JAKARTA – Bank Indonesia
(BI) memastikan penggunaan
mata uang rupiah dan yuan
dalam transaksi perdagangan
atau kerja sama local currency
settlement (LCS) bisa diterapkan mulai bulan depan.
“Dengan Tiongkok, kita
sedang siapkan regulatorynya, Juli atau kuartal III-2021
launching dan diterapkan,”
ujar Direktur Eksekitif Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan Bank
Indonesia Donny Hutabarat
saat diskusi virtual Blueprint
Pengembangan Pasar Uang
2025, Jumat (25/6).
LCS merupakan kerja sama
Indonesia dengan beberapa
bank sen tral negara lain untuk mendorong peng gunaan
mata uang lokal dalam penyelesaian transaksi perdagangan bilateral dan investasi
langsung. Tujuannya, untuk
meningkatkan peng gunaan
mata uang lokal dan mengurangi ketergantungan
terhadap dolar AS.
Untuk saat ini, Indonesia
sudah menjalin kerja sama
penggunaan mata uang lokal
dengan Malaysia, Thailand,
dan Jepang. Bank Sentral
mengatakan, saat ini kedua
belah pihak juga terus menjalin komunikasi dengan para
eksportir dan importir, di
mitra negara tersebut.
Sebagai informasi, Badan
Pusat Statistik (BPS) mencatat
neraca perdagangan Indonesia
mengalami surplus sebesar
US$ 2,36 miliar pada Mei 2021.
China selalu berkontribusi
terhadap nilai ekspor-impor
Tanah Air.
Ekspor nonmigas Mei 2021
terbesar adalah ke Tiongkok
dengan nilai US$ 3,47 miliar.
Adapun pada periode JanuariMei 2021, Tiongkok tetap merupakan negara tujuan ekspor
yang memiliki peranan terbesar dengan nilai US$ 17,11
miliar atau secara persentase
sebesar 21,55%.
(Oleh - HR1)
Tags :
#PerdaganganPostingan Terkait
Lubang di Balik Angka Manis Surplus Perdagangan
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023