;
Kategori

Ekonomi

( 40554 )

Ikan Bandeng Bawa Sulsel Deflasi 0,25%

05 Jul 2021

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan, Budi Hanoto memaparkan Juni 2021 Sulsel deflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar -0,25 persen month to month (mtm).

Secara bulanan, deflasi Sulsel dipengaruhi penurunan pada kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar -0,71% mtm. Lalu, kelompok transportasi sebesar -0,51% mtm. Kemudian kelompok pakaian dan alas kaki dengan sebesar -0,17%.

Penurunan harga pada kelompok bahan makanan, minuman dan tembakau terutama dipengaruhi turunnya harga komoditas pangan strategis seperti ikan bandeng atau bolu, cabai rawit dan kangkung. Penurunan harga, lanjut dia diperkirakan karena tercukupinya pasokan komoditas serta cuaca yang turut mendukung.

Adapun penurunan pada kelompok transportasi dipengaruhi turunnya tarif angkutan udara seiring dengan menurunnya permintaan pasca lebaran. Sejalan dengan hal tersebut, penurunan kelompok pakaian dan alas kaki juga dipengaruhi turunnya permintaan pakaian pasca momen lebaran.


Pemerintah Tunda Program Promo Wisata

03 Jul 2021

Pemerintah menunda sejumlah program pemulihan ekonomi yang berkaitan dengan sektor wisata pada masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengatakan beberapa program, seperti "Work from Bali", pembukaan Bali kembali, wisata vaksin di Bali, Travel Corridor Arrangement, dan beberapa event wisata di daerah lokasi PPKM, akan ditunda.

Sandiaga menyatakan akan menyesuaikan programnya dengan situasi dan regulasi yang ditetapkan saat ini. Namun, kata dia, untuk mitigasi dari dampak PPKM darurat, Kementerian Pariwisata akan mempercepat penyaluran dana hibah, insentif pemerintah, dan bantuan sosial lainnya.

PPKM darurat berlaku pada 3-20 Juli di 121 kabupaten/kota dengan tingkat penularan Covid-19 tinggi. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pun menginstruksikan penutupan semua destinasi wisata dan sentra ekonomi kreatif untuk sementara waktu.


Banting Setir Bus Pariwisata

03 Jul 2021

Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat di Jawa-Bali yang berlaku mulai hari ini hingga 20 Juli mendatang mengancam bisnis bus pariwisata. Tjahjo Wibowo, Direktur Operasional PT Metro Multi Transportasi, yang mengelola bus premium Manhattan, mengatakan gelombang pengembalian tiket (refund) dari calon penumpang terus meningkat dalam sepekan terakhir.

Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang berlaku pada April hingga Juli 2020 omzetnya anjlok hingga 36 persen juga karena refund. Tjahjo menyatakan permohonan pengusaha bus untuk mendapat insentif dari pemerintah guna menjaga arus kas tak pernah berhasil.

Pemilik perusahaan otobus (PO) Sumber Alam, Anthony Steven Hambali, mengatakan sedang menggarap layanan baru, yaitu kursus menyetir. Di luar masa pandemi Covid-19, Sumber Alam mengoperasikan 40 unit bus rute Jakarta -Yogyakarta. Sisanya tersebar di rute antarkota dalam provinsi (AKDP) maupun untuk wisata.


Lonjakan Covid-19 Mulai Tekan Daya Beli

02 Jul 2021

Meledaknya kasus positif Covid-19 usai libur Lebaran Juni lalu, mulai memberikan tekanan terhadap daya beli konsumen. Daya beli pada bulan Juni terindikasi menurun. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, indeks harga konsumen (IHK) Juni mengalami deflasi sebesar 0,16%, kali pertama sepanjang 2021. Turunnya harga secara keseluruhan pada bulan laporan didorong oleh normalisasi harga setelah momen Lebaran pada bulan sebelumnya.

Menurut data BPS, ada beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga dan memberi andil besar pada deflasi Juni 2021. Beberapa di antaranya, cabai merah dengan andil 0,09%, daging ayam ras dengan andil 0,06%, cabai rawit dengan andil 0,04%, dan angkutan udara dengan andil 0,03%. BPS juga mencatat, inflasi inti Juni sebesar 0,14%, turun dari 0,24% pada Mei. "Memang ada penurunan. Sedikit banyak memang berpengaruh. Namun, inflasi inti masih positif. Sehingga daya beli masih terjaga," kata Kepala BPS Margo Yuwono, Kamis (1/7). Adapun tingkat inflasi inti secara tahunan yang tercatat 1,49% year on year (yoy), lebih tinggi dari 1,37% yoy pada bulan sebelumnya.

Akuisisi Suning, Alibaba Siap Unjuk Gigi Lagi

02 Jul 2021

Jejaring bisnis ritel Alibaba Group akan terus membesar. Setelah memiliki berbagai perusahaan e-commerce ritel, Alibaba akan memiliki lebih banyak lagi saham perusahaan logistik dan ritel online, Suning. Pembelian saham Suning menjadi investasi besar pertama Alibaba sejak membayar rekor denda antimonopoli sebagai bagian dari tindakan keras terhadap kerajaan bisnis internet Jack Ma.

Mengutip Bloomberg Kamis (1/7), konsorsium yang dipimpin oleh Alibaba dan pemerintah provinsi Jiangsu ini mendekati kesepakatan untuk membeli saham Suning milik miliarder China, Zhang Jindong. Kesepakatan terbaru itu akan menambah 20% saham yang sudah dimiliki Alibaba di Suning.com Co. Saat ini, valuasi 20% saham Suning ditaksir bernilai sekitar US$ 8 miliar.

Investasi ini menjadi momentum comeback Alibaba sejak regulator China berwenang mengenakan denda USS 2,8 miliar pada perusahaan pada April lalu. Zhang sebagai pendiri Suning, tidak akan lagi memiliki kendali atas perusahaan tersebut setelah kesepakatan ini. Transaksi ini juga menandai akhir perjalanannya sebagai pengusaha papan atas yang membawa perusahaannya di berbagai bisnis, termasuk memiliki tim sepakbola Inter Milan.

Tahun 2015, Alibaba menginvestasikan USS 4,6 miliar untuk 20% saham di Suning. com. Pada gilirannya Alibaba akan membayar US$ 2,3 miliar untuk membeli 1,1% saham di perusahaan ini. Kemitraan dengan Suning dan pengecer fisik lainnya adalah bagian dari tujuan raksasa seperti Alibaba untuk membangun kerajaan bisnis belanja offline dan online yang terintegrasi. Chief Executive Officer Alibaba, Daniel Zhang telah melakukan ekspansi ke bisnis ritel fisik dan bisnis grosir khususnya sebagai landasan strategi pertumbuhan. Sejauh ini, langkah tersebut membuahkan hasil selama pandemi virus korona.

Kunjungan Wisman ke Indonesia Turun 77,62 Persen

02 Jul 2021

Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman selama Januari-Mei 2021, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), hanya mencapai 664.536 kunjungan. Jumlah ini turun 77,62 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2020, yaitu sekitar 2,96 juta kunjungan. Kepala BPS Margo Yuwono, Kamis (1/7/2021), di Jakarta, mengatakan di sepanjang 2016-2019, khususnya setiap periode Januari-Mei tiap tahunnya, selalu terjadi kenaikan kunjungan. 

Pada Januari-Mei 2016 misalnya, tercatat 4,43 juta kunjungan wisman. Periode yang sama pada 2017 ada 5,51 juta kunjungan. Pada Januari-Mei 2018 ada 6,20 juta kunjungan. Periode yang sama tahun 2019, ada 6,28 juta kunjungan wisman. ”Penurunan drastis kunjungan wisman berdampak ke sektor industri lainnya. Pemulihan sektor pariwisata dari pandemi Covid-19 membutuhkan waktu lama. Kinerja industri pariwisata bergantung pada mobilitas orang,” katanya

Kurir Memikul Beban Belanja Daring

02 Jul 2021

Pesat pertumbuhan nilai bisnis daring di Indonesia salah satunya terekam dari data transaksi ritel e-dagang yang dicatat lembaga CEIC. Jika pada 2014 nilai bisnis e-dagang baru 1,9 miliar dollarAS, jumlahnya terus meningkat menjadi 7,1 miliar dollar AS pada 2017 dan 10,4 miliar dollar AS pada 2019. Di masa pandemi naik signifikan menjadi 12,3 miliar dollar AS (2020). Tren meningkatnya kebiasaan publik untuk belanja daring sudah terlihat sejak tahun lalu ketika pandemi Covid-19 melanda dan pembatasan sosial diberlakukan.

Berkaca pada hasil jajak pendapat Kompas setahun lalu (16-23 Mei 2020), ditemukan bahwa ada peningkatan pada pengeluaran uang oleh publik untuk membeli produk atau jasa setelah kebijakan pembatasan sosial diberlakukan. Peningkatan belanja daring terlihat dari responden yang mulai mencoba belanja barang elektronik atau kebutuhan sehari-hari secara daring. Sebanyak 31,5 persen responden membeli TV pintar (smartTV), laptop, dan gawai baru, serta mengeluarkan uang untuk memasang jaringan baru internet. Sebanyak 16,3 persen responden berbelanja kebutuhan sehari-hari secara daring.

Hal ini sejalan dengan laporan survei McKinsey & Company pada April 2020 berjudul ”Implication of Covid-19 for Retail and Consumer Goods in Indonesia”. Hasilnya, terdapat 36 persen responden menyatakan bakal lebih banyak menggunakan aplikasi untuk membeli barang kebutuhan sehari-hari. Selain itu, sebanyak 40 persen responden menyatakan akan memanfaatkan e-dagang. Kebiasaan berbelanja kebutuhan sehari-hari ini rupanya terus berlanjut meskipun beberapa bulan kemarin pusat-pusat perbelanjaan dan toko fisik mulai didatangi konsumen. Survei selanjutnya pada November 2020 menyatakan, 9 dari 10 orang Indonesia telah mencoba perilaku belanja baru, yaitu lewat daring.

Ada sejumlah faktor penunjang bagi pesatnya perkembangan lokapasar (marketplace) dan jasa pengiriman di Indonesia saat ini. Keduanya ialah kemudahan mendirikan usaha di kategori perdagangan dan kinerja serta infrastruktur pengiriman logistik. Berdasarkan laporan Logistics Performance Index 2018 dari Bank Dunia, Indonesia berada di urutan ke-46 dari 160 negara. Secara lebih spesifik, Indonesia ada di peringkat ke-44 untuk kompetensi logistik dan ke-54 dalam hal infrastruktur. Sementara itu, dalam Indeks Kemudahan Berusaha 2020 yang juga dirilis Bank Dunia, Indonesia bahkan menempati peringkat ke-116 dari 190 negara untuk kategori perdagangan lintas batas.

Sayangnya, perhatian pemerintah selama ini hanya tertuju pada pengembangan perusahaan-perusahaan penyedia layanan pasar daring. Platform jasa pengiriman juga menuai apresiasi yang sama. Misalnya, laporan dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang menjelaskan besarnya kontribusi Gojek dan Grab pada perekonomian Indonesia. Di balik itu semua, nasib para kurir yang berada di garis depan kerap diabaikan. Misalnya soal regulasi yang mengandalkan istilah ”sistem kemitraan” perlu dievaluasi kembali karena faktanya perusahaan dapat sewaktu-waktu menurunkan tarif dan insentif secara sepihak. Padahal, para kurir ini menanggung beban citra perusahaan yang mempekerjakannya sekaligus beban kemajuan ekonomi digital. Hanya saja, nasib para kurir ini kurang diperhatikan, baik oleh pemerintah maupun perusahaan lokapasar dan jasa pengiriman tempatnya bekerja. Pangkal masalahnya, para pengemudi dan kurir daring tidak masuk dalam cakupan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan karena mereka berstatus mitra, bukan karyawan.

Lagi pula belum ada regulasi yang mengatur skema perhitungan tarif minimum bagi para kurir online. Dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 12 Tahun 2019 yang diatur hanyalah formula perhitungan biaya jasa untuk mitra pengemudi yang mengangkut penumpang, bukan barang. Begitu juga dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 1 Tahun 2012 pun menyebutkan bahwa besaran tarif dan standar layanan pos komersial tidak diatur pemerintah. Oleh karena itu, perusahaan bisa dengan leluasa mengatur kebijakan tarif bagi para kurir daring tanpa khawatir melanggar hukum,termasuk pula memberhentikan kemitraan secara sepihak dengan alasan efisiensi perusahaan.


Anak Usaha Japfa Dukung Pengembangan UMKM Lokal di Danau Toba

02 Jul 2021

Wakil Bupati Simalungun, Zonny Waldi meresmikan 3 Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) binaan PT Japfa melalui anak perusahaan PT Suri Tani Pemuka (STP) di sekitar Pelabuhan Tiga Ras Kecamatan Dolok Pardamean Simalungun, Kamis (1/7). Assiten Deputi of Head Tilapia Overation STP Imam Santoso mengatakan pihaknya mendukung penuh untuk mengembangankan Destinasi Pariwisata Danau Toba melalui berbagai program, salah satunya memberikan dukungan dan membinaan para pelaku UMKM di Pelabuhan Tiga Ras sehingga siap menyajikan dan memberikan pelayanan yang baik kepada wisatawan. Sementara perwakilan Pelaku UKM Selmawati Boru Sitio berterimakasih kepada manajemen STP karena telah memilih kedai miliknya menjadi UKM binaan perusahaan."Kita senang karena dibantu, dibina dan dibimbing untuk menata warung ini sehingga tertata baik, menjadi bersih dalam mendukung kemajuan destinasi pariwisata Danau Toba di Pelabuhan Tiga Ras," ungkap Boru Sitio. 

(Oleh - HR1) 

Usaha Turun Temurun, Songket UMKM Khas Batubara Sampai ke Malaysia

02 Jul 2021

Songket menjadi salah satu wastra atau kain khas Indonesia yang sudah ada sejak lama. Wajar saja, banyak orang yang masih menggeluti usaha yang diturunkan dari generasi sebelumnya.

Sama halnya dengan Ratna  yang sudah belajar untuk menenun songket ketika umurnya menginjak 15 tahun. Dengan kegigihannya dalam mengajak ibu-ibu pada tahun 2005, ia sukses menambah jumlah penenun yang bekerja dengannya menjadi 70 orang.

Cakupan pasar hasil produksi UMKM yang dimiliki Ratna juga bisa dikatakan sudah cukup luas. Songketnya pernah dikirimkan ke negara tetangga yaitu Malaysia tahun 2008 - 2019 sebanyak 20 kodi atau 400 lembar songket. Harga songket yang diproduksi Ratna bervariasi mulai dari Rp 400.000 hingga yang paling mahal pernah mencapai Rp 4.000.000.

Selama masa pandemi, usaha milik Ratna cukup terdampak. Permintaan dari Malaysia juga terhenti sementara. Namun, hal itu tidak membuat Ratna hilang akal, la pun memanfaatkan penjualan secara online yang ia jual di e-Commerce.

Tetapi Ratna tidak sendirian, sebab usahanya dibantu oleh PT indonesia Asahan Aluminium (Inalum) yang menjadikannya mitra binaan di tahun 2017. Keuntungan setelah bergabung dengan mitra Inalum ya lumayan sekali meningkat sampai 50% pendapatannya.


Nanas Jadi Komoditi Pertanian Andalan Buat Masyarakat Sipahutar

02 Jul 2021

Tapanuli Utara (SIB) Petani nanas di Kecamatan Sipahutar mengungkapkan, tanaman nanas merupakan tanaman yang diandalkan masyarakat. Pasalnya, hasil pertanian nanas menjadi sumber mata pencaharian yang rutin bagi petani di Sipahutar.

Menurut salah seorang petani di Desa Onan Runggu Kecamatan Sipahutar, Opung Rinto br Panjaitan tanaman nanas memang sangat cocok di Kecamatan Sipahutar dan hasil pertanian nenas menjadi sumber mata pencaharian masyarakat petani di sana. Sebab, petani nanas setiap minggu bisa menjual ke toko.

Kondisi saat ini, petani nanas mengeluh karena harga nanas mengalami penurunan. Saat ini nanas dibeli toko dari petani Rp 2000 per buah. Sebelumnya harga nanas mencapai Rp 2500 per buah. Dengan kondisi ini, keuntungan petani sangat minim. Menurutnya, dengan harga pupuk yang semakin mahal, seharusnya harga nanas bisa meningkat.