Ekonomi
( 40465 )Menjaga Trust di Industri Asuransi
Persoalan pengaduan konsumen terkait produk asuransi unit-linked ternyata belum juga usai. Beberapa hari terakhir, aksi sejumlah nasabah yang terus menyuarakan pengaduan mereka menjadi perhatian publik. Tindakan sejumlah nasabah tersebut seakan menjadi kelanjutan dari aksi pada Desember 2021. Saat itu Komunitas Korban Asuransi yang mewakili lebih dari 200 orang mengadu kepada DPR terkait dengan permasalahan produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) atau unit-linked. Mereka mengungkap beberapa masalah yang kerap terjadi dan merasa terjebak dan tertipu oleh agen asuransi saat awal pengenalan polis asuransi berbalut investasi tersebut. Jika persoalan complaint handling atau layanan klaim ini tak tertangani dengan baik akan mengganggu reputasi perusahaan asuransi itu sendiri, kehilangan kepercayaan (distrust) kepada industri asuransi dan bisa meluas ke kestabilan sistem keuangan.
Pasar Ekspor Energi Surya
Industri energi surya di Indonesia sebetulnya relatif masih baru. Jumlah kapasitasnya dalam bauran energi nasional relatif masih rendah. Dengan semakin akutnya pemanasan global, seharusnya industri energi baru dan terbarukan (EBT) dikembangkan secara cepat di Indonesia, sehingga memungkinkan dicapainya target-target bauran energi demi mengurangi emisi gas rumah kaca melalui pengembangan renewable energy. Oleh karena itu, berita tentang pengembangan energi surya untuk diekspor ke negara tetangga merupakan kabar yang mengejutkan sekaligus menarik.
Mengapa Singapura begitu antusias dalam pengembangan tenaga matahari bagi pengembangan listriknya? Selain mereka secara bertahap akan beralih ke energi hijau, langkah tersebut diambil untuk mengantisipasi jika kontrak suplai gas ke negara tersebut tidak diperpanjang oleh Pemerintah Indonesia. Energi listrik di Singapura memang memiliki ketergantungan yang besar pada penggunaan gas yang disuplai dari Indonesia. Dalam hal ini terdapat beberapa kontrak suplai gas dari ladang di Indonesia ke negara tersebut. Kontrak yang terbesar adalah antara Conoco Phillips, yang berasal dari Blok Corridor di Grissik, Sumatera, dan Singapura yang akan berakhir pada 2023.
Asa Pemulihan Ekonomi Global
Pendapat, pandangan, keluh kesah, juga tekad atas hal yang terjadi dan bakal dihadapi secara global tahun ini mengemuka dalam Agenda Davos 2022 yang digelar Forum Ekonomi Dunia (WEF) sepekan kemarin. Presiden China Xi Jinping memperingatkan sejumlah risiko yang mengancam pemulihan ekonomi global, di antaranya gangguan rantai pasok global, pasokan energy yang ketat, dan kenaikan harga komoditas. Presiden Jokowi menyatakan, 84,2 persen responden dalam Global Risk Report 2022 WEF merasa khawatir dan resah terhadap keadaan dunia, yang harus dijawab dengan aksi nyata. Indonesia berusaha agar masa presidensi Indonesia di G-20 tahun 2022 bisa menjadi bagian penting menjawab keresahan tersebut, dengan menjadi katalis pemulihan ekonomi global yang inklusif. Lewat tema Presidensi G-20 Indonesia ”Recover Together, Recover Stronger”, Indonesia mengedepankan kemitraan dan inklusivitas serta menyediakan platform terobosan untuk transformasi di berbagai bidang.
Tim riset Manulife Investment Management menilai tantangan makro yang panjang, termasuk ekspektasi kenaikan suku bunga Fed Rate di AS, menyiratkan tingkat inflasi bisa sangat tinggi selama beberapa bulan. Pasokan global diharapkan membaik lewat berjalannya produksi. Gangguan rantai pasok diproyeksikan berkurang sehingga dapat mendorong pemulihan yang lebih berkelanjutan. Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menekankan fleksibilitas kebijakan sangat penting pada tahun ini. Inflasi terus-menerus, tingkat utang fiskal, dan pandemi Covid-19 berkelanjutan menghadirkan tantangan kompleks bagi para pembuat kebijakan. Dengan cara yang terkoordinasi, bank sentral dunia dan otoritas fiskal telah mencegah dunia jatuh ke dalam depresi besar lainnya. (Yoga)
Komoditas dan Rekor Indeks Saham
Sepanjang pekan lalu, pergerakan IHSG berfluktuasi, tetapi akhirnya indeks menguat, bahkan menutup perdagangan dengan rekor. IHSG Jumat (22/1/2022) naik 0,49 % menjadi 6.726,3. Mengalahkan rekor sebelumnya di level 6.723 pada 22 November 2021. Sementara untuk rekor intraday belum terkalahkan pada posisi 6.754 pada 22 November 2021. Kapitalisasi BEI naik 1,22 % menjadi Rp 8.463 triliun dari Rp 8.360 triliun pada pekan sebelumnya.Penguatan saham emiten sektor komoditas menjadi pendorong, hal ini tidak terlepas dari kenaikan harga beberapa produk komoditas. Harga CPO masih terus naik. Kontrak CPO berjangka 3 bulan di Bursa Malaysia Derivatif Exchange naik 3,12% menjadi MYR 5.322 ringgit per ton, level tertinggi CPO yang pernah ada.
Batubara, yang pertengahan pekan lalu melemah, bangkit lagi pada akhir pekan di atas 210 USD per ton. Harga kontrak berjangka batubara ICE Newcastle ditutup naik 4,29 % menjadi 214,95 USD per ton. Jika memperhatikan grafik indeks komoditas, seperti grafik Commodity Research Bureau (CRB) Index, kenaikan sudah terlihat sejak 2020. Terlihat jelas korelasi positif indeks komoditas CRB dan IHSG. Dalam 6 bulan terakhir, kinerja IHSG tercatat naik 11,5 %, melampaui kinerja indeks S&P 500 yang bertumbuh 2,8 % dalam 6 bulan terakhir. Di tengah kekhawatiran lonjakan kasus Covid-19 akibat varian Omicron, kenaikan harga komoditas masih menjadi pendorong kenaikan indeks saham pekan ini. (Yoga)
Penyaluran Kredit Bakal Terakselerasi
Berdasarkan Survei Perbankan Triwulan IV-2021 yang dirilis BI pekan lalu, responden memperkirakan pertumbuhan kredit 2022 mencapai 8,7 %, lebih tinggi dari pertumbuhan kredit 2021, sebesar 5,2 %. Optimisme tersebut, didorong kondisi moneter ekonomi yang stabil serta relatif terjaganya risiko penyaluran kredit. Dirut PT BNI (Persero) Tbk Royke Tumilaar menjelaskan, pihaknya menargetkan pertumbuhan kredit 7,5 % tahun 2022. BNI menyiapkan rencana strategis, baik organik maupun anorganik, untuk mengoptimalkan ekspansi kredit tahun ini. BNI juga menjalankan beberapa aksi korporasi, seperti penerbitan surat utang, saham, dan akuisisi bank. Tahun ini, BNI meningkatkan upaya menggarap segmen UMKM agar naik kelas dan menembus pasar ekspor dengan program pembinaan serta kemitraan bisnis di BNI Xpora, program BNI khusus untuk nasabah dunia usaha berorientasi ekspor.
Dirut PT BRI (Persero) Tbk Sunarso menargetkan pertumbuhan kredit tahun ini 8-10 persen. BRI, kata Sunarso tetap fokus pada penyaluran kredit UMKM yang potensinya masih sangat besar. Hasil riset tentang usaha ultramikro (UMi) di Indonesia menunjukkan ada 45 juta pelaku usaha UMi per akhir tahun 2019, dan baru 15 pelaku usaha ultramikro yang tersentuh layanan keuangan formal dari bank atau tekfin. Artinya, ada 30 juta pelaku UMi yang tergantung pendanaannya kepada rentenir, kerabat, dan belum sama sekali terjangkau lembaga keuangan. Untuk mengoptimalkan penyaluran kredit ke segmen ultramikro, BRI melakukan efisiensi jaringan bersama PNM dan Pegadaian selaku anggota Holding Ultra Mikro. Efisiensi dilakukan melalui program Sentra Layanan Ultra Mikro atau SenyuM, yang membuat BRI, PNM, dan Pegadaian bisa secara efektif memberdayakan pelaku usaha ultramikro yang unbankable. (Yoga)
Ketidakpastian Datang, Kurangi Aset Beresiko
Sejumlah sentimen menyumbang ketidakpastian di pasar saham Tanah Air. Pertama, percepatan kebijakan tapering bank sentral Amerika Serikat (AS). Bank Sentral AS, Federal Reserve, pada Desember 20221 membahas percepatan tapering menjadi US$ 30 miliar per bulan mulai Januari 2022 dan berakhir pada Maret 2022. Kedua, rencana kenaikan bunga AS. Rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang digelar pekan ini diperkirakan membahas kenaikan bunga AS lebih cepat dibanding perkiraan. Analis B-Trade Raditya Krisna Pradana menilai, kebijakan AS berpotensi melemahkan rupiah. Kenaikan bunga AS menjadi katalis negatif bagi pasar saham lantaran investor akan cenderung memilih dollar AS sebagai instrumen investasi. Ketiga, kenaikan kasus Covid-19 dan penyebaran omicron di Indonesia. Meski omicron tidak terlalu mematikan seperi varian delta, penyebarannya yang cepat menjadi kekhawatiran pasar.
Ada Satgas Khusus Pengawas Koperasi Nakal
Persoalan gagal bayar Koperasi Simpan Pinjam (KSP) bak benang kusut. Kementerian Koperasi dan UKM (Kemkop) mencatat, sejumlah koperasi yang menempuh restrukturisasi utang melalui pengadilan dan kini berstatus Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU), masih tersendat dalam menyelesaikan kewajibannya. Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, selain KSP Sejahtera Bersama, kini ada delapan KSP berstatus PKPU yang terus dipantau. Untuk itulah, Kemkop berinisiatif membentuk Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Koperasi Bermasalah maupun koperasi nakal bin bandel (lihat infografik). Satgas ini bertugas memastikan delapan koperasi yang gagal bayar itu tetap memenuhi putusan PKPU. Nah, dalam kasus KSP Sejahtera Bersama, pengawasan Satgas Koperasi Bermasalah relatif efektif. Deputi Bidang Perkoperasian Kemkop UKM Ahmad Zabadi mengungkapkan, sampai Jumat, 21 Januari 2022, pukul 16.30 WIB, KSP Sejahtera Bersama sudah membayar sekitar Rp 2,4 miliar.
Neraca Surplus 2021, Balik Defisit di 2022
Bank Indonesia optimistis pada 2021 bisa terjadi surplus kembar Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dan neraca transaksi berjalan. Optimisme BI setelah melihat perkembangan sepanjang 2021, terutama di kuartal III dan IV-2021. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memperkirakan surplus NPI pada 2021 bakal meningkat dibandingkan dengan tahun 2020 yang mencapai US$ 2,6 miliar. Sedangkan tahun 2022, Perry memperkirakan kinerja NPI masih akan terjaga. Memang, ia melihat ada pembalikan neraca transaksi berjalan menuju ke arah defisit. Namun, defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) pada 2022 diperkirakan rendah di kisaran 1,1% PDB hingga 1,9% PDB. Selain itu, surplus neraca transaksi modal dan finansial diperkirakan lebih besar dibandingkan tahun lalu. Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman juga memproyeksi neraca transaksi berjalan pada 2021 bisa surplus setelah di 2020 defisit US$ 4,7 miliar yang setara 0,4% PDB. Sedangkan di 2022 ini, pemulihan ekonomi pun ia proyeksi masih terus berlangsung. Imbasnya adalah laju impor barang dan modal untuk akselerasi ekonomi bakal terus berlangsung tahun ini
Proyeksi BI 2022 Transaksi E-Commerce Rp 530 Triliun
Transaksi e-commerce Indonesia sepanjang 2021 masih tumbuh tinggi meskipun di bawah perkiraan. Bank Indonesia (BI) mencatat transaksi e-commerce di 2021 sebesar Rp 401 triliun. Sebelumnya BI memperkirakan transaksi e-commerce tahun lalu bisa mencapai Rp 403 triliun. Artinya, hasil tersebut baru mencapai 99,50% dari target BI. Meski tidak sampai mencapai proyeksi BI, Gubernur BI Perry Warjiyo menilai hasil transaksi e-commerce sepanjang 2021 justru tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2020. "Ini masih tumbuh 50,8% bila dibandingkan dengan tahun 2020 yang sebesar Rp 266 triliun," ujar Perry dalam pesan singkat yang diterima KONTAN Kamis (20/1). Yang terang, faktor inilah yang membuat bank sentral masih optimistis transaksi e-commerce di 2022 bakal kembali tumbuh. "Ada kecenderungan meningkat dari perkiraan kami (sebesar Rp 530 triliun),” tuturnya.
Mekipun demikian, Kepala ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual tidak mempersoalkan transaksi e-commerce Indonesia tahun lalu tidak sesuai dengan proyeksi Bank Indonesia.
Makanya David menilai perkiraan transaksi e-commerce tahun 2022 ini yang sebesar Rp 530 triliun oleh Bank Indonesia tersebut sudah rasional. Pasalnya, masyarakat hingga saat ini masih gemar berbelanja secara daring. Sementara Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira memproyeksi transaksi e-commerce tahun ini berada di kisaran Rp 490 triliun hingga Rp 500 triliun. Artinya berada di bawah perkiraan BI yang sebesar Rp 530 triliun.
Mengejar Nilai Tambah Ekspor
Strategi penghiliran industri menjadi bagian penting dari upaya pemerintah untuk memberikan nilai tambah lebih atas komoditas ekspor agar Indonesia mampu memanfaatkan momentum dari membaiknya kinerja penjualan barang ke luar negeri. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat nilai ekspor tahun lalu sebagai rekor tertinggi sepanjang sejarah di posisi US$231,54 miliar, tidak sekadar menggembirakan dari sisi angka.
Di sisi sektoral, sepanjang 2021 ekspor sektor manufaktur yang merupakan komponen tertinggi dari total ekspor non-migas tumbuh 35,1%, diikuti sektor pertambangan 92,1%, dan sektor pertanian 2,8%.
Performa ekspor ini tentu harus lebih ditingkatkan lagi agar komoditas ekspor makin memiliki nilai tambah, sehingga pada akhirnya mampu menembus pasar global. Beberapa komoditas ekspor yang masih dapat diolah seperti nikel, bauksit, tembaga, dan timah.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









