Ekonomi
( 40554 )KRAS Raih Penjualan Rp 10 Triliun
PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) kembali mencetak kinerja penjualan yang positif sepanjang kuartal I-2022. Perusahaan baja plat merah ini berhasil membukukan penjualan sebesar Rp 10 triliun selama tiga bulan pertama tahun ini. Dengan capaian itu, penjualan KRAS per kuartal I-2022 tumbuh 44,92% dibandingkan periode sama tahun lalu yang senilai Rp 6,9 triliun.
AS, Arab Teluk, dan OPEC Plus
Isu minyak telah membuat gonjang-ganjing hubungan antara AS dan negara-negara Arab Teluk, khususnya Arab Saudi dan UEA, menyusul meletupnya perang Rusia-Ukraina sejak 24 Februari lalu. Arab Saudi dan UEA menjadi bidikan AS sejak awal invasi Rusia ke Ukraina untuk dibujuk agar menaikkan produksi minyaknya, agar harga minyak dunia terjaga dan tidak mengalami lonjakan signifikan. AS sejak awal telah menyiapkan paket sanksi ekonomi atas Rusia, di antaranya melarang impor minyak dari Rusia, dimana Rusia adalah produsen minyak terbesar kedua setelah Arab Saudi. Moskwa memproduksi minyak 8 juta barel per hari. Hilangnya minyak Rusia dari pasar dunia berakibat melonjaknya harga minyak dunia, hanya Arab Saudi dan UEA yang bisa menutupi absennya minyak Rusia dengan menambah produksi minyaknya.
Posisi Arab Saudi dan UEA sangat sulit. Bagi Arab Saudi dan UEA, AS adalah sahabat strategis yang menjamin keamanan dua negara itu. Di pihak lain, hubungan Arab Saudi dan UEA dengan Rusia juga sangat berkembang akhir-akhir ini. Arab Saudi, UEA, dan Rusia berada dalam satu payung organisasi, yaitu OPEC Plus. Dalam konteks dinamika minyak, Arab Saudi dan UEA berdalih bahwa kebijakan isu komoditas minyak harus mengacu pada kebijakan OPEC Plus. Artinya, Arab Saudi dan UEA memilih menjaga keutuhan OPEC Plus daripada menuruti kehendak AS. Arab Saudi dan UEA ingin memberi pesan politik kepada AS bahwa isu minyak adalah urusan Arab Saudi dan UEA bersama OPEC Plus, bukan dengan AS.
Dalam pertemuan virtual OPEC Plus pada 31 Maret, 23 negara anggota OPEC Plus, termasuk Rusia, sepakat berkomitmen memegang teguh kebijakan menjaga stabilitas pasar minyak dunia dengan hanya menambah 432.000 barel per hari mulai Mei mendatang. Dengan keputusan ini, harga minyak dunia sampai saat ini masih dikendalikan jauh di bawah 120 dollar AS per barel. Harga minyak mentah dunia, Jumat (8/4), berkisar 97,92 dollar AS per barel. Padahal, sebelum pertemuan OPEC Plus 31 Maret, harga minyak 25 Maret 119-120 dollar AS per barel. Sebenarnya harga minyak mentah dunia yang bisa ditekan di bawah 100 dollar AS per barel, sudah memenuhi aspirasi AS, juga memenuhi aspirasi Rusia. Di sini sesungguhnya posisi Arab Saudi dan UEA sudah sangat bagus, berimbang antara AS dan Rusia terkait komoditas minyak. (Yoga)
Waspadai Sanksi AS pada Rusia
Berlanjutnya invasi Rusia ke Ukraina berarti berlanjut pula kemungkinan penjatuhan aneka sanksi ekonomi terhadap Mokswa oleh AS dan sekutunya. Washington disebut siap menerapkan aneka sanksi sekunder, yang jika diberlakukan, pihak-pihak yang berhubungan dengan Rusia bisa terkena efek secara langsung. Presiden AS Joe Biden pada tengah pekan lalu mengumumkan sanksi ekonomi baru terhadap Rusia. Targetnya menyusutkan PDB Rusia dua digit tahun ini sekaligus menghapus keuntungan ekonomi Rusia 15 tahun terakhir. Cakupannya, antara lain, melarang investasi AS di Rusia, memblokir sepenuhnya lembaga keuangan terbesar negara itu, dan menargetkan aset yang dipegang oleh anak-anak Presiden Vladimir Putin. Menurut VOA, dengan sanksi terbaru itu, Barat seperti kehabisan rem untuk menghentikan agresi Rusia ke Ukraina, kecuali jika mereka mau menekan secara langsung sektor minyak dan gas Rusia. Sanksi terbaru AS itu juga mencakup pemblokiran terhadap Sberbank, lembaga keuangan terbesar Rusia, dan Alfa Bank, bank swasta terbesar di negara itu. Sberbank adalah salah satu lembaga utama yang menangani pembayaran energi. AS juga memblokir Rusia dari sistem pembayaran utang dengan mata uang yang tunduk pada yurisdiksi AS.
Sanksi sekunder adalah jenis sanksi ekonomi lain yang diterapkan AS, menargetkan pelaku negara ketiga yang melakukan bisnis dengan rezim, orang, dan organisasi yang ditargetkan AS. Target Sanksi sekunder adalah orang atau pihak asing, terutama lembaga keuangan asing yang melakukan bisnis dengan individu, negara, rezim, dan organisasi dipihak yang dikenai sanksi. Pemberlakuan sanksi sekunder bakal diumumkan otoritas hukum di AS, sanksi sekunder dapat melarang warga atau pihak AS melakukan bisnis dengan lembaga keuangan asing tersebut. Bank AS juga membatasi transaksi atau rekening koresponden lembaga keuangan asing tersebut di AS. Namun, penerapan sanksi sekunder itu juga kontroversial. Sebab, sanksi itu dapat berefek terhadap sekutu AS yang mengandalkan energi Rusia dan sumber daya lainnya. Penerapan sanksi jenis itu bahkan dapat memecah posisi aliansi AS, khususnya NATO di Eropa, yang relatif tergantung pada sektor energi Rusia. Jerman yang terus membeli minyak dan gas dari Rusia, misalnya, bisa dinilai salah dari sisi AS. Sanksi sekunder juga dapat memicu kebingungan mengenai hal-hal apa saja yang dilarang atau tidak. (Yoga)
Ramadhan Saling Memperkuat
Di tengah upaya pemulihan ekonomi akibat pandemi, pedagang dan pengusaha berharap Ramadhan membawa berkah peningkatan aktivitas konsumsi masyarakat. Para pengusaha pun berharap 2022 ini sebagai momentum pertumbuhan di tengah optimisme keberhasilan eradikasi tuntas penyebaran Covid-19. Dua tahun sudah geliat ekonomi melemah akibat pandemi mengikis tradisi belanja ”baju baru dan kue lebaran”. Kementerian Keuangan menyebutkan, pertumbuhan ekonomi nasional triwulan IV-2021 mencapai 5,02 % dan keseluruhan 2021 mencapai 3,69 %. Dengan pertumbuhan 2021 sebagai base-line, ada sinyal kuat prospek 2022 kian menguat seiring keberhasilan pemulihan ekonomi.
Penguatan ekonomi terjadi karena Ramadhan acap diistilahkan sebagai strong economic driver. Walau kebanyakan sedang berpuasa, rumah tangga tak mengurangi belanja konsumsi. Badan Pusat Statistik mencatat konsumsi rumah tangga 2021 tumbuh 2,02 % setelah tahun lalu minus 2,63 % akibat pandemi. Ramadhan tahun ini diyakini jauh lebih baik dibanding masa dua tahun lalu. Geliat kegiatan ekonomi terlihat dengan dibukanya pusat belanja, mal, kafe,restoran, dan fasilitas bisnis lain. Sudah tampak nyata masyarakat belanja meski tetap harus mematuhi prokes atau belanja secara digital. Ramadhan tahun ini adalah momen spesial membawa berkah bagi ekonomi nasional. Ada energy ganda, yakni bangkit spiritual memuncak di bulan Ramadhan serta adopsi digital dalam konsumsi rumah tangga. (Yoga)
Restrukturisasi Kredit Turun
Restrukturisasi kredit perbankan terus mencatatkan penurunan sebagai dampak perekonomian yang kian membaik sehingga debitor bisa kembali mengangsur dan menyelesaikan kewajibannya. Perkembangan itu membuat mereka keluar dari daftar yang menjalani program restrukturisasi. Mengutip data OJK sampai Februari 2022, restrukturisasi kredit perbankan mencapai Rp 638,21 triliun, menurun 4,63 % dibanding Januari 2022 sebesar Rp 654,64 triliun. Besaran restrukturisasi Februari 2022 menurun 23,08 % dibandingkan puncak restrukturisasi Desember 2020 sebesar Rp 829,71 triliun.
Restrukturisasi kredit bank Februari 2022 masih didominasi debitor non UMKM sebesar Rp 393,43 triliun atau 61,65 % total restrukturisasi, sisanya berasal dari restrukturisasi kredit debitor UMKM Rp 244,77 triliun atau 38,35 % total restrukturisasi. Restrukturisasi kredit bank Februari 2022 melibatkan 3,69 juta debitor, menurun 59,04 % total debitor sebanyak 6,25 juta debitor pada Desember 2020. Artinya, 2,56 juta debitor sudah menyelesaikan kewajibannya sehingga dicoret dari daftar debitor yang mengikuti program restrukturisasi.
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menjelaskan, nilai restrukturisasi kredit perbankan kian melandai, disebabkan perekonomian yang berangsur pulih seiring kembalinya aktivitas ekonomi masyarakat buah dari pengendalian jumlah kasus Covid-19. Sekretaris PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Rudi As Aturridha mengatakan, hingga Februari 2022 portofolio kredit restrukturisasi debitur terdampak Covid-19 mencapai Rp 67 triliun yang terdiri dari segmen wholesale Rp 32 triliun dan ritel Rp 35 triliun. Sejalan dengan ekonomi yang membaik, tren tersebut terus menurun dibandingkan posisi akhir tahun 2021 lalu. (Yoga)
Pengembangan Produk Pertanian Mendesak
Guru Besar Fakultas Pertanian UGM, Yogyakarta, Masyhuri, Minggu (10/4) mengatakan, peningkatan ekspor produk pertanian serta turunannya berpotensi berkembang. ”Ambil contoh, ekspor karet Indonesia cukup besar, tetapi produk akhirnya, seperti ban, kita impor. Jadi, peluang yang ada saat ini seharusnya mengarah pada pengembangan produk hilir,” katanya. (Yoga)
Pajak Hasil Tax Amnesty Baru Terkumpul Rp 5,89 T
Wajib pajak peserta Program Pengungkapan Sukarela (PPS) alias tax amnesty jilid II makin bertambah. Hingga Minggu (10/4), PPS telah diikuti oleh 35.328 wajib pajak dengan 40.277 surat keterangan. Berdasarkan data Direktorat Jendral (Ditjen) Pajak Kementerian Keuangan (Kemkeu), pajak penghasilan (PPh) yang diterima negara dari program tersebut mencapai Rp 6.02 triiun dari total pengungkapan harta bersih sebesar Rp 58,89 triliun.
Bangun Smelter, Freeport Rilis Surat Utang US$ 3M
PT Freeport Indonesia siap menghimpun pendanaan lewat penerbitan surat utang berdenominasi dollar Amerika Serikat (AS) atau senior notes. Total nilai senior notes yang ditawarkan mencapai US$ 3 miliar dengan tenor yang beragam. Juru Bicara Freeport Indonesia Riza Pratama mengatakan, pihaknya sengaja memilih menerbitkan senior notes yang bersifat jangka panjang untuk membiayai proyek smelter yang masa operasinya juga jangka panjang. Proyek smelter yang dimaksud merupakan smelter tembaga berkapasitas 1,7 juta ton per tahun yang berlokasi di Kawasan Java Integrated Industrial Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur. Pembangunan smelter ini sudah berjalan sejak 2021 dan dijadwalkan selesai tahun 2024 mendatang. Ada tiga senior notes atau US$ bond yang Freeport tawarkan dalam penghimpunan dana ini. Senior notes pertama senilai US$ 750 juta. Surat utang tersebut ditawarkan dengan kupon tetap 4,763% dan tenor 5 tahun. Senior notes kedua nilainya US$ 1,5 miliar, yang ditawarkan dengan kupon tetap 5,315% dan tenornya 10 tahun. Sementara itu, senior notes ketiga senilai US$ 700 juta dengan penawaran kupon tetap sebesar 6,2% dan bertenor 30 tahun.
Akhir Tahun, Kapitalisasi Pasar Rp 9.500 Triliun
Seiring rekor baru Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) tembus Rp 9.000 triliun. Jumat lalu (8/4). kapitalisasi pasar BEI sudah Rp 9.046 triliun. Market cap BEI naik 9,57% dibanding posisi akhir tahun lalu, yaitu Rp 8.284 triliun. Meroket kapitalisasi pasar saham dalam negeri ini mengindikasikan tingginya kepercayaan investor terhadap pasar saham Indonesia. "Fundamental yang masih solid menjadi salah satu alasan bagi investor terus berinvestasi di pasar saham Indonesia," jelas Daniel Agustinus, Analis Kanaka Hita Solvera, Sabtu (9/4). Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta berpendapat, kondisi ini juga menarik bagi asing. Aksi beli asing di pasar saham memang cukup besar. Tercatat, sejak awal tahun, investor asing sudah membukukan aksi beli bersih hingga Rp 37,52 triliun.
Anggaran Subsidi Energi Bisa Bengkak
Anggaran belanja subsidi 2022 berpeluang bengkak lantaran selisih harga komoditas bersubsidi dan non subsidi kian lebar. Selisih harga yang cukup tinggi antara komoditas bersubsidi dan non subsidi ini jelas menyebabkan perpindahan konsumsi masyarakat yang sebelumnya menggunakan energi non subsisi ke sumber energi yang lebih murah yakni subsidi. Karena itulah Kementerian Keuangan kini tengah menghitung adanya tambahan anggaran belanja subsidi. Adapun di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022, dana subsidi, khususnya subsidi energi alokasinya sebesar Rp 134,2 triliun.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









