Ekonomi
( 40789 )Menakar Potensi Ekspor Hybrid
JAKARTA,ID-Pelan tapi pasti kendaraan Hybrid Elctric Vehicle (HEV) mulai diterima konsumen Indonesia. Tak hanya domestik, mobil hybrid buatan Indonesia juga mulai diekspor oleh pabrikan otomotif seperti Toyota dan Suzuki. Indonesia mempunyai keunggulan dibandingkan negara kompetitif seperti Thailand dari sisi penjualan domestik yang lebih banyak, yang membuat harga mobil hybrid ekspor menjadi lebih ekonomis. Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara menerapkan, pada tahun ini mobil hybrid mulai banyak peminat didalam negeri dan menjadi landasan yang cukup kuat untuk potensi buat ekspor. "Pada saat yang sama negara-negara lain juga perlu hybrid. Harusnya bisa kita rebut itu, jadi dalam negeri bagus dan ekspor juga bagus," kata dia kepada Investor Daily, Jakarta, Jumat (1/9/2023). Kukuh mengungkapkan, sebenarnya mobil hybrid sudah muncul di Indonesia sejak 10 tahun lalu, hanya saja harganya yang mahal membuatnya tidak banyak dilirik konsumen. Baru ketika banyak masyarakat mulai peduli akan isu emisi dan lingkungan, mobil hybrid mulai menjadi pilihan apakah tetap mau mobil konvensional atau mobil listrik. (Yetede)
Manufaktur Zona Euro dan RRT Siap Bangkit
LONDON,ID-Penurunan aktivitas manufaktur di zona euro mereda pada bulan lalu, sehingga mengindikasikan bahwa masa terburuk telah berakhir bagi pabrik-pabrik di blok mata uang tunggal Eropa tersebut. Sementara itu, rebound tak terduga aktivitas manufaktur di Republik Rakyat Tiongkok (RRT) memberikan harapan bagi negara yang tergantung pada ekspor tersebut. Demikian berdasarkan survei swasta yang dirilis pada Jumat (01/09/2023). Data Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur zona euro terbaru yang dikeluarkan HCBO dan disusun oleh S&P Global menunjukkan kenaikan ke level tertinggi dalam tiga bulan. Sebagai informasi ambang batas PMI di bawah 50 poin menunjukkan kontraksi. Indeks pengukur output-dimasukkan ke dalam PMI komposit- yang dijadwalkan diriliss pada Selasa (05/09/2023) dan dipandang sebagai tolok ukur yang baik untuk kesehatan ekonomi, naik 42,7 menjadi 43,4. "Posisi kita sekarang lebih baik daripada perkiraan banyak orang, mengingat suku bunga telah naik cukup tinggi dan pesat. Hal ini (akan) membuat Bank Sentral Eropa (ECB) jeda sejenak untuk berpikir karena tidak ingin terlalu kuat mengendalikan inflasi tetapi akan merugikan perekonomian,"' kata Craig Erlam, analis OANDA, yang dilansir Reuters. (Yetede)
Waspadai Inflasi Pangan akibat El Nino
Kekeringan akibat El Nino diperkirakan dapat membuat Indonesia kehilangan produksi beras hingga 1,2 juta ton. Fenomena iklim itu berpotensi menekan produksi pangan dunia dan membuat pemerintah sejumlah negara produsen mengutamakan kebutuhan domestik mereka. Pemerintah diingatkan untuk mewaspadai inflasi pangan. Dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi 2023 di Istana Negara, Jakarta, Kamis (31/8) Presiden Jokowi mengingatkan seluruh pemangku kepentingan untuk mewaspadai potensi lonjakan inflasi pangan akibat El Nino. Fenomena yang melanda dunia ini akan memaksa negara-negara pemasok pangan menghentikan ekspor karena memilih untuk mengamankan pasokan bagi kebutuhan dalam negeri terlebih dulu.
”El Nino mengakibatkan kekeringan ekstrem dan diprediksi berlangsung hingga awal 2024.Kalau semua negara mengerem ekspor, apa yang bisa menyelamatkan negara kita, ya, diri kita sendiri. Minta bantuan atau beli beras atau gandum ke negara yang sudah stop ekspor, ya, tidak bisa,” ujar Presiden. Gejala kenaikan harga pangan tecermin pada komoditas beras. BPS mencatat, beras menyumbang inflasi 0,38 % secara tahunan pada Juli 2023. Mentan Syahrul Yasin Limpo dalam Rapat Kerja Komisi IV DPR, Rabu (30/8) menyebutkan, El Nino akan menggerus produksi beras nasional. ”Analisis kami, kita akan kehilangan 380.000 ton beras karena El Nino sedang. Kalau El Nino sangat kuat, kita kehilangan 1,2 juta ton beras. Itu (analisis kehilangan beras) yang membuat kita harus menyediakan penanaman baru 500.000 hektar (ha),” kata Syahrul. (Yoga)
Kinerja Industri Manufaktur Melambat
Indeks Kepercayaan Industri Agustus 2023 berada di posisi 53,22, lebih rendah 0,09 poin dibandingkan bulan sebelumnya. Sekretaris Ditjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kemenperin Yan Sibarang Tandiele, Kamis (31/8/2023), mengatakan, subsektor yang mengalami kontraksi adalah subsektor industri logam dasar serta industri reparasi, pemasangan mesin dan peralatan. (Yoga)
BEI Terapkan ARB dan ARA Simetris
Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan kembali kebijakan batas auto rejection bawah (ARB) dan auto rejection atas (ARA) secara simetris mulai 4 September 2023. Dengan pengembalian aturan itu, pergerakan harga saham ke atas ataupun ke bawah dapat mencapai 35 persen. ”Kebijakan ini selaras dengan upaya bursa global,” kata Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik, Kamis (31/8/2023). (Yoga)
Dominasi Sektor UMKM, Perempuan Hadapi Sederet Tantangan
Perempuan mendominasi sektor UMKM di Indonesia. Namun, mereka sebagai pelaku usaha masih menghadapi sejumlah hambatan dalam pengembangan usahanya, mulai dari minimnya dukungan keluarga hingga sulitnya akses perizinan. Kepala Grup Pengembangan UMKM dan Keuangan Inklusi BI, Elsya MS Chani mengatakan, perempuan merupakan kelom pok penting dalam perekonomian Indonesia. Data Kementerian Koperasi dan menunjukkan, terdapat 65 juta pelaku UMKM pada 2019. Dari jumlah tersebut, 64,5 % di antaranya perempuan.
”Kiprah perempuan dalam perekonomian sudah membuktikan banyak hal. Mereka mendominasi sektor potensial, seperti sektor ekonomi kreatif,” ujar Elsya dalam peluncuran program literasi keuangan Ibu Berbagi Bijak 2023 yang digelar PT Visa Worldwide Indonesia secara daring, Kamis (31/8). Meski demikian, banyak perempuan yang menghadapi sejumlah tantangan dalam menjalankan usahanya. Beberapa di antaranya kurangnya dukungan keluarga atau pasangan, masalah perizinan, serta minimnya kemampuan mendapat akses pasar. Elsya menambahkan, BI memberikan dukungan lewat berbagai kebijakan, serta mendorong perbankan untuk menyalurkan kredit yang lebih besar bagi UMKM. Selain itu, BI juga menetapkan kebijakan pemberian diskon giro wajib minimum serta pengadaan sistem pembayaran ritel nasional (BI Fast dan QRIS). (Yoga)
Berjaya dari Hasil Melepas Saham Perdana di Bursa
Bursa Efek Indonesia (BEI) kebanjiran emiten baru sejak awal tahun 2023. Dari deretan saham baru yang melantai di BEI, kekayaan sejumlah pengusaha semakin tinggi berkat kenaikan harga saham yang fantastis.
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi pendatang baru yang langsung tancap gas. Emiten tambang tembaga dan emas ini merangsek ke peringkat keenam kapitalisasi pasar terbesar di BEI, nilainya mencapai sebesar Rp 325,78 triliun.
Sejumlah taipan langsung cuan. Lihat saja Agoes Prodjosasmito yang memiliki 9,35% saham AMMN, nilai kekayaan sahamnya naik dari Rp 11,39 triliun menjadi Rp 30,46 triliun. Sebelum IPO, nilai modal milik Agoes berdasarkan nominal saham tak sampai Rp 1 triliun.
Di emiten saham lain, Prajogo Pangestu juga menjala cuan besar dari saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang menghelat IPO pada Maret 2023. Taipan pemilik Grup Barito Pacific itu mencatatkan kenaikan nilai aset saham hampir 10 kali lipat di CUAN sejak IPO.
Nama lain yang sukses membawa perusahaannya IPO tahun ini adalah Raam Jethmal Punjabi. Raam memegang 84,19% saham PT Tripar Multivion Plus Tbk (RAAM). Harga RAAM sudah menanjak 203,41% dari harga IPO yang sebesar Rp 234. Alhasil nilai aset saham Raam naik tiga kali lipat. Research & Consulting Manager Infovesta Utama, Nicodimus Kristiantoro mengamati mayoritas konglomerat atau grup bisnis besar terbilang sukses menggelar IPO.
Pengamat Pasar Modal dan
Founder
WH-Project William Hartanto menyatakan, rekam jejak konglomerat atau grup bisnis emiten juga memegang peran penting. Dia mencontohkan saham CUAN milik Prajogo Pangestu, yang seperti mengulang laju saham BRPT dan TPIA beberapa tahun lalu.
Efek Bisnis Motor Listrik Bisa Sesaat
Pemerintah telah memperluas penerima subsidi Rp 7 juta untuk pembelian motor listrik dengan bermodalkan nomor induk kependudukan (NIK). Kebijakan ini membawa dampak bervariasi bagi saham-saham emiten yang terkait dengan produk dan komponen motor listrik. Kemarin (31/8), saham PT NFC Indonesia Tbk (NFCX) menguat 9,65% ke Rp 6.250. Namun saham PT Gaya Abadi Sempurna Tbk (SLIS) kendati sempat menguat, malah ditutup melemah 4,93% menjadi harga Rp 135.
Begitu juga PT Indika Energy Tbk (INDY), yang punya lini bisnis kendaraan listrik, di akhir perdagangan malah turun 1,48% menjadi Rp 2.000.
Sedangkan emiten komponen otomotif seperti PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) juga turun 1,23% ke harga 3.200. Begitu juga PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA), melemah 4,55% ke harga Rp 1.470.
Research Analyst
Erdikha Elit Sekuritas, Ika Baby Fransiska mengamati perluasan subsidi menjadi angin segar untuk menghidupkan permintaan motor listrik, suku cadang atau produk penunjangnya.
Head of Research
Mega Capital Sekuritas, Cheril Tanuwijaya mengingatkan, kebijakan subsidi pemerintah untuk pembelian motor listrik berpotensi hanya menjadi sentimen sesaat. Pelaku pasar perlu mewaspadai fluktuasi saham. Namun, momentum ini bisa dimanfaatkan untuk
trading jangka pendek.
Terdorong Proyek Residensial Baru
Emiten properti PT Ciputra Development Tbk (CTRA) berpeluang membukukan kinerja positif di tahun ini, baik dari segi pendapatan maupun laba bersih. Analis Henan Putihrai Sekuritas, Jono Syafei mengatakan, hal ini seiring dengan musim serah terima properti yang sudah terjual saat diluncurkan dua tahun lalu.
CTRA mencatatkan marketing sales Rp 5,1 triliun pada semester 1 2023, nilai paling besar di antara emiten properti lain. "Realisasi ini menunjukkan kinerja CTRA akan kuat ke depannya," kata Jono, Kamis (31/8).
Dibanding emiten properti lain, CTRA unggul karena memiliki neraca keuangan sehat, landbank yang tersebar di seluruh Indonesia, dan menggunakan skema kerja sama operasi untuk mengembangkan proyeknya. Alhasil, risiko dan modal kerja yang dikeluarkan CTRA lebih rendah.
Dalam riset 2 Agustus 2023, Analis Maybank Sekuritas Jeffrosenberg Chenlim dan William Jefferson W. memprediksi, marketing sales CTRA akan lanjut bertumbuh pada semester II 2023. CTRA berencana untuk meluncurkan dua proyek besar pada separuh kedua tahun ini.
Berdasarkan riset 11 Juli 2023, Analis Sucor Sekuritas, Benyamin Mikael mengatakan, CTRA berencana meluncurkan proyek residensial baru pada separuh kedua 2023 dengan potensi marketing sales Rp 1,3 triliun. Ini termasuk CitraLand Sampali Kota Deli Megapolitan dengan target Rp 450 miliar, Citra City Sentul Rp 400 miliar, CitraGarden Serpong-Diandre Cluster Rp 500 miliar.
Di samping itu, CTRA akan berpartisipasi dalam proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) untuk pengembangan properti terintegrasi. Mulai dari perumahan, hotel, lapangan golf, MICE, dan kebun raya. "Kami melihat hal tersebut akan berdampak karena dapat mendorong marketing sales dan recurring income di masa depan," ucap Benyamin.
Simpanan Nominal Kecil dan Jumbo Konstraksi
Simpanan nasabah di perbankan mengalami penurunan dari akhir tahun lalu. Penurunan terjadi pada kelompok nominal Rp 200 juta ke bawah dan simpanan nominal Rp 5 miliar ke atas.
Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), total simpanan di perbankan mencapai Rp 8.087 triliun per Juni 2023, turun 1,4% dari akhir tahun lalu. Namun, secara tahunan, jumlah simpanan masih naik 5,3%.
Herman Suheru, Direktur Group Riset LPS, mengatakan, penurunan simpanan nasabah bukan lantas berarti ekonomi sedang tidak baik. "Terdapat beberapa penyebab. Salah satunya karena kondisi pandemi telah usai. Sebelumnya banyak nasabah menyimpan uangnya di bank, tapi kini mereka kembali konsumtif," jelas Herman pada KONTAN, belum lama ini.
Herman menjelaskan, mayoritas simpanan dengan nominal di atas Rp 5 miliar di perbankan berasal dari korporasi. Porsinya lebih dari 60%. Penurunan simpanan Rp 5 miliar ke atas menunjukkan korporasi kembali aktif ekspansi usaha dengan memakai dana simpanan di bank.
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menambahkan, simpanan nasabah turun juga karena pergerakan ekonomi yang belum kuat, sehingga dana simpanan tergerus. Apalagi, harga komoditas, sebagai salah satu penopang ekonomi dalam negeri, mengalami penurunan harga.
Selain itu, menurut Trioksa, terjadi peralihan simpanan bank ke instrumen investasi non bank yang memberi imbal hasil lebih besar, seperti obligasi dan reksadana. Sedangkan sentimen tahun politik menurutnya belum ada kaitan dengan penurunan simpanan nasabah di bank.
Senada, pengamat ekonomi dan pasar modal Budi Frensidy menyampaikan, simpanan nasabah tajir yang menurun sangat mungkin karena mereka memindahkan dananya ke instrumen investasi lain yang memberikan imbal hasil lebih tinggi.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









