Ekonomi
( 40512 )Perkuat Rantai Pasok Intra-ASEAN
Hubungan AS-China yang terus memburuk dapat menguntungkan negara-negara ASEAN lewat peluang realokasi investasi yang terbuka lebar. Diperlukan penguatan kerja sama untuk memperkokoh rantai pasok dan perdagangan intra-ASEAN agar peluang itu tidak hanya berujung menguntungkan satu atau dua negara di kawasan. Situasi geopolitik yang runyam akibat rivalitas AS-China menjadi sorotan utama dalam Pertemuan Menkeu dan Gubernur Bank Sentral ASEAN (AFMGM) Ke-2 yang digelar di Jakarta, 22-25 Agustus 2023 lalu. Untuk menghadapi risiko geopolitik, otoritas fiskal dan moneter se ASEAN pun sepakat memperkuat resiliensi ekonomi kawasan lewat penguatan kerja sama di berbagai bidang.
Dalam konferensi pers penutupan AFMGM akhir pekan lalu, Menkeu Sri Mulyani mengatakan, meskipun tensi geopolitik itu berpotensi membawa risiko bagi Indonesia dan ASEAN, ada peluang yang bisa dipetik negara-negara kawasan. Kompetisi yang semakin tajam antara Beijing dan Washington mendorong keluarnya aliran modal dari China ke negara-negara lain di Asia. ASEAN, bersama dengan India, menjadi dua kawasan yang tengah dilirik sebagai destinasi investasi baru untuk realokasi industri, di sektor manufaktur dan industri padat teknologi. Hal tersebut menjadi angin segar di tengah tren melambatnya perdagangan dan investasi internasional yang mengancam ketahanan makroekonomi negara. Karena itu, jajaran Menkeu dan Gubernur Bank Sentral di ASEAN harus memastikan instrumen kebijakan fiskal dan moneter-nya bisa menciptakan ekosistem yang kuat untuk memaksimalkan peluang perdagangan dan investasi itu. (Yoga)
NESTAPA ANAK NELAYAN KUPANG SETELAH BADAI SEROJA BERLALU
Vantriks Mandala (13) mengunyah makanan sambil menggerutu. Dia berulang kali mengaduk nasi, sayur, dan potongan tempe goreng dalam piring. Dipelototi ayahnya dari seberang meja makan,Vantriks menghabiskan makanan itu dengan berat hati. ”Kapan makan ikan segar lagi?” tanya Vantriks kepada sang ayah. Dia lalu meraih tas dan berangkat ke sekolah dari rumahnya di perkampungan nelayan Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, Kupang, NTT, Sabtu (19/8) pagi. Pertanyaan serupa sering dilontarkan Vantriks selama dua tahun terakhir, ketika ikan yang ia konsumsi semakin sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kalaupun ada ikan yang tersaji di meja makan, itu bukan ikan kesukaannya yang dulu selalu ada. Vantriks gemar makan ikan kuwe, yang direbus dan dibakar. ”Saya suka makan mata ikan yang agak berlendir seperti jeli. Itu enak sekali. Saya rasa badan saya kuat,” ujar bocah yang gemar main sepeda dan sepak bola itu.
Berkurangnya konsumsi ikan di keluarga Vantriks itu tak lepas dari masalah yang dihadapi sang ayah, Romi Mandala (43). Dulu, Romi bekerja sebagai nelayan. Namun, pada 4 April 2021, kapal motor miliknya hancur diterjang ombak akibat badai Seroja saat sedang ditambatkan di pesisir Pantai Oesapa. Kala itu, hampir semua wilayah di NTT terdampak. Kerusakan kapal melumpuhkan aktivitas nelayan yang berjumlah 41 keluarga di kampong tersebut. Sebagian besar nelayan yang terdampak itu kini tak lagi melaut. Mereka beralih menjadi pekerja serabutan dan pengojek. Ada pula yang merantau ke daerah lain. Akibat kondisi itu, konsumsi ikan di keluarga nelayan pun berkurang drastis. Saat ini, Romi yang merupakan generasi ke-8 keluarga nelayan itu sedang menabung untuk membeli kapal baru. Untuk membeli satu kapal lengkap dengan mesin dan alat tangkap, butuh uang sekitar Rp 50 juta. ”Targetnya paling cepat dua tahun ke depan,” ujarnya. (Yoga)
Berkah Hengkangnya Dana Asing dari China
Para pemodal asing mulai mengurangi eksposur di saham-saham China. Keluarnya dana asing dari negeri Tirai Bambu ini kemungkinan bisa menguntungkan sejumlah negara di pasar ASEAN, termasuk Indonesia. Krisis properti di China dinilai berpotensi menular ke ekonomi negara itu. Para pemodal asing seperti Morgan Stanley dan Goldman Sachs pun turut memangkas target indeks saham utama China.
Goldman Sachs misalnya, memangkas indeks saham China sebesar 4%. Goldman juga mengurangi eksposur saham teknologi informasi.
Maximilianus Nico Demus,
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas mengatakan, krisis properti di China bisa menyeret dana investor asing kembali ke pasar saham Indonesia. CEO CTA Saham Andri Zakarias turut mengamini, peluang
hot money
masuk ke pasar saham Indonesia masih terbuka. Namun dia memproyeksikan penguatan aliran dana asing masih akan terbatas. Memang, sejak awal tahun ini asing masih mencatatkan
net buy
di bursa saham Indonesia.
Secara valuasi pun, IHSG masih punya daya tarik bagi asing. Praska Putrantyo, CEO Edvisor Profina Visindo bilang, jika dibanding
emerging market
lain seperti India, Korea hingga Taiwan, valuasi pasar saham Indonesia berada di level rata-rata.
Dengan potensi aliran
capital inflow
ke pasar saham Indonesia, ada beberapa sektor yang diperkirakan menarik minat asing. Pengamat Pasar Modal Hans Kwee menilai, sektor energi berpotensi bangkit karena cuaca ekstrim akan mendorong permintaan.
Di sektor barang konsumsi primer, saham jagoan Hans jatuh pada MYOR, INDF, ICBP. Sedangkan Praska menilai sektor bahan baku, batubara, transportasi dan logistik serta konsumer menarik bagi investor asing. Hal ini juga terlihat dari daftar saham yang jadi sasaran beli asing sepekan ke belakang. Tapi, Praska mengingatkan untuk selalu mencermati valuasi harga saham.
Persaingan Ketat, Butuh Upaya Kuat Tarik Investasi
Ketegangan hubungan antara China dan Amerika Serikat (AS) masih menjadi perhatian khusus dunia, termasuk di kawasan ASEAN. Kondisi ini berpeluang membawa berkah bagi negara ASEAN. Namun, Indonesia masih perlu upaya ekstra untuk memetik berkah tersebut.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan ketegangan dua negara besar itu berpeluang memberikan dampak positif khususnya pada investasi yang masuk ke ASEAN. "ASEAN dan India menjadi dua kawasan yang dipandang sebagai kawasan yang bisa mendapatkan manfaat dari situasi ini," kata dia, Jumat (25/8).
Ia mengatakan, keuntungan kawasan ASEAN dari kondisi yang terjadi di China di antaranya potensi relokasi industri ke negara-negara kawasan serta keluarnya aliran modal dari China ke negara kawasan. Alhasil, aliran modal asing yang akan masuk ke ASEAN berpotensi membesar di masa mendatang.
Selain itu, ada pula kajian dari Bank Dunia, Asean+3 Macroeconomic Research Office (AMRO), serta Economic Research Institute for ASEAN (ERIA) yang menunjukkan adanya kesempatan persaingan geopolitik bagi ASEAN, terutama dari
capital flows, manufaktur yang akan realokasi ke negara ASEAN.
Sayangnya, Sri Mulyani tidak menyebutkan besaran potensi dari relokasi hingga aliran modal yang masuk ke ASEAN, termasuk ke Indonesia. Namun dia menekankan agar Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral ASEAN bisa mengkaji dan memanfaatkan serta melanjutkan peluang tersebut.
Namun demikian, Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listyanto menilai, konflik AS dan China menjadi peluang bagi ekonomi ASEAN, namun RI masih akan kesulitan menariknya. Terutama investasi asing langsung (foreign direct investment
/FDI) manufaktur.
Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Yusuf Rendy Manilet juga mengatakan, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan Indonesia, terutama konektivitas infrastruktur dan sumber daya manusia. Selain itu, iklim investasi yang berkelanjutan hingga stabilitas politik dan keamanan juga masih perlu dibenahi.
Era Suku Bunga Tinggi Belum Usai
Indonesia harus bersiap-siap. Pasalnya, era suku bunga tinggi masih akan bertahan setidaknya hingga pertengahan tahun depan. Kondisi tersebut akan berdampak terhadap perekonomian Indonesia.
Ekonom Senior Bank Mandiri Faisal Rachman memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga di level 5,75% hingga akhir tahun ini. BI kemungkinan baru memangkas bunga acuan pada tahun depan atau paling cepat kuartal II-2024.
Bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) yang memiliki tingkat pengaruh tinggi juga diyakini baru akan mengerem pengetatan kebijakan moneter pada tahun depan. Pun bank sentral global lainnya diyakini menerapkan kebijakan suku bunga lebih tinggi. Bahkan untuk jangka waktu yang lebih lama dari perkiraan.
Bahkan, situasi ini semakin memperkuat ancaman bahwa ekonomi global akan melambat dari semester II-2023. Indonesia pun kini sudah mulai merasakan dampaknya.
Terlihat dari pasar keuangan, bahwa ada aliran keluar modal asing baik di pasar surat berharga negara (SBN) maupun obligasi. Alhasil, nilai tukar rupiah pun melemah bila dibandingkan dengan dolar AS.
Era suku bunga tinggi juga menjadi perhatian bagi pemerintah. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya mengatakan kenaikan suku bunga acuan akan lebih lama dari perkiraan.
Tren suku bunga tinggi bahkan membuat pemerintah mematok target pertumbuhan ekonomi 2024 yang lebih rendah dari 2023. Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2024, pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun depan hanya 5,2%, melambat dari
outlook
pertumbuhan 2023 yang di kisaran 5,3% hingga 5,7%.
Leasing Masih Andalkan Bank
Kebijakan Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan di level 5,75% untuk periode Agustus 2023, menjadi angin segar bagi industri
multifinance
Tanah Air. Maklum, saat ini sumber pendanaan
multifinance
mayoritas dari perbankan atau dari penerbitan obligasi.
Ambil contoh PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF). Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman mengatakan, dukungan terbesar pendanaan dari bank berasal dari induk usaha, yakni PT CIMB Niaga Tbk (BNGA), baik pembiayaan bersama (
joint financing
) dan
executing loan.
Selain dari induk usaha, saat ini sudah ada sekitar 20 bank yang telah bekerjasama dengan CNAF dalam memberikan pendanaan, baik konvensional maupun syariah.
Berbeda, PT BNI Multifinance, yang mengaku seluruh sumber pendanaan berasal dari bank. Antara lain, dari induk usaha, yakni PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) dan sejumlah bank kreditur lainnya. "Bunganya berkisar 6% sampai 8% per bulan. Posisi pendanaan dari bank per Juni 2023 sebesar Rp 1,3 triliun," ujar Legendariah Rasuanto,
Chief Financial Officer
BNI Multifinance.
Sementara itu, Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) menerapkan diversifikasi sumber pendanaan untuk meminimalisir risiko. Direktur Keuangan Adira Finance Sylvanus Gani Mendrofa bilang, hampir 50% pendanaan dari induk perusahaan, yakni Bank Danamon.
Kala Cadangan Devisa Susut Daya
JAKARTA,ID-Cadangan devisa (cadev) Indonesia mengalami penyusutan daya atau kemampuan yang signifikan untuk mencukupi kebutuhan pembiayaan yang membutuhkan valuta asing (valas). Sekitar 2,5 tahun lalu, cadangan devisa masih memiliki kemampuan setara dengan pembiayan 10,5 bulan impor atau 10,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Namun, per akhir Juli tahun ini, kemampuan tersebut turun drastis menjadi hanya sekitar enam bulan pembiayaan. Meski masih diatas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan pembiayaan impor, namun rasio kemampuan cadangan devisa yang kian mepet akan membuat para pelaku spekulan di pasar uang yang makin meluas memainkan rupiah. Mereka berani beraksi karena melihat amunisi BI kian menipis, sementara kebutuhan valas untuk impor tetap tinggi seiring dengan perbaikan ekonomi dan kewajiban yang harus diselesaikan pemerintah terkait utang luar negeri yang jatuh tempo. Karena itu, sejumlah kebijakan yang telah digagas pemerintah dan otoritas untuk memupuk cadangan devisa yang lebih besar, harus serius dilakukan, seperti upaya membuat devisa hasil ekspor SDM lebih betah didalam negeri. (Yetede)
Ekonomi Tumbuh Solid, FFR Harus Tetap Naik
JACKSON HOLE,ID-Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell memastikan suku bunga acuan Amerika Serikat akan tetap dinaikkan untuk menjinakkan laju inflasi. Dalam pidatonya di Jackson Hole, Wyoming, ahir pekan lalu. Powell mencatat bahwa ekonomi AS tumbuh lebih cepat dari perkiraan dan belanja konsumen juga terus meningkat. kedua tren itu yang menjadikan laju inflasi akan tetap tinggi. Atas dasar itu, dalam pidato di simposium tahunan The Fed Kansas City tersebut Powell menegaskan bahwa tekad The Fed untuk mempertahankan suku bunga acuan tetap tinggi sampai inflasi turun ke target 2%. "Meskipun inflasi telah turun dari puncaknya, namun inflasi masih terlalu tinggi. Kami memperhatikan tanda-tanda bahwa ekonomi tidak melambat seperti yang diharapkan. kami siap untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut jika diperlukan dan mempertahankan pengetatan kebijakan sampai kami yakin bahwa inflasi bergerak turun secara berkelanjutan menuju sasaran kami," tutur Powel dalam pidato utamanya itu, seperti dikutp CNBC. (Yetede)
BI Catat Modal Asing Keluar Rp 4,51 T
JAKARTA,ID- Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing yang keluar dari pasar keuangan domestik sebesar Rp 4,51 triliun pada periode 21-24 Agustus 2023. Dalam keterangan tertulis, akhir pekan lalu, Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono menjelaskan, nilai tersebut terdiri atas modal asing keluar dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp2,31 triliun dan modal asing keluar dari pasar saham senilai Rp2,2 triliun. Degan perkembangan tersebut, jelas dia, maka modal asing bersih yang masuk Indonesia sejak 1 Januari hingga 24 agustus 2023 adalah senilai Rp85,83 triliun di pasar SBN dan Rp0,63 triliun di pasar saham. Data Bank Indonesia juga menunjukkan, premi resiko investasi atau premi credit defaut swaps (CDS) Indonesia lima tahun sebesar 84,21 basis poin (bps) per 24 Agustus 2023, turun jika dibandingkan data 18 Agustus 2023 yang tercatat sebesar 89,52 bps. Di sisi lain, nilai tukar rupiah melemah pada Jumat (25/08/2023) padi di level 15.265 per dolar AS dari sebelumnya Rp15.240 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis. (Yetede)
Pembayaran Bunga Utang Naik Jadi Beban Fiskal 2024
JAKARTA,ID-Pemerintah menargetkan pembayaran bunga utang akan mencapai Rp 497,3 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2024. Angka ini meningkat 12,7% dari alokasi pembayaran bunga hutang pada APBN tahun 2023. Kenaikan beban bunga utang ini dikhawatirkan akan memberatkan kinerja fiskal pada tahun depan. Bila dirinci dalam beberapa tahun terahir bunga utang terus meningkat. Pada 2019, realisasi bunga utang sebesar Rp 275,5 triliun, lalu berlanjut pada 2020 sebesar Rp 314,1 triliun. Pada 2021 sebesar Rp 343,5 triliun, tahun 2022 sebesar Rp386,3 triliun, dan tahun 2023 sebesar Rp 437,4 triliun. "Dengan kenaikan beban bunga utang yang harus dibayar tahun 2024, artinya akan menekan kapasitas fiskal. Padahal sebenarnya bisa digunakan untuk belanjua. Logikanya kalau bayar bunga lebih besar, menekan belanja kalau pendapatan kurang ya defisitnya ditambah," kata Direktur Eksekutif for Development of Economics and Finance (Indef Tauhid Ahmad. Tauhid mengungkapkan, kenaikan belanja utang berasal dari kinerja belanja. Apalagi saat terjadi pandemi Covid-19 pemerintah meningkatkan jumlah utang untuk belanja. Pasca pandemi Covid-19, era suku bunga rendah juga berakhir. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









