Lingkungan Hidup
( 5781 )Meroket Harga Komoditas
Reformasi Subsidi Energi
Skema Baru Subsidi BBM Masih di Persimpangan Jalan
Pelaku Usaha Dorong Diskon Tarif Listrik PLN di Tahun Baru
Pemerintah Memastikan Stok Pangan mencukupi untuk Program MBG
Ambisi Pemerintah Menyetop Impor Gula Konsumsi pada Tahun Depan
179 Orang Kemungkinan Tewas, Jeju Air Terbakar
Awan mendung memayungi dunia penerbangan di pengujung tahun. Dalam sepekan, empat pesawat penumpang mengalami kecelakaan di empat negara. Kecelakaan terparah dialami pesawat Boeing 737-800 milik Jeju Air yang tergelincir dan terbakar saat mendarat di Bandar Udara Internasional Muan di Provinsi Jeolla Selatan, Korea Selatan, Minggu (29/12/2024) pagi. Sampai Minggu siang waktu setempat, 179 orang dari 181 orang yang diangkut pesawat itu hampir dipastikan tewas. Sejauh ini, 122 jenazah telah dikumpulkan petugas penyelamat. Pesawat mengangkut 175 penumpang dan enam awak. Hanya seorang awak perempuan dan seorang awak laki-laki yang selamat dari kecelakaan itu.
Seorang pejabat pemadam kebakaran Korea Selatan mengatakan, kecil kemungkinan penumpang yang tersisa selamat. Hal ini karena badan pesawat nyaris hancur seluruhnya. ”Para penumpang terlempar keluar dari pesawat setelah (pesawat) menabrak pagar pembatas (bandara) sehingga sedikit kemungkinan untuk selamat,” kata pejabat tersebut. Selang beberapa jam selepas pesawat Jeju Air terbakar di Muan, pesawat Air Canada rute St John-Halifax mendarat darurat di Bandara Halifax, Kanada, pada Sabtu (28/12) malam waktu setempat atau Minggu pagi WIB. Tidak ada korban dalam kecelakaan yang menimpa pesawat jenis De Havilland Dash 8-400 itu. Sebelumnya, sebuah pesawat penumpang Embraer 190 milik maskapai Azerbaijan Airlines jatuh di dekat kota Aktau, Kazakhstan, Rabu (25/12) waktu setempat. Otoritas Kazakhstan mengatakan, pesawat rute Baku (Azerbaijan)-Grozny (Rusia)itu mengangkut 62 penumpang dan lima awak. Dari jumlah itu, lebih dari 30 orang diperkirakan tewas. (Yoga)
Bandung Tenggelam, Lautan Sampah
Sepanjang 2024, Kota Bandung, Jawa Barat, masih saja sulit mengembalikan citra sebagai ”Kota Kembang” melalui keindahan dan kebersihan alamnya. Pengelolaan sampah masih menjadi persoalan pelik. Ke depan, jangan sampai Bandung tenggelam makin dalam di lautan sampah yang menjengkelkan. Video di media sosial Tiktok tentang tumpukan sampah di depan Pasar Caringin, Kota Bandung, viral. Diunggah pada 14 Desember 2024, video itu menggambarkan pengelolaan sampah yang masih jauh dari ideal di ibu kota Jabar ini. Video yang diunggah Depupi Iskandar itu ditonton hingga 738.000 netizen. Depupi mengeluhkan bau menyengat sampah yang tercium hingga ke rumah kontrakannya. Dari rumahnya, jarak gunungan sampah itu sekitar 100 meter. Hingga 10 hari setelah video itu viral, Selasa (24/12/2024), kondisi belum berubah. Sampah plastik, sisa makanan, dan berbagai residu jenis lain masih saja teronggok di sana. Aroma busuk sampah yang menyengat tercium di sekitar area pasar. Sampah yang menggunung hingga 4 meter itu terhampar di area dengan luas sekitar 50 meter persegi.
Warga yang berjualan di daerah pasar sangat tersiksa aroma bau busuk sampah. Siska (33), penjual makanan dan kopi yang berjarak sekitar 10 meter dari lokasi tumpukan sampah itu, misalnya, merasakan dampaknya. Selain bau, lapaknya juga sepi pembeli. Hanya seorang bapak yang sedang meminum kopi hitam di lapaknya. Sesekali bapak itu menutup hidungnya karena tak tahan dengan aroma bau sampah. Sudah setahun ini Siska dan para penjual barang kebutuhan pokok di lokasi tersebut terganggu dengan aroma menyengat sampah. Ibu beranak satu ini berjualan di Pasar Caringin selama lima tahun terakhir. ”Bau sampah yang menyengat berdampak sepinya pembeli. Untuk mendapatkan uang Rp 100.000 per hari saja sangat susah,” ujar Siska. Kondisi yang dialami Siska juga dirasakan warga di luar area Pasar Caringin. Tiupan angin mengakibatkan bau busuk sampah tersebar dengan radius lebih dari 100 meter. Aji (30) yang tinggal bersama istri dan dua anaknya setiap hari menghirup bau sampah di rumahnya. Rumahnya berjarak sekitar 50 meter dari lokasi tumpukan sampah ini di Pasar Caringin. ”Bau sampah,” ucap Aldi (10), anak sulung Aji yang kerap mual karena tak tahan dengan bau sampah yang menyengat, saat ditemui di rumah kontrakan mereka di Jalan Babakan Ciparay. (Yoga)
Diharapkan Naik HPP Gabah Jadi Rp 7.000 Per Kg
Sejumlah asosiasi dan organisasi petani berharap pemerintah menetapkan harga pembelian pemerintah gabah kering panen ditingkat petani pada 2025 sebesar Rp 7.000 per kilogram. Harapan tersebut merupakan respons atas rencana pemerintah menaikkan HPP GKP menjadi Rp 6.500-Rp 7.000 per kg. Pada Selasa (24/12/2024) Kementerian Koordinator Bidang Pangan dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan akan menyesuaikan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah kering panen (GKP) di tingkat petani tahun depan. HPP GKP di tingkat petani yang semula Rp 6.500 per kg akan dinaikkan di kisaran Rp 6.500-Rp 7.000 per kg. Kisaran nilai HPP itu akan segera diusulkan kepada Presiden (Kompas, 27/12/2024). Menanggapi hal itu, Wakil Sekretaris Jenderal Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Zulharman Djusman, Sabtu (28/12), mengatakan, KTNAtelah mengusulkan HPP GKP di tingkat petani Rp 7.000 per kg.
Hal itu mengingat HPP GKP lama, yakni Rp 6.000 per kg, sudah tidak relevan karena biaya usaha tani telah meningkat. Berdasarkan hitungan KTNA, biaya usaha tani tanaman padi pada Agustus-Desember 2024 telah mencapai Rp 31,84 juta per hektar. Komponen biaya usaha tani tertinggi adalah sewa lahan, pengolahan tanah, dan pupuk. ”Biaya sewa lahan 1 hektar, misalnya, telah mencapai Rp 14 juta, mengikuti kenaikan harga tanah di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, kami berharap pemerintah menetapkan HPP GKP di tingkat petani Rp 7.000 per kg,” ujarnya ketika dihubungi dari Jakarta. Menurut Zulharman, biaya usaha tani tersebut belum mencakup analisis dampak kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 11 persen menjadi 12 persen. Kenaikan PPN itu sudah pasti berdampak pada sejumlah komponen biaya usaha tani, seperti obat-obatan pertanian untuk penanggulangan hama dan penyakit serta pupuk nonsubsidi. (Yoga)
Petani Padi, Karpet Merah
Pemerintah menyiapkan karpet merah bagi petani padi tahun depan. Karpet merah itu, antara lain, berupa harga pembelian dan jaminan serapan gabah serta ketersediaan pupuk bersubsidi tepat waktu, jumlah, dan sasaran. Pemerintah sudah mengantongi kisaran harga pembelian pemerintah (HPP) gabah kering panen (GKP) di tingkat petani untuk tahun depan. Pemerintah juga telah menandatangani kontrak pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi dengan PT Pupuk Indonesia (Persero) lebih awal dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Ada sejumlah pertimbangan. Pertama, panen raya padi tahun depan diperkirakan maju. Kedua, pemerintah tidak ingin harga gabah petani jatuh saat panen raya. Ketiga, pemerintah membutuhkan tambahan cadangan beras untuk tahun depan. Cadangan beras itu untuk memitigasi potensi risiko menyetop impor beras pada 2025.Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan, tahun depan, panen raya padi diperkirakan maju dari Maret-April ke Februari Maret. Hal itu merujuk hasil Kerangka Sampel Area (KSA) Padi Badan Pusat Statistik (BPS).
Produksi beras pada Januari dan Februari 2025 diperkirakan masing-masing mencapai 1,2 juta ton dan 2,08 juta ton. Potensi produksi beras itu lebih tinggi dibandingkan dengan Januari dan Februari 2024 yang masing-masing 0,87 juta ton dan 1,39 juta ton. ”Pada Januari dan Februari saja kenaikannya cukup tinggi, hampir 1 juta ton. Apalagi nanti pada Maret yang diperkirakan sebagai puncak panen,” ujarnya melalui siaran pers di Jakarta, Rabu (25/12/2024). Merujuk hasil KSA Padi pada November 2024, BPS menunjukkan, neraca produksi konsumsi beras pada Januari 2025 berpotensi defisit 1,39 juta ton. Adapun pada Februari 2025, neraca tersebut diperkirakan mulai surplus 0,51 juta ton. Pada Januari dan Februari 2024, neraca produksi-konsumsi beras nasional defisit masing-masing 1,69 juta ton dan 1,18 juta ton. Untuk itu, Zulkifli meminta pemerintah daerah dan Perum Bulog memantau panen raya padi. Jangan sampai panen padi yang berlimpah membuat harga gabah petani anjlok dan tidak terserap. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









