Lingkungan Hidup
( 5781 )Wamen BUMN Klaim Pasokan BBM dan LPG Aman Jelang Tahun Baru 2025
Apakah Korporasi Bertanggung Jawab Atas Rusaknya Lingkungan?
Jabodetabek Kian Rentan Bencana, Tata Kota Abaikan Lingkungan
Pembangunan wilayah perkotaan dan permukiman yang tidak teratur membuat Jakarta dan wilayah sekitarnya semakin rentan terdampak bencana. Pada akhir November hingga awal Desember 2024, warga di Jakarta Utara merasakan dampak banjir rob. Banjir rob bahkan kembali menggenangi wilayah pesisir utara Jakarta pada 13-18 Desember 2024. Banjir ini terjadi karena fenomena pasang maksimum air laut bersamaan dengan fase bulan baru. Selain itu, banjir rob dipengaruhi oleh topografi wilayah serta dampak dari hujan berintensitas tinggi. Sejumlah wilayah RT di Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, dan Kelurahan Pluit, Penjaringan, digenangi air setinggi 10-100 sentimeter (cm). Meningkatnya tinggi pasang air laut maksimum dan kombinasi cuaca masih berpotensi terjadi di pesisir utara Jakarta.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi, banjir rob Jakarta akan terjadi pada 26 Desember 2024 hingga 3Januari 2025. Banjir rob itu berpotensi melanda wilayah pesisir Jakarta Utara, seperti Kamal Muara, Kapuk Muara, Penjaringan, Pluit, Ancol, Kamal, Marunda, Cilincing, Kalibaru, Muara Angke, hingga Kepulauan Seribu. Banjir juga sempat melanda sejumlah wilayah di Jakarta pada Rabu (27/11). Berdasarkan pemetaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta terkait antisipasi dampak cuaca ekstrem, dari 267 kelurahan di wilayah Jakarta, ada 40 kelurahan yang berpotensi terdampak banjir. Wilayah-wilayah yang dinilai rawan banjir antara lain daerah bantaran sungai di Kemang, Pesanggrahan, Cilandak Timur, Bidaracina, Kebon Baru,Rawajati, KuninganBarat, Petogogan, dan Kebon Pala. (Yoga)
Waspada di Akhir Tahun Terjadi Bencana
Cuaca ekstrem masih membayangi pada akhir tahun 2024 dan awal 2025. Hingga sepekan ke depan, diperkirakan terjadi hujan intensitas sedang hingga sangat lebat yang disertai kilat dan angin kencang di sejumlah wilayah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, fenomena La Nina lemah menjadi salah satu faktor yang meningkatkan potensi hujan selama 27 Desember 2024-2 Januari 2025. Kondisi ini diperkuat oleh mengencangnya angin Monsun Asia, aktifnya gelombang atmosfer di sejumlah wilayah, dan keberadaan sirkulasi siklonik. ”Kombinasi dari fenomena ini diperkirakan masih berlangsung hingga pergantian tahun. Kami mengingatkan masyarakat untuk terus waspada terhadap ancaman bencana hidrometeorologi yang mungkin terjadi,” ujar Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani, Kamis (26/12/2024) sore. Hujan lebat dan sangat lebat diperkirakan terjadi di Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tengah.
Adapun potensi angin kencang terjadi di Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Tengah, JawaTimur, DIYogyakarta, dan Sulawesi Selatan. Berdasarkan pantauan BMKG, di beberapa daerah sudah terjadi banjir, seperti di Tarakan (Kalimantan Utara), Kulon Progo (Yogyakarta), Balangan (Kalimantan Selatan), Semarang dan Banyumas (Jawa Tengah), serta Serang (Banten). Sementara tanah longsor terjadi di Sidenreng Rappang (Sulawesi Selatan), Sukabumi (Jawa Barat), serta Sragen dan Wonogiri (Jawa Tengah). ”Bersihkan saluran air dan lingkungan sekitar untuk mengurangi risiko banjir, hindari aktivitas di wilayah rawan bencana dan persiapkan perlengkapan darurat,” katanya. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menambahman, warga harus hati-hati berkendara saat jalanan diguyur hujan. Sebab, jarak pandang terbatas dan bisa memicu aqua-planing, kondisi saat kendaraan tak bisa dikendalikan karena hilangnya daya cengkeram ban. ”Kurangi kecepatan di jalan tol yang sedang hujan. Waspadai longsor dan pohon tumbang saat berkendara di perbukitan atau lereng gunung,” ujarnya. (Yoga)
Dua Dekade Tsunami Aceh Berlalu
Pada 26 Desember kemarin, genap dua dekade gempa bumi diikuti tsunami yang menewaskan lebih dari 160.000 orang di Aceh. Gempa itu membuka kesadaran tentang bahaya yang mengintai masyarakat Indonesia yang hidup di atas zona tumbukan lempeng bumi. Namun, kesiapsiagaan menghadapi gempa yang akan datang masih jadi pertanyaan besar. Gempa dahsyat mengguncang Pulau Sumatera pada Minggu, 26 Desember 2004, pukul 07.58 WIB. Belakangan diketahui, gempa tersebut berkekuatan M 9,2 dan berpusat 30 kilometer di bawah Samudra Hindia, sekitar 260 kilometer dari Kota Banda Aceh. Reportase Kompas dalam Ekspedisi Cincin Api (26 Mei 2012) memuat, saat laut surut, banyak orang berada di pantai, mencari ikan atau terperangah dengan fenomena alam tak lazim. Bahkan, hingga gelombang laut berketinggian 30 meter mendekati pantai sekitar 30 menit setelah gempa, banyak orang tak menyadari bahaya tsunami.
Baru ketika ombak menerjang, orang-orang berhamburan, tetapi menyelamatkan diri saat itu nyaris mustahil. Ombak laut bergulung-gulung, membawa batu, pepohonan, dan segalanya sampai 7 kilometer ke daratan. Nyaris semua bangunan yang dilewati tsunami rata dengan tanah, terbongkar sampai fondasinya. Sebelum tsunami 2004, jumlah penduduk Banda Aceh 239.146 jiwa. Sebanyak 61.265 penduduknya tewas atau hilang saat tsunami atau tinggal 177.881 orang pada 2005. Selain di Banda Aceh, korban terbesar terjadi di pesisir Aceh Besar, Aceh Barat, dan Calang. Banyaknya korban jiwa di pesisir Aceh ini terutama karena ketidaktahuan akan tsunami, yang bisa melanda setelah gempa besar. Hingga sebelum 2004, masyarakat di Banda Aceh dan mayoritas di Indonesia tidak memiliki pengetahuan tentang gempa bumi dan tsunami. Sebelum bencana Aceh, gempa bumi dan tsunami telah melanda beberapa wilayah Indonesia sekalipun skalanya tidak sedahsyat 2004. (Yoga)
Drama PPN Beras Premium Berakhir
Usai sudah drama pungutan Pajak Pertambahan Nilai 12 persen beras premium. Entah lantaran keliru menyebut jenis beras atau memang sejak awal sudah berniat demikian, siapa yang tahu. Pastinya, kebijakan itu meresahkan masyarakat umum, petani, dan pelaku usaha perberasan. Pada 16 Desember 2024, pemerintah mengumumkan beras premium bakal dikenai Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 12 persen. Dalam materi paparan Kementerian Keuangan, beras premium dikategorikan sebagai barang premium atau mewah yang dikonsumsi kalangan mampu. Namun, tidak ada penjelasan secara detail tentang jenis beras premium yang dimaksud. Alhasil, kebijakan itu menuai kritik dari sejumlah kalangan, termasuk petani dan pelaku usaha perberasan. Mereka mempertanyakan istilah ”premium”. Mereka juga menyebut beras premium bukan barang mewah. Beras premium juga tidak hanya dikonsumsi masyarakat mampu atau kelas atas, tetapi juga kelas menengah. Jika dikenai PPN 12 persen, harga beras yang semula bebas PPN itu otomatis akan melonjak. Masyarakat kelas menengah yang daya belinya belum sepenuhnya pulih bakal terbebani. Apabila harganya tidak dinaikkan, petanilah yang menjadi korban.
Harga gabah kering panen di tingkat petani akan tertekan atau turun. Ujung-ujungnya, daya beli petani bakal tergerus. Beberapa hari setelah pengumuman kebijakan itu, pemerintah menyebut beras premium tetap bebas PPN. Hanya beras khusus yang terkena PPN 12 persen. Namun, beras khusus yang disasar juga masih belum spesifik. Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengaku tidak dilibatkan dalam pembahasan itu. Bahkan, Bapanas menyebut beras khusus yang bakal dikenai PPN 12 persen sedang didiskusikan. Namun, Bapanas menjamin, kebijakan itu tidak akan menyasar beras khusus lokal atau yang diproduksi dalam negeri (Kompas, 20/12/2024). Saat itu, giliran petani dan pelaku usaha beras khusus yang resah. Selama ini, beras khusus diatur dalam Peraturan Bapanas Nomor 2 Tahun 2023 tentang Persyaratan Mutu dan Label Beras. Beras khusus yang dimaksud adalah beras ketan, merah, dan hitam; beras varietas lokal; beras fortifikasi; beras organik; beras indikasi geografis; beras tertentu yang tidak bisa diproduksi dalam negeri; dan beras untuk kesehatan. Baru pada 23 Desember 2024, Kementerian Koordinator Bidang Pangan dan Bapanas memberikan kepastian. Beras premium dan beras khusus produksi dalam negeri tetap bebas PPN, seperti beras medium. Beras yang dikenai PPN 12 persen adalah beras khusus impor atau yang tidak diproduksi dalam negeri. Beras khusus tersebut diimpor untuk memenuhi kebutuhan hotel dan restoran. Beberapa di antaranya seperti shirataki dan japonica. (Yoga)
Dua Orang Tewas, Bus Pariwisata Tabrak Truk di Tol Cipularang
Sebuah bus pariwisata menabrak truk di Kilometer 80 Tol Cipularang di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Kamis (26/12/2024) dini hari. Dua penumpang tewas dalam kejadian ini, sementara 56 orang lainnya mengalami luka-luka. Data yang dihimpun Kompas dari Jasamarga Metropolitan Tollroad dan Kepolisian Resor Purwakarta, kecelakaan yang melibatkan bus PO Qonita Wisata dengan truk itu terjadi pukul 01.35. Kecelakaan terjadi ketika bus melintas dari Bandung menuju Jakarta. Bus dengan nomor polisi B 7363 NGA itu dikemudikan oleh Romyani (57). Bus menabrak bagian belakang truk bernomor polisi B 9354 FYT yang berada di lajur kiri jalan tol tersebut. Pengemudi bus diduga mengantuk sehingga kurang mengantisipasi kendaraan di depannya. Akibatnya, bus menabrak bagian belakang truk. Pascakejadian ini, para korban yang terluka dan tewas dievakuasi ke Rumah Sakit Abdul Radjak, Purwakarta. Dua kendaraan yang terlibat kecelakaan dievakuasi ke Gerbang Tol Jatiluhur di Purwakarta. Sekalipun sempat tersendat, arus lalu lintas kembali lancar beberapa jam setelah kejadian tersebut. ”Terdapat 12 korban luka berat yang masih menjalani perawatandiRumah Sakit Abdul Radjak, Purwakarta. Kami telah menahan sopir di Markas Polres Purwakarta,” kata Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Purwakarta Ajun Komisaris Dadang Supriadi. Polisi belum dapat menyampaikan pemicu kecelakaan.
Sopir masih diperiksa oleh polisi. ”Sopir diperiksa untuk mengungkap adanya unsur kelalaian dalam kasus ini.Bus diduga terlebih dahulu menabrak truk ini,” ujarnya. Sementara itu, Senior Manager Representative Office 3 Jasamarga Metropolitan Tollroad Agni Mayvvina mengatakan, total terjadi dua kecelakaan pada Kamis dini hari. Peristiwa kedua terjadi di Kilometer 92 Tol Cipularang di ruas jalan dari arah Jakarta menuju Bandung pada pukul 02.50. ”Peristiwa yang kedua melibatkan satu bus angkutan dan satu kendaraan yang belum teridentifikasi karena sudah tidak berada di lokasi kejadian. Terdapat satu korban luka pada kecelakaan di lokasi ini,” kata Agni. Ia mengimbau pengguna jalan, baik pengendara kendaraan pribadi maupun angkutan, untuk menyiapkan diri dan kendaraan dengan baik sebelum memulai perjalanan. ”Khusus bagi pengguna jalan yang berkendara pada malam hari, manfaatkan rest area (tempat istirahat) terdekat jika mengalami kelelahan atau mengantuk,” ujarnya. Sebelumnya, dua kecelakaan besar yang melibatkan bus pariwisata terjadi di Jabar pada tahun 2024. Pertama, kecelakaan tunggal bus Putera Fajar yang membawa rombongan siswa SMK Lingga Kencana asal Depok di Jalan Raya Ciater, Subang, Jabar, pada 11 Mei. Peristiwa yang dipicu rem bus blong ini mengakibatkan 11 korban tewas dan puluhan lain terluka. Kedua, kecelakaan bus wisata Blue Star yang membawa rombongan dosen Universitas Pamulang di Kilometer 176 Tol Cikampek-Palimanan (Cipali) di Kabupaten Majalengka, Jabar, pada 24 Juli. Seorang dosen tewas dalam insiden ini. (Yoga)
Korban 30 Orang Tewas Pada Jatuhnya Pesawat Azerbaijan
Turunnya Harga Singkong Sampai di Bawah Harga Acuan
Petani singkong di Lampung berharap kebijakan harga pembelian ubi kayu atau singkong di tingkat petani Rp 1.400 per kg segera diberlakukan. Petani menyebut harga singkong saat ini cenderung tidak stabil dan lebih rendah dari harga acuan. Pemprov Lampung menginisiasi kesepakatan bersama petani dan pelaku industri terkait harga pembelian ubi kayu atau singkong di tingkat petani. Harga pembelian singkong ditingkat petani ditetapkan paling rendah Rp 1.400 per kg dengan rafaksi 15 %, yang berlaku untuk singkong dengan masa tanam minimal sembilan bulan. Keputusan tersebut diambil dalam rapat koordinasi yang digelar pada Senin (23/12).
Kesepakatan bersama tersebut diharapkan mulai efektif berlaku pada Selasa (24/12). Tan Malaka (50), petani singkong di Kabupaten Lampung Timur, menuturkan, saat ini harga jual singkong di tingkat petani Rp 1.200-Rp 1.300 per kg. Selain itu, petani harus menanggung potongan kadar air atau rafaksi 25 %. ”Dengan harga tersebut ditambah potongan rafaksi dan ongkos angkut, harga yang diterima petani rata-rata Rp 700 per kg,” kata Malaka, Rabu (25/12). Menurut Malaka, petani singkong berharap kebijakan baru terkait harga singkong itu segera diberlakukan oleh industri. Dengan begitu, petani bisa menikmati harga yang lebih baik.
Dia juga menyebut, setiap musim panen, harga singkong cenderung rendah. Pada 2016, harga singkong di Lampung bahkan pernah menyentuh harga terendah, yakni Rp 400 per kg. Padahal, biaya produksi, mulai dari mengolah tanah, menyiapkan bibit, membeli pupuk, hingga membayar ongkos petik dan angkut, semakin mahal. Untuk mengolah 1 hektar lahan, petani harus mempunyai modal Rp 10 juta-Rp 12 juta. Jika harga bersih masih di bawah Rp 1.000 per kg, petani rata-rata hanya mendapat keuntungan Rp 8 juta-Rp 9 juta untuk satu kali masa panen. Namun, keuntungan itu hanya bisa didapatjika hasil panen cukup bagus atau di atas 20 ton per hektar. Padahal, petani singkong harus menunggu 8-9 bulan untuk bisa panen. (Yoga)
Hilirisasi Nikel di Maluku Utara Akankah Hanya Janji Manis?
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









