Lingkungan Hidup
( 5781 )Perang Ukraina Ganggu Rantai Pasok Global
Ketegangan akibat konflik Rusia-Ukraina mengancam rantai pasok komoditas global yang sebelumnya sudah terdisrupsi pandemi Covid-19. Kebijakan yang tepat perlu diambil untuk mengantisipasi agar dampak konflik ini tidak mengganggu pemulihan ekonomi nasional. Hambatan rantai pasok global, terjadi pada komoditas pangan. Jika produksi Rusia dan Ukraina digabung, menyumbang 30,1 % pangsa pasar gandum dunia; 23,4 % pangsa pupuk dunia; serta 14,5 % pangsa jagung dunia. Terkait pasokan energi, pangsa ekspor batubara Rusia mencapai 15 % pangsa pasar global. Sementara itu, pangsa ekspor minyak mentah Rusia 11,9 % pangsa global. Produksi gas alam Rusia 4,8 % pangsa pasar global. Terhambatnya rantai pasok berbagai komoditas, terutama pangan dan energi, otomatis menimbulkan gejolak harga yang merembet pada tren inflasi global.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio N Kacaribu mengatakan, kenaikan harga komoditas akan memperburuk tekanan inflasi di banyak negara. Berdasarkan kajian BKF, tingkat inflasi global tahun ini berpotensi melonjak dari 3,8 % menjadi 4,6 %, dan baru melandai pada 2023. Selain tak luput dari gejolak harga komoditas di pasar global, tekanan kenaikan inflasi di dalam negeri mulai muncul karena naiknya permintaan di tengah pemulihan pascapandemi serta momen bulan Ramadhan. Plt Pusat Kebijakan Ekonomi Makro BKF Abdurohman mengingatkan, kenaikan harga komoditas energi dan pangan berdampak mempercepat serapan belanja subsidi pemerintah. Pada APBN 2022, pemerintah mengalokasikan total anggaran subsidi Rp 206,96 triliun, untuk subsidi energi Rp 134,03 triliun dan untuk subsidi non-energi Rp 72,93 triliun. Selama periode Januari-Februari 2022, belanja subsidi energi Indonesia sudah mencapai Rp 21,7 triliun, setara 16,97 % anggaran subsidi energi. (Yoga)
Laba Energi Mega Turun 25 Persen Tahun Lalu
Emiten migas PT Energi Mega Persada Tbk membukukan penurunan laba sekitar 25 % menjadi 40,26 juta dollar AS tahun 2021. Dirut Energi Mega Persada Syailendra Bakrie, dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Senin (11/4) mengatakan, pendapatan tahun lalu meningkat seiring kenaikan produksi. Namun, perusahaan mesti melunasi utang dari tahun sebelumnya. (Yoga)
AS, Arab Teluk, dan OPEC Plus
Isu minyak telah membuat gonjang-ganjing hubungan antara AS dan negara-negara Arab Teluk, khususnya Arab Saudi dan UEA, menyusul meletupnya perang Rusia-Ukraina sejak 24 Februari lalu. Arab Saudi dan UEA menjadi bidikan AS sejak awal invasi Rusia ke Ukraina untuk dibujuk agar menaikkan produksi minyaknya, agar harga minyak dunia terjaga dan tidak mengalami lonjakan signifikan. AS sejak awal telah menyiapkan paket sanksi ekonomi atas Rusia, di antaranya melarang impor minyak dari Rusia, dimana Rusia adalah produsen minyak terbesar kedua setelah Arab Saudi. Moskwa memproduksi minyak 8 juta barel per hari. Hilangnya minyak Rusia dari pasar dunia berakibat melonjaknya harga minyak dunia, hanya Arab Saudi dan UEA yang bisa menutupi absennya minyak Rusia dengan menambah produksi minyaknya.
Posisi Arab Saudi dan UEA sangat sulit. Bagi Arab Saudi dan UEA, AS adalah sahabat strategis yang menjamin keamanan dua negara itu. Di pihak lain, hubungan Arab Saudi dan UEA dengan Rusia juga sangat berkembang akhir-akhir ini. Arab Saudi, UEA, dan Rusia berada dalam satu payung organisasi, yaitu OPEC Plus. Dalam konteks dinamika minyak, Arab Saudi dan UEA berdalih bahwa kebijakan isu komoditas minyak harus mengacu pada kebijakan OPEC Plus. Artinya, Arab Saudi dan UEA memilih menjaga keutuhan OPEC Plus daripada menuruti kehendak AS. Arab Saudi dan UEA ingin memberi pesan politik kepada AS bahwa isu minyak adalah urusan Arab Saudi dan UEA bersama OPEC Plus, bukan dengan AS.
Dalam pertemuan virtual OPEC Plus pada 31 Maret, 23 negara anggota OPEC Plus, termasuk Rusia, sepakat berkomitmen memegang teguh kebijakan menjaga stabilitas pasar minyak dunia dengan hanya menambah 432.000 barel per hari mulai Mei mendatang. Dengan keputusan ini, harga minyak dunia sampai saat ini masih dikendalikan jauh di bawah 120 dollar AS per barel. Harga minyak mentah dunia, Jumat (8/4), berkisar 97,92 dollar AS per barel. Padahal, sebelum pertemuan OPEC Plus 31 Maret, harga minyak 25 Maret 119-120 dollar AS per barel. Sebenarnya harga minyak mentah dunia yang bisa ditekan di bawah 100 dollar AS per barel, sudah memenuhi aspirasi AS, juga memenuhi aspirasi Rusia. Di sini sesungguhnya posisi Arab Saudi dan UEA sudah sangat bagus, berimbang antara AS dan Rusia terkait komoditas minyak. (Yoga)
Harga Tak Kunjung Stabil, Sejumlah Produsen Abai
Program minyak goreng curah bersubsidi sudah berjalan sebulan, tetapi harganya masih tinggi di pasaran. Hasil pemantauan pelaksanaan program minyak goreng bersubsidi menunjukkan masih ada 20 produsen minyak goreng sawit yang belum memulai produksi minyak goreng curah dan 11 produsen belum mendistribusikan hasil produksinya.Menurut data Kemenperin, 75 perusahaan minyak goreng sawit terlibat dalam program pemerintah untuk menyediakan dan mendistribusikan minyak goreng curah bersubsidi bagi masyarakat serta pelaku usaha mikro dan kecil. Mereka sudah mendapat nomor registrasi dan berkontrak dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), tapi sampai 7 April 2022 baru 55 perusahaan atau 73,3 % yang sudah mulai memproduksi minyak goreng curah bersubsidi. Sebanyak 20 perusahaan lainnya sama sekali belum memulai
Hasil pemantauan Gerakan Masyarakat Awasi Kartel (Germak) pada 1-9 April 2022 di 9 provinsi, ada 11 perusahaan minyak goreng sawit yang sama sekali belum menyalurkan minyak goreng curah bersubsidi. Koordinator Germak Fahmy Badoh, Minggu (10/4) mengatakan, hal itu menunjukkan masih rendahnya komitmen dan kepatuhan sebagian produsen minyak goreng sawit pada kontrak kewajiban. Sesuai Permenperin No 8 Tahun 2022, para produsen ini wajib memproduksi dan mendistribusikan minyak goreng bersubsidi. Terkait perusahaan yang sudah memproduksi tetapi belum menyalurkan, Febri mengatakan, ada kemungkinan minyak goreng dalam bentuk curah tidak disalurkan karena dijadikan minyak goreng kemasanMenambang Rezeki dari Harga Nikel
Harga nikel berpotensi terus melambung seiring gangguan pasokan akibat perang Rusia-Ukraina. Prospek kinerja dan kenaikan harga saham emiten sektor pertambangan mineral jadi semakin menarik. Jumat (8/4), harga nikel kontrak bergulir tiga bulan di London Metal Exchange berada di US$ 33.855 per metrik ton. Dengan demikian, bila dihitung sejak awal tahun, harga nikel melambung 63%. Hasan Barakwan, Analis BRI Danareksa Sekuritas, menulis dalam riset, kenaikan harga nikel akan berlanjut. Harga akan stabil di atas US$ 30.000 per metrik ton.
Rusia Kena Sanksi, Eropa Incar Batubara Indonesia
Harga batubara masih terus memanas, di tengah perang Rusia dan Ukraina memantik permintaan ekspor batubara Indonesia. Permintaan batubara ke kawasan Eropa melesat seiring larangan ekspor batubara Rusia oleh Uni Eropa. Kementerian ESDM juga mengaku siap memproses permohonan revisi rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) jika ada perusahaan batubara yang mengajukan ekspor. "Akan kami evaluasi sesuai feasibility study dan amdal-nya," ujar Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Batubara Kementerian ESDM Lana Saria saat dihubungi KONTAN, Minggu (10/4). Tahun ini, Kementerian ESDM memproyeksikan produksi batubara mencapai 665 juta ton. Dari rencana itu, pemerintahan menetapkan kewajiban pasokan dalam negeri atau domestic market obligation (DMO) batubara sebanyak 166 juta ton.
Anggaran Subsidi Energi Bisa Bengkak
Anggaran belanja subsidi 2022 berpeluang bengkak lantaran selisih harga komoditas bersubsidi dan non subsidi kian lebar. Selisih harga yang cukup tinggi antara komoditas bersubsidi dan non subsidi ini jelas menyebabkan perpindahan konsumsi masyarakat yang sebelumnya menggunakan energi non subsisi ke sumber energi yang lebih murah yakni subsidi. Karena itulah Kementerian Keuangan kini tengah menghitung adanya tambahan anggaran belanja subsidi. Adapun di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022, dana subsidi, khususnya subsidi energi alokasinya sebesar Rp 134,2 triliun.
Didorong Permintaan, Ekspor Karet Sumut Naik 18,1 Persen
Ekspor karet remah dari Sumut meningkat 18,1 % pada Maret ketimbang bulan sebelumnya, didorong naiknya permintaan dari negara tujuan ekspor utama, yakni China, Brasil, dan Turki. ”Peningkatan volume ekspor karet pada Maret cukup signifikan dari 28.698 ton menjadi 33.882 ton. Kami berharap peningkatan volume ekspor ini bisa konsisten sepanjang tahun,” kata Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut Edy Irwansyah, di Medan, Sabtu (9/4). Edy mengatakan, peningkatan volume ekspor juga didorong membaiknya produksi karena kondisi gugur daun di kebun yang terjadi sejak awal Februari sudah mulai pulih. Gugur daun merupakan proses alami pada periode tertentu dan dapat menyebabkan penurunan produksi hingga 30 %. Meskipun volume ekspor meningkat cukup signifikan, harga rata-rata karet remah di pasar dunia mengalami penurunan. Harga rata-rata karet jenis TSR 20 (technical specified rubber) di bursa berjangka Singapura, Maret 174,62 sen dollar AS, menurun dari bulan sebelumnya 179,57 sen dollar AS. Tren penurunan pun masih terjadi pada April ini dan pada perdagangan Kamis (7/4) sudah menyentuh 173,4 dollar AS. (Yoga)
Harga Pangan Meroket 12 Persen
Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menyebut perang di Ukraina menyebabkan kenaikan harga pangan global hingga 12 %. Dampaknya terasa mulai dari petani hingga konsumen. Harga komoditas bahan pangan seperti biji-bijian dan minyak nabati mencapai level tertinggi bulan lalu. Kenaikan itu telah mengakibatkan gangguan pasokan besar-besaran, tidak hanya dalam proses distribusi, bahkan lebih jauh dalam proses produksi. FAO, dalam laporan yang terbit Jumat (8/4) menyebutkan, Indeks Harga Pangan FAO rata-rata 159,3 poin pada Maret atau naik 12,6 % dari bulan sebelumnya. Angka ini merupakan level tertinggi sejak perhitungan ini dimulai pada 1990. ”Harga bahan makanan pokok seperti gandum dan minyak nabati melonjak dan menjadi tanggungan biaya yang luar biasa bagi konsumen global,terutama kelompok termiskin. Dengan naiknya harga energi bersama harga pangan, daya beli konsumen dan negara yang rentan semakin menurun,” kata Dirjen FAO Qu Dongyu pada pidatonya di sesi ke-169 Dewan FAO, Roma.
Dalam komposisi Indeks Harga Pangan FAO, minyak nabati menjadi produk pangan yang mengalami kenaikan paling tinggi, sebesar 23,2 %, didorong kuota minyak biji bunga matahari. Ukraina adalah pengekspor minyak bunga matahari terkemuka dunia. ”Ini benar-benar preseden luar biasa. Jelas harga bahan pangan yang sangat tinggi ini membutuhkan tindakan segera,” kata Josef Schmidhuber, Wakil Direktur Divisi Pasar dan Perdagangan FAO. Menurut dia, gangguan besar-besaran pasokan dari wilayah Laut Hitam, terutama Ukraina, memicu kenaikan harga bahan pangan, terutama biji-bijian dan minyak nabati. Peneliti Institut Riset Kebijakan Pangan Dunia yang berbasis di Washington DC, AS menilai kerentanan situasi harga bahan pangan dunia akibat situasi di Ukraina menimbulkan ancaman dalam jangka pendek dan panjang. (Yoga)
Kemendag Tetapkan HPP Baru Gula Petani
Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan (8/4) mengatakan, harga patokan petani (HPP) gula akan ditetapkan Rp 11.500 per kg, lebih tinggi dari HPP gula yang ditetapkan sejak enam tahun lalu Rp 9.100 per kg. Kebijakan itu diambil setelah Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI) menyampaikan usulan kenaikan HPP gula kepada Mendag Muhammad Lutfi pada 31 Maret 2022. APTRI meminta pemerintah menaikkan HPP gula dari Rp 9.100 per kg menjadi Rp 12.000 per kg. Waktu itu, Sekjen DPN APTRI M Nur Khabsyin menyatakan,HPP gula perlu dinaikkan lantaran biaya pokok produksi semakin tinggi. Biaya itu mencakup ongkos pengolahan lahan, upah tenaga kerja, ongkos tebang angkut, biaya irigasi, pestisida, dan beban biaya pupuk. Selama ini, petani juga menggunakan pupuk nonsubsidi yang harganya lebih mahal lantaran jumlah pupuk bersubsidi terbatas sehingga menambah biaya produksi 15 %. Selain HPP, pemerintah juga mewajibkan peritel modern menjual gula kristal putih Rp 13.500 per kg di tingkat konsumen. Hal itu berdasarkan Surat Edaran Dirjen Perdagangan dalam Negeri No 6 Tahun 2022 tentang Harga Jual Gula Kristal Putih. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









