;
Kategori

Lingkungan Hidup

( 5781 )

Pedagang dan Konsumen Keluhkan Lonjakan Harga

11 Jul 2022

Harga sejumlah bahan pokok dan bahan pangan, seperti bawang merah dan cabai, terus meroket. Kenaikan harga komoditas tersebut menyebabkan tergerusnya daya beli masyarakat. Di Surabaya, Jatim, harga bawang merah pada Minggu (10/7) menyentuh Rp 70.000 per kg. ”Memang hampir setiap tahun harga bawang merah naik, tetapi paling mahal Rp 30.000 per kg,” kata Kasmo (55), pedagang bawang di wilayah Rungkut, kemarin. Berdasarkan pantauan di Pasar Surya, Surabaya, harga bahan pokok pada sepekan terakhir mengalami  banyak perubahan. Selepas Idul Fitri, hampir semua komoditas pangan terus melambung.

Pantauan di Pasar Raya Padang, Jumat (8/7), harga cabai merah Rp 104.000-Rp 120.000 per kg. Sementara harga bawang merah Rp 50.000-Rp 55.000 per kg. Nasril (50), pedagang di Jalan Pasar Baru, Pasar Raya Padang, mengatakan, harga cabai merah sangat berfluktuasi. Pada Jumat pagi, ia menjual stok cabai seharga Rp 90.000 per kg. Dua jam kemudian, ia menjual stok baru Rp 100.000 per kg, lalu naik menjadi Rp 110.000 per kg, dan Rp 120.000 per kg pada Jumat siang. Tingginya harga komoditas itu berdampak buruk terhadap pedagang. Daya beli  masyarakat berkurang dan angka penjualan cabai serta bawang menurun 30 % dibandingkan kondisi normal.

Zahara (55), warga Kecamatan Nanggalo, Padang, menyebutkan, kenaikan harga bahan pokok membuat pusing. Ia harus memutar otak dalam mengatur biaya belanja rumah tangga. Di rumahnya, cabai merah harus ada. ”Suami saya tidak makan kalau tak ada cabai,” katanya. Yanti (47), pedagang nasi di Padang Timur, mengatakan, margin keuntungannya semakin tipis sejak harga cabai merah, bawang merah, dan bahan pokok lain naik sebulan terakhir.

Kadis Pangan Sumbar Efendi mengatakan, dinas melakukan operasi pasar setiap Senin-Sabtu untuk mengendalikan harga bahan pokok, termasuk cabai merah dan bawang merah. Operasi pasar dilakukan di toko tani milik dinas ataupun dengan mobil keliling ke 19 kabupaten/kota secara bergiliran. ”Kami menjual dan menyediakan sembako murah untuk mengendalikan harga, termasuk cabai merah dan bawang merah. Misalnya, cabai merah kemarin dijual Rp 80.000 per kg,” ucap Efendi. (Yoga)


G20 Suarakan Pelonggaran Restriksi Ekspor Pangan

11 Jul 2022

Ketahanan pangan global sedang terganggu di tengah krisis rantai pasok, ketegangan geopolitik, dan menguatnya tren proteksi pangan. Pertemuan Kedua Tingkat Sherpa G20 menyuarakan perlunya pelonggaran restriksi ekspor serta mendorong perdagangan pangan yang transparan dan dapat diprediksi demi mencegah krisis pangan berkelanjutan. Per Juni 2022, berdasarkan data Food and Fertilizer Export Restrictions Tracker, ada 20 negara yang masih aktif membatasi ekspor komoditas pangan, lima negara menerapkan perizinan khusus ekspor, dan tiga negara menaikkan pajak atau pungutan ekspor.

Dalam hari pertama Pertemuan Kedua Tingkat Sherpa G20 (The 2nd G20 Sherpa Meeting), Minggu (10/7) di Labuan Bajo, NTT, persoalan krisis pangan yang kini melanda banyak negara pun menjadi salah satu isu yang mengemuka saat membahas kemajuan pembahasan Kelompok Kerja Agrikultur (Agriculture Working Group). Ketua Kelompok Kerja Agrikultur Kasdi Subagyono mengatakan, “Indonesia mengharapkan perdagangan yang bisa diprediksi dan transparan. Banyak yang menyuarakan agar “blokir” atau restriksi pangan tidak perlu dilakukan, terutama ke negara berkembang yang daya tahan pangannya masih lemah, mereka justru harus didukung,” kata Kasdi, yang juga menjabat Sekjen Kementan. (Yoga)


Ganti Rugi Ternak Belum Bisa Dilakukan

11 Jul 2022

Ganti rugi ternak yang harus dipotong secara paksa untuk memutus penularan penyakit mulut dan kuku atau PMK belum bisa dilaksanakan. ”Kami masih menunggu peraturan menterinya. Belum bisa dilaksanakan karena belum diputuskan dalam regulasi resmi,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut Azhar Harahap, di Medan, Sabtu (9/7). Selama PMK merebak di Sumut, sudah 41 sapi ternak yang dipotong secara paksa. (Yoga)

Harga Pertamax Turbo dan Bright Gas Naik

11 Jul 2022

JAKARTA, SURYA - PT Pertamina (Persero) kembali menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Harga BBM yang naik yaitu jenis Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Naiknya harga BBM ketiga jenis tersebut sesuai keputusan Menteri Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM), Arifin Tasrif.

Dalam keterangan resmi situs Pertamina, kenaikan per 10 Juli kemarin. PT Pertamina (Persero) melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) Umum dalam rangka mengimplementasikan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 62K/12/MEM/2020 tentang Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Bensin dan Minyak Solar yang Disalurkan Melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum.

"Saat ini penyesuaian kami lakukan kembali untuk produk Pertamax Turbo dan Dex Senes yang porsinya sekitar 5% dan total konsumsi BBM nasional, serta produk LPG non subsidi yang porsinya sekitar 6% dari total konsumen LPG nasional,"
tekan Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting dalam keterangannya kepada Kontan.co.id. Minggu (10/7).

Pada 3 Maret 2022, harga Pertamax Turbo sebesar Rp 14.500 / liter. Namun hari ini naik menjadi Rp 16.200 / liter. Kemudian, Pertamina Dex awalnya Rp 13.700 / liter, naik menjadi Rp 16.500 / liter, dan harga Dexlite naik Rp 15.000 / liter yang sebelumnya hanya Rp 12.950 / liter.

Untuk LPG non subsidi Bright Gas akan disesuaikan sekitar Rp 2.000 / Kg "Seluruh penyesuaian harga di angka sekitar Rp 2.000 baik per liter untuk BBM dan per Kg untuk LPG. harga ini masih sangat kompetitif dibandingkan produk dengan kualitas setara," imbuh Irto.

Penyesuaian harga ini karena tren harga Indonesian Crude Price (ICP) untuk BBM dan Contract Price Aramco (CPA) untuk LPG yang masih tinggi. Tercatat, harga minyak ICP per Juni menyentuh angka 117.62 USD / barel, lebih tinggi sekitar 37% dan harga ICP pada Januari 2022 

Meski Aman, Tetap Perlu Hati-hati

08 Jul 2022

Presiden Jokowi, pada pidato puncak peringatan Hari Keluarga Nasional 2022 di Lapangan Merdeka, Medan, Sumut, Kamis (7/7)  mengingatkan, dunia tengah menghadapi tantangan berat akibat pandemi Covid-19 dan perang Ukraina-Rusia. Harga beragam pangan dan energi di pasar internasional melonjak tajam. Pemerintah terus  berupaya memperkecil dampak inflasi global tersebut terhadap perekonomian Indonesia. Menurut Presiden, walau harga minyak bumi saat ini naik dua kali lipat menjadi 110-120 dollar AS per barel, harga BBM jenis pertalite di Indonesia masih Rp 7.650 per liter karena disubsidi APBN. Indonesia masih mengimpor separuh kebutuhan BBM. Karena itu saat harga minyak internasional naik, negara membayar lebih banyak. Harga gas di pasar internasional, meningkat lima kali lipat. ”Padahal, gas, kita impor juga. Gede banget,” ujar Presiden. Beragam komoditas pangan di seluruh dunia juga sudah naik, 30 % – 50 %, untungnya, rakyat kita utamanya petani, masih berproduksi beras dan sampai saat ini harganya belum naik dan stoknya selalu ada.

Kendati beras dinilai relatif aman, Presiden tetap meminta kewaspadaan pada stabilitas harga pangan ditingkatkan. Alasannya, Indonesia masih mengimpor gandum sekitar 11 juta ton per tahun. Harga gandum tak stabil karena produksi dan distribusi gandum dari negara-negara yang sedang berkonflik, seperti Rusia, Ukraina, dan Belarus, terganggu. Di Ukraina, seperti disampaikan Presiden Volodymyr Zelenskyy, kata Presiden, ada stok 22 juta ton ditambah hasil panen baru sekitar 55 juta ton. Adapun di Rusia, ujar Presiden Jokowi mengutip Presiden Vladimir Putin, ada sekitar 130 juta ton. Perang membuat komoditas itu sulit untuk diekspor ke sejumlah negara. Akibatnya, beberapa negara di Afrika dan Asia sudah mulai mengalami kekurangan pangan akut. (Yoga)


Pendaftaran MyPertamina Langkah Awal Menuju Subsidi Langsung

07 Jul 2022

PT Pertamina (Persero) mengungkapkan pendataan konsumen bahan bakar minyak (BBM) jenis Solar dan Pertalite menjadi langkah awal menuju penerapan mekanisme  subsidi langsung. Hal ini terungkap dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VII DPR dengan Direksi Pertamina, Rabu (6/7) kemarin. Hanya saja belum dibeberkan secara gamblang waktu pelaksanaan subsidi langsung tersebut. Perusahaan energi plat merah itu telah membuka pendaftaran mulai 1 Juli kemarin. Pendaftaran dilakukan bertahap yang diawali pada 11 kabupaten/kota yakni Kota Padang, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, Kota Banjarmasin, Kota Yogyakarta, Kota Manado, dan Kota Bukittinggi. Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan pendaftaran terhitung awal Juli tersebut diperuntukkan baik masyarakat umum. Nantinya nelayan, petani, usaha kecil menengah, serta bidang logistik yang menggunakan BBM subsidi pun didata. (Yetede)

Kemendag Resmi Luncurkan Minyakita

07 Jul 2022

Kementerian Perdagangan (Kemendag) secara resmi meluncurkan minyak goreng kemasan rakyat dengan merk Minyakita. Produk ini akan didistribusikan ke seluruh Indonesia dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp14 ribu per liter. Ada 9 perusahaan yang akan memproduksi Minyakita. Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan, menerangkan, minyak goreng kemasan sederhana dapat mempermudah masyarakat mendapatkan minyak goreng. Minyakita merupakan merk dagang yang dimiliki Kemendag dan telah terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM dengan nomor sertifikat IDM00203152. Merk Minyakita boleh dipergunakan produsen atau pengemas minyak goreng dengan masa berlaku empat tahun, dan izin penggunaannya dapat diperpanjang. Diterapkan kebijakan pembatasan pembelian untuk menghindari penjualan dalam jumlah yang besar pleh industri yang tidak sesuai dengan peruntukannya.. "Setelah diluncurkan, produsen bisa lebih leluasa memasarkan minyak goreng curah. Bisa melalui jalur-jalur yang sudah ditentukan  dan dengan kemasan bagus di botol saya kira mini market akan menerimanya," kata Zulhas. (Yetede)

Lonjakan Harga ”Barito” Bayangi Manado Jelang Idul Adha

07 Jul 2022

Warga Manado, Sulut, dibayangi potensi lonjakan harga barito (bawang, rica atau cabai rawit, dan tomat) menjelang perayaan Idul Adha tahun ini. Hal mengakibatkan rentan terjadinya inflasi, BI Kantor Perwakilan Sulut menyebut ada tiga faktor pemicunya, yaitu fenomena La Nina, kenaikan harga pupuk, dan tingginya harga di sejumlah provinsi di timur Sulut. (Yoga)

Resesi dan Suplai Jadi Masalah bagi Harga Komoditas Energi

07 Jul 2022

Pergerakan harga komoditas energi masih dalam tren naik sepanjang kuartal II-2022. Kendati begitu, jika dibandingkan kuartal I-2022, harga komoditas energi sedikit melambat. Harga minyak dunia menguat 31,75% pada kuartal I-2022. Sedang di kuartal II-2022 cuma naik 11,23%. Sementara harga batubara kuartal I-2022 meningkat 89,20%, dan naik sebesar 58,35% di kuartal II-2022. Bahkan, gas alam sepanjang kuartal II-2022 justru mengalami penurunan 5,34%. Research & Development ICDX Girta Yoga mengungkapkan, melambatnya kenaikan harga komoditas energi dipicu kekhawatiran resesi yang mengancam pertumbuhan ekonomi global. Terlebih semakin banyak negara menyusul langkah bank sentral Amerika Serikat meningkatkan suku bunga. "Efek resesi ini berdampak negatif terhadap harga komoditas energi karena mengarah pada pelemahan permintaan," jelas dia. Memasuki kuartal III-2022, Yoga melihat tren bearish harga komoditas energi masih akan berlanjut. Kekhawatiran terjadinya resesi ekonomi global hingga melonjaknya kasus Covid-19 di China menjadi katalis yang bisa menekan permintaan.

PEMBATASAN PENYALURAN BBM BERSUBSIDI : KONSUMSI BAKAL TETAP TINGGI

07 Jul 2022

Konsumsi bahan bakar minyak atau BBM bersubsidi diprediksi tetap akan tinggi dan melampaui kuota yang telah ditentukan, meski pemerintah melakukan sejumlah pembatasan. PT Pertamina (Persero) memproyeksikan akan tetap terjadi over kuota untuk konsumsi Pertalite dan Solar tahun ini, meski pemerintah melakukan pembatasan mulai Agustus 2022.Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan bahwa pihaknya mencatat adanya potensi kerugian dari over kuota penyaluran BBM bersubsidi jenis Pertalite dan Solar hingga Rp39,18 triliun pada akhir 2022.Sekalipun pemerintah berencana untuk membatasi pembelian BBM bersubsidi pada 1 Agustus 2022 mendatang, Pertamina memproyeksikan konsumsi masyarakat bakal tetap mengalami kelebihan hingga 5,11 juta kiloliter (KL) pada akhir tahun nanti. “Kita prediksikan kalau trennya seperti saat ini, maka untuk Pertalite akan meningkat melebihi kuotanya pada 2022 sebesar 23,05 juta KL. Dengan tren hari ini, maka akan meningkat menjadi 28,5 juta KL,” kata Nicke saat rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (6/7).

Sementara itu, Pertamina memproyeksikan tingkat konsumsi masyarakat untuk kedua jenis BBM murah itu masing-masing mencapai 28,50 juta KL dan 17,21 juta KL hingga akhir 2022.Rencana pembatasan pembelian JBKP Pertalite dan JBT Solar juga dipastikan hanya mengurangi potensi kelebihan konsumsi atau over kuota yang relatif kecil dari alokasi kuota yang sudah ditetapkan pada awal tahun. “Asumsi kita [pembatasan] dilakukan 1 Agustus 2022 kalau regulasi sudah keluar, maka ini dapat menurunkan 26,7 KL, tapi tetap [konsumsi] lebih tinggi dibandingkan dengan prognosa. Masih ada peningkatan 16%, demikian juga dengan solar,” tuturnya.