G20 Suarakan Pelonggaran Restriksi Ekspor Pangan
Ketahanan pangan global sedang terganggu di tengah krisis rantai pasok, ketegangan geopolitik, dan menguatnya tren proteksi pangan. Pertemuan Kedua Tingkat Sherpa G20 menyuarakan perlunya pelonggaran restriksi ekspor serta mendorong perdagangan pangan yang transparan dan dapat diprediksi demi mencegah krisis pangan berkelanjutan. Per Juni 2022, berdasarkan data Food and Fertilizer Export Restrictions Tracker, ada 20 negara yang masih aktif membatasi ekspor komoditas pangan, lima negara menerapkan perizinan khusus ekspor, dan tiga negara menaikkan pajak atau pungutan ekspor.
Dalam hari pertama Pertemuan Kedua Tingkat Sherpa G20 (The 2nd G20 Sherpa Meeting), Minggu (10/7) di Labuan Bajo, NTT, persoalan krisis pangan yang kini melanda banyak negara pun menjadi salah satu isu yang mengemuka saat membahas kemajuan pembahasan Kelompok Kerja Agrikultur (Agriculture Working Group). Ketua Kelompok Kerja Agrikultur Kasdi Subagyono mengatakan, “Indonesia mengharapkan perdagangan yang bisa diprediksi dan transparan. Banyak yang menyuarakan agar “blokir” atau restriksi pangan tidak perlu dilakukan, terutama ke negara berkembang yang daya tahan pangannya masih lemah, mereka justru harus didukung,” kata Kasdi, yang juga menjabat Sekjen Kementan. (Yoga)
Postingan Terkait
Politik Pangan Indonesia Picu Optimisme
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023