;
Kategori

Lingkungan Hidup

( 5820 )

Era Harga Tinggi Komoditas Global Diprediksi Berakhir

26 Jul 2022

Era harga tinggi sebagian besar komoditas global diperkirakan berakhir. Tren penurunan harga sedang terjadi. Ke depan, harga keseimbangan baru yang lebih tinggi dibandingkan periode sebelum pandemi Covid-19 akan terbentuk. Oleh karena itu, pemerintah dan pelaku usaha terkait mulai mempersiapkan diri mengatasi dampak penurunan harga komoditas. Ke depan, pendapatan negara dan perusahaan diperkirakan berkurang karena fase ”durian runtuh” telah lewat. Di sektor energi, harga minyak mentah sudah mulai terkoreksi, sedang harga batubara dan gas alam masih tinggi. Di sektor pangan, mayoritas harga komoditas, terutama CPO, gula, kedelai, dan gandum, terkoreksi cukup signifikan.

Berdasarkan data Trading Economics, Senin (25/7) harga minyak mentah West Texas Intermediate 94,96 USD per barel, turun 10,89 % secara bulanan dan naik 31,89 % secara tahunan. Harga batubara 409,2 USD per ton, naik 3,59 % secara bulanan dan gas alam 8,35 USD per million metric British thermal units (MMBTU), naik 28,49 & secara bulanan. Harga CPO 3.720 ringgit Malaysia per ton, turun 24,62 % secara bulanan dan15,35 % secara tahunan.. Harga kedelai 14,45 USD per gantang, turun 5,4 % secara bulanan, gandum 7,85 USD per gantang, turun 14,36 % secara bulanan.

”Tren koreksi penurunan harga sebagian besar komoditas global tengah terjadi. Kendati masih bergejolak, harganya diperkirakan turun dan mencapai titik keseimbangan baru pada 2023. Harga keseimbangan yang terbentuk itu masih lebih tinggi daripada harga pada 2019 atau periode sebelum pandemi Covid-19,” kata Head of Industry and Regional Research PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Dendi Ramdani, Senin.(25/7). Tim ekonom Bank Mandiri memperkirakan rata-rata harga minyak mentah pada 2023 sebesar 98 USD per barel, batubara 168,8 USD per ton, dan CPO 939,3 USD per ton. (Yoga)


Cabai Rawit di Papua Capai Rp 90.000 Per Kg

26 Jul 2022

Meski turun dari bulan sebelumnya, harga cabai rawit di Papua masih tinggi, mencapai Rp 90.000 per kg. Normalnya, harga cabai rawit Rp 50.000 per kg. Pada Mei-Juni, harga cabai rawit tembus Rp 110.000 per kg. ”Produksi daerah sentra tidak terlalu optimal karena curah hujan yang tinggi,” kata Kabid Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Papua Luna Daimboa, Senin  (25/7). Harga bawang merah juga cukup tinggi, Rp 75.000 per kg. Normalnya, harga bawang merah berkisar Rp 35.000 per kg. ”Kami berharap pemerintah bisa mendorong penurunan harga,” kata Marthen Tangalele, pedagang di Yalimo. (Yoga)

Khawatir Bunga Naik, Harga Minyak Turun

26 Jul 2022

Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) kembali bergerak di bawah US$ 100 per barel. Kenaikan suku bunga AS diperkirakan akan melemahkan permintaan bahan bakar. Senin (25/7), per pukul 16.22 WIB, harga minyak mentah jenis WTI kontrak pengiriman September 2022 naik 0,9% dari hari sebelumnya ke US$ 95,55 per barel. Pada akhir pekan lalu, harga minyak WTI ditutup di US$ 94,70 per barel. Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin mengatakan, pemulihan ekonomi China melambat dan membebani sentimen pasar. "US$ 90 per barel menjadi area penting karena bisa mengantarkan harga minyak jatuh ke US$ 85 per barel," prediksi Nanang. Namun dengan ekspektasi pelemahan dollar AS, maka harga minyak bisa kembali ke atas US$ 100. Menurut Nanang, dengan penurunan harga minyak, maka harga komoditas energi lainnya, seperti gas alam dan batubara, juga akan turun. Saat ini harga gas alam tengah menguat, sementara Rusia akan mengurangi pasokan.

Pendaftar Subsidi BBM Melonjak

25 Jul 2022

Sekretaris Perusahaan PT Pertamina Patra Niaga Irto Ginting, Minggu (24/7) mengatakan, hingga kini proses pendaftaran penerima BBM bersubsidi masih berlangsung, baik melalui gerai pendaftaran di SPBU/lokasi yang ditentukan, laman subsiditepat.mypertamina.id, maupun aplikasi MyPertamina. Hingga Sabtu (23/7), kendaraan yang telah didaftarkan lebih dari 220.000 unit. ”Dari total yang terdaftar, 80 % kendaraan yang didaftarkan adalah jenis kendaraan yang mengonsumsi pertalite,” ujar Irto. (Yoga)

Rusia-Ukraina Buka Ekspor Gandum

23 Jul 2022

Rusia dan Ukraina dikabarkan sepakat untuk membuka kembali pelabuhan di Laut Hitam agar produk biji-bijian, terutama gandum, bisa dilepas ke pasar internasional. Kesepakatan ini diharapkan akan membuat harga pangan dunia turun dan berdampak pada menurunnya angka inflasi global. Kantor berita Rusia, TASS, Jumat (22/7) mengonfirmasi bahwa Rusia, diwakili Menhan Sergei Shoigu, menandatangani perjanjian itu. Sementara Ukraina diwakili Menteri Infrastruktur Oleksandr Kubrakov. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Sekjen PBB Antonio Guterres hadir di acara penandatanganan perjanjian di Istana Dolmabahce, Istanbul, Jumat siang.

Menurut sumber TASS di Ankara, dokumen proposal Rusia, yang berjudul ”Inisiatif Laut Hitam”, mengusulkan pembentukan lembaga koordinasi di bawah PBB untuk mengatur proses masuk dan keluar kapal pengangkut gandum dari pelabuhan Ukraina. Selain itu, dokumen juga menyebutkan, lembaga koordinasi itu akan mengawasi pembersihan ranjau di pelabuhan-pelabuhan yang disepakati dan memastikan keamanan rute ekspor. Perjanjian ini akan berlaku selama 120 hari dan dapat diperpanjang secara otomatis tanpa negosiasi lebih lanjut. Para pejabat yang terlibat dalam negosiasi ini memandang waktu 120 hari cukup untuk mengeluarkan 25 juta ton gandum dan produk biji-bijian di berbagai wilayah Ukraina. (Yoga)


Orang Kaya Jangan Pakai BBM Subsidi

23 Jul 2022

Orang-orang kaya pemilik kendaraan mewah diimbau jangan memakai BBM subsidi. Karena itu, pemerintah diminta segera menerapkan kebijakan pembatasan pemakaian BBM subsidi jenis Pertalite dan solar agar tepat sasaran dan menjaga kuotanya tidak cepat habis sebelum tahun 2022 berakhir. "Over qouta masih bisa ditekan bila pemerintah segera menetapkan jenis kendaraan yang berhak membeli Solar subsidi dan Pertalite," kata Direktur Utama PT Pertamina  (persero) Nicke Widyawati  dalam rapat dengar dengan Komisi VI DPR, belum lama ini. Pembatasan jenis kendaraan yang berhak menggunakan Solar subsidi dan Pertalite akan diatur dalam revisi Peraturan  Presiden No. 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran BBM. Nanti platform MyPertamina menjadi instrumen penyaluran BBM Solar subsidi dan Pertalite tepat sasaran. (Yetede)

MyPertamina, Demi Penyaluran BBM Bersubsidi Tepat Sasaran

23 Jul 2022

Seiring dengan volume produk bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang meningkat, PT Pertamina (persero) melaksanakan berbagai upaya  untuk menjaga agar besaran  kuota penyaluran yang telah ditetapkan  Pemerintah tidak terlampaui. Upaya ini salah satunya dilakukan melalui optimalisasi digitalisasi SPBU yakni menggunakan sistem pendaftaran pengguna BBM jenis BBM tertentu dan jenis BBM Khusus Penugasan (JBT-JBKP), melalui platform MyPertamina. Melalui aplikasi ini, segmen pengguna diharapkan dapat dimonitor dengan baik dan penyaluran kedua jenis BBM  tersebut menjadi lebih tetap sasaran. Aplikasi ini juga digunakan juga untuk menyalurkan LPG bersubsidi kemasan 3 kg. Layaknya sebuah proyek baru, hal ini tentu saja menimbulkan pro-kontra di masyarakat. Saat ini, sekitar 85% SPBU di seluruh Indonesia telah tersedia dan terkoneksi dengan MyPertamina. Dari sisi pengguna, MyPertamina telah diunduh sebanyak 23 juta dan pengguna aktifnya mencapai 2,5 juta user per bulan. (Yetede)

Perum Bulog Genjot Pemasaran Pangan Daring

23 Jul 2022

Perum bulog meningkatkan pemasaran  dan memperluas jangkauan produk pangan komersial ke setiap lapisan masyarakat  dengan memanfaatkan pasar daring  melalui platform iPanganDotCom. Secara nasional, omzet Bulog dari penjualan pangan daring tersebut mencapai Rp 700 juta setiap bulan atau Rp 8 miliar setiap tahun dan komoditas beras adalah produk yang paling banyak pembelinya. "Platform ini merupakan bentuk respons kami terhadap perkembangan pasar karena pasar sekarang tidak hanya fisik tapi juga e-commerce," kata Awaludin di Gedung Bulog Tambak Aji, Semarang. Bulog memproduksi aneka produk berkualitas unggul dan premium demi merebut pangsa pasar, salah satunya beras dengan berbagai merek. Dan sebagai salah satu komoditas pangan yang juga mempengaruhi inflasi, Presiden mengarahkan agar mempersiapkan kebutuhan gula nasional dengan baik, yakni bertahap mengurangi impor  dan mencapai swasembada gula dalam lima tahun. (Yetede)

Inaplas Optimistis Industri Plastik Bisa Tumbuh 5,2% Tahun Ini

22 Jul 2022

Asosiasi Industri Olefin Aromatik Plastik Indonesia (Inaplas) optimis pertumbuhan industri plastik bisa mencapai 5,2% pada tahun ini, naik dibandingkan tahun lalu yang mencapai 3,70%. Pertumbuhan ekonomi  Indonesia sebesar 5,01% dan diiringi dengan  meningkatnya utilitas baik di hulu dan hilir industri plastik, menjadi landasan optimisme itu. Sekjen Insplas Fajar Budiono menerangkan utilitas industri plastik di sektor hulu sebesar 80-85%. Peningkatan utilitas di hulu dikarenakan  produsen Propylen PT Pertamina (persero) Refinery Unit (RU) VI Balongan selesai maintenance shutdown pada April 2022. Sementara untuk hilir, terang dia, disebabkan pandemi Covid yang mulai ke arah normal. Meskipun minggu-minggu ini DKI kembali ke level 3, tetapi setelah dilihat dengan kasus harian yang di 5 ribu dampaknya tidak separah waktu Covid varian delta maupun varian yang lain. Dia berharap semua masih taat pada protokol kesehatan, sehingga diharapkan pada Agustus kasusnya sudah mulai turun dan bisa kembali ke normal. (Yetede)

Bulog Optimistis Kuasai Pasar Beras Nasional

22 Jul 2022

Perum  Bulog optimistis mampu menguasai pasar beras nasional melalui pembangunan infrastruktur pengolahan beras modern (modern rice milling plant/MRMP) di berbagai daerah sentra produksi padi Indonesia. Saat ini, Bulog telah membangun 10 unit MRMP dan siap menambah  tiga unit lagi. "Bulog akan menjadi king of rice atau raja perberasan nasional. Kami sedang fokus terhadap infrastruktur penggilingan dan pengolahan gabah beras. Sekarang sudah dibangun sebanyak 10 unit, kemudian nanti akan ditambah tiga unit lagi," ujar Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso saat mengunjungi MRMP. Saat ini, lokasi MRMP berlokasi di Kendal dan Sragen di Jawa Tengah, lalu Bojonegoro, Magetan, Jember, dan Banyuwangi di Jawa Timur, kemudian Subang dan Karawang di Jawa Barat, serta Bandar Lampung di Lampung, juga Sumbawa di NTB. Sementara itu, tiga tambahan MRMP yang akan dibangun selanjutnya terketak di Dompu di NTB dan dua unit lainnya di Sulawesi Selatan yang akan memasuki studi kelayakan. (Yetede)