;
Kategori

Lingkungan Hidup

( 5781 )

Kenaikan Diyakini dalam Batas Wajar

11 Aug 2022

Kenaikan harga produk mi instan memang akan terjadi sebagai imbas dari kenaikan harga bahan baku yang selama ini masih ditahan di tingkat produsen. Kendati demikian, kenaikannya diyakini tetap dalam batas wajar. Kabar kenaikan harga mi instan awalnya disampaikan Mentan Syahrul Yasin Limpo pada webinar, Senin (8/8). Saat itu, Syahrul mengatakan, harga mi instan bakal naik tiga kali lipat dalam waktu dekat lantaran harga gandum dunia sedang naik terimbas dampak perang Rusia-Ukraina.

Menurut data Kemenperin, harga mi instan kuah di tingkat konsumen telah mengalami kenaikan sebanyak dua kali pada rentang waktu 2019 hingga Mei 2022. Pada 2019, harga mi instan kuah Rp 2.500 per kemasan, meningkat menjadi Rp 2.750 pada 2021, dan menjadi Rp 3.000 per Mei 2022. Adapun harga produk mi instan kuah dari beragam merek di sejumlah warung dan gerai minimarket di Jakarta per Rabu (10/8) belum banyak berubah, yaitu masih di kisaran Rp 2.800-Rp 3.100 per kemasan.

Menanggapi hal itu, Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk Franciscus Welirang menilai, pernyataan Mentan bahwa harga mi instan naik hingga tiga kali lipat berlebihan. Menurut dia, kenaikan harga mi instan merupakan konsekuensi dari harga bahan baku gandum dan tepung terigu yang juga sedang mengalami kenaikan di tingkat internasional. ”Industri tepung terigu tidak mengambil kesempatan apa pun dari kenaikan harga gandum yang terjadi. Mereka hanya mem-pass over (meneruskan) kenaikan harga input yang sudah terjadi sejak 2021. Jadi, (kenaikannya)tidak berlebihan, normatif saja,” kata Franciscus (10/8). (Yoga)


Antisipasi Kenaikan Harga Bahan Pangan

11 Aug 2022

Gubernur BI mengajak seluruh kementerian dan lembaga serta pemda bersinergi mengendalikan inflasi pangan. Selain beberapa komoditas produksi dalam negeri, sejumlah bahan pangan rentan terdampak oleh kenaikan harga di pasar global. Pengendalian inflasi pangan dinilai krusial karena berdampak luas dan menyangkut hajat hidup orang banyak. Hal tersebut mengemuka dalam peluncuran Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan secara hibrida di Malang, Jatim, Rabu (10/8). Perry menjelaskan, belanja pangan masyarakat ekonomi rendah bisa mencakup 50-60 % total bobot pengeluaran.

Mengingat bobotnya yang besar, kenaikan harga pangan akan berdampak besar bagi masyarakat. Oleh karena itu, Perry mengajak pemda untuk bersama-sama mengendalikan inflasi pangan hingga 5 % atau paling tidak 6 %. Berbagai upaya, lanjut Perry, bisa dilakukan pemda untuk mengendalikan inflasi, diantaranya dengan memperbanyak operasi pasar untuk menjaga stabilitas harga. Peran pemda bersama tim pengendali inflasi daerah (TPID) penting guna menjamin inflasi tetap terkendali. (Yoga)


ANCAMAN KRISIS : RI Pacu Diversifikasi Pangan

10 Aug 2022

Kementerian Pertanian mendorong diversifikasi pangan masyarakat untuk mengantisipasi ancaman krisis pangan sebagai imbas penyusutan lahan pertanian serta pertambahan jumlah penduduk. Direktur Serelia Ditjen Tanaman Pangan Kementan Moh. Ismail Wahab mengatakan Indonesia butuh penambahan 800.000 ton beras untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya seiring dengan bertambahnya penduduk. Sebaliknya, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) mencatat lahan pertanian menyusut menjadi 7,45 juta hektare pada 2019 dari sebelumnya mencapai 7,75 juta hektare pada 2013. Saat ini, pemerintah mengin­­ten­sifkan varietas padi yang mampu meningkatkan produksi. Saat ini, Kementan sudah mengubah sebesar 67,64% varietas padi lama. Yang baru, kata Ismail, seperti varietas inpari 32 dan 42 sudah mengalahkan varietas ciherang yang dulu tinggi produktivitasnya.


Identifikasi Risiko pada Ketahanan Pangan

09 Aug 2022

Perubahan iklim berdampak dan menjadi ancaman bagi sejumlah sektor, termasuk ketahanan pangan di Indonesia. Oleh karena itu, risiko dan dampak perubahan iklim perlu diidentifikasi secara menyeluruh sehingga proses adaptasi dan mitigasi dapat dilakukan dengan komprehensif. Hal itu disampaikan Presiden Jokowi melalui video sambutan dalam acara rapat koordinasi nasional BMKG dengan tema ”Peran Info BMKG dalam Mendukung Ketahanan dan Kedaulatan Pangan Nasional”, secara daring, Senin (8/8).

Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menyebutkan, lebih dari 500 juta petani usaha kecil yang  memproduksi 80 % sumber pangan dunia merupakan kelompok paling rentan terhadap perubahan iklim. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga memprediksi akan ada 13 juta orang kelaparan akibat terhambatnya rantai pasok dunia karena perang Ukraina-Rusia. ”Hati-hati, ini persoalan yang sangat serius, perlu penanganan yang komprehensif, perlu antisipasi sedini mungkin, secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya. Dampak perubahan iklim ini sangat serius,” ujar Presiden. (Yoga)


Perlu sharing the Pain Untuk Menjaga Keterdesediaan Energi

09 Aug 2022

Pemerintah, PT Pertamina (Persero), dan masyarakat perlu berbagi beban (sharing the pain) agar lonjakan harga minyak yang terjadi saat ini tidak mengganggu APBN, tidak membebani keuangan Pertamina, tidak memicu inflasi, serta tidak menekan daya beli dan menggerus pertumbuhan ekonomi. Di sisi pemerintah, sharing the pain dapat dilakukan antara lain dengan membayar subsidi BBM, kompensasi BBM, dan subsidi LPG kepada Pertamina secara tepat waktu agar BUMN itu mampu menjaga kesinambungan produksi dan distribusinya kepada masyarakat di seluruh pelosok Tanah Air. Pemerintah juga mesti berkomitmen untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi (Pertalite dan solar subsidi) serta LPG subsidi  ukuran 3 kg) meski harga riilnya melambung. Hal itu terungkap dalam wawancara Investor Daily dengan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, Ketua Komisi VII DPR Sugeng Supar woto, Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Saleh Abdurrahman, serta Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad. Mereka dihubungi secara terpisah di Jakarta dan Pekanbaru, Riau, Senin (8/8). (Yetede)

Antam Bangun Kawasan Industri Bahan Baku Baterai EV

09 Aug 2022

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menggandeng produsen prekursor terbesar di dunia asal Tiongkok, CNGR, untuk membangun kawasan industri yang menghasilkan produk hilir nikel sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Kerja sama ini akan mengadopsi teknologi terbaru pembangunan lini produksi nikel yang berkomitmen pada pengurangan karbon dan green development. “Terkait proyek hilirisasi nikel, Antam saat ini fokus mengembangkan bisnis EV battery ecosystem. Kami sangat mengapresiasi niat CNGR untuk bekerja sama dalam pengembangan fasilitas produksi hilir nikel. Kami memahami, CNGR merupakan mitra strategis yang potensial bagi Antam, karena memiliki pengalaman teknologi canggih dalam pengolahan nikel dan memiliki kinerja bisnis perusahaan yang baik,” kata Direktur Utama Antam Nico Kanter dalam keterangan resminya, Senin (8/8/2022)

Asaki dan AKLP Sampaikan Permasalahan Gas hingga ODOL ke Menperin

09 Aug 2022

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita melakukan pertemuan dengan asosiasi-asosiasi industri pada Kamis (4/8/2022) lalu. Pertemuan ini untuk membahas gejolak ekonomi global dan antisipasi sektor industri dalam menghadapi kondisi tersebut. Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) dan Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) yang termasuk asosiasi yang diundang langsung menyampaikan keluh kesah yang mereka alami. Kedua Asosiasi tersebut menyampaikan permasalahan gangguan pasokan gas hingga meminta pemerintah mengkaji ulang rencana penerapan Over Dimension dan Overloading atau ODOL pada tahun ini. “Selama ini pemenuhan gas hanya berkisar 60% dari kebutuhan. Hal tersebut tentu sangat membebani biaya produksi dan daya saing industri keramik Jawa Timur, di mana rata-rata pembelian harga gas berada di atas
US$ 7,5/mmbtu,” kata Edy kepada Investor Daily, Jakarta, belum lama ini. (Yetede)

Harga Minyak Tetap di Kisaran Terendah dalam Beberapa Bulan

09 Aug 2022

Harga minyak mentah dunia bertahan di kisaran terendah dalam beberapa bulan pada awal perdagangan pekan ini. Pasar komoditas ini tetap diliputi kekhawatiran akan melemahnya permintaan, seiring meredupnya prospek pertumbuhan global, sekalipun ada beberapa data ekonomi yang positif dari Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Seperti dilaporkan Reuters pada Senin (8/8), harga kontrak minyak mentah Brent turun US$ 1,54 atau 1,6% ke level US$ 93,38 per barel. Sedangkan harga kontrak minyak mentah WTI berada di level US$ 87,63 per barel, yang menunjukkan penurunan US$ 1,38 atau 1,6%. Penurunan permintaan yang berdampak pada kemerosotan harga minyak mentah global disebabkan oleh kekhawatiran terjadinya resesi ekonomi global. Pekan lalu, harga Brent menyentuh level terendah sejak Februari 2022, setelah jatuh 13,7% dan mencatatkan penurunan mingguan terbesar sejak April 2020. Pada saat yang sama, harga minyak WTI anjlok 9,7%. (Yetede) 

Rencana Monopoli Perdagangan Karbon Tuai Protes

08 Aug 2022

Potensi pasar energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia semakin menjanjikan. Melihat peluang ini, Perusahaan Listrik Negara (PLN) akan menguasai hak atas sertifikat EBT. Kosekuensinya, boleh dibilang hanya PLN pula yang bisa melakukan perdagangan karbon (carbon trading). Sebagai catatan, awal Agustus 2022, PLN melayangkan surat kepada 20 produsen listrik independen atau independent power producer (IPP) operator EBT. Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Febby Tumiwa menegaskan, hingga kini belum ada aturan resmi terkait REC. "Saat ini REC dimonopoli PLN dengan klaim menggunakan standar International," ungkap dia.

Pasokan Berlebih dan Potensi Resesi, Harga Minyak Anjlok

08 Aug 2022

Harga minyak dunia dalam sepekan menurun. Pasokan yang berlebih saat permintaan belum kembali naik membuat harga minyak dalam tren turun. Harga minyak WTI kontrak pengiriman September 2022 turun 9,74% dalam seminggu menjadi US$ 89,01 per barel. Sementara minyak jenis brent kontrak kontrak pengiriman Oktober 2022 turun 8,7% ke US$ 94,92 per barel. Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin mengatakan, harga minyak mencatat penurunan mingguan terbesar di awal perdagangan Agustus ini karena meningkatnya kecemasan pelaku pasar terhadap perlambatan ekonomi global. Efeknya, permintaan akan minyak menurun. Nanang mencermati, harga minyak anjlok ke level terendah dalam enam bulan.