Lingkungan Hidup
( 5781 )Ekspor Kelapa Bulat malah Akan Menguntungkan Negara Lain
Pada 2024, produksi kelapa di empat negara produsen kelapa terbesar dunia, yakni Indonesia, Filipina, India, dan Sri Lanka, turun akibat dampak ElNino yang terjadi pada semester II-2023 hingga triwulan I-2024. Kelangkaan bahan baku kelapa industri pengolahan kelapa belum terpecahkan. Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia atau HIPKI khawatir ekspor kelapa bulat justru akan menguntungkan negara-negara lain. Hal itu mengingat produksi kelapa di sejumlah negara penghasil utama kelapa, termasuk Indonesia, turun. Di sisi lain, dalam dua bulan terakhir ini, ekspor kelapa bulat atau butiran Indonesia ke sejumlah negara meningkat. Ketua Bidang Industri Aneka Produk Kelapa HIPKI, Dippos Naloanro Simanjuntak, Jumat (21/3) mengatakan, hingga kini belum ada solusi terhadap kelangkaan bahan baku kelapa untuk industri.
Ekspor kelapa bulat masih terus berjalan kendati HIPKI telah meminta penghentian ekspor sementara selama enam bulan. Padahal, produksi kelapa di Indonesia pada 2024 turun. Produksi kelapa di negara-negara produsen kelapa terbesar dunia lainnya juga anjlok. India dan Sri Lanka bahkan dikabarkan telah membuka keran impor kelapa dari Indonesia. Pada 2023, kedua negara tersebut merupakan penghasil kelapa terbesar ketiga dan keenam dunia. ”Kami khawatir ekspor kelapa bulat justru akan menguntungkan industri kelapa negara-negara lain. Sementara industri dalam negeri justru mengurangi kapasitas produksi, bahkan tutup,” ujarnya. Kementan mencatat produksi kelapa pada 2024 turun 0,5 % secara tahunan atau sebanyak 70,55 juta butir menjadi 14,11 miliar butir. (Yoga)
Pengusaha Tambang Mendesak Pemerintah Tunda Revisi Aturan Royalti
Pengusaha tambang mineral dan batubara
meminta pemerintah menunda rencana kenaikan tarif royalty yang diatur dalam
peraturan pemerintah. Rencana penyesuaian tarif dinilai akan semakin membebani
industri yang kini tengah dihajar penurunan harga komoditas dan pungutan biaya
lain dari negara. Direktur Eksekutif Indonesia Mining Association (IMA) Hendra
Sinadia mengatakan, meski mereka dilibatkan pada proses pembahasan revisi,
kesempatan yang diberikan sangat terbatas. Contohnya, dalam konsultasi publik
yang diselenggarakan awal Maret, pelaku usaha hanya diundang ke pertemuan
daring selama 1,5 jam dengan peserta ratusan orang. ”Ini sama sekali tidak
memadai. Harusnya diskusinya lebih intens karena dampaknya sangat signifikan,”
ujarnya, Jumat (21/3).
Selain IMA, banyak asosiasi juga menolak
substansi revisi PP yang dianggap memberatkan, terutama terkait perubahan tarif
produksi dari sistem tunggal menjadi progresif, dengan kenaikan persentase pada
produk batubara dan mineral, seperti nikel, tembaga, emas, dan timah. Komoditas
bijih nikel, misalnya, yang sebelumnya berlaku tarif tunggal 10 % menjadi tarif
progresif 14-19 %, menyesuaikan harga mineral acuan (HMA). Sementara pada
feronikel, dari tarif tunggal 2 % diusulkan menjadi tarif progresif 5-7 %,
menyesuaikan HMA. Untuk komoditas batubara, tarif yang berlaku saat ini
bersifat progresif dan menyesuaikan harga batubara acuan (HBA) dengan tarif
PNBP untuk izin usaha pertambangan khusus (IUPK) berkisar 14-28 %.
Dalam usulan revisi, tarif royalti
akan naik 1 % untuk HBA yang lebih besar atau sama dengan 90 USD per ton,
hingga mencapai tarif maksimum 13,5 %. Dampak perubahan tarif tersebut, akan meluas
dari hulu ke hilir. Beban royalti akan menghambat investasi untuk eksplorasi
yang penting untuk mendukung ketersediaan pasokan dalam jangka panjang.
Operasional perusahaan juga berpotensi terdampak karena beban perusahaan
semakin bertambah. Sementara, industri mineral dan batubara sudah dibebani
biaya lain dari pemerintah. Sejak Januari 2025, mereka terdampak kenaikan biaya
energi karena penggunaan Biosolar B40, aturan devisa hasil ekspor 100 %,
kenaikan PPN 12 %, hingga upah minimum provinsi yang naik ke 6,5 %. ”Jadi,
sebaiknya pemerintah menunda revisi tersebut dan mengkaji kembali dengan mengajak
pelaku usaha untuk berdiskusi secara komprehensif,” kata Hendra. (Yoga)
RI Bersiap Jadi Pemain Utama Industri Nikel Dunia
Indonesia memiliki potensi besar sebagai produsen nikel global, dengan cadangan nikel yang mencapai 72 juta ton atau 52% dari total cadangan nikel dunia. Nikel memiliki peran penting dalam industri baja tahan karat (stainless steel) dan pembuatan baterai, terutama untuk mobil listrik dan perangkat elektronik. Permintaan global terhadap nikel diperkirakan akan terus meningkat, terutama untuk memenuhi kebutuhan industri baterai yang mencapai sekitar 600.000 ton per tahun.
Untuk mengoptimalkan potensi cadangan nikel tersebut, kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan pihak asing sangat diperlukan. Eramet, salah satu entitas bisnis global, telah memulai kolaborasi dengan Indonesia sejak 2006, dengan tetap mematuhi standar global dalam hal tanggung jawab lingkungan, sosial, dan tata kelola. Praktik bisnis yang mengarah pada "smart mining" dan keberlanjutan (sustainability) serta pengelolaan emisi karbon menjadi bagian penting dalam operasional mereka.
Selain itu, potensi cadangan nikel yang belum dieksplorasi di daerah seperti Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, dan Papua perlu dikelola dengan hati-hati dan melibatkan studi yang kredibel dari berbagai lembaga, termasuk institusi pendidikan dan penelitian. Dengan kesadaran akan tanggung jawab lingkungan dan sosial serta kolaborasi yang tepat, Indonesia dapat menjadi pemimpin pasar global dalam industri nikel. Pemerintah, dalam hal ini, memiliki peran kunci dalam menciptakan kebijakan yang mendukung pertumbuhan industri nikel secara berkelanjutan.
Bulog Wajib Penuhi Target Serapan Beras
Menko Pangan, Zulkifli Hasan mengingatkan Perum Bulog untuk memenuhi target penyerapan 2 juta ton beras dalam negeri hingga April 2025 guna menjaga stabilitas pasokan dan harga di Indonesia. Maret tinggal 10 hari, sehingga setidaknya penyerapan beras hingga akhir bulan ini harus 750-800 ribu ton. Bila serapan beras petani oleh Bulog hingga April tembus 1-2 juta ton, tidak perlu lagi impor.
"Target Bulog harus serap beras sampai akhir April kira-kira 2 juta ton, sekarang baru 450 (ribu ton). Ini sudah 20 Maret. 10 hari lagi Maret selesai. Maret ini kalau tidak dapat 700-800 ribu (ton), awas hati-hati. Maret ini harus 750-800 ribu (ton). Baru April bisa mengejar," kata Menko Pangan usai meninjau Gerakan Pangan Murah (GPM) Serentak di Kantor Kecamatan Mijen, Semarang, Jateng, Kamis (20/03/2025).
Menko Pangan juga mengingatkan, pemerintah telah menetapkan harga gabah kering panen (GKP) yang harus diterima Bulog Rp 6.500 per kg guna mendukung petani dan menjaga keseimbangan pasar beras di dalam negeri. "Kalau ada yang beli di bawah Rp 6.500 per kg bisa dipenalti. Jadi, rata-rata Rp 6.500 per kg, sehingga kami harap petani-petani kita bisa lebih makmur dan sejahtera," kata dia. Alhamdulillah, harga beras kita stabil," ujar dia. (Yetede)
Bermimpi Punya Lahan Pertanian Abadi
Indonesia tengah berupaya memperluas
lahan pertanian pangan berkelanjutan yang tidak boleh dialih fungsikan. Namun,
lebih dari 60 % luas lahan pertanian tengah ”sakit”. Regulasi terkait lahan itu
pun tak benar-benar mampu melindungi keabadiannya, seakan hanya mimpi, Pada 18
Maret 2025, pemerintah memutuskan 87 % lahan baku sawah (LBS) di Indonesia
menjadi lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) yang tidak boleh dialih
fungsikan. Hal itu merupakan salah satu keputusan rakor Kemenko Bidang Pangan
berdasarkan usulan Bappenas.
BPS serta Kementerian ATR/BPN menunjukkan,
luas LBS yang pernah mencapai 8,1 juta-8,2 juta hektar pada 2015-2017 justru
susut menjadi 7,1 juta hektar pada 2018. Kemudian, pada 2019, luas LBS itu
sedikit bertambah menjadi 7,46 juta hektar. Namun, pada 2024, luas lahan yang
dijadikan dasar kerangka sampel area padi tersebut justru berkurang menjadi
7,38 juta hektar. Dengan luasan LBS itu dan kebijakan 87 % LBS menjadi LP2B, Indonesia
bakal memiliki 6,42 juta hektar LP2B ke depan. Mimpi memiliki LP2B yang benar-benar
abadi dan berkelanjutan itu bisa tercapai, asal ada kemauan politik yang kuat
untuk menyejahterakan bangsa dengan ketahanan pangan. (Yoga)
Alarm Darurat dari Pariwisata di Danau Toba
Banjir bandang merusak jantung
pariwisata Danau Toba di Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumut. Sudah lima hari
aktivitas pariwisata lumpuh. Bencana ekologis itu disebabkan kerusakan hutan di
hulu Danau Toba. Banjir bandang menghantam destinasi wisata, hotel, restoran,
rumah sakit, permukiman warga, dan sempat membuat jalan nasional lumpuh total.
Hingga Kamis (20/3) kawasan pariwisata Parapat masih lumpuh. Rumah makan, restoran
dan hotel belum beoperasi. Masyarakat masih sibuk membersihkan material lumpur
di dalam rumah. Jaringan Advokasi Masyarakat Sipil Sumut (Jamsu) menelusuri
penyebab banjir bandang. Jamsu, antara lain, terdiri dari Kelompok Studi dan
Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM), Aliansi Masyarakat Adat Nusantara
(AMAN) Tano Batak, dan Auriga Nusantara.
”Hasil penelusuran kami, banjir
bandang disebabkan hilangnya 6.148 hektar hutan alam di hulu Parapat,” kata
Direktur Eksekutif KSPPM, Rocky Pasaribu. Banjir bandang dan longsor melanda
kawasan pariwisata Parapat, Minggu (16/3) malam. Rocky menyebut, banjir bandang
yang menghantam jantung pariwisata Danau Toba merupakan alarm darurat yang memperingatkan
kerusakan lingkungan hidup yang masif. Berdasarkan
analisis spasial dan penelitian di lapangan, kata Rocky, dalam kurun waktu 20
tahun terakhir terjadi pembukaan hutan yang signifikan di lima kecamatan
sekitar Parapat, yang merupakan lanskap Daerah Aliran Sungai (DAS) Bolon
Simalungun.
”Jika diakumulasi sejak 2000 hingga 2023,
kawasan ini telah kehilangan hutan alam seluas 6.148 hektar. Perubahan ini
sangat berpengaruh terhadap daya tampung air hujan dan stabilitas tanah yang
akhirnya menyebabkan bencana ekologis banjir bandang,” ungkap Rocky. Koordinator
Jamsu, Juniati Aritonang menyebut, pemerintah harus melakukan mitigasi bencana
ekologis dalam jangka pendek dan panjang. Hal yang mendesak dilakukan adalah evaluasi
tata ruang kawasan Danau Toba, terutama di wilayah rawan bencana. (Yoga)
Terancamnya Tanaman Pangan Global
Perubahan iklim dan kenaikan suhu bumi
memengaruhi berbagai aspek penting kehidupan, termasuk pangan. Hasil penelitian
terbaru menemukan, produksi tanaman pangan global berpotensi turun tajam jika suhu
bumi meningkat hingga lebih dari 1,5 derajat celsius. Perubahan iklim, terutama
fenomena El Nino, juga berdampak signifikan pada produksi beras di Indonesia.
Perubahan iklim menyebabkan kemunduran musim tanam, kekeringan, dan potensi
gagal panen. Sebagai negara yang masih mengandalkan beras sebagai makanan
pokok, kondisi ini akan mengancam ketahanan pangan di Indonesia.
Kondisi serupa tidak hanya dialami di
Indonesia, tetapi juga negara lain meskipun makanan pokok mereka bukanlah
beras. Sebab, dampak dari perubahan iklim dan kenaikan suhu juga mengancam
sejumlah tanaman pangan yang menjadi makanan pokok dari negara tersebut. Dalam
studi yang diterbitkan di jurnal Nature Food pada 4 Maret 2025 ini disebutkan,
setengah dari produksi tanaman di wilayah lintang rendah (dekat khatulistiwa /
beriklim tropis) akan terancam karena kondisi iklim yang berubah. wilayah itu
juga akan mengalami penurunan besar dalam keanekaragaman tanaman pangan.
Sara Heikonen, peneliti yang memimpin
studi itu, menyampaikan, hilangnya keanekaragaman membuat jenis tanaman pangan
yang dibudidayakan dapat berkurang secara signifikan di daerah tertentu.
Kondisi ini akan berdampak terhadap ketahanan pangan dan menyulitkan masyarakat
dalam memperoleh sumber kalori dan protein. Peneliti memetakan, pemanasan
global akan sangat mengurangi jumlah lahan pertanian global untuk tanaman pokok
seperti beras, jagung, gandum, kentang, dan kedelai. Lima tanaman itu menyumbang
lebih dari dua pertiga asupan energi pangan dunia. (Yoga)
Rekor Tertinggi Harga Emas
Industri Tambang Menantang, Royalti tetap Dikejar
Pemerintah menyasar tambahan
penerimaan negara melalui rencana peningkatan tarif royalti tambang mineral dan
batubara. Upaya tersebut dinilai mendadak dan waktunya tidak tepat. Para pelaku
usaha pertambangan ramai-ramai meminta pemerintah mengkaji ulang rencana
tersebut. Usulan penyesuaian tarif royalti muncul dari rencana revisi PP No 26
Tahun 2022 tentang Jenis dan Tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang
berlaku pada Kementerian ESDM. Selain itu, aturan dalam PP No 15/2022 tentang Perlakuan
Perpajakan dan/atau PNBP di Bidang Usaha Pertambangan Batubara juga diusulkan
direvisi. Pada komoditas bijih nikel, misalnya, berdasarkan usulan revisi, akan
berubah dari sebelumnya single tarif 10 % menjadi tarif progresif 14-19 %
menyesuaikan harga mineral acuan (HMA). Sementara pada feronikel, dari single tarif
2 % diusulkan menjadi tarif progresif 5-7 %, menyesuaikan HMA.
Pada komoditas batubara, tarif yang
berlaku saat ini ialah progresif menyesuaikan harga batubara acuan (HBA) tarif
PNBP Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) 14-28 %. Pada usulan revisi, terbagi
dua. Pertama, tariff royalti naik 1 % untuk HBA lebih besar atau sama dengan 90
USD per ton sampai tarif maksimum 13,5 %. Lalu, tarif IUPK 14-28 % dengan
perubahan rentang tarif (revisi PP No 15/2022). Usulan itu mendapat tentangan dari
para pelaku usaha pertambangan, termasuk dari nikel dan batubara. Selama ini,
pertambangan menjadi salah satu kontributor terbesar PNBP. Namun, kali ini
industri pertambangan relatif sedang menantang. Mulai dari harga komoditas yang
cenderung turun akibat kelebihan pasokan hingga kebijakan penahanan devisa
hasil ekspor (DHE) 100 % dengan jangka waktu minimal satu tahun. (Yoga)
Gabah Petani Untuk Semua Kualitas Wajib Diserap Bulog
Mentan, Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa Perum Bulog wajib aktif menyerap gabah petani dengan harga Rp 6.500 per kg untuk semua kualitas (any quality) atau tanpa kecuali. Bulog juga diminta terjun langsung menyerap gabah petani, bukan hanya menerima di gudang. “Semua sektor harus bergerak cepat, enggak ada alasan, Bulog wajib serap gabah any quality. Petani menunggu kepastian harga di sawah, Bulog malah menunggu di gudang, ini enggak bisa dibiarkan,” ungkap Mentan dalam keterangan yang. Selasa (18/03/2025).
Mentan menyampaikan itu usai mendengar keluhan petani di Kabupaten Tanah Laut yang mengutarakan Bulog di wilayah itu jarang turun kelapangan padahal mayoritas petani tengah memasuki musim panen. Mentan menegaskan, Kalsel, khususnya Tanah Laut, punya potensi pertanian sangat besar. Untuk itu, Mentan meminta jajaran TNI, Polri, dan pemda bersinergi menjaga dan mengembangkan sektor pertanian di wilayah itu. “Saya titip Pak Dandim, Pak Wakapolda, kita jaga bersama daerah ini. Potensinya luar biasa, jangan sampai ada yang main-main,” ujar dia. Mentan juga menekankan, bantuan pertanian harus diberikan ke daerah yang benar-benar serius memacu produksi pangan dan harus tepat sasaran. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









