Lingkungan Hidup
( 5820 )Pembentukan Koperasi Desa Merah Putih
Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia
Industrialisasi Nikel Krusial karena Bergantung Kebijakan Negara Lain
Penerapan tarif resiprokal AS bakal menekan negara-negara mitra dagangnya. Pada komoditas olahan nikel, Indonesia terdampak tidak langsung, menyusul ketergantungan pada pasar China. Penguatan industri hilir nikel di Indonesia pun semakin krusial. Indonesia dikenai tarif resiprokal 32 %. Sementara tarif resiprokal pada China 34 %. Sebelumnya, awal 2025 setelah Trump dilantik, AS menetapkan bea masuk 20 % pada barang-barang impor dari China. Apabila ditambah tarif resiprokal 34 %, pengenaan tarif bagi China menjadi 54 %. Kebijakan Trump dikhawatirkan memengaruhi dinamika perdagangan global. Head of Center of Macroeconomics and Finance pada Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman, Jumat (4/4), mengatakan, kebijakan tarif Trump berpotensi mengganggu keseimbangan perdagangan global, termasuk ekspor olahan nikel yang selama ini didominasi China.
Sebagai salah satu produsen nikel terbesar di dunia, Indonesia bergantung pada permintaan China, terutama dalam sektor stainless steel (baja nirkarat) serta baterai kendaraan listrik (EV). ”Jika tarif AS melemahkan perekonomian China, permintaan nikel Indonesia akan turun sehingga mengancam industri hilir yang masih berkembang,” kata Rizal. Kondisi tersebut tak hanya memperbesar ketergantungan Indonesia pada kebijakan negara lain. Namun, juga berisiko menghambat pertumbuhan industri strategis dalam negeri. Peneliti Alpha Research Database, Ferdy Hasiman, menyebutkan, terkait ekspor olahan nikel, memang Indonesia tak terdampak langsung kebijakan tarif Trump.
Namun, karena China menjadi pasar utama olahan nikel Indonesia, kita bisa jadi terdampak. Menurut Ferdy, Indonesia perlu mengantisipasi dengan strategi yang matang serta langkah konkret. ”Pasar utama hilirisasi nikel Indonesia, ya, China. Pembangunan smelter yang masif di Indonesia juga didominasi China. Potensi dampak (kebijakan Trump) perlu diantisipasi dengan keputusan-keputusan yang teknokratis,” tutur Ferdy. Penguatan industri domestik, termasuk peningkatan nilai tambah produk olahan nikel, sudah semestinya dipercepat, baik pada baja nirkarat maupun produk-produk lain. Di samping itu, hambatan birokratis menuju industrialisasi mesti diatasi. (Yoga)
12 Orang Meninggal Akibat Bentrokan di Puncak Jaya
Produksi Minyak Sawit RI Diprediksi Hanya Kisaran 44-47 Juta Ton
Investasi Emas Batangan
Emas menjadi salah satu pilihan
investasi yang evergreen, dari dulu hingga sekarang. Apalagi belakangan ketika
situasi perekonomian labil, nilai emas yang stabil naik semakin dilirik. Wajah
Abdul Rosad (34) dan istrinya Yenni Kristayanti (29) tampak semringah setelah
menyelesaikan transaksi pembelian emas di gerai PT Aneka Tambang Tbk (Antam),
Pondok Indah Mall (PIM) 1, Jaksel, Rabu (2/4).
Pasangan muda itu jadi bagian warga yang antre untuk membeli emas. Keduanya
mengantre hampir satu jam, tapi mereka puas karena akhirnya mendapatkan emas
dan menilai baik pelayanan petugas. Kedatangan mereka ke PIM, awalnya hanya sekadar
jalan-jalan dan mengisi waktu libur Lebaran. Saat turun dari lantai satu ke lantai
GF, Abdul dan Yenni melihat antrean pengunjung. Tanpa pikir panjang, Abdul dan
Yenni ikut mengantri.
”Ini pertama kali kami membeli
emas. Jadi, ini investasi emas pertama kami. Sebelumnya ada sih, tapi itu wujud
kayak perhiasan kalung dan gelang, tetapi itu bukan dari emas Antam,” kata
Yenni, yang menunjukkan enam keping emas yang masing-masing seberat satu gram.
Alasan membeli emas Antam karena melihat nilainya terus naik. Dengan demikian, instrument
itu akan menjadi investasi cerah dan menjanjikan untuk masa depan. Investasi
emas, menurut keduanya, juga akan sangat berguna untuk membiayai keperluan
mendesak di masa depan. Misalnya untuk keperluan persalinan dan biaya sekolah. Ronny
(58), pengunjung lainnya, juga menilai emas menjadi investasi menjanjikan untuk
masa depan. Ronny bersama istri dan anak perempuannya sengaja datang ke PIM 1
untuk membeli emas sembari menikmati masa libur Lebaran. (Yoga)
Susahnya Mencari Penjual Makanan Saat Musim Liburan
Bagus Gigih (30) memulai sifnya
Rabu (2/4) pagi sebagai tenaga pengamanan bank di kawasan Thamrin, Jakpus,
dengan perut keroncongan. Ia baru sampai dari kampung halamannya, Tegal, Jateng.
Syukurlah ada lapak gado-gado milik Isa (54), hanya beberapa langkah dari
kantor. Bagus pernah merasakan sulitnya mencari penjual makanan saat libur
Lebaran, waktu bertugas di luar Jakarta, tidak mudah menemukan penjual makanan
saat libur seperti sekarang. Mayoritas pedagang masih mudik sehingga dirinya
mesti berburu hingga ke ujung jalan. Isa selalu berjualan makanan setiap libur
Lebaran dari pagi hingga malam di kawasan Thamrin. Ia menjadi tumpuan harapan
puluhan warga mulai dari penghuni kos, pekerja, hingga pelintas yang berburu
makanan sejak pagi. Namun, warga harus siap merogoh kocek lebih dalam. Sebab,
harga sepiring gado-gado dinaikkan karena bahan baku lebih mahal di masa
Lebaran.
Sepiring gado-gado yang pada hari
biasa dijual Rp 18.000 per porsi, saat Lebaran harus ditebus Rp 20.000 per
porsi. Lain lagi, Miftahudin (23) pekerja jasa pembersih rumah di Serpong,
Tangsel, Banten, harus berkeliling ke berbagai ujung jalan hingga 1 jam demi menemukan
warung makan yang buka. Padahal, perutnya sudah kosong sejak bangun pagi karena
belum sempat sarapan akibat menerima orderan di pagi hari. Ditengah masih
sepinya aktivitas usaha makanan pada libur Lebaran, berkah justru datang bagi
mereka yang memilih tetap berjualan. Rindu yang tertahan karena tak pulang
terbayarkan dengan rezeki dari dagangan. Keberadaan para pedagang makanan saat
libur Lebaran bagaikan ”pemadam kelaparan”. Mereka tak sekadar mencari rezeki
di tengah peluang minimnya pedagang, tetapi juga penolong agar perut warga tak
lagi keroncongan. (Yoga)
Sertifikasi Halal membuat UMKM Naik Kelas
Ada banyak cara agar bisnis
pelaku UMKM naik kelas. Salah satunya lewat sertifikasi halal. Dengan label
itu, UMKM dapat memperluas pasarnya, menjaga kualitas, hingga menumbuhkan industri
halal di Indonesia. Bulan Ramadhan 2025 kali ini menjadi berkah bagi Nugraha
Ningsih, pemilik usaha kuliner Nugroho’s Kitchen. Hampir setiap hari ia
menerima permintaan konsumen, baik puding dan kue lapis untuk acara ulang
tahun, hamper Lebaran, ataupun hantaran pernikahan. Pekan ini saja ia memperoleh
sembilan pesanan. Lama, Jakarta. ”Masih banyak yang saya enggak tulis (di papan).
Hari ini saja pesanan full (penuh),” ucap Ningsih, Sabtu (29/3) di rumahnya di
Kebayoran. Banyaknya permintaan pelanggan tidak terlepas dari cita rasa
penganannya hingga label halal.
Sertifikat itu ia terima akhir
Februari lalu di Kantor Maybank Indonesia, Jakarta. Ia satu dari 1.500 UMKM di
sejumlah kota yang mengikuti pendampingan sertifikasi halal, program kolaborasi
Maybank Indonesia, Lembaga Pengembang UMKM Muhammadiyah, serta Lembaga Pengkajian
Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) MUI, yang menyasar UMKM di Jakarta,
Surabaya dan Yogyakarta. ”Alhamdulillah, saya akhirnya punya sertifikat halal.
Selama ini, banyak yang menanyakan soal sertifikat ini. Dengan ini, saya dapat
banyak pesanan. Saya bahkan terima (pesanan) dari RS di Mampang (Jakarta)
selama bulan puasa setiap Rabu dan Kamis,” ungkapnya. (Yoga)
Harga Murah Beras dan Nasib Petani
Produksi beras awal tahun ini
diperkirakan 13,95 juta ton, rekor tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.
Setelah dua tahun terdampak El Nino, yang membuat luas panen menyusut dan
memaksa pemerintah mengimpor lebih dari 3 juta ton beras pada 2023, lonjakan produksi
kali ini terasa sebagai pencapaian besar. Pada awal 2025, pemerintah bahkan
menyatakan tidak membuka keran impor tahun ini. Dengan suplai melimpah, harga
beras turun. Masyarakat, terutama dari kelompok berpenghasilan rendah,
merasakan langsung manfaatnya. Biaya pengeluaran untuk kebutuhan pokok jadi
lebih ringan. Mereka punya ruang membelanjakan uang pada kebutuhan lain jelang
Ramadhan dan Lebaran. BPS juga mencatat deflasi pada Februari 2025, kejadian
langka menjelang hari raya Idul Fitri.
Harga beras, cabai, tomat, dan daging
ayam turun signifikan, sekaligus menjadi faktor utama yang mendorong deflasi.
Menurut laporan berjudul ”Dinamika Ekonomi Pangan dan Energi Menjelang Lebaran”
oleh Center of Food, Energy, and Sustainable Develompent Institute for
Development of Economics and Finance (Indef), kondisi itu memperkuat daya beli
masyarakat. Turunnya harga beras meningkatkan daya beli riil karena porsi
pendapatan untuk membeli beras mengecil. Konsumsi bisa tetap terjaga meskipun
harga-harga barang/jasa lain cenderung naik di periode ini. Akan tetapi, situasi
yang menggembirakan bagi konsumen ini tidak berlaku bagi petani. Mereka justru yang
paling terdampak.
Panen raya padi pada akhir Maret
hingga awal April 2025, yang semestinya jadi momen panen keuntungan, berubah
menjadi masa krisis. Harga gabah kering panen (GKP) di sejumlah daerah jatuh di
bawah Rp 6.000 per kg. Padahal, pemerintah telah menetapkan harga pembelian pemerintah
(HPP) untuk GKP sebesar Rp 6.500 per kg. Guna melindungi petani, pemerintah
mendorong Bulog aktif menyerap gabah dalam negeri dan membeli gabah tanpa
syarat rafaksi. Artinya, tak boleh ada pengurangan harga meski kualitas gabah
rendah. Kebijakan ini dirancang untuk memastikan petani mendapat harga minimal
yang layak, terlepas dari kondisi gabah. Tapi, implementasi di lapangan menunjukkan
berbagai persoalan teknis dan struktural. Musim panen awal tahun ini
berlangsung ditengah curah hujan yang masih tinggi.
Akibatnya, gabah yang dipanen
cenderung basah, bahkan berkadar air di atas 30 %. Dalam kondisi itu, menjual
gabah sesuai HPP nyaris mustahil. Penggilingan kecil, yang biasanya menjadi
mitra utama petani, tak mampu mengolah gabah basah karena keterbatasan alat
pengering. Bulog pun menghadapi kendala serupa. Hal ini memicu antrean panjang
truk pengangkut gabah di depan gudang Bulog. Di beberapa daerah, keluhan petani
sampai memicu pencopotan pimpinan wilayah Bulog. Hingga 21 Maret 2025, Bulog
telah menyerap 473.000 ton setara beras. Uniknya, mayoritas penyerapan kali ini
dalam bentuk gabah, bukan beras seperti biasanya, sebagai langkah darurat untuk
menampung hasil panen petani. (Yoga)
Naiknya Harga Sayur dan Bumbu
Pedagang menyortir bawang merah dagangannya di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Kamis (27/3/2025). Sejumlah harga komoditas pangan nasional tercatat berfluktuasi mendekati Hari Raya Idulfitri. Adapun harga pangan yang mengalami kenaikan yakni bawang merah dan bawang putih, kelapa parut, daging ayam dan cabai. Daging sapi kini mengalami penurunan, sementara harga bawang masih naik. Menyitir data panel harga Badan Pangan Nasional (Bapanas) harga bawang merah naik 1,77% menjadi Rp 43.235 / kg, begitu juga harga bawang putih bonggol yang naik 1,55% menjadi Rp 44.696 / kg. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









