Lingkungan Hidup
( 5781 )Optimisme Penjualan Industri Keramik
Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto menerangkan, pihaknya memandang dampak kebijakan Trump terhadap industri keramik nasional tidak terlalu mengkhawatirkan, karena selama ini AS tidak masuk tujuan impor. Namun, Asaki mengamati dampak lonjakan impor dari negara lain akibat kebijakan tersebut. Dia menerangkan, Asaki harus mengamati dengan serius ancaman lonjakan impor keramik dari China, India dan Vietnam akibat kebijakan tarif tersebut. AS selama ini melakukan importasi keramik terbesar dari India dan China, "Asaki mendesak Pemerintah untuk membuka kran impor dan memberlakukan DMO/Domestic Market Obligation Gas untuk industri dalam negeri," ucap Edy.
Asaki membutuhkan atensi serius dan kehadiran Pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM berkaitan dengan daya saing industri keramik nasional. Daya saing cenderung semakin menurun akibat gangguan supply gas oleh PGN dengan memberlakukan kuota pemanfatan volume gas HGBT 60%-70%. "Selain itu, harga regasifikasi gas US$ 16,77/mmbtu telah merugikan industri keramik nasional," ucap dia. Edy menjelaskan, pihaknya sedang mengamati angka impor keramik yang melonjak signifikan dari tahun-tahun dari India pasca diterapkan BMTP/safeguard dan penerapan BMAD atas keramik Impor dari China. "Tidak tertutup kemungkinan adanya indikasi unfair dari India seperti tindakan dumping dan predatory pricing karena mengalami oversupply dan overcapacity," ujar dia. (Yetede)
OJK Menyambut Baik Mengembangkan Ekosistem Bank Emas
Sektor Kereta Api Masih Memiliki Potensi Pecah Kepadatan Mudik
Angkutan moda transportasi kereta api masih memiliki potensi besar memecah kepadatan pemudik yang menggunakan angkutan pribadi kendaraan roda dua maupun roda empat. Pengamat transportasi dari Unika Soegijapranata Semarang. Djoko Setijowarno mengatakan, utilitas penggunaan angkutan pribadi di moda perkeretapian masih bisa digenjot. "Utilitasnya masih besar, selama ini pemerintah fokusnya terlalu besar di moda angkutan jalan. Padahal, memanfaatkan moda lain dengan kapasitas yang besar itu bisa memindahkan sebagian besar itu bisa memindahkan sebagian besar pemudik berkendaraan, terutama di kereta api," ujarnya kepada Investor Daily.
Ia memisalkan kapasitas tampung untuk kereta cepat Whoosh saja masih berkisar di presentase 80% atau rata-rata mencapai 24 ribu penumpang per hari. Sedangkan kapasitas kursi yang tersedia bisa mencapai 31 ribu. "Ini lumayan, (Whoosh) memecah pemudik menuju ke Bandung tau sekitar Jawa Barat. Dan apa yang terjadi pada periode mudik lebaran 2025 itu konsep one way di jalan tol harusnya tidak perlu terjadi karena jumlah pengendara hanya meningkat tipis," pungkasnya. Periode mudik lebaran tahun ini Kereta Api Indonesia Group (KAI/Persero) mengangkut sebanyak 23 juta penumpang yang berlangsung sejak 21 Maret hingga 7 April 2025. Ini menunjukkan sektor kereta api masih menjadi tulang punggung transportasi massal memecah kepadatan pemudik. (Yetede)
Produksi Beras Diprediksi Melonjak Tahun Ini
Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan bahwa produksi beras Indonesia akan melimpah pada periode Januari—Mei 2025, dengan total produksi mencapai 16,62 juta ton, naik 12,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menurut M. Habibullah, Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, peningkatan ini setara dengan tambahan produksi sebesar 1,83 juta ton beras. Ia menjelaskan bahwa potensi panen padi pada Maret—Mei 2025 diperkirakan mencapai 4,30 juta hektare, naik 5,53% dari tahun sebelumnya, yang akan menghasilkan sekitar 13,14 juta ton beras.
Habibullah juga menegaskan bahwa prediksi ini berdasarkan angka potensi yang dihitung dari hasil survei Kerangka Sampel Area (KSA) serta rata-rata produktivitas padi dalam tiga tahun terakhir (2022–2024). Ia menambahkan bahwa angka realisasi bisa berbeda tergantung kondisi pertanaman sepanjang musim panen.
Secara keseluruhan, produksi padi gabah kering giling (GKG) diprediksi mencapai 28,85 juta ton dalam lima bulan pertama 2025, atau naik sekitar 1,08 juta ton GKG dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Prediksi ini menunjukkan optimisme terhadap ketahanan pangan nasional dan diharapkan dapat memperkuat stabilitas harga beras di tengah tantangan global yang memengaruhi sektor pangan.
Sektor Teknologi Digital Terdampak Kebijakan Tarif Trump
Pembentukan Koperasi Desa Merah Putih
Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia
Industrialisasi Nikel Krusial karena Bergantung Kebijakan Negara Lain
Penerapan tarif resiprokal AS bakal menekan negara-negara mitra dagangnya. Pada komoditas olahan nikel, Indonesia terdampak tidak langsung, menyusul ketergantungan pada pasar China. Penguatan industri hilir nikel di Indonesia pun semakin krusial. Indonesia dikenai tarif resiprokal 32 %. Sementara tarif resiprokal pada China 34 %. Sebelumnya, awal 2025 setelah Trump dilantik, AS menetapkan bea masuk 20 % pada barang-barang impor dari China. Apabila ditambah tarif resiprokal 34 %, pengenaan tarif bagi China menjadi 54 %. Kebijakan Trump dikhawatirkan memengaruhi dinamika perdagangan global. Head of Center of Macroeconomics and Finance pada Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman, Jumat (4/4), mengatakan, kebijakan tarif Trump berpotensi mengganggu keseimbangan perdagangan global, termasuk ekspor olahan nikel yang selama ini didominasi China.
Sebagai salah satu produsen nikel terbesar di dunia, Indonesia bergantung pada permintaan China, terutama dalam sektor stainless steel (baja nirkarat) serta baterai kendaraan listrik (EV). ”Jika tarif AS melemahkan perekonomian China, permintaan nikel Indonesia akan turun sehingga mengancam industri hilir yang masih berkembang,” kata Rizal. Kondisi tersebut tak hanya memperbesar ketergantungan Indonesia pada kebijakan negara lain. Namun, juga berisiko menghambat pertumbuhan industri strategis dalam negeri. Peneliti Alpha Research Database, Ferdy Hasiman, menyebutkan, terkait ekspor olahan nikel, memang Indonesia tak terdampak langsung kebijakan tarif Trump.
Namun, karena China menjadi pasar utama olahan nikel Indonesia, kita bisa jadi terdampak. Menurut Ferdy, Indonesia perlu mengantisipasi dengan strategi yang matang serta langkah konkret. ”Pasar utama hilirisasi nikel Indonesia, ya, China. Pembangunan smelter yang masif di Indonesia juga didominasi China. Potensi dampak (kebijakan Trump) perlu diantisipasi dengan keputusan-keputusan yang teknokratis,” tutur Ferdy. Penguatan industri domestik, termasuk peningkatan nilai tambah produk olahan nikel, sudah semestinya dipercepat, baik pada baja nirkarat maupun produk-produk lain. Di samping itu, hambatan birokratis menuju industrialisasi mesti diatasi. (Yoga)
12 Orang Meninggal Akibat Bentrokan di Puncak Jaya
Produksi Minyak Sawit RI Diprediksi Hanya Kisaran 44-47 Juta Ton
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









