Lingkungan Hidup
( 5820 )Jangan Ceroboh untuk Relaksasi Import
Relaksasi kebijakan impor sebagai bahan negosiasi tarif dengan AS jangan sampai merugikan industri dalam negeri yang masih membutuhkan proteksi. Apalagi, ada rencana untuk menghapus kuota impor dalam rangka negosiasi tarif. Pada prinsipnya, kebijakan itu tidak bisa diterapkan untuk semua komoditas karena harga disesuaikan kondisi dalam negeri. Impor yang serampangan akan memukul industri nasional, yang akan berujung pada penurunan PHK. Atas dasar itu, pemerintah perlu hati-hati dan jangan gegabah dalam menerapkan relaksasi impor.
Sementara itu, perang dagang diprediksi menjadi pukulan keras bagi ekonomi internasional. Sebab, hal itu membahayakan kinerja ekspor Indonesia, mengingat kontribusi pengapalan barang ke Paman Sam mencapai 10%. Perang dagang juga merontokkan harga komoditas andalan, mulai dari sawit, batu bara yang dibarengi penurunan tajam harga ritel akibat perlambatan ekonomi China. Berdasarkan data Trading Ekonomics, harga minyak WTI melorot 19% dari US$ 71,8 per barel menjadi US$ 57,9 per barel sejak Presiden AS Donald Trump menyulut perang dagang pada 2 April 2025. Harga batu bara juga tergelincir menjadi dibawah US$ 100 per ton, tepatnya US$ 98 per ton. Harga sawit mentah merosot 6% dari 4.520 ringgit per ton menjadi 4.244 ringgit per ton. Adapun harga nikel terjun bebas 1,8% dari US$ 16.115 per ton menjadi US$ 14.200 per ton. (Yetede)
Kondisi Inflasi hingga Maret 2025 Masih Terkendali Sebesar 1,03%
Kondisi inflasi hingga Maret 2025 masih terkendali sebesar 1,03% secara year on year (yoy), setelah bulan sebelumnya mencatatkan deflasi. Pemerintah optimistis inflasi pada tahun ini berada di kisaran 2,5%, kurang lebih 1% dengan terus menjaga stabilitas harga bahan pangan. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu mengatakan, inflasi Maret 2025 terus dijaga agar terkendali, khususnya untuk harga pangan agar tetap stabil di masa Ramadan dan Idul Fitri. Langkah pemerintah menjalankan paket kebijakan pada Ramadan turut berkontribusi untuk menjaga stabilitas inflasi.
"Berbagai insentif yang diberikan seperti diskon tarif tol dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah DTP tiket pesawat di masa HBKN Ramadan dan Idul Fitri berkontribusi menahan kenaikan inflasi, sehingga diharapkan dapat menopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal 1-2025," ucap Febrio. Berdasarkan komponen, inflasi inti tercatat pada level 2,48% (yoy). Sebagian besar kelompok pengeluaran meningkat, terutama kelompok pakaian dan alas kaki seiring meningkatnya permintaan jelang Idul Fitri. Komponen inflasi pangan bergejolak tercatat sebesar 0,37% yang didorong oleh penurunan harga beras dan produk unggas. Meskipun demikian, beberapa komoditas pangan tercatat meningkat secara bulan ke bulan karena peningkatan permintaan menjelang Idul Fitri. (Yetede)
Maksimalkan Serapan Gabah dan Beras Petani
Pemberi Andil pada Inflasi
Tarif listrik merupakan komoditas utama yang memberikan andil tertinggi terhadap inflasi bulanan pada Maret 2025 dengan kontribusi sebesar 1,18%. Sementara itu, untuk mengantisipasi inflasi pada kuartal tahun kedua pemerintah perlu memperhatikan ketersediaan pangan, terutama ketika musim kemarau sudah tiba. Adapun Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan bahwa tingkat inflasi tahunan pada Maret 2025 sebesar 1,03% year on year (yoy), tercatat lebih rendah dibandingkan tingkat inflasi tahunan pada Maret 2024 yang mencapai 3,05% (yoy). Namun, tingkat inflasi tahunan pada Maret 2025 masih lebih tinggi daripada Februari 2025 yang tercatat mengalami deflasi hingga 0,09% (yoy).
Setelah langkah pemerintah memberikan diskon listrik sebesar 50% selama bulan Januari-Februari 2025 mendorong terjadinya deflasi pada Januari 2025. Tarif listrik mengalami deflasi 32,03% dan memberikan sumbangan ke deflasi sebesar 1,47%. Adapun diskon tarif listrik memberikan andil deflasi pada Februari 2025 sebesar 0,67%. Adapun program pemerintah tersebut untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendorong aktivitas ekonomi. Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M Habibullah mengatakan, pada Maret 2025 terjadi inflasi secara bulanan sebesar 1,65 month-to-month (mtm), dengan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 105,48 pada Februari 2025 menjadi 107,22 pada maret 2025. Pihaknya mencatat bahwa kelompok pengeuaran yang terbesar adalahan perumahan, air listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan inflasi sebesar 8,45% (mtm). (Yetede)
Chandra Asri Group Raksasa Energi dan Kimia Asia Tenggara
Optimisme Penjualan Industri Keramik
Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto menerangkan, pihaknya memandang dampak kebijakan Trump terhadap industri keramik nasional tidak terlalu mengkhawatirkan, karena selama ini AS tidak masuk tujuan impor. Namun, Asaki mengamati dampak lonjakan impor dari negara lain akibat kebijakan tersebut. Dia menerangkan, Asaki harus mengamati dengan serius ancaman lonjakan impor keramik dari China, India dan Vietnam akibat kebijakan tarif tersebut. AS selama ini melakukan importasi keramik terbesar dari India dan China, "Asaki mendesak Pemerintah untuk membuka kran impor dan memberlakukan DMO/Domestic Market Obligation Gas untuk industri dalam negeri," ucap Edy.
Asaki membutuhkan atensi serius dan kehadiran Pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM berkaitan dengan daya saing industri keramik nasional. Daya saing cenderung semakin menurun akibat gangguan supply gas oleh PGN dengan memberlakukan kuota pemanfatan volume gas HGBT 60%-70%. "Selain itu, harga regasifikasi gas US$ 16,77/mmbtu telah merugikan industri keramik nasional," ucap dia. Edy menjelaskan, pihaknya sedang mengamati angka impor keramik yang melonjak signifikan dari tahun-tahun dari India pasca diterapkan BMTP/safeguard dan penerapan BMAD atas keramik Impor dari China. "Tidak tertutup kemungkinan adanya indikasi unfair dari India seperti tindakan dumping dan predatory pricing karena mengalami oversupply dan overcapacity," ujar dia. (Yetede)
OJK Menyambut Baik Mengembangkan Ekosistem Bank Emas
Sektor Kereta Api Masih Memiliki Potensi Pecah Kepadatan Mudik
Angkutan moda transportasi kereta api masih memiliki potensi besar memecah kepadatan pemudik yang menggunakan angkutan pribadi kendaraan roda dua maupun roda empat. Pengamat transportasi dari Unika Soegijapranata Semarang. Djoko Setijowarno mengatakan, utilitas penggunaan angkutan pribadi di moda perkeretapian masih bisa digenjot. "Utilitasnya masih besar, selama ini pemerintah fokusnya terlalu besar di moda angkutan jalan. Padahal, memanfaatkan moda lain dengan kapasitas yang besar itu bisa memindahkan sebagian besar itu bisa memindahkan sebagian besar pemudik berkendaraan, terutama di kereta api," ujarnya kepada Investor Daily.
Ia memisalkan kapasitas tampung untuk kereta cepat Whoosh saja masih berkisar di presentase 80% atau rata-rata mencapai 24 ribu penumpang per hari. Sedangkan kapasitas kursi yang tersedia bisa mencapai 31 ribu. "Ini lumayan, (Whoosh) memecah pemudik menuju ke Bandung tau sekitar Jawa Barat. Dan apa yang terjadi pada periode mudik lebaran 2025 itu konsep one way di jalan tol harusnya tidak perlu terjadi karena jumlah pengendara hanya meningkat tipis," pungkasnya. Periode mudik lebaran tahun ini Kereta Api Indonesia Group (KAI/Persero) mengangkut sebanyak 23 juta penumpang yang berlangsung sejak 21 Maret hingga 7 April 2025. Ini menunjukkan sektor kereta api masih menjadi tulang punggung transportasi massal memecah kepadatan pemudik. (Yetede)
Produksi Beras Diprediksi Melonjak Tahun Ini
Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan bahwa produksi beras Indonesia akan melimpah pada periode Januari—Mei 2025, dengan total produksi mencapai 16,62 juta ton, naik 12,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menurut M. Habibullah, Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, peningkatan ini setara dengan tambahan produksi sebesar 1,83 juta ton beras. Ia menjelaskan bahwa potensi panen padi pada Maret—Mei 2025 diperkirakan mencapai 4,30 juta hektare, naik 5,53% dari tahun sebelumnya, yang akan menghasilkan sekitar 13,14 juta ton beras.
Habibullah juga menegaskan bahwa prediksi ini berdasarkan angka potensi yang dihitung dari hasil survei Kerangka Sampel Area (KSA) serta rata-rata produktivitas padi dalam tiga tahun terakhir (2022–2024). Ia menambahkan bahwa angka realisasi bisa berbeda tergantung kondisi pertanaman sepanjang musim panen.
Secara keseluruhan, produksi padi gabah kering giling (GKG) diprediksi mencapai 28,85 juta ton dalam lima bulan pertama 2025, atau naik sekitar 1,08 juta ton GKG dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Prediksi ini menunjukkan optimisme terhadap ketahanan pangan nasional dan diharapkan dapat memperkuat stabilitas harga beras di tengah tantangan global yang memengaruhi sektor pangan.
Sektor Teknologi Digital Terdampak Kebijakan Tarif Trump
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









