Lingkungan Hidup
( 5820 )Tantangan Pembiayaan Transisi Energi
Peta jalan transisi energi di sektor ketenagalistrikan Indonesia baru-baru ini ditetapkan melalui Peraturan Menteri ESDM No 10 Tahun 2025. Namun, regulasi tersebut dinilai belum cukup memberikan kemudahan bagi percepatan pensiun dini PLTU berbasis batubara yang selama ini menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar. Permen ESDM yang diundangkan pada Selasa (15/4) ini menetapkan peta jalan transisi energi sebagai upaya mencapai target net zero emission pada tahun 2060 atau lebih cepat. Dalam Pasal 2 dijabarkan sembilan langkah strategis yang dirancang untuk mempercepat peralihan dari energi fosil menuju energi ramah lingkungan.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira, dalam diskusi bertema”Mengapa Ketergantungan Gas Fosil Menghambat Transisi Energi?” di Jakarta, Kamis (24/4), menjelaskan, peraturan baru ini menambahkan tiga indikator prioritas dalam penghentian operasional PLTU, melengkapi tujuh poin yang sebelumnya telah diatur dalam Perpres No 112/2022. Ketiga indikator tambahan tersebut mencakup keandalan sistem kelistrikan (dengan bobot penilaian 13 %), dampak kenaikan biaya (10 %), dan penerapan prinsip transisi energi yang berkeadilan (10 %). Indikator lainnya mencakup kapasitas dan usia pembangkit,tingkat utilisasi, emisi gas rumah kaca dari PLTU, nilai tambah ekonomi, serta ketersediaan dukungan pendanaan dan teknologi, baik dari dalam maupun luar negeri.
Bhima menyoroti bahwa bobot tertinggi justru diberikan pada ketersediaan pendanaan, yakni sebesar 27 %. ”Cara berpikirnya adalah semua harus bergantung pada dana segar. Padahal, menutup PLTU yang membebani keuangan negara justru bisa menjadi langkah penghematan. Semakin cepat ditutup, semakin besar penghematan yang bisa dicapai. Ini menunjukkan bahwa dominasi indikator ketersediaan pendanaan seolah menggambarkan ketergantungan pemerintah pada dana eksternal,” ujar Bhima. Di sisi lain, kriteria percepatan penutupan dini PLTU yang terlalu menitik beratkan pada ketersediaan pendanaan tidak menjamin kemudahan dalam implementasi transisi energi. Bhima menyarankan pemerintah lebih mengutamakan pendanaan internal, dengan menekan potensi kerugian negara serta memaksimalkan pembiayaan dari APBN dan bank-bank BUMN. (Yoga)
Huayou Siap Gantikan LG di Proyek Ekosistem Baterai Listrik
Antam Memastikan Ketersediaan Emas
Naiknya Harga Emas Menembus Rp 2 Juta Per Gram
Pedagang terlihat sedang melayani pelanggan yang hendak membeli perhiasan emas di salah satu toko emas di Cikini Gold Center, Jakarta Pusat, pada hari Selasa (22/4/2025). Harga emas Antam pada Selasa mencetak rekor tertinggi dan tembus di atas Rp 2 juta per gram, tepatnya Rp 2.016.000 atau naik Rp 36.000 dari hari sebelumnya. Walau harganya tinggi, animo masyarakat untuk membeli emas masih tinggi. (Yoga)
Komitmen MIND ID Penuhi Kebutuhan Emas Domestik
Ambisi Pemprov Jabar Reaktivasi 11 Jalur Kereta Api
Harga Emas Naik, Emiten Tambang Tancap Gas
Kilau Emas dari Kusam Sampah di Kendari
Tiga perempuan setengah baya membersihkan gelas plastik minuman kemasan yang sebagian masih kotor di tengah tumpukan sampah plastik di Bank Sampah Alfaizin, Kelurahan Puuwatu, Kendari, Sultra, Minggu sore (20/4). “Kami kalau lihat sampah plastik seperti melihat butiran-butiran emas di jalanan,” kata Hartian (52) disambut senyum dua rekannya, Yummi (57) dan Rusmawati (62). Para ibu rumah tangga bergabung membentuk bank sampah tujuh tahun lalu. Hartian tergerak dengan misi kebersihan lingkungan yang berpeluang menyulap sampah menjadi uang. Terlebih lagi, sebuah program yang muncul untuk membuat sampah bisa menjadi tabungan emas membuatnya kian termotivasi.
Selain memilah dan mengolah sampah, setiap bulan ia bisa menyetor sampah plastik, kardus, hingga kaleng sebanyak dua kali dengan berat beragam. Sampah itu dikumpulkan di rumah masing-masing, tetangga, hingga fasilitas umum. Ia tidak canggung memungut dan mencari sampah plastik. Berbagai sampah ini akan dibawa ke bank sampah untuk ditimbang dan dijual. Hasil penjualan dialihkan menjadi tabungan emas. ”Hari ini dapat plastik dan kardus dari rumah tetangga 30 kg. Nilainya di atas Rp 50.000. Nanti ditabung emas saja biar tambah banyak,” tutur Hartian.
Tabungan emas ibu empat anak ini sudah terkumpul 0,3 gram. Rusmawati dan suaminya menjadi bagian dari hampir 100 nasabah Bank Sampah Al-faizin. Keluarga ini aktif untuk menukarkan sampah dan konsisten menabungnya di tabungan emas. Yummi, Ketua Bank Sampah Alfaizin, menuturkan, program sampah menjadi tabungan emas dimulai sejak 2018 atau lima tahun setelah bank sampah ini berdiri. Warga yang awalnya membuat daur ulang sampah dan belum fokus menjual sampah mendapat motivasi baru untuk membersihkan lingkungan. (Yoga)
Pertumbuhan Produk Berbasis Kertas Didorong Praktik Berkelanjutan
Secara global, tingkat pertumbuhan tahunan atau CAGR produk berbasis kertas diperkirakan mencapai 2 % per tahun hingga 2035, didorong meningkatnya permintaan kertas kemasan dan tisu. Pertumbuhan tahunan juga didorong fokus lebih besar terhadap praktik keberlanjutan di seluruh rantai pasok. Sebagai penghasil pulp dan kertas, Grup Asia Pacific Resources International Limited (APRIL) optimis melanjutkan tren pertumbuhan. ”Kami optimistis mencapai tren ini melalui strategi pasar dan komitmen terhadap keberlanjutan,” ujar Anita Bernardus, Head of Communications APRIL Group, di Jakarta, Minggu (20/4). Produk unggulan Grup APRIL, yaitu PaperOne, tak hanya melayani pasar domestik, tapi juga pasar global di 110 negara.
Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang produksi serat, pulp, kertas, dan kertas kemasan, APRIL berkomitmen terhadap pengelolaan hutan dan operasional yang berkelanjutan. Pada tahun 2022, Grup APRIL telah meluncurkan investasi strategis Rp 33,4 triliun untuk membangun fasilitas produksi kertas kemasan serta infrastruktur pendukungnya. Pada 2024, APRIL memulai uji coba operasional pabrik BoardOne yang menjalankan produksi kertas kemasan berkelanjutan pertama milik APRIL. Dengan hadirnya BoardOne, kapasitas terpasang APRIL di Pangkalan Kerinci, Riau, mencakup 4 juta ton pulp per tahun, 1,15 juta ton kertas, dan 1,2 juta ton kertas kemasan. Salah satu anak perusahaan APRIL adalah Riau Andalan Pulp and Paper.
”APRIL mencari peluang baru mengembangkan produk hilir yang mendukung keberlanjutan dan efisiensi operasional. Lewat langkah ini, APRIL memperkuat komitmen menghasilkan produk ramah lingkungan dan sesuai dengan kebutuhan pasar,” ujar Anita. Pengamat industri pulp dan kertas, Rusli Tan, mengatakan, Indonesia berpotensi memperkuat industri pulp dan kertas. ”Kita hampir tak punya saingan. Ditambah pengusaha Indonesia berani investasi, untuk menanam pohon yang biayanya mahal dan risiko yang besar sekali,” ujar Rusli. Pengusaha Indonesia dinilai telah menguasai teknologi tinggi dalam pengolahan kertas, termasuk pengolahan kertas dan karton bekas. Kemajuan industri kertas dan pulp Indonesia termasuk juga lebih tinggi dibanding negara lain di Asia. (Yoga)
Percepat Diversifikasi dan Hilirisasi Pasar
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









