Lingkungan Hidup
( 5781 )Target Produksi Turun, Royalti Malah Naik
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kini memiliki amunisi baru untuk meningkatkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) melalui implementasi tarif royalti baru di sektor mineral dan batu bara (minerba), menyusul diterbitkannya Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Regulasi ini menggantikan PP No. 26 Tahun 2022, dan mulai berlaku efektif pada 26 April 2025. Tarif royalti kini ditetapkan berdasarkan jenis, kadar, serta lokasi penambangan, dengan besaran bervariasi antara 1,5% hingga 19%, lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Kebijakan ini diharapkan bisa meningkatkan penerimaan negara serta mendorong pengusaha untuk lebih fokus pada hilirisasi dan pasar domestik. Namun, kalangan industri minerba menilai tarif ini berpotensi menekan ekspor di tengah tren penurunan harga komoditas global. Pemerintah, melalui Kementerian ESDM, dituntut untuk mensosialisasikan kebijakan ini secara terukur, mengingat target PNBP sektor minerba 2025 dipatok sebesar Rp87,48 triliun—lebih rendah dari capaian dua tahun sebelumnya.
PT PLN Masdar Kembangkan PLTS Terapung di RI
Perjuangan Mendongkrak Kinerja Masih Berat
Kinerja PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) pada tahun 2025 diperkirakan akan menghadapi tekanan dari penurunan harga batubara global dan kenaikan biaya operasional, khususnya akibat kebijakan B40 dan pencabutan subsidi bahan bakar. Hasan Barakwan, analis Maybank Sekuritas, memproyeksikan ASP ITMG turun 8% menjadi US$ 84 per ton, sementara biaya tunai naik 4,8% menjadi US$ 66 per ton. Imbasnya, pendapatan dan laba bersih ITMG diprediksi melemah tajam.
Ahmad Iqbal Suyudi dari Edvisor Profina Visindo menilai ITMG mencoba mengimbangi tekanan tersebut dengan menaikkan produksi batubara sekitar 5%. Namun, ketidakpastian global, termasuk perang dagang yang dipicu Presiden AS Donald Trump, menjadi faktor risiko besar, terutama bagi permintaan dari China dan India sebagai pasar utama.
Di sisi lain, tim riset Ajaib Sekuritas menilai ITMG masih dapat mempertahankan profitabilitas berkat efisiensi biaya dan struktur permodalan yang sehat (DER hanya 0,15 kali). Capex 2025 naik menjadi US$ 63 juta, menunjukkan fokus pada pertumbuhan berkelanjutan.
Meski menghadapi tantangan, dividen jumbo senilai US$ 243 juta (DPR 65%) memberi daya tarik tersendiri bagi investor. Harga saham ITMG naik 7,24% dalam sebulan terakhir. Namun, Iqbal mengingatkan potensi "dividend trap" karena harga sudah priced-in. Hasan tetap merekomendasikan “hold” dengan target harga Rp 21.000, sementara Erinda Krisnawan dari BRI Danareksa Sekuritas justru menyarankan “beli” dengan target harga optimis Rp 27.300 per saham.
Apakah Investasi Emas Menarik
Komoditas emas saat ini tengah jadi primadona. Banyak warga berburu emas di tengah harganya yang melambung. Pendapat warga beragam mengenai berinvestasi emas di situasi sekarang ini. “Saya memilih berinvestasi emas karena nilainya stabil, cenderung naik, dan tahan terhadap inflasi ataupun gejolak global. Selisih harga jualnya juga menguntungkan, terutama emas batangan yang bebas potongan. Dibanding deposito, emas memberi imbal hasil lebih tinggi. Kini sebagian deposito saya alihkan ke emas karena kenaikannya signifikan. Strategi saya: beli segera dan tahan untuk jangka panjang,” ujar Ari Puji Astuti (35) Karyawan swasta di Surabaya
“Saya memilih menabung emas digital karena praktis, mudah diakses, dan imbal hasilnya stabil. Awalnya karena saran orangtua agar punya tabungan jangka panjang yang tidak mudah tergoda untuk dipakai. Hingga kini saya belum tertarik berinvestasi di saham. Menurut saya, risikonya tinggi dan butuh keahlian khusus, sedangkan emas lebih aman dan hasilnya sudah terbukti,” ujar Agustinus Tri Budi Sunarko (24), Pekerja swasta di Jakarta. “Saya belum berpengalaman berinvestasi di saham. Menurut saya, emas bisa menjaga nilai tabungan agar tidak tergerus inflasi. Saya bisa membelinya sedikit demi sedikit, tanpa harus menunggu cukup uang untuk 1 gram. Jika sewaktu-waktu perlu dicairkan, proses penjualannya juga sangat mudah dan cepat,” ujar Margaretha Nainggolan (30), Warga Batam, Kepri. (Yoga)
Hambatan Menuju Swasembada Energi
Pemeriksaan terhadap sembilan saksi oleh Kejaksaan Agung (Kejagung) terkait dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang Pertamina–KKKS periode 2018–2023 terus berjalan. Para saksi tersebut berasal dari Pertamina dan Kementerian ESDM, di antaranya DS, WKS, DDKW, VBADH, HR, DDH, MR, AN, dan EED, sebagaimana disampaikan oleh Kapuspenkum Kejagung, Harli Siregar.
Sementara itu, dari sisi energi nasional, Indonesia masih mengandalkan produksi domestik untuk memenuhi kebutuhan LNG tanpa rencana impor dari Amerika Serikat (AS). Kepala SKK Migas, Dadan Kusdiana, menegaskan bahwa kebutuhan LNG domestik telah tercukupi dalam tiga bulan terakhir. Namun, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa untuk memperbaiki neraca perdagangan dengan AS, Indonesia akan meningkatkan impor LPG dan LNG dari AS melalui realokasi, bukan menambah volume impor secara keseluruhan.
Djoko Siswanto dari SKK Migas juga mengungkapkan langkah pemerintah dalam mengurangi ekspor gas ke Singapura dan mengalihkan pasokan untuk kebutuhan dalam negeri, termasuk ke PT Perusahaan Gas Negara (PGN) dan PT PLN (Persero). Selain itu, proyek LNG besar di Lapangan Abadi Masela yang dikelola Inpex Corp. menunjukkan kemajuan dengan dimulainya fase desain rekayasa awal (FEED).
Negara Dirugikan dalam Kasus Jual Beli Gas PT PGN dan IAE
KPK, Jumat (11/4) menahan dua tersangka dugaan korupsi jual beli gas PT Perusahaan Gas Negara yang terjadi pada 2017-2021. Dari kasus ini, BPK menaksir kerugian negara yang ditimbulkan hingga 15 juta USD atau Rp 225 miliar. Kedua tersangka itu adalah Direktur Komersial PT Perusahaan Gas Negara (PGN) 2016-2019 Danny Praditya dan Komisaris PT Inti Alasindo Energi (IAE) 2006-2023 sekaligus Direktur Utama PT Isargas 2011-2024 Iswan Ibrahim. Direktur Penyidikan KPK Asep Guntur Rahayu dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Jumat, menjelaskan, penahanan kedua tersangka dilakukan setelah penyidik memeriksa 75 saksi, penggeledahan delapan lokasi, serta penyitaan sejumlah dokumen, barang bukti elektronik, hingga uang 1 juta USD.
Bermula pada 19 Desember 2016, Dewan Komisaris dan Direksi PT PGN mengesahkan Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) PT PGN tahun 2017, yang tidak terdapat rencana PT PGN membeli gas dari PT IAE. Pada 2017, PTIAE mendapat alokasi gas dari Husky-CNOOC Madura Limited (HCML) sebesar 10 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). Berlanjut pada 2018 sebesar 15 MMSCFD dan pada 2019 sebesar 40 MMSCFD. Namun, alokasi gas tersebut tak cukup memenuhi kontrak dengan PT PGN. Danny diketahui memerintahkan tim pemasaran PT PGN membuat paparan kerja sama dengan sejumlah pedagang gas, termasuk PT Isargas, untuk menjadi perusahaan distributor lokal.
Tim pemasaran berhubungan dengan Direktur PT IAE, bagian dari Isargas Group, untuk kerja sama pengelolaan gas. Pertemuan itu mengungkap permintaan Iswan Ibrahim sebesar 15 juta USD sebagai uang muka pembayaran pembelian gas PT IAE oleh PT PGN, yang rencananya digunakan untuk membayar utang PT IAE ke pihak lain. ”Pada 10 Oktober 2017, dalam rapat BOD (board of directors) PT PGN, DP (Danny Praditya) dengan tim marketing PT PGN memaparkan materi ’Update Komersial’ yang berisi Isargas Group setuju untuk menjual sebagian alokasi gas bumi eks HCML miliknya kepada PT PGN dengan skema advance payment,” kata Asep.
Pada 2 November 2017 akhirnya terbentuk kesepakatan untuk mengirim gas PT IAE ke PT PGN. Skemanya mencakup pembayaran uang muka 15 juta USD hingga potensi akuisisi keseluruhan Isargas Group ke PT PGN. PT PGN mengirim bukti pengiriman tagihan 15 juta USD sebagai uang muka ke PT IAE pada 9 November 2017. Namun, uangnya malah dipakai PT IAE untuk membayar utang ke pihak lain yang tak berkaitan dengan pengelolaan gas. Pada 2 Desember 2020, Badan Pengatur Hilir Migas menyatakan praktik penjualan gas bertingkat antara PT IAE dan PT PGN tidak diperbolehkan karena menyalahi aturan. (Yoga)
Kopi Luwak Inovatif Tanpa Eksploitasi
Riset teknologi pangan terus dikembangkan untuk menghasilkan kopi bercita rasa special, dengan kopi luwak tanpa mengeksploitasi luwak di dalam kandang. Kopi luwak dikenal unik karena diproduksi dari kotoran luwak (Paradoxurus hermaphroditus), satwa nokturnal dan penyendiri. Meski dipanen dari kotoran, kopi luwak bercita rasa lembut nan eksotis. Segelas kopi luwak bernilai jutaan rupiah di kedai-kedai di AS. Di pasar dunia, harga biji beras kopi luwak bahkan mencetak rekor tertinggi. Dinobatkan sebagai kopi termahal di dunia pada 2018 dengan harga 600 USD per kg biji beras (green bean). Luwak gemar memakan berbagai jenis buah-buahan, termasuk buah ceri kopi nan ranum. Artinya, hanya buah-buah kopi matang yang akan dimakan luwak. Proses fermentasi di pencernaan luwak ini menghasilkan kombinasi rasa kopi yang lembut dan tidak pahit.
Keunikan cita rasa dan kisah langka kopi luwak inilah yang membuatnya terus diburu. Sampai melahirkan praktik eksploitatif. Di sejumlah daerah, luwak dikurung dalam kandang dan hanya diberi makan buah kopi agar menghasilkan semakin banyak feses biji kopi. Hal ini memunculkan kecaman dari kalangan konservasionis. Bertolak dari itulah kalangan peneliti mencari cara pengganti untuk menghasilkan kopi luwak tanpa mengeksploitasi satwa. Peneliti kimia dan biokimia Universitas Jambi (Unja) mendeteksi bakteri penting yang berperan pada fermentasi kopi dalam pencernaan luwak, lalu dimanfaatkan dalam proses fermentasi kopi dengan cara kerja yang persis seperti di dalam pencernaan luwak. Untuk penelitian ini, Sutrisno dan Indra Lasmana Tarigan bersama sejumlah peneliti di Pusat Unggulan Iptek (PUI) Kopi Liberika Unja menciptakan fermentor yang diberi nama mini-bioreaktor.
Fermentasi yang berlangsung sehari semalam berhasil menghasilkan kopi bercita rasa serupa kopi luwak. Mereka menyebutnya kopi luwak artifisial. ”Menghasilkan kopi luwak tanpa perlu mengeksploitasi satwa,” ujar Sutrisno, peneliti kimia Unja. Tak hanya meningkatkan nilai manfaat kesehatan, fermentasi kopi liberika luwak artifisial juga menghasilkan cita rasa yang tinggi. Hasil uji biji kopi mencapai nilai akhir 8,5 hingga 8,8 alias sangat baik. Pemanfaatan riset teknologi pengolahan pangan untuk meningkatkan produksi kopi sebagai komoditas unggul diyakini bisa membuat pamor Indonesia semakin kuat sebagai produsen kopi. Rekayasa teknologi juga perlu terus didorong untuk menciptakan produk-produk turunan berbasis kopi dengan menghasilkan kosmetik berbahan kopi, parfum, pengharum ruangan, dan lain-lain. Dengan demikian, akan semakin banyak orang menikmati nilai tambah dan ekonomi dari kopi. (Yoga)
Tarif Memukul, Investor Tinggalkan Dolar AS
Diversifikasi Bisnis Didorong di Tengah Ketidakpastian
Penundaan Tarif Impor AS Membuat Harga Karet Alam Naik Lagi
Harga karet alam di pasar dunia kembali naik atau rebound setelah penundaan penerapan tarif impor AS yang dicanangkan Presiden Donald Trump. Harga karet naik hampir 5 % di bursa Singapore Exchange atau SGX pada perdagangan Kamis (10/4). ”Harga karet terpantau naik tajam setelah Donald Trump mengambil kebijakan menunda penerapan tarif impor selama 90 hari,” kata Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut, Edy Irwansyah. Perdagangan karet remah jenis technical specified rubber (TSR 20) untuk kontrak Mei menyentuh harga 165,7 sen USD per kg. Harga itu naik cukup signifikan, yakni 4,94 %, disbanding penutupan hari sebelumnya 157,9 sen USD.
Dalam sepekan terakhir, harga karet dunia tergerus cukup signifikan setelah pengumuman tarif impor AS, Rabu (2/4). Dalam pengumuman itu, Indonesia turut dikenai tarif impor 32 %. Pasar langsung panik dan menyebabkan penurunan harga secara signifikan. Secara total, harga karet tergerus hingga 18,17 % dari 193,1 sen USD saat pengumuman tarif Trump menjadi 157,9 sen USD pada Rabu (9/4). Penundaan penerapan tarif impor Trump diharapkan bisa mengembalikan lagi harga karet ke harga semula dalam perdagangan beberapa hari ke depan. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









