Lingkungan Hidup
( 5820 )Rayuan Pulau Kelapa Tanpa Kelapa
Ketika Ismail Marzuki menciptakan lagu "Rayuan Pulau Kelapa" pada tahun 1944 sebagai penghormatan bagi para pejuang kemerdekaan, mungkin yang dibayangkan sang komponis besar negara ini adalah sebuah negeri kepulauan yang tidak saja merdeka, tetapi tampak begitu indah dengan dedauanan pohon kelapa melambai ramah kepada siapapun yang mencintai Indonesia. Bicara tentang pohon kelapa, ini adalah anugrah ciptaan Tuhan yang begitu bermanfaatnya. Akarnya yang berserabut merupakan pengikat tanah sekitarnya dari erosi pantai dan sungai. Batangnya dapat dimanfaatkan untuk membuat jembatan, atau diolah menjadi berbagai furniture dan perabot rumah tangga. Serabut dari kulit kelapa dapat digunakan sebagai fiber, sementara batok buah kelapa biasa digunakan sebagai arang bakar. Daunnya yang muda-biasa disebut janur- dapat dimanfaatkan untuk membuat ketupat dengan aromanya yang khas. Bandingkan dengan ketupat plastik yang di Negeri Jiran disebut nasi imbit.
Namun, buah kelapa sungguh menawarkan banyak pilihan untuk diolah. Dalam beberapa bulan terakhir, harga kelapa di dalam negeri melonjak tajam. Pada Agustus 2024, harga kelapa untuk kebutuhan industri masih berada dikisaran Rp 3.500 per kg. Namun per April 2025, harga tersebut melonjak drastis menjadi Rp 8.500 per kg. Penyebab kenaikan harga yang begitu drastis itu bukan berasal dari satu faktor saja, melainkan merupakan akumulasi dari dinamika permintaan global yang melonjak. Permintaan global terhadap produk kelapa, terutama dari RRT. Negara tersebut mengalami ledakan konsumsi minuman berbasis kelapa seperti coconut latte, coconut milk, dan produk siap minum seperti coconut juice. Sementara aturan ekspor di Indonesia khususnya untuk kelapa bulat sangatlah lemah bahkan tidak jelas sehingga justru memperparah situasi. Negara-negara tetangga seperti Philipina dan Thailand sudah menerapkan berbagai regulasi seperti kuota, pajak ekspor yang tinggi, bahkan larangan ekspor untuk menjaga pasokan domestik dan menolong hilirisasi (Yetede)
Pelaku Usaha Minta Jaminan Keekonomian karena Kewajiban Hilirisasi
Pelaku usaha tambang batubara meminta pemerintah menjamin aspek keekonomian dalam kegiatan hilirisasi, baik dari sisi investasi maupun kepastian penyerapan produk, sebagai respons atas kebijakan pemerintah yang mewajibkan tujuh perusahaan pertambangan batubara untuk melaksanakan proyek hilirisasi. Direktur Eksekutif Indonesia Mining Association, Hendra Sinadia, Rabu (7/5) mengatakan, meminta dukungan pemerintah seusai Kementerian ESDM mewajibkan tujuh perusahaan pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) untuk menjalankan proyek hilirisasi batubara.
Kewajiban itu, menurut Dirjen Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, di Jakarta, Selasa (6/5) menjadi syarat perusahaan PKP2B gelombang pertama yang mendapatkan perpanjangan kontrak menjadi izin usaha pertambangan khusus. Mereka ialah PT Arutmin Indonesia, PT Kaltim Prima Coal (KPC), PT Adaro Andalan Indonesia (AADI), PT Kideco Jaya Agung, PT Multi Harapan Utama (MHU), PT Tanito Harum, PT Berau Coal. ”Ini karena kewajiban pemerintah meminta kami untuk melakukan konversi batubara, yang istilahnya hilirisasi. Jadi, memang tugas pemerintah juga untuk menciptakan atau buat regulasi sehingga ini jadi ekonomis,” ujar Hendra.
Keekonomian usaha yang dimaksud salah satunya dalam hal investasi untuk teknologi konversi. Biaya teknologi yang besar, menurut Hendra, menjadi tantangan bagi penambang batubara. Hal ini berbeda dengan hilirisasi nikel yang lebih menarik bagi penambang karena biaya teknologinya relatif lebih murah. Selain itu, berkurangnya keberpihakan investor pada usaha komoditas batubara yang menyumbang emisi gas rumah kaca juga menjadi kendala besar lainnya. Sementara itu, negara yang kemungkinan menjadi mitra investasi adalah China, yang sudah berpengalaman mengonversi batubara menjadi gas.
Selain kepastian investasi dengan dana besar, perusahaan batubara, menurut dia, juga belum mendapat kepastian harga jual produk konversi. Contohnya, harga produk gasifikasi batubara, dimetil eter (DME), yang bisa menjadi alternatif pengganti elpiji. Karena ketersediaan DME di pasar global terbatas, harga yang tinggi berpotensi menjadi kendala bagi perusahaan pengelola gas menyerap produk tersebut, serta menghambat penciptaan nilai tambah bagi pelaku hilirisasi. (Yoga)
Kementerian ESDM Mendorong Bali untuk Mengembangkan Pembangkit Listrik PLTP
Bill Gates Nilai MBG Penting untuk Yang Membutuhkan
Upaya Menstabilkan Harga di Pasar Domestik
Saham Antam Melaju Rp 3.000
Kemenhub Melakukan Pengawasan Perusahaan Otobus Harus Dipertegas
Bapanas mengusulkan intervensi Harga Ayam Hidup, Telur dan Bawang Putih
Harga ayam hidup dan telur ayam ras di tingkat peternak anjlok di bawah harga acuan yang ditetapkan pemerintah. Sementara harga bawang putih masih tinggi, di atas harga acuan penjualan. Bapanas menyebutkan, ketiga komoditas itu perlu segera diintervensi. Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas, Andriko Noto Susanto mengatakan, saat ini harga ayam hidup (livebird) dan telur ayam ras di tingkat peternak perlu diintervensi. Jika hal itu tidak dilakukan, peternak mandiri ayam pedaging dan petelur bisa semakin merugi. Per 4 Mei 2025, harga rerata nasional ayam hidup Rp 19.500 per kg atau 21,61 % di bawah harga acuan pembelian di tingkat peternak Rp 25.000 per kg. Sementara harga rerata telur ayam ras Rp 24.591 per kg, lebih rendah 7,2 % dari harga acuan pembelian di tingkat peternak Rp 26.500 per kg.
”Kondisi itu terjadi di 81 kabupaten/kota sentra ayam hidup dan 99 kabupaten/kota sentra telur ayam ras,” ujar Andriko dalam Rakor Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kemendagri secara hibrida di Jakarta, Senin (5/5). Untuk mengatasi problem itu, Bapanas telah menggulirkan program Bela Beli Telur dan Daging Ayam Ras. Melalui program itu, Bapanas bersama sejumlah kementerian/lembaga membantu penyerapan 1 ton daging ayam dan 1,2 ton telur ayam ras langsung dari peternak. Jumlah serapan itu masih relatif kecil. Untuk itu, Bapanas meminta setiap pemda, terutama di daerah-daerah sentra peternakan ayam pedaging dan petelur, turut menjalankan program tersebut. Bapanas juga telah meminta para integrator membeli ayam hidup dan telur ayam ras dari para peternak mandiri.
Bapanas juga telah mengimbau para pelaku industri pangan olahan untuk menyerap produksi daging dan telur nasional yang tengah surplus tersebut. Bapanas juga tengah berupaya menurunkan harga bawang putih. Bapanas meminta realisasi impor bawang putih segera ditingkatkan dan Satgas Pangan mengawasi distribusi bawang putih impor tersebut. BPS mencatat, per pekan I Mei 2025, harga rerata nasional bawang putih Rp 44.980 per kg, turun 1,51 % dibanding harga rerata nasional pada April 2025. Kendati begitu, harganya masih jauh di atas harga acuan penjualan (HAP) bawang putih di tingkat konsumen yang ditetapkan pemerintah Rp 38.000 per kg. Harga bawang putih tertinggi berada di Kabupaten Intan Jaya dan Puncak yang tembus Rp 100.000 per kg. (Yoga)
Energi Terbarukan Jadi Pilar Cegah Krisis Listrik
Emiten Emas Catatkan Performa Gemilang
Kinerja emiten-emiten logam dan mineral pada kuartal I/2025 menunjukkan lonjakan yang impresif, didorong oleh permintaan global terhadap emas sebagai aset safe haven dan strategi operasional yang adaptif. Tokoh utama seperti Nicolas D. Kanter, Direktur Utama PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), menekankan keberhasilan ANTM dalam meningkatkan efisiensi dan merespons pasar secara cepat, yang tercermin dari lonjakan pendapatan sebesar 203,35% dan kenaikan laba bersih hingga 794,05%. Segmen emas menjadi kontributor utama kinerja positif ini. PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) juga mencatatkan pertumbuhan signifikan berkat kenaikan harga dan volume penjualan emas. Sementara itu, analis seperti Thomas Radityo dan Charles Gobel menggarisbawahi prospek positif emas ke depan, meski logam lain seperti nikel dan kobalt tertekan oleh perlambatan ekonomi China dan pergeseran teknologi baterai.
Sebaliknya, sektor batu bara menghadapi tekanan signifikan akibat penurunan harga jual rata-rata dan melemahnya permintaan ekspor. Emiten seperti PT Indika Energy Tbk. (INDY) dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) mencatat penurunan laba bersih tajam, sedangkan PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) juga mengalami penurunan meski pendapatannya naik. Hanya PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) yang berhasil mencetak kinerja positif di tengah tren lesu industri batu bara. Analis Arnanto Januri dari JP Morgan menyatakan bahwa prospek batu bara masih lemah dalam jangka pendek tanpa katalis baru dari sisi pasokan, sementara saham-saham seperti ITMG dan PTBA masih diminati investor domestik karena pendapatan berbasis dolar. Keseluruhan, emiten logam tampil cemerlang, sementara batu bara menghadapi tantangan struktural yang semakin nyata.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









