Lingkungan Hidup
( 5781 )Emiten Batubara Lanjutkan Tren Konsolidasi
Meskipun kuartal I/2025 diwarnai tekanan harga komoditas yang berdampak negatif terhadap laba mayoritas emiten batu bara, serta menyebabkan pelemahan pada Indeks Energi, situasi ini tidak serta-merta menjadi titik nadir. Tokoh-tokoh penting dalam sektor ini seperti PT Bukit Asam (PTBA), Harum Energy (HRUM), dan Indika Energy (INDY) justru menunjukkan respons strategis yang menjanjikan, antara lain melalui peningkatan produksi, efisiensi operasional, dan ekspansi ke pasar baru.
Lebih dari itu, mereka memulai transformasi penting dengan diversifikasi bisnis menuju logam dasar, energi baru terbarukan (EBT), hingga kendaraan listrik, sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada batu bara dan menciptakan sumber pertumbuhan baru yang lebih ramah lingkungan serta berkelanjutan.
Bagi investor, tekanan saat ini justru membuka peluang. Besarnya potensi dividen, kemungkinan pemulihan harga batu bara, dan kesiapan emiten menghadapi transisi energi global menjadi alasan kuat untuk tetap optimistis. Warna merah mungkin mendominasi saat ini, tetapi langkah strategis para emiten menunjukkan bahwa "bara" masih menyimpan potensi menyala kembali untuk jangka panjang.
Antam Jadi Mesin Pertumbuhan Baru
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) berencana menambah lini usaha baru di bidang industri barang perhiasan, custom product, dan barang lainnya dari logam mulia, untuk mengoptimalkan peluang dari segmen emas. Dari bisnis baru ini, perseroan menargetkan tambahan omzet penjualan hingga Rp 1 triliun dalam lima tahun ke depan. Menejemen Antam mengungkapkan bahwa penambahan kegiatan usaha komoditas logam mulia ini, akan dapat meningkatkan segmen emas dan pemurnian perseroan. "Selain itu pengembangan kegiatan usaha komoditas tersebut diharapkan dapat mendukung pencapaian kinerja perusahaan dalam jangka panjang," ujar manajemen Antam. Dalam penjelasannya, manajemen Antam menyebut bahwa sejalan dengan rancana jangka panjang perusahaan (RPJJ) tahun 2025-2029, komoditas emas memiliki peluang optimasi penjualan emas dengan verifikasi produk, pasar, dan ekspansi jaringan ritel distribusi.
Terkait hal itu, salah satu tema strategis dalam jangka panjang adalah penguatan fungsi emas, termasuk penetrasi ke lini pasar baru melalui kolaborasi, akuisisi, maupun kegiatan lainnya. "Untuk mendukung pencapaian target penjualan komoditas emas, perseroan melalui unit bisnis pengolahan dan pemurnian logam mulia (UBPPLM) memiliki strategi yang berfokus pada kualitas dan penyediaan produk, pengembangan produk dan keunggulan daya saing, serta pemasaran. Perseroan telah merencanakan berbagai program kerja, diantaranya pengembangan produk berupa produk perhiasan dan costum product termasuk product termasuk produk industri untuk keperluan teknik dan atau laboratorium yang terbuat dari logam mulia," papar manajemen Antam. (Yetede)
PT Sumber Global Energy Teken Kontak Batu Bara US$ 10 Juta
Emiten perdagangan komoditas, PT Sumber Global Energy Tbk (SGER) menandatangani kontrak ekspor batu bara bernilai US$ 10 juta atau setara Rp165,25 miliarm bersama COALIMEX, perusahaan di bawah Kementerian Listrik dan Batu Bara Vietnam. Kontrak tersebut diteken pada Senin (5.5.2025 oleh konsorsium TGS yang dipimpin oleh SGER. Adapaun jenis batu bara yang dikapalkan merupakan antrasit berkualitas tinggi sesuai paket pengadaan No 01/2024/TNK-CLM. "Kontrak ini merupakan hasil proses pengadaan yang telah melalui evaluasi dan disetujui Keputusan No 30T tertanggal 23 Januari 2025," kata Direktur Utama SGER Welly Thomas. Welly menjelaskan, nilai kontrak sebesar US$ 10 juta tersebut berpotensi terus bertambah seiring permintaan energi yang tinggi dari Vietnam. Dia juga menyebutkan bahwa kontrak ini adalah bagian dari upaya memperkuat kerja sama energi antara Indonesia dan Vietnam. COALIMEX sendiri merupakan pemain lama dalam batu bara dunia dengan pengalaman lebih dari 40 tahun. Sejak didirikan pada 1982, perusahaan ini telah mengalami transformasi kelembagaan dan kini berada di bawah naungan Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Vietnam. (Yetede)
Emas dan Bitcoin Masuki Fase Volatilitas Tinggi
Keputusan Federal Reserve (The Fed) untuk menahan suku bunga acuan di level 4,25%–4,50% berdampak signifikan terhadap pergerakan komoditas emas dan aset kripto. Dalam pernyataannya, Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa kebijakan moneter harus tetap fleksibel dan The Fed belum terburu-buru untuk menurunkan suku bunga, meskipun ketidakpastian akibat perang dagang dan kebijakan tarif Presiden Donald Trump terus membayangi. Powell juga memperingatkan bahwa risiko inflasi dan perlambatan pertumbuhan tetap menjadi perhatian utama.
Kondisi tersebut mendorong investor untuk mencari aset lindung nilai seperti emas, yang sempat mencetak rekor di atas US$3.500 per ons meskipun kembali terkoreksi. Sementara itu, Bitcoin menunjukkan tren penguatan, sempat menyentuh US$99.000, dan diprediksi bisa kembali menembus level psikologis US$100.000, didukung oleh spekulasi pelonggaran regulasi di bawah kepemimpinan Trump yang dikenal pro-kripto. Namun, volatilitas pasar masih tinggi akibat ketidakpastian arah kebijakan perdagangan dan geopolitik AS.
Menurut analis kripto Fahmi Almuttaqin, sentimen pasar kripto tetap positif pasca pertemuan The Fed karena tidak ada sinyal negatif yang mengkhawatirkan. Kinerja pasar saham AS juga ikut terdorong, terutama sektor teknologi, setelah adanya sinyal bahwa Presiden Trump mempertimbangkan pelonggaran pembatasan ekspor chip AI, dan indeks-indeks utama seperti Dow Jones dan Nasdaq ditutup menguat.
Strategi Penerapan Pertambangan Berkelanjutan
Pertambangan berkelanjutan adalah praktik pertambangan yang mengurangi risiko terhadap dampak lingkungan, sosial sekaligus memaksimalkan kegiatan usahanya. Dalam praktiknya, konsep keberlanjutan perusahaan mengacu pada prinsip ESG, yang dapat diukur pencapaiannya. Salah satunya adalah PT Indo Tambangraya Megah Tbk. Perusahaan berkode emiten ITM ini bergerak di bisnis batubara. Tersebar di Kalimantan, ITM memproduksi 20,2 juta ton batubara pada 2024. Dalam Laporan Berkelanjutan 2024, ITM menyebutkan strategi berkelanjutan, dilakukan melalui transformasi bisnis dari ketergantungan pada batubara ke energi terbarukan. Meskipun batubara masih utama, ITM menargetkan tahun 2025 sebagai masa transisi energi.
”Sebelum bicara tentang jumlah produksi, kami harus lebih dulu memperhatikan isu lingkungan. ITM telah bergerak ke energi terbarukan,” ujar Ignatius Wurwanto, Direktur ITM, dalam diskusi terkait industri pertambangan dan akal imitasi (AI), di Jakarta, Kamis (24/4). Tahun lalu, ITM melalui PT ITM Bhinneka Poer (IBP) membukukan kontrak pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas 61,3 megawatt peak (MWp). PLTS itu termasuk dalam proyek Pelabuhan Bunyut, tempat bongkar muat batubara. Penggunaan energi terbarukan, seperti PLTS dan minyak kelapa sawit, di ITM pun bertambah dari 745.933 gigajoule (GJ) pada 2022 menjadi 958.775 GJ tahun lalu. Sebaliknya, pemakaian energi tidak terbarukan berkurang dari 2,5 juta GJ menjadi 2 juta GJ di periode tersebut.
Intensitas gas rumah kaca ditekan seminimal mungkin, bahkan nol emisi. Penerapan pertambangan berkelanjutan lainnya ialah mereklamasi lahan pascatambang, merealisasikan dana Rp 24,5 miliar untuk program pemberdayaan masyarakat, hingga mengadopsi teknologi digital melalui scrum yang memungkinkan pengembangan prototipe, proyek percontohan, dan produk yang dapat direalisasikan secara cepat. ”Selama lima tahun, kami memiliki 50 studi kasus (scrum) dengan nilai (proyek) 50 juta USD (Rp 850 miliar dengan kurs 1 USD setara Rp 17.000),” ujarnya. Ignatius mengakui, pengembangan teknologi membutuhkan dana. Namun, hal itu harus dilakukan untuk mendukung pertambangan berkelanjutan. Apalagi, dengan prinsip itu, produksi batubara meningkat 20 % tahun lalu. (Yoga)
Rayuan Pulau Kelapa Tanpa Kelapa
Ketika Ismail Marzuki menciptakan lagu "Rayuan Pulau Kelapa" pada tahun 1944 sebagai penghormatan bagi para pejuang kemerdekaan, mungkin yang dibayangkan sang komponis besar negara ini adalah sebuah negeri kepulauan yang tidak saja merdeka, tetapi tampak begitu indah dengan dedauanan pohon kelapa melambai ramah kepada siapapun yang mencintai Indonesia. Bicara tentang pohon kelapa, ini adalah anugrah ciptaan Tuhan yang begitu bermanfaatnya. Akarnya yang berserabut merupakan pengikat tanah sekitarnya dari erosi pantai dan sungai. Batangnya dapat dimanfaatkan untuk membuat jembatan, atau diolah menjadi berbagai furniture dan perabot rumah tangga. Serabut dari kulit kelapa dapat digunakan sebagai fiber, sementara batok buah kelapa biasa digunakan sebagai arang bakar. Daunnya yang muda-biasa disebut janur- dapat dimanfaatkan untuk membuat ketupat dengan aromanya yang khas. Bandingkan dengan ketupat plastik yang di Negeri Jiran disebut nasi imbit.
Namun, buah kelapa sungguh menawarkan banyak pilihan untuk diolah. Dalam beberapa bulan terakhir, harga kelapa di dalam negeri melonjak tajam. Pada Agustus 2024, harga kelapa untuk kebutuhan industri masih berada dikisaran Rp 3.500 per kg. Namun per April 2025, harga tersebut melonjak drastis menjadi Rp 8.500 per kg. Penyebab kenaikan harga yang begitu drastis itu bukan berasal dari satu faktor saja, melainkan merupakan akumulasi dari dinamika permintaan global yang melonjak. Permintaan global terhadap produk kelapa, terutama dari RRT. Negara tersebut mengalami ledakan konsumsi minuman berbasis kelapa seperti coconut latte, coconut milk, dan produk siap minum seperti coconut juice. Sementara aturan ekspor di Indonesia khususnya untuk kelapa bulat sangatlah lemah bahkan tidak jelas sehingga justru memperparah situasi. Negara-negara tetangga seperti Philipina dan Thailand sudah menerapkan berbagai regulasi seperti kuota, pajak ekspor yang tinggi, bahkan larangan ekspor untuk menjaga pasokan domestik dan menolong hilirisasi (Yetede)
Pelaku Usaha Minta Jaminan Keekonomian karena Kewajiban Hilirisasi
Pelaku usaha tambang batubara meminta pemerintah menjamin aspek keekonomian dalam kegiatan hilirisasi, baik dari sisi investasi maupun kepastian penyerapan produk, sebagai respons atas kebijakan pemerintah yang mewajibkan tujuh perusahaan pertambangan batubara untuk melaksanakan proyek hilirisasi. Direktur Eksekutif Indonesia Mining Association, Hendra Sinadia, Rabu (7/5) mengatakan, meminta dukungan pemerintah seusai Kementerian ESDM mewajibkan tujuh perusahaan pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) untuk menjalankan proyek hilirisasi batubara.
Kewajiban itu, menurut Dirjen Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, di Jakarta, Selasa (6/5) menjadi syarat perusahaan PKP2B gelombang pertama yang mendapatkan perpanjangan kontrak menjadi izin usaha pertambangan khusus. Mereka ialah PT Arutmin Indonesia, PT Kaltim Prima Coal (KPC), PT Adaro Andalan Indonesia (AADI), PT Kideco Jaya Agung, PT Multi Harapan Utama (MHU), PT Tanito Harum, PT Berau Coal. ”Ini karena kewajiban pemerintah meminta kami untuk melakukan konversi batubara, yang istilahnya hilirisasi. Jadi, memang tugas pemerintah juga untuk menciptakan atau buat regulasi sehingga ini jadi ekonomis,” ujar Hendra.
Keekonomian usaha yang dimaksud salah satunya dalam hal investasi untuk teknologi konversi. Biaya teknologi yang besar, menurut Hendra, menjadi tantangan bagi penambang batubara. Hal ini berbeda dengan hilirisasi nikel yang lebih menarik bagi penambang karena biaya teknologinya relatif lebih murah. Selain itu, berkurangnya keberpihakan investor pada usaha komoditas batubara yang menyumbang emisi gas rumah kaca juga menjadi kendala besar lainnya. Sementara itu, negara yang kemungkinan menjadi mitra investasi adalah China, yang sudah berpengalaman mengonversi batubara menjadi gas.
Selain kepastian investasi dengan dana besar, perusahaan batubara, menurut dia, juga belum mendapat kepastian harga jual produk konversi. Contohnya, harga produk gasifikasi batubara, dimetil eter (DME), yang bisa menjadi alternatif pengganti elpiji. Karena ketersediaan DME di pasar global terbatas, harga yang tinggi berpotensi menjadi kendala bagi perusahaan pengelola gas menyerap produk tersebut, serta menghambat penciptaan nilai tambah bagi pelaku hilirisasi. (Yoga)
Kementerian ESDM Mendorong Bali untuk Mengembangkan Pembangkit Listrik PLTP
Bill Gates Nilai MBG Penting untuk Yang Membutuhkan
Upaya Menstabilkan Harga di Pasar Domestik
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









