Strategi Penerapan Pertambangan Berkelanjutan
Pertambangan berkelanjutan adalah praktik pertambangan yang mengurangi risiko terhadap dampak lingkungan, sosial sekaligus memaksimalkan kegiatan usahanya. Dalam praktiknya, konsep keberlanjutan perusahaan mengacu pada prinsip ESG, yang dapat diukur pencapaiannya. Salah satunya adalah PT Indo Tambangraya Megah Tbk. Perusahaan berkode emiten ITM ini bergerak di bisnis batubara. Tersebar di Kalimantan, ITM memproduksi 20,2 juta ton batubara pada 2024. Dalam Laporan Berkelanjutan 2024, ITM menyebutkan strategi berkelanjutan, dilakukan melalui transformasi bisnis dari ketergantungan pada batubara ke energi terbarukan. Meskipun batubara masih utama, ITM menargetkan tahun 2025 sebagai masa transisi energi.
”Sebelum bicara tentang jumlah produksi, kami harus lebih dulu memperhatikan isu lingkungan. ITM telah bergerak ke energi terbarukan,” ujar Ignatius Wurwanto, Direktur ITM, dalam diskusi terkait industri pertambangan dan akal imitasi (AI), di Jakarta, Kamis (24/4). Tahun lalu, ITM melalui PT ITM Bhinneka Poer (IBP) membukukan kontrak pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas 61,3 megawatt peak (MWp). PLTS itu termasuk dalam proyek Pelabuhan Bunyut, tempat bongkar muat batubara. Penggunaan energi terbarukan, seperti PLTS dan minyak kelapa sawit, di ITM pun bertambah dari 745.933 gigajoule (GJ) pada 2022 menjadi 958.775 GJ tahun lalu. Sebaliknya, pemakaian energi tidak terbarukan berkurang dari 2,5 juta GJ menjadi 2 juta GJ di periode tersebut.
Intensitas gas rumah kaca ditekan seminimal mungkin, bahkan nol emisi. Penerapan pertambangan berkelanjutan lainnya ialah mereklamasi lahan pascatambang, merealisasikan dana Rp 24,5 miliar untuk program pemberdayaan masyarakat, hingga mengadopsi teknologi digital melalui scrum yang memungkinkan pengembangan prototipe, proyek percontohan, dan produk yang dapat direalisasikan secara cepat. ”Selama lima tahun, kami memiliki 50 studi kasus (scrum) dengan nilai (proyek) 50 juta USD (Rp 850 miliar dengan kurs 1 USD setara Rp 17.000),” ujarnya. Ignatius mengakui, pengembangan teknologi membutuhkan dana. Namun, hal itu harus dilakukan untuk mendukung pertambangan berkelanjutan. Apalagi, dengan prinsip itu, produksi batubara meningkat 20 % tahun lalu. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023