Perjuangan Mendongkrak Kinerja Masih Berat
Kinerja PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) pada tahun 2025 diperkirakan akan menghadapi tekanan dari penurunan harga batubara global dan kenaikan biaya operasional, khususnya akibat kebijakan B40 dan pencabutan subsidi bahan bakar. Hasan Barakwan, analis Maybank Sekuritas, memproyeksikan ASP ITMG turun 8% menjadi US$ 84 per ton, sementara biaya tunai naik 4,8% menjadi US$ 66 per ton. Imbasnya, pendapatan dan laba bersih ITMG diprediksi melemah tajam.
Ahmad Iqbal Suyudi dari Edvisor Profina Visindo menilai ITMG mencoba mengimbangi tekanan tersebut dengan menaikkan produksi batubara sekitar 5%. Namun, ketidakpastian global, termasuk perang dagang yang dipicu Presiden AS Donald Trump, menjadi faktor risiko besar, terutama bagi permintaan dari China dan India sebagai pasar utama.
Di sisi lain, tim riset Ajaib Sekuritas menilai ITMG masih dapat mempertahankan profitabilitas berkat efisiensi biaya dan struktur permodalan yang sehat (DER hanya 0,15 kali). Capex 2025 naik menjadi US$ 63 juta, menunjukkan fokus pada pertumbuhan berkelanjutan.
Meski menghadapi tantangan, dividen jumbo senilai US$ 243 juta (DPR 65%) memberi daya tarik tersendiri bagi investor. Harga saham ITMG naik 7,24% dalam sebulan terakhir. Namun, Iqbal mengingatkan potensi "dividend trap" karena harga sudah priced-in. Hasan tetap merekomendasikan “hold” dengan target harga Rp 21.000, sementara Erinda Krisnawan dari BRI Danareksa Sekuritas justru menyarankan “beli” dengan target harga optimis Rp 27.300 per saham.
Tags :
#Batu BaraPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023