Lingkungan Hidup
( 5781 )Incar Pabrikan Emas, Pajak Pangkas PPh & PPN
Pemerintah memangkas tarif pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penghasilan (PPh) atas penjualan emas dan jasa yang terkait. Langkah ini dilakukan pemerintah agar semakin banyak pelaku usaha perhiasan emas masuk dalam sistem perpajakan.
Ketentuan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 48 Tahun 2023. Beleid itu mengatur,
pertama
, pengusaha kena pajak (PKP) pabrikan emas perhiasan wajib memungut PPN 1,1% dari harga jual untuk penyerahan kepada pabrikan emas perhiasan lainnya dan pedagang emas perhiasan, atau 1,65% dari harga jual untuk penyerahan ke konsumen akhir.
Sementara PKP pedagang emas perhiasan wajib memungut PPN 1,1% dari harga jual jika memiliki faktur pajak atau dokumen lengkap atas perolehan/impor emas perhiasan, atau 1,65% dari harga jual jika tidak memilikinya.
Direktur Penyuluhan, Pelayanan dan Humas Ditjen Pajak Dwi Astuti mengatakan, tarif tersebut turun jika dibandingkan aturan sebelumnya, yakni PMK No. 30 Tahun 2014. Sebelumnya, penyerahan emas perhiasan oleh PKP pabrikan dan PKP pedagang emas perhiasan terutang PPN 10% dikali dasar pengenaan pajak berupa nilai lain sebesar 20% dari harga jual atau penggantian. Dengan demikian, tarif efektifnya 2% dari harga jual.
Kedua, pabrikan dan pedagang emas perhiasan juga wajib memungut PPh Pasal 22 0,25% dari harga jual. Menurut Dwi, pengenaan PPh Pasal 22 dikecualikan untuk penjualan emas perhiasan ke konsumen akhir, wajib pajak (WP) yang dikenai PPh final cfm. PP-55/2022, atau WP yang memiliki Surat Keterangan Bebas (SKB) pemungutan PPh.
Ketiga, sama seperti emas perhiasan, pengusaha emas batangan juga wajib memungut PPh 22 sebesar 0,25% dari harga jual. Kebijakan ini dikecualikan untuk penjualan emas batangan kepada konsumen akhir, WP yang dikenai PPh final cfm. PP-55/2022, atau WP yang memiliki SKB pemungutan PPh.
Relasi Dollar AS dan Harga Minyak
Secara historis, harga minyak berhubungan terbalik dengan kekuatan mata uang dollar AS (Verleger; 2023). Bagi negara-negara pengimpor bersih minyak, hal ini memberikan semacam efek kompensasi parsial yang meringankan biaya impor minyak. Hubungan terbalik ini terjadi karena untuk jangka waktu lama, tahun 1980 sampai 2020, AS masih pengimpor bersih minyak. Harga minyak yang naik akan membuat nilai impor minyak meningkat sehingga AS harus memompa dollar lebih banyak ke sirkulasi dunia sehingga membuat dollar melemah. Relasi terbalik atau negatif ini berubah jadi searah sejak AS menjadi eksportir bersih minyak pada 2020 dengan ekspor 8,51 juta barel per hari (Farley; 2022). Sejak itu, peningkatan harga minyak cenderung membuat dollar AS menguat karena meningkatkan permintaan dunia terhadap mata uang dollar AS.
Perang Ukraina-Rusia yang sudah berlangsung setahun lebih makin memperkuat relasi positif ini. Sanksi ekonomi terhadap Rusia yang merupakan produsen minyak membuat permintaan terhadap minyak AS meningkat. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) sempat hampir menyentuh 120 dollar AS per barel pada pertengahan Juni 2022. Secara berantai, hubungan searah antara harga minyak dunia dan komoditas lainnya juga terjadi, baik melalui substitusi di rantai produksi maupun ekspektasi di bursa berjangka. Setelah harga minyak mencapai titik tertingginya, tak lama kemudian disusul oleh komoditas pangan dan energi.
Namun, relasi searah dollar AS dan harga minyak ini juga menimbulkan masalah baru, yaitu fluktuasi siklus komoditas antara masa berlimpah (boom) dan paceklik (bust) menjadi melebar. Perekonomian dalam negeri yang tumbuh berbasis mobilitas berorientasi rupiah merupakan bantalan terhadap apresiasi dan fluktuasi dollar AS. Walaupun rupiah sempat terdepresiasi di akhir November 2022, tetapi dapat bertahan di Rp 15.700 per dollar AS. Indeks dollar AS dan harga minyak yang turun kemudian membalikkan momentum. Sejak Januari 2023, rupiah kembali menguat ke arah ekuilibrium idealnya. Sampai akhir minggu lalu sudah mencapai Rp 14.800-an per dollar AS. (Yoga)
Harga Komoditas dan Potensi Stagnasi Ekspor RI
Bank Dunia memperkirakan harga komoditas global tahun ini akan turun dengan laju tercepat sejak pandemi Covid-19. Hal itu berpotensi mengaburkan prospek pertumbuhan negara berkembang yang bergantung pada ekspor komoditas. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Bisnis UI (LPEM FEB UI) meramal ekspor Indonesia bakal stagnan. Hal ini dapat terjadi jika Indonesia tidak segera membenahi sejumlah sektor penopang ekspor. Dalam laporan Prospek Pasar Komoditas Edisi April 2023 yang dirilis 27 April 2023, Bank Dunia menyebutkan, setelah naik 45 % pada 2022, indeks harga komoditas diperkirakan turun 21 % pada 2023 dan tetap stabil pada 2024. Penurunan indeks itu sudah terjadi selama enam bulan terakhir. Indeks harga komoditas nonenergi, termasuk pangan, diperkirakan turun 10 % pada 2023 dan 3 % pada 2024.
Indeks harga komoditas energi bakal turun 26 % pada 2023 meskipun pada 2024 akan naik tipis 0,1 %. Harga rata-rata minyak mentah Brent pada 2023 diperkirakan 84 USD per barel, turun 16 % dari rata-rata tahun 2022. Harga gas alam di Eropa akan anjlok 53 %. Harga batubara diperkirakan turun 42 % pada 2023 dan 23 persen pada 2024. ”Penurunan harga komoditas global akan sedikit melegakan konsumen di negara-negara importir. Namun, penurunan harga itu diperkirakan tidak banyak membantu hampir 350 juta orang di seluruh dunia yang menghadapi kerawanan pangan,” kata Kepala Ekonom dan juga Wakil Presiden Senior untuk Ekonomi Pembangunan Bank Dunia Indermit Gill melalui siaran pers.
Ia menjelaskan, meskipun diperkirakan turun 8 % pada 2023, harga pangan tetap berada di level tertinggi kedua sejak 1975. Adapun, harga pupuk diproyeksikan turun 37 % pada 2023 seiring penurunan harga batubara dan gas alam. Namun, harga pupuk itu tetap mendekati level harga tertinggi saat terjadi krisis pangan 2008-2009. Hal itu tetap akan menambah biaya produksi pangan di negara produsen. Peneliti Pusat Kajian Iklim Usaha dan Rantai Nilai Global LPEM FEB UI Calista Endrina Dewi, Minggu (30/4) mengatakan, pada Maret 2023, neraca perdagangan RI masih surplus 2,91 miliar USD. RI mengalami surplus neraca perdagangan selama 35 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. ”Namun, ketika harga komoditas global mulai turun, kinerja ekspor RI juga akan ikut turun,” katanya. (Yoga)
RI Dorong Penguatan Cadangan Beras Regional
JAKARTA, ID-Indonesia mendorong penguatan sistem pengelolaan cadangan beras regional (CBR) sebagai upaya mengantisipasi dampak perubahan iklim serta penanggulangan bencana alam di kawasan Asia. Penguatan CBR diperlukan guna memastikan terciptanya ketahanan pangan regional terutama pada saat situasi darurat, termasuk kemarau panjang akibat fenomena EL Nino. Direktur Distribusi dan Cadangan Pangan Badan Pangan Nasional/National Food Agency (Bapanas/NFA) Rachmi Widiriani, selaku national focal point Asean Plus Three Emergency Rice Reserve (APTERR) Indonesia, dalam sidang APTERR ke-11 yang digelar di Seoul, Korea Selatan, pada 25-26 April 2023, mengatakan, APTERR berperan penting dalam memastikan ketahanan pangan regional, terutama saat situasi darurat, seperti bencana alam, pandemi Covid-19, dan lain sebaginya. Penguatan ketahanan pangan regional ini sejalan inisiatof RI selaku pemegang keketuaan The Association of Southlast Asean Nations (Asean) 2023 yang dituangkan dalam Asean Leaders Declaration on Strengthening Food Security and Nutrition in Time of Crises. "Sesuai arahan Presiden Jokowi, upaya penguatan ketahanan pangan dan gizi perlu dibangun bersama-sama dengan negara sahabat guna menjaga stabilitas ketahanan pangan kawasan," ujar Rachmi. (Yetede)
Harga Minyak Terpengaruh Pertemuan The Fed
TOKYO,ID- Harga minyak dunia dilaporkan turun pada Senin (01/5/2023) menyusul kekhawatiran dampak ekonomi dari rapat The Fed, yang berpotensi menaikkan suku bunga dan data manufaktur Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang lebih lemah melebihi dukungan dari pemangkasan suplai OPEC+ yang berlaku bulan ini. The Fed yang dijadwalkan melakukan pertemuan pada 23 Mei, diperkirakan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis point. Nilai tukar dollar AS pun dilaporkan menguat terhadap sekelompok mata uang asing pada Senin, sehingga membuat harga minyak menjadi lebih mahal bagi para pemegang mata uang lainnya. Harga acuan minyak mentah Brent turun 97 sen, atau 1,2% menjadi US$ 79,36 per barel pada pukul 13.42 GMT, sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun US$ 1,44, atau 1,9%, dan diperdagangakan pada US$ 75,34. "Kegagalan mencapai level yang lebih tinggi diatas US$ 80,50 untuk Brent menunjukkan berlanjutnya minat jual ditengah-tengah kekhawatiran pertumbuhan/permintaan yang telah diketahui," kata Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank Ole Hansen, yang dilansir Reuters. (Yetede)
Antisipasi Dampak Kemarau Panjang
Indonesia diprediksi akan terkena fenomena kemarau panjang (El Nino) pada bulan Agustus 2023 mendatang. Kemarau yang disertai cuaca kering ini dipastikan bakal berdampak terhadap produksi pangan.
Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kemtan) Suwandi mengatakan, pemerintah sudah menyiapkan sejumlah langkah untuk menekan dampak El Nino terhadap produksi pangan nasional.
Salah satunya adalah mendorong petani untuk mempercepat musim tanam setelah panen raya. "Kebijakan Menteri Pertanian adalah percepatan tanam setelah panen raya yang hampir berakhir di bulan Mei," kata Suwandi, Jumat (28/4).
Direktur Ketersediaan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Budi Waryanto mengatakan, untuk mitigasi dampak El Nino, Bapanas telah berkoordinasi dengan Menteri BUMN agar segera menugaskan BUMN pangan untuk mengamankan stok dari hulu ke hilir.
Sejatinya, Bapanas hanya berwenang di sektor pasca produksi dan distribusi pangan. Namun, El Nino bisa berimbas pada penurunan produksi, sehingga mengganggu stabilitas harga pangan. Untuk itu, perlu antisipasi sejak dini.
Secangkir Kopi Inflasi Bebas Deforestasi
Sejumlah negara di Uni Eropa (UE) pernah mengalami ”pahitnya” secangkir kopi karena harga yang melambung tinggi pada Agustus 2022. Forum Ekonomi Dunia atau WEF menyebutnya ”secangkir kopi mengisahkan kenaikan inflasi”. Eurostat mencatat, harga secangkir kopi di sejumlah negara di kawasan UE naik 16,9 % pada Agustus 2022. Setahun sebelumnya, harga kopi hanya meningkat 0,5 %. Jika meminumnya dengan susu atau gula, dampak inflasi akan lebih tajam. Harga susu segar dan rendah lemak masing-masing naik 24,3 % dan 22,2 %, sedangkan harga gula melonjak 33,4 % secara tahunan. Pada Agustus 2022, harga kopi dunia mencapai 243,21 USD per pon. Kenaikan harga kopi itu merupakan imbas pandemi Covid-19. Penguncian wilayah untuk menekan penularan Covid-19 di negara-negara produsen membuat rantai pasok komoditas terganggu. Gangguan distribusi juga menyebabkan biaya logistik melonjak tinggi dan berpengaruh pada harga.
Kini, meski mulai turun, harga kopi di pasar internasional masih lebih tinggi dibandingkan sebelum pandemi. Harga kopi arabika di Bursa Berjangka ICE di AS, per Rabu (26/4) diperdagangkan 192,2 USD per pon, turun 13,19 % dibanding tahun lalu. Harga kopi di UE diperkirakan kembali naik setelah UU Bebas Deforestasi (EUDR) diberlakukan. Pada 19 April 2023, Parlemen UE mengesahkan regulasi penjamin produk-produk yang dijual di kawasan UE tidak terkait dengan perusakan atau degradasi hutan. Kopi merupakan salah satu komoditas yang wajib memenuhi persyaratan EUDR. The Washingthon Post (22 Februari 2023) memantik pembacanya terkait regulasi UE itu dengan artikel berjudul ”How EU Wants to Stop Deforestation in Your Coffee”. Di situ disebutkan, UE akan melarang impor komoditas yang baru diproduksi di lahan yang berasal dari perusakan hutan. Senior Advisor for The American Association of the Indo-Pacific Khalil Hegarty menyatakan, regulasi itu dapat mendorong harga-harga komoditas naik. (Yoga)
Pasar Lesu, Hak Ekspor CPO Menumpuk
Hak ekspor CPO dan tiga produk turunannya menumpuk hingga 9,927 juta ton per April 2023. Hal itu terjadi lantaran pasar CPO global masih lesu. Jika pasar kembali normal, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) berharap pemerintah mengevaluasi kebijakan baru ekspor CPO dan tiga produk turunannya. Untuk saat ini, Gapki menilai langkah yang diambil pemerintah sudah benar. Berdasarkan data Kemendag, hak ekspor CPO dan tiga produk turunannya atas pemenuhan kewajiban memasok kebutuhan pasar domestik (DMO) per April 2023 sebesar 9,927 juta ton, terdiri dari 3,027 juta ton yang dibekukan pemerintah pada Februari-April 2023 dan 6,9 juta ton yang tidak dibekukan.
Per 1 Mei 2023 hingga Januari 2024, pemerintah akan mencairkan deposit atau pembekuan hak ekspor secara bertahap, rata-rata 336.000 ton per bulan. Ketua Umum Gapki Eddy Martono, Jumat (28/4) mengatakan, tidak banyak eksportir yang merealisasikan hak ekspor lantaran pasar CPO global masih sepi. Pada Januari-Maret 2023, rata-rata ekspor CPO Indonesia 1,8 juta ton per bulan, di bawah volume ekspor CPO normal 2,5 juta-3 juta ton per bulan. Lemahnya permintaan itu terjadi lantaran beberapa negara importir CPO, terutama India, menyubstitusi sebagian impor CPO dengan minyak nabati lain. (Yoga)
Siasat Hadapi Efek El Nino
JAKARTA — Pemerintah mewaspadai dampak fenomena alam El Nino terhadap kenaikan harga bahan pangan di dalam negeri. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Isy Karim, mengatakan El Nino dapat menyebabkan beberapa risiko dan dampak negatif pada produksi pertanian karena berpotensi menyebabkan kekeringan ekstrem. Terlebih, kondisi ini terjadi di banyak wilayah di dunia, khususnya di Asia Tenggara, Amerika Selatan, dan Afrika Selatan.
“Yang perlu diwaspadai tidak hanya gagal panen dan produksi pertanian yang menurun di dalam negeri, tapi juga tekanan harga komoditas global,” ujar Isy kepada Tempo, Jumat, 28 April 2023. Risiko itu pada akhirnya dapat memicu kenaikan harga pangan secara global karena penurunan produksi dan persediaan yang terbatas.Isy mencontohkan harga internasional untuk gula yang sudah naik lebih dari 30 persen dibanding harga pada tahun lalu, yang terutama disebabkan oleh proyeksi penurunan produksi di India akibat curah hujan yang berkurang. “Di dalam negeri, komoditas yang bergantung pada curah hujan perlu diantisipasi, seperti padi dan sawit sebagai makanan pokok dan komoditas ekspor utama,” kata dia. (Yetede)
Kebijakan Baru Minyak Goreng dan Ekspor CPO
Pemerintah menggulirkan empat kebijakan baru terkait minyak goreng dan ekspor CPO dan tiga produk turunannya. Kebijakan yang menganulir kebijakan lama itu bertujuan menjaga keseimbangan ekspor CPO dengan kebutuhan minyak goreng domestik dan memperbanyak porsi minyak goreng kemasan untuk rakyat. Kepala Badan Kebijakan Perdagangan Kemendag Kasan Muhri, Kamis (27/4) mengatakan, stok dan harga minyak goreng menjelang dan selama Ramadhan-Lebaran 2023 relatif terkendali. Selain itu, ekspor CPO juga masih berjalan baik dan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani juga terjaga dengan rata-rata Rp 2.000 per kg. Mempertimbangkan hal itu, pemerintah mengubah empat kebijakan minyak goreng dan ekspor CPO beserta tiga produk turunannya.
Pertama, pemerintah mengurangi kuota kewajiban memasok kebutuhan pasar domestik (DMO) minyak goreng dari semula 450.000 ton per bulan menjadi 300.000 ton per bulan. kedua, pemerintah menurunkan rasio pengali ekspor atas pemenuhan DMO dari 1:6 menjadi 1:4. Ketiga, mencairkan deposit atau pembekuan 66 % hak ekspor CPO dan tiga produk turunannya secara bertahap selama sembilan bulan ke depan. Keempat, rasio insentif pengali ekspor bagi perusahaan yang memasok minyak goreng kemasan bantal dan nonbantal dinaikkan masing-masing menjadi 1:2 kali dan 1:2,5 kali lipat. ”Kebijakan-kebijakan itu diputuskan dalam rapat koordinasi di Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi pada 18 April 2023. Kebijakan baru itu mulai berlaku per 1 Mei 2023,” kata Kasan dalam konferensi pers yang digelar secara hibrida di Jakarta. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









