Lingkungan Hidup
( 5820 )TATA KELOLA PERTAMBANGAN : ARAL MENGGANJAL DIVESTASI INCO
Pemerintah belum juga bisa memberikan kepastian mengenai keputusan divestasi saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) sebagai salah satu syarat perpanjangan kontrak, meski Presiden Joko Widodo telah berpesan untuk diselesaikan secepatnya dengan jalan keluar yang menguntungkan semua pihak. Hingga kini, proses pembahasan divestasi saham INCO masih berjalan di internal pemerintah dengan melibatkan perseroan dan PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID yang bakal melaksanakan proses tersebut. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, negosiasi sisa kewajiban divestasi saham INCO masih berlangsung alot, meski Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyetujui rencana pengembangan seluruh wilayah atau RPSW perusahaan. “Sedang diskusi terus. alot,” katanya saat ditemui, Senin (30/10). Pada kesempatan berbeda, Erick juga mengaku bahwa pihaknya masih terus mempelajari untung-rugi dari rencana divestasi saham INCO. Dirinya tidak ingin Indonesia mendapatkan manfaat yang kurang optimal dari proses yang menjadi salah satu syarat perpanjangan kontrak tersebut.Hal tersebut menjadi salah satu landasan bagi pemerintah agar proses divestasi INCO dilakukan dengan setengah hati. Sementara itu, Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan, proses pelepasan saham INCO kepada pihak Indonesia sebagai syarat peralihan status izin tambang kontrak karya (KK) menjadi izin usaha pertambangan khusus (IUPK) sudah masuk tahap finalisasi di Kementerian BUMN. Hal-hal terkait dengan perpanjangan izin konsesi tambang INCO yang menjadi kewenangan Kementerian ESDM pun diklaim telah diselesaikan. Arifin menyebut, perpanjangan kontrak INCO bakal diberikan setelah proses divestasi sahamnya rampung. Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia juga memastikan pemerintah bakal memperpanjang kontrak tambang INCO dengan menyetujui konversi kontrak lama menjadi IUPK. Beberapa persyaratan yang dimaksud oleh Bahlil di antaranya adalah kewajiban sisa divestasi kepada MIND ID, serta penciutan lahan atau relinquishment sebagian blok konsesi yang dianggap tidak dikembangkan oleh INCO selama masa konsesi.
Jadi Lumbung Pangan, Inflasi Kalteng Dipicu Harga Beras
Sekalipun Kalteng memiliki
program nasional lumbung pangan, wilayah itu tetap mengalami kenaikan inflasi
akibat kenaikan harga beras. Beras menjadi komoditas utama yang menyumbang inflasi
di Kalteng. Kenaikan harga itu seperti terpantau di sejumlah pasar tradisional
di Kota Palangkaraya, Minggu (29/10). Kasim (46), pedagang sembako di Pasar
Kahayan, mengatakan, harga beras kemasan 5 kg kini Rp 73.000. Sebelumnya, harga
beras 5 kg hanya Rp 67.000. Harga beras pera juga naik menjadi Rp 14.000 per kg
atau naik Rp 2.000 dari harga biasanya Rp 12.000 per kg. Kasim juga menjual
beras pulen dengan harga Rp 16.000 per kg atau naik Rp 5.000 dari harga
sebelumnya, Rp 11.000 per kg. ”Naik turun harganya, dari awal September sudah naik, tapi sempat turun
lagi. Lalu sekarang ini naik lagi,” katanya.
Kenaikan harga beras juga
terjadi di Pasar Besar Palangkaraya, di Jalan Ahmad Yani. Rudiantoro (35),
pedagang beras di pasar itu, mengatakan, sudah hampir seminggu ini harga beras
naik. Kenaikan harga sudah terjadi dari pemasok beras. ”Kalau saya, ambil beras
dari Banjarmasin (Kalsel),” katanya. Data BPS Kalteng menunjukkan, inflasi di
Kalteng 0,11 % dengan sampel diambil di Kota Palangkaraya dan Sampit, Kabupaten
Kotawaringin Timur. Beras adalah komoditas utama yang memberi andil terhadap
angka inflasi, yakni 0,07 %, serta bensin 0,06 %. (Yoga)
Bulog Perkuat Prasarana Pascapanen Beras-Jagung
Harga Nikel Turun, Laba INCO Tetap Naik
Bantuan Terus Didistribusikan
”Upaya ini untukmendukung pemda mengatasi permasalahan kelaparan yang disebabkan oleh cuaca ekstrem dan berbagai faktor lainnya,” kata Mathius. Sementara itu, Kemensos menyalurkan bantuan sejak Jumat (20/10). Total bantuan yang telah disalurkan selama beberapa hari itu mencapai 11,7 ton. Bantuan tersebut berupa makanan, pakaian, tenda, hingga kebutuhan anak-anak dan bayi. Pemkab Yahukimo turun ke lokasi
Harga Minyak Sulut Saham Emiten Migas
Menyiasati Krisis Minyak Mentah Global
Pertikaian antara Hamas dan Israel di Jalur Gaza memicu risiko geopolitik di pasar keuangan berikut proyeksi bakal meroketnya harga minyak mentah global sejak invasi Rusia ke Ukraina. Eskalasi konflik yang terus memanas dikhawatirkan banyak negara bakal memengaruhi rantai pasok dan pengiriman minyak mentah dari kawasan Timur Tengah dan sekitarnya. Indonesia, misalnya, menjadi salah satu negara yang mewaspadai risiko konflik karena banyak mengimpor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) dari kawasan tersebut. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sepanjang 2022, Indonesia mengimpor minyak mentah sebesar 4,19 juta ton dari Arab Saudi, senilai US$3,12 miliar. Selain dari Arab Saudi, Indonesia juga mendatangkan minyak mentah dari Nigeria, Angola, Gabon, Aljazair, dan Azerbaijan.
Pemerintah langsung menjajaki peluang impor minyak mentah dan BBM di luar negara-negara penjual tradisional. Manuver pemerintah untuk menjajaki peluang impor dari sejumlah negara baru menjadi krusial untuk mengantisipasi dampak kurangnya pasokan dan melambungnya harga minyak sepanjang akhir tahun ini.
Secara menyeluruh, pemerintah turut menyiasati ketidakpastian global tersebut melalui pengelolaan migas dari sektor hulu hingga hilir. Beberapa strategi tersebut a.l. Pemerintah berupaya keras meningkatkan cadangan dan produksi migas melalui kegiatan eksplorasi dan eksploitasi. Dalam hal ini, pemerintah memberikan fleksibilitas pemilihan jenis kontrak kerja sama baik berupa PSC Cost Recovery atau Gross Split kepada Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Pemerintah juga terbuka untuk memberikan perbaikan syarat dan kondisi kontrak kerja sama. Strategi selanjutnya adalah mengakselerasi sejumlah proyek di wilayah kerja migas Indonesia, semberi mengoptimalisasikan pemanfaatan gas domestik.
Cadangan energi hijau yang sedemikian tumpah ruah di Tanah Air menjadi bekal untuk menjaga ketahanan energi nasional, sekaligus menjaga kelancaran distribusi energi pada industri dan masyarakat.
Subsidi Energi Bisa Membengkak
Berdasarkan kalkulasi Kemenkeu, kenaikan harga minyak mentah dunia masih berada dalam koridor skenario APBN. Namun, pemerintah tetap mengantisipasi agar kombinasi antara tren kenaikan harga minyak dunia dan depresiasi nilai tukar rupiah tidak membebani keuangan negara. Berdasarkan data Trading Economics, harga minyak global mulai pertengahan tahun ini kembali merangkak naik. Pada awal September, harga minyak mentah jenis Brent meningkat hingga lebih dari 90 USD per barel. Per 25 Oktober 2023, harganya 89 dollar AS per barel.
Dirjen Anggaran Kemenkeu Isa Rachmatarwata mengatakan, kenaikan harga minyak mentah dunia, dampak dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah, masih berada dalam estimasi skenario harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP). ”Sampai saat ini pergerakan harga minyak masih berada dalam koridor asumsi ekonomi makro. Mudah-mudahan nilai minyak dunia tidak melonjak terlalu tinggi,” ujar Isa di Jakarta, Kamis (26/10). Harga minyak mentah Indonesia hingga September 2023 yang digunakan pemerintah secara rata-rata masih 77,7 USD per barel, jauh lebih rendah dari asumsi APBN 2023 yang mencapai 90 USD per barel. Karena itu, dari sisi ini, Kemenkeu, menurut dia, belum melihat akan terjadi lonjakan subsidi dan kompensasi BBM. ”Tapi, kalau kita tidak kendalikan, lebih kemungkinan akan ada di atas (alokasi). Jadi, kemungkinan kenaikan subsidi dan kompensasi terutama karena depresiasi rupiah. Itu yang perlu kita waspadai,” ucap Isa. (Yoga)
Tantangan Ekosistem Bursa CPO
Bursa Crude Palm Oil (CPO) sudah masuk perdagangan perdana pada 20 Oktober 2023. Di sesi I peluncuran, hanya dua perusahaan yang terlibat dari 18 perusahaan yang mengungkapkan kesiapannya masuk di Bursa. Sebagai peluncuran awal, tentu tidak ada yang perlu dirisaukan karena ini produk baru di Indonesia. Keberhasilan peluncuran bursa ini saja sudah menjadi sesuatu hal yang patut diapresiasi mengingat selama puluhan tahun harga acuan komoditas CPO kita merujuk pada price di Bursa Malaysia dan Forward Rotterdam, Belanda. Harapannya pengusaha sawit dalam negeri mulai yang besar sampai kecil mau ikut sekalipun tidak ada aturan yang mewajibkan mereka (sifatnya sukarela) sebagaimana ketentuan Peraturan Bappebti No. 7/2023 tentang Tata Cara Perdagangan CPO di Bursa Berjangka. Kesukarelaan ini akan diuji sejauh mana pelaku usaha kita bersedia berpartisipasi dalam Bursa CPO dan pemerintah berperan penting meyakinkan mereka dengan berbagai insentif, kemudahan ekspor dan sebagainya. Kalau ini berjalan maka inilah sesungguhnya (salah satu) wujud konkret ajaran Trisakti Soekarno ‘Berdikari dalam Ekonomi’. Indonesia adalah produsen sawit terbesar di dunia—lebih dari 50% kebutuhan CPO global dipasok dari Indonesia. Dengan hadirnya Bursa CPO, Indonesia bisa menentukan harga acuan sendiri dan itulah kedaulatan yang sesungguhnya. Tentu butuh waktu agar Bursa CPO menjadi barometer harga acuan internasional. Sebagaimana Belanda dan Malaysia atau negara lain itu butuh 40 tahun bahkan 100-an tahun dalam membangun kepercayaan pasar. Ada berbagai isu yang menjadi tantangan terutama bagi Kemendag, Bappebti, dan pengusaha sawit. Pertama, dari sisi hukum, yaitu law enforcement akan memberikan kepastian hukum menjadi perihal pokok untuk membangun kepercayaan. Kedua, menggaet pengusaha agar mau masuk ke bursa CPO kita bukan perkara mudah, sehingga pemberian insentif fiskal seperti pengurangan pajak, ekspor bea dan beragam kemudahan lain sangat diperlukan. Ketiga, perbaikan tata kelola, misalnya di bagian hulu bagaimana pelaku usaha bisa mendapatkan harga yang adil dan transparan secara real time. Keempat, melakukan sosialisasi dan literasi kepada pengusaha—pemilik pabrik besar maupun UMKM pabrik kelapa sawit perihal aturan-aturan Bursa CPO maupun mekanisme perdagangan di Bursa CPO. Kelima, Bappebti harus memastikan bahwa prinsip perdagangan di bursa CPO antara penjual dan pembeli setara. Keenam, selama ini pola perdagangan sawit Indonesia adalah business to business. CPO yang diperdagangkan lewat lelang relatif masih kecil.
Kelaparan di Tanah Papua
Warga Kabupaten Yahukimo,
Provinsi Papua Pegunungan, didera kasus kelaparan. Puluhan orang meninggal.
Saatnya solusi komprehensif diambil. Harian Kompas edisi Rabu (25/10)
melaporkan di berita utama, sebanyak 23 orang meninggal di Distrik Amuma, Kabupaten
Yahukimo, sejak Agustus 2023. Wakil Bupati Yahukimo Esau Miram masih menunggu
data resmi dari perwakilan distrik sehingga belum bisa memastikan penyebab kematian
warga karena kelaparan atau penyebab lain. Untuk mencegah dampak kelaparan,
bantuan empat ton beras disalurkan. Namun, di kabupaten tersebut curah hujan
sedang tinggi sehingga tanaman pangan lokal, seperti umbi-umbian, gagal panen.
Kondisi ini menyebabkan warga kehilangan sumber pangan dan kelaparan.
Dalam catatan berita
harian Kompas, kelaparan di Tanah Papua pertama kali diberitakan pada 3
November 1977, di sekitar Telaga Wissel, Kabupaten Paniai. Kondisi ini dipicu banjir
dari luapan danau dan merendam kebun umbi-umbian milik warga. Kejadian
kelaparan terus berulang di sejumlah kabupaten. Menteri Koordinator Bidang
Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy pernah menjanjikan membangun
lumbung pangan di Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah. Lumbung pangan itu
dibangun untuk mengantisipasi kasus kelaparan yang sering terjadi ketika cuaca ekstrem.
Program lumbung pangan ini kita harapkan tidak semata-mata dilakukan untuk
mengembangkan tanaman padi seperti dilakukan di daerah lain. Penelitian dan
pengembangan tanaman lokal, seperti umbi-umbian dan tanaman lokal lain yang
tahan cuaca ekstrem, perlu menjadi perhatian pemerintah. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









