;

Mengolah Kolope dari Umbi Beracun di Pulau Muna

Lingkungan Hidup Yoga 19 Oct 2023 Kompas
Mengolah Kolope dari Umbi Beracun di Pulau Muna

Di bawah tajuk pohon jati, di tanah Pulau Muna yang kering berbatu, umbi-umbian kolope itu tetap bisa tumbuh subur. Racun sianida yang terkandung di umbi ini secara alami melindunginya dari babi hutan dan rusa liar. Namun, secara turun-temurun orang Muna telah memiliki pengetahuan untuk mengolah umbi ini menjadi makanan pokok yang lezat dan menyehatkan. Kolope merupakan salah satu tanaman endemik yang ditemukan di hampir semua wilayah kepulauan Indonesia dengan variasi nama lokal yang beda. Dahulu, tanaman umbi-umbian ini juga merupakan salah satu sumber karbohidrat penting di Jawa dengan nama gadung (Dioscorea hispida Dennst). Catatan sejarah Pieter Creutzberg dan JTM van Laanen (Sejarah Statistik Ekonomi Indonesia Diarsipkan, 2023) menyebutkan, saat Jakarta (Batavia) dikepung tentara Sultan Agung dari Mataram pada 1628, masyarakat kebanyakan makan singkong dan umbi gadung.

Bagi Apiti, menjaga pengetahuan tentang teknik menghilangkan racun di kolope hingga mengolahnya sebagai makanan pokok yang aman dikonsumsi adalah tradisi turun-temurun. Tak ingin pengetahuan itu hilang begitu saja, ia kerap membawa anaknya ikut mengolah umbi ini. Pagi di akhir Agustus 2023, La Apiti bersiap mencari umbi kolope, dengan anaknya, Ambila (20), di bawah tajuk pohon jati, Apiti menemukan sulur kolope yang telah menguning, tanda siap dipanen. Umbi kolope berwarna coklat kehitaman. Bentuknya bulat sedikit lonjong dipenuhi serabut. Dari satu batang tanaman itu La Apiti bisa memanen 20 umbi berdiameter 5-10 cm. ”Kolope ini masih banyak tumbuh liar di hutan. Babi-babi dan rusa liar tidak berani makan karena beracun. Tapi nanti kalau sudah jadi nasi enak sekali,” kata Apiti.

Kulit umbi dikupas, kemudian di iris tipis, lalu direndam dalam air garam di panic, untuk menghilangkan getahnya. Setelah beberapa jam, irisan tipis kolope ditiriskan dan dimasukkan dalam karung, lalu diperam empat hari hingga kering. ”Setelah itu, direndam di air yang mengalir semalam. Baru bisa diolah untuk dimakan,” tuturnya. Sebelum diolah, lembaran tipis kolope yang telah dihilangkan racunnya itu dicuci dengan air bersih lalu dicacah dan dimasak 10 menit lalu siap disajikan. Aromanya harum dengan warna putih kekuningan, sepintas mirip nasi singkong. Saat ini, ia melanjutkan tradisi mengolah kolope sembari menjual di pasar yang buka setiap tiga hari sekali. Hasil penjualannya dipakai untuk kebutuhan sehari-hari,terutama untuk pendidikan anak-anaknya. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :