;

Menjaga ”Leye”, Benih Tertua di NTT

Lingkungan Hidup Yoga 19 Oct 2023 Kompas (H)
Menjaga ”Leye”, Benih Tertua di NTT

Di Pulau Lembata, NTT, ada keluarga yang menjaga tradisi kuno menanam dan mengonsumsi leye. Tanaman pangan lokal bergizi ini merupakan biji-bijian pertama yang dibudidayakan leluhur orang NTT. Kristina Lolon, nenek berusia 80 tahun, memakan biji leye yang disangrai dan dipipihkan dengan batu. Rasanya tawar. Tradisi mewajibkan Lolon hanya boleh mengonsumsi biji leye sebagai makanan pokok sampai akhir hayat. ”Ini makanan sehari-hari. Saya tak boleh makan nasi, tak makan jagung,” ujar Lolon, di rumahnya, Desa Hoelea, Omesuri, Kabupaten Lembata, NTT, Minggu (13/8). Leye atau di Jawa disebut jali-jali atau jelai (Coix lacryma-jobi L) merupakan biji-bijian kuno yang pernah jadi sumber pangan penting di banyak wilayah Nusantara, tapi kini makin langka.

Sebagai istri dari pria tertua dalam keluarga Lamadike, Lolon bertugas sebagai penjaga tradisi mengonsumsi leye. Ia mulai menunaikan kewajiban itu setelah ibu mertuanya meninggal sekitar tahun 1990. Lolon boleh makan leye dengan sayur atau lauk lain seperti ikan. Yang dilarang hanya karbohidrat. Menurut kepercayaan keluarga Lamadike, dengan mengonsumsi leye, Lolon menjaga relasi spiritual keluarga itu dengan Dewi Langit yang mereka yakini menganugerahkan berbagai jenis tanaman pangan yang menghidupi mereka. Jika tak mengonsumsi leye atau melanggar pantangan dengan mengonsumsi jagung atau nasi, Lolon akan sakit. Keluarga Lolon menanam leye di kebun dan halaman rumah. Setahun hasil panen 100 kg, cukup untuk kebutuhan makan Lolon. Kendati hanya mengonsumsi leye, fisik dia kuat, Lolon mampu berjalan di permukiman hingga ke kebun. Bicaranya juga lancer dan matanya awas.

Menurut Samsudin Sama, Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan di Lembata, leye ini biji-bijian berumpun setinggi 2-3 meter. Setiap lima rumpun bisa menghasilkan 1 kg leye. Leye ditanam di lahan tadah hujan, di antara padi, jagung, dan berbagai tanaman pangan. ”Leye nyaris tak terserang hama. Tumbuh terus tiap tahun. Bijinya disimpan bertahun-tahun bisa dimakan,” ujarnya. Selain tumbuh di berbagai kondisi tanah, tanaman leye bisa diratun. Jadi saat panen, dengan memotong batang dan menyisakan 10-15 sentimeter dari tanah, tanaman ini bisa menghasilkan biji kembali. Siprianus Luran, Sekdes Desa Hoelea, menambahkan, selain Lolon, ada yang mengonsumsi leye, tapi bukan jadi kewajiban. Namun, konsumsi leye merosot seiring dominasi beras dan terigu. (Yoga)

Tags :
#Pangan #Varia
Download Aplikasi Labirin :