;
Tags

Perbankan

( 2293 )

Rayakan HUT Ke-24, Bank Mandiri Injak Gas Transformasi Digital

HR1 04 Oct 2022 Bisnis Indonesia (H)

Selain melanjutkan fokus membangun dan berkontribusi bagi perekonomian Tanah Air, bertepatan pada perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-24 yang jatuh pada 2 Oktober 2022, PT Bank Mandiri Tbk. kembali mempertegas posisinya sebagai bank terbesar dengan konsistensi transformasi bisnis secara menyeluruh. Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi mengatakan perayaan kali ini mengusung tema ‘Digital & Kekinian’, mencerminkan perjalanan panjang Bank Mandiri terus relevan dengan perkembangan tren serta kebutuhan masyarakat melalui inovasi dan transformasi digital. “Sejak berdiri Bank Mandiri terus berupaya menjadi pemain utama di industri keuangan. HUT kali ini momen bagi Mandirian bersiap diri menghadapi tantangan dan tumbuh lebih kuat guna menghadirkan layanan terbaik bagi masyarakat dan nasabah,” ujarnya, Senin (3/10). Menurutnya, salah satu upaya melanjutkan transformasi bisnis itu adalah dengan terus mempersiapkan sumber daya manusia berdaya saing tinggi serta mampu mengedepankan peran teknologi dan inovasi sebagai pilar aktivitas bisnis

Penyaluran Kredit Perbankan ke Sektor UMKM Masih Mini

HR1 30 Sep 2022 Kontan

Porsi kredit segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sebagian besar bank di Tanah Air masih rendah terhadap total kredit. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), portofolio kredit UMKM per Agustus 2022 baru mencapai Rp 1.214 triliun atau sekitar 19,7% dari total kredit perbankan yang mencapai Rp 6.155 triliun. Meski begitu, sejumlah bank tetap berkomitmen mendorong peningkatan porsi kredit UMKM sesuai aturan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) minimal 30% pada tahun 2024.Bank BTPN misalnya, per Juni 2022, tercatat memiliki kredit UMKM sebesar Rp 21,14 triliun atau baru 14,16% terhadap total kreditnya. Itu terdiri dari kredit UKM sebesar Rp 9,99 triliun. Sementara pembiayaan BTPN Syariah yang fokus pada segmen mikro sebesar Rp 11,14 triliun. Henoch Munandar, Direktur Utama Bank BTPN mengatakan, terus berusaha memenuhi RPIM yang ditetapkan regulator di kisaran 30%.

Right Issue 3.5 Miliar Saham, Bank Raya Siap Lebih Ekspansif

KT3 30 Sep 2022 Investor Daily (H)

RUPS Luar Biasa (RUPSLB) Tahun 2022 PT Bank Raya Indonesia Tbk (Bank Raya), Kamis (29/9), menyetujui rencana penambahan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue sebanyak-banyaknya 3,5 miliar saham. Dana yang diperoleh dari aksi korporasi itu dipercaya mampu memacu Bank Raya lebih ekspansif di masa mendatang. Direktur Keuangan Bank Raya Akhmad Fazri menjelaskan, RUPSLB perseroan menyetujui penerbitan sebanyak-banyaknya 3,5 miliar dengan nilai Rp 100 per saham melalui PMHMETD. Jumlah itu setara 15,39% modal yang ditempatkan dan disetor penuh perseroan pada tanggal 31 Juli 2022. “Dana yang terhimpun pada PMHMETD akan digunakan untuk ekspansi bisnis perseroan melalui penyaluran kredit serta untuk memenuhi ketentuan modal inti minimum berdasarkan POJK No. 12/2020,” kata Fazri dalam konferensi pers daring, Kamis (29/9). Dia menerangkan, prospek bisnis Bank Raya ke depan diharapkan bisa lebih baik seiring transformasi menjadi bank digital.  Perseroan terus berupaya mengakomodasi layanan di samping perkembangan perilaku konsumen dan teknologi yang semakin cepat. 

“Meskipun baru dalam beberapa bulan kita me-launching produk digital saving, pertumbuhan penghimpunan dana customer yang diperoleh menunjukkan hal-hal positif. Tentunya dalam proses transformasi ini secara fundamental Bank Raya akan semakin baik dan bisnis-bisnis digital lending-nya juga sudah mulai menunjukkan perkembangan yang cukup positif,” jelas Fazri. Lebih lanjut, Direktur Digital dan Operasional Bank Raya Bhimo Wikan Hantoro menambahkan, realisasi kredit digital telah tumbuh positif dan dalam tren yang masih berlanjut. “Performa (outstanding) digital lending yang tercatat tumbuh 300% year on year menjadi sebesar Rp 652 miliar,” kata dia. Selain dari sisi kredit, emiten berkode AGRO ini pun berhasil mengakuisisi banyak nasabah baru. Hal ini tidak terlepas dari dukungan jaringan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) sebagai induk perseroan. “Akuisisi numbers of account (NoA) yang dilakukan secara digital dan online to offline, dimana kita memang memanfaatkan jaringan yang sudah kita punya untuk melakukan literasi. Serta melakukan akuisisi untuk customer-customer kita, yang saat ini sudah mencapai angka sekitar 350 ribu new accounts dalam beberapa bulan terakhir,” ungkap Bhimo. (Yoga)

KETAR-KETIR BANK DIGITAL

HR1 29 Sep 2022 Bisnis Indonesia (H)

Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia dan tingkat bunga penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bakal membuat bisnis bank-bank digital kian menantang. Situasi tersebut membuat mereka akan bersaing sengit dengan bank konvensional untuk memupuk dana pihak ketiga (DPK). Apalagi, selama ini bank-bank digital yang relatif baru meramaikan industri perbankan, kerap menggunakan iming-iming bunga simpanan tinggi untuk menarik dana dari masyarakat. Belakangan tren tersebut perlahan berubah. Sejumlah pemain bank digital kini tak lagi melulu menjadikan suku bunga simpanan tinggi sebagai pendongkrak DPK. Jika ditelusuri, saat ini, rata-rata bunga simpanan deposito di bank digital secara rerata berada di kisaran 3,5% sampai dengan 4%. Padahal sebelumnya, ada bank digital yang berani mematok bunga simpanan hingga 8%. Beberapa bank digital pun kini lebih memilih mengoptimalkan dana murah di tengah kenaikan suku bunga acuan dan inflasi yang meninggi. Salah satunya adalah entitas usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. yang bergerak di layanan digital yakni PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO). Direktur Keuangan Bank Raya Akhmad Fazri mengatakan bahwa perseroan telah melakukan penyesuaian tingkat suku bunga simpanan dengan mempertimbangkan kondisi kebijakan regulator, posisi likuiditas, dan tingkat persaingan di industri. Lain halnya dengan PT Bank Jago Tbk. yang berupaya menu­runkan rasio biaya operasio­nal dan pendapatan operasio­nal (BOPO) dengan memacu fee based income. Direktur Kepatuhan Bank Jago Tjit Siat Fun menyatakan perseroan masih memerlukan waktu untuk mencapai skala ekonomis yang maksimal. Apalagi, sejak kuartal III/2022, bank dengan kode ARTO itu tidak mencatatkan kerugian.

Ketar Ketir Bank Digital

KT3 29 Sep 2022 Bisnis Indonesia (H)

Kenaikan suku  bunga acuan BI dan  tingkat bunga penjaminan LPS bakal membuat bisnis  bank-bank digital kian menantang. Situasi tersebut membuat mereka akan bersaing  sengit dengan bank konvensional untuk memupuk dana  pihak ketiga (DPK). Apalagi, selama ini bank-bank digital yang relatif baru  meramaikan industri perbankan, kerap menggunakan  bunga simpanan  tinggi untuk menarik dana masyarakat. Belakangan tren tersebut  berubah. Sejumlah  bank digital tak  lagi menjadikan suku  bunga simpanan tinggi sebagai  pendongkrak DPK.  Saat ini, rata-rata bunga simpanan deposito  bank digital berada di kisaran 3,5% sampai 4%, sebelumnya, ada bank digital yang berani mematok bunga simpanan  hingga 8%. Beberapa bank digital pun kini  memilih mengoptimalkan  dana murah di tengah kenaikan  suku bunga acuan dan inflasi yang meninggi.  

Salah satunya entitas usaha PT Bank Rakyat  Indonesia (Persero) Tbk.  yang bergerak di layanan digital yakni PT Bank  Raya Indonesia Tbk.  (AGRO). Direktur Keuangan Bank Raya Akhmad Fazri  mengatakan bahwa perseroan  telah melakukan penyesuaian  tingkat suku bunga simpanan  dengan mempertimbangkan  kondisi kebijakan regulator,  posisi likuiditas, dan tingkat  persaingan di industri. Bank Raya, lanjutnya,  mengoptimalkan pertumbuhan dana murah (current account saving account/CASA) yang ditunjang dengan  program menarik serta suku  bunga yang bersaing.    “Strategi Bank Raya untuk  meningkatkan CASA adalah  dengan mengoptimalkan program marketing secara digital  dan direct dengan pendekatan  O2O [online to offl ine] melalui community branch,” kata  Akhmad kepada  Bisnis, Rabu  (28/9). (Yoga)


Simpanan Kalah Seksi, Nasabah Bank ke Lain Hati

HR1 28 Sep 2022 Kontan (H)

Tren suku bunga rendah dalam dua tahun terakhir menyebabkan pamor produk perbankan memudar. Nasabah perbankan mengalihkan duit mereka dari produk perbankan yang berbunga rendah ke instrumen investasi yang memberikan imbal hasil lebih tinggi. Gejala itu tampak dari pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang melambat. Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo menyatakan, pertumbuhan DPK mencapai 7,77% secara tahunan atau year on year (yoy) per Agustus 2022. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada Juli 2022 sebesar 8,59% yoy.

Bunga Naik, Bank Waspadai Rasio NPL KPR

HR1 27 Sep 2022 Kontan

Perbankan harus mulai meningkatkan kewaspadaan pada kualitas kredit pemilikan rumah (KPR). Dalam dua tahun terakhir, pemerintah memberikan stimulus pada sektor properti mulai dari down payment (DP) 0% hingga insentif pajak. Ini membuat KPR perbankan laris manis dan tetap tumbuh meski pandemi Covid-19 menyengat perekonomian. Namun, tren kenaikan suku bunga akan membuat perbankan ikut mengerek bunga KPR sehingga potensi kenaikan kredit bermasalah bisa membengkak. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatatkan, non performing loan (NPL) KPR perbankan berada di level 2,33% per Mei 2022. Turun dari Mei 2021 di level 2,59%, namun naik tipis dari awal tahun 2,32% di Januari 2022.

Permintaan Meningkat, Bank Gencar Salurkan Kredit Korporasi

KT1 27 Sep 2022 Investor Daily (H)

JAKARTA, ID – Bank Indonesia (BI) mencatat penyaluran kredit korporasi per Agustus 2022 mencapai Rp 3.158,4 triliun atau meningkat 11,5% secara tahunan (year on year/yoy). Sejumlah bankir pun menilai saat ini adalah momentum untuk meningkatkan penyaluran kredit korporasi. Direktur PT Bank CIMB Niaga Rusly Johannes mengatakan, banyak perusahaan korporasi yang meminta pendanaan lebih awal keperbankan. Hal ini juga didorong oleh suku bunga kredit perbankan yang belum naik, sehingga korporasi akan melakukan pinjaman kredit ke perbankan. “Kalau melihat di bank-bank lain juga ini momentum yang bagus untuk korporasi. Pada Agustus lalu, kredit korporasi kami tumbuh double digit 12-13% sesuai market,” ungkap Rusly di Jakarta, Minggu (26/9). Sektor dari kredit korporasi yang menjadi fokus CIMB Niaga adalah yang tahan dari dampak Covid-19, seperti fast moving consumer goods (FMCG), farmasi atau kesehatan, makanan ritel yang masih aman. Sedangkan, pertambangan dan nikel merupakan kesempatan karena sedang booming. “Tambang, nikel itu hanya kesempatan. Kalau yang fokus kami itu yang resilient dari Covid,”
ujar dia. (Yetede)

Jalan Lapang BRIS & BBTN Pompa Modal

HR1 26 Sep 2022 Bisnis Indonesia

Penguatan modal atau capital adequacy ratio (CAR) saat ini menjadi fokus dua entitas bank besar negara, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. dan PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. Kedua bank itu sudah mendapat restu untuk menambah modal. Bank Syariah Indonesia (BRIS), misalnya mendapat persetujuan dari pemegang sahamnya untuk menerbitkan sebanyak-banyak 6 miliar saham baru. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar padan Jumat (23/9), BRIS berencana menggunakan dana dari aksi rights issue itu guna mendu­kung pengembangan bisnis ke depan. Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengatakan bahwa dana tambahan dari rights issue itu nantinya untuk mendukung ekspansi BSI secara organik yakni melalui penyaluran pembiayaan murah dan kompetitif bagi masyarakat. “Penguatan permodalan ini tentunya akan dimanfaatkan BSI untuk mengembangkan bisnis sehingga dapat memberikan profitabilitas yang optimal bagi pemegang saham,” ujarnya, pekan lalu. Pemegang saham BSI saat ini terdiri dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. sebesar 50,83%, lalu PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. se­banyak 24,85%, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. sebesar 17,25%. Sejauh ini, belum dapat dikonfirmasi mengenai minat ketiga pemegang saham BSI itu dalam menyerap rights issue. Jika pemegang saham tidak mengambil haknya, kepemilikannya akan terdilusi.


Bunga Kredit Tetap Hingga Akhir Tahun

KT1 26 Sep 2022 Investor Daily (H)

JAKARTA, ID – Meski suku bunga acuan Bank Indonesia dinaikkan lagi hingga akhir tahun, kalangan perbankan diperkirakan masih mempertahankan tingkat bunga kredit. Langkah ini merupakan respons perbankan akan kuatnya permintaan terhadap kredit seiring dengan membaiknya kondisi fundamental ekonomi nasional. Laju pertumbuhan kredit tahun ini akan mencapai dua digit. Kenaikan suku bunga bukan satu-satunya solusi untuk meningkatkan kinerja perbankan. Apalagi perbankan nasional saat ini masih menikmati net interest margin (NIM) yang cukup tebal, yakni sekitar 4,5-8%. Selama konsumsi masyarakat meningkat, kredit akan bertumbuh. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pekan lalu, suku bunga kredit Agustus 2022 sebesar 8,94%. Dengan demikian, spread atau selisih antara bunga pinjaman dengan bunga simpanan masih besar. Dengan efisiensi yang semakin baik, NIM yang diterima masih cukup tebal. (Yetede)

Pilihan Editor